
"Kenapa Bik?"
Sang pembantu gelagapan mendapat pertanyaan dari majikannya. Dia pikir sang tuan tidak menyadari tingkahnya yang menertawakan nya.
"Gak Tuan,"kilah Bik Minah.
Darren seperti tidak percaya ucapan pembantunya, kemudian dia mencari-cari kesalahannya. "Tadi ngapain saya panggil-panggil gak jawab?"
"Anu Tuan,,,hm,,," Sang pembantu ragu menjawab pertanyaan sang majikan karena dia jadi malu sendiri. Karena majikannya menunggu jawabannya mau tidak mau pun menjawabnya, "tadi habis dari kamar tuan,,,"
Rapihin kamar? Memang Kesya kemana?"
"Non Kesya tadi langsung pulang tuan, jadi tidak merapihkan,,,"
"Sudah,,,sudah,,,Bibik lanjutkan saja pekerjaan Bibik dibelakang." Wajah Darren sedikit merona, menahan malu karena ucapan pembantunya itu. Bekas 'pertarungan' nya semalam tidak dirapihkan oleh Kesya, kekasihnya. Padahal sebelum-sebelumnya setiap mereka habis 'berhubungan' selalu dirapihkan kbali oleh Kesya maupun dirinya. Darren tidak mau penghuni rumah mengetahui perbuatan mereka.
Sebenarnya sudah menjadi rahasia umum, segala perbuatan mereka diketahui oleh pembantu dan sekuriti rumahnya namun mereka seperti tidak perduli karena tidak enak dan juga takut dipecat jika mengadu pada orangtua majikannya.
__ADS_1
"Lain kali, kalo Kesya pulang kamar saya gak usah dibersihin yak Bik. Dan ingat jangan banyak omong sama orangtua saya. Mengerti?!" Darren memberi peringatan namun bernada ancaman pada pembantunya itu.
"Ba ba baik Tuan,"jawab tergagap sang pembantu. Kenapa Tuan gak menikah aja yak sama pacarnya? Daripada berbuat dosa terus.
"Ngerti gak Bik?"tanya Darren karena melihat pembantu masih diam, bukannya pergi meninggalkan dirinya.
Darren pun pergi untuk kembali ke perusahaan setelah mengambil map penting berisi perjanjian kerjasama antara perusahaan yang beroperasi di Malaysia dengan perusahaan nya.
****
Disana Nyonya Prayoga melihat cucunya sedang duduk dibangku kecil yang terbuat dari bahan plastik namun dengan kualitas premium yang bisa dia tebak sedang mewarnai karena terlihat sedang memegang krayon. Dengan didampingi gurunya, Khanza cucunya terlihat ceria dan menampilkan wajah yang bahagia.
Khanza tidak sadar ada orangtua Naura didepan pintu karena dia sendiri sedang asyik memperhatikan murid barunya itu. Namun tak lama akhirnya dia tersadar dan segera bangun dari posisi jongkoknya.
"Eh Nyonya, maaf saya tidak tahu ada Nyonya."
"Jangan panggil saya Nyonya Bu Khanza. Panggil saya Bu saja. Oh yak saya sudah tahu nama Bu guru adalah Bu Khanza sebelum berkenalan." Nyonya Prayoga memulai komunikasi dengan Khanza tanpa berkenalan secara formal dengan Khanza.
__ADS_1
Nyonya Prayoga kemudian mengulurkan tangannya. "Saya Neneknya Naura Bu Khanza."
Mulut Khanza terbuka, "oh saya pikir Ibu adalah bundanya Naura. Ibu tidak kelihatan seperti Neneknya, "ucap Khanza jujur.
"Ah Bu Khanza bisa saja, "ucap Nyonya Prayoga sedikit merona.
"Pasti Ibu Naura wanita karier yak Bu, makanya Naura di daftarkan sama Neneknya." Khanza berbicara tanpa beban karena dia pikir ucapannya benar. Dia tidak melihat aura wajah Nyonya Prayoga yang berubah menjadi mendung.
"Aduh maaf Bu, "ucap Khanza menarik sudut bibirnya tak enak karena raut wajah Nyonya Prayoga yang berubah.
"Naura sayang, ini Nenek,,,." Khanza mengalihkan pembicaraan sendiri karena tidak enak sendiri sudah lancang membahas perihal Bundanya Naura.
Naura cuek. Dia asyik melanjutkan kegiatannya, mewarnai gambar bersama teman-teman barunya.
Karena dicueki Naura, Khanza menghampiri murid barunya tersebut. "Sayang itu ada Nenek."
"Bialin Bu guru. Aku kan lagi acik ngewalnai."
__ADS_1