
"Ukh,,,ukh,,,"Andre tersedak mendengar ucapan ayah Khanza ,yang saat itu baru saja menelan makanannya.
" Belum kepikiran paman kalo untuk menikah dalam waktu dekat ini."
"Usia kamu sudah cukup Ndre untuk berumah tangga,"saran ayah Khanza.
"Iya om,tapi kerjaan saat ini aja belum settle om,gimana kalo Andre berrumah tangga kalo masih belum mapan gini,mau dikasih makan apa nanti istri sama anak Andre,"sanggah Andre.
"Sudah ngapain berrumah tangga,Andre benar ayah,pekerjaannya saja saat ini belum settle,jauh dari kata mapan,"bela sang ibu.
"Gak perlu mapan bu kalo berrumahtangga,kalo calon dah,pekerjaan dah apalagi,gak perlu mewah-mewah pernikahannya sederhana cukup yang penting sah secara agama dan negara,"ayah lagi-lagi beragumen.
"Iya,,,om,"Andre mengiyakan saja ucapan sang paman untuk menghindari obrolan yang membuat dirinya tidak nyaman. Giman mau cari calon istri,orang masih mengharapkan yang disini,eh!"batin Andre.
"Ih apaan sih dari tadi ngomongin nikah,Khanza masih kecil ya,gak ngerti,mending bahas yang lain,tuh liat muka ka Andre dah asem begitu."
"Ini tuh lagi omongin om kamu nak,bukan kamu,"ucap ayah.
"Hehe,,,atuh bahasannya berat yah,kasian ya yang jadi cowok harus banyak nabung buat nikah.
"Kakak rela dek banting tulang demi kamu,eh!"
"Sudah-sudah bahasannya jadi kemana-mana,Khanza bukannya kamu juga ada yang mau diomongin tadi,"tanya ibu.
"Oh itu,iya ayah Khanza cuma mau bilang mulai minggu depan Khanza sudah mulai ada bimbingan belajar,jadi Khanza pulangnya nanti sedikit telat karena diadakannya setelah belajar biasa.
"Sudah mau bimbingan belajar aja ,berarti sebentar lagi mau Ujian Nasional dong ya,"ucap ayah. Kebetulan ayah ngajar kelas 1 jadi tidak terlalu ngeh nak. Setelah lulus nanti rencananya kamu mau lanjutin kemana?
"Khanza,,,(sempat terdiam melirik kearah ibunya oleh ibu dibalas dengan anggukan kepala) ingin melanjutkan kuliah guru yah,tapi khusus taman kanak-kanak.
Ayah tersenyum mendengar cita-cita sang anak. "Ayah mendukung apapun keinginan kamu nak. Apalagi tujuanmu mulia sekali,menjadi seorang guru,ayah bangga nak!"ucap ayah berkaca-kaca.
Ya tuhan makin gak bisa move ini sih dek,apalagi denger cita-cita kamu,anak orang pasti akan kamu sayang dididik apalagi anak kamu nanti,"batin Andre.
"Semuanya Andre dah selesai,duluan ya,"pamit Andre meninggalkan meja makan lebih dulu. Memang makan nya telah selesai,tapi entah mengapa perasaannya menjadi tak menentu.
Ayah dan Ibu Khanza sama-sama mengerutkan keningnya sampai kedua alisnya menyatu melihat perubahan sikap Andre, terheran.
"Khanza juga sudah yah makannya,mau kekamar dulu.
__ADS_1
Tinggalah ayah,ibu dan Abyan yang masih berada dimeja makan.
"Kok pada diem sih pas Kak Khanza sama om Andre pergi ayah,ibu "ucap Abyan sibungsu yang makannya tampak santai meskipun telah tertinggal dengan yang lain. Kedua orangtuapun saat ini telah selesai makan malamnya hanya menunggu sibungsu .
"Sudah selesaikan makanmu Abyan,ayah sama ibu dah selesai makannya ini,kamu ini makannya lama banget sih nak,"ucap ayah.
"Makan memang lama ayah kan harus dikunyah 33 kali biar benar-benar halus makanannya jadi mudah ditelan tenggorokan dan dicerna usus"ucap Abyan.
"Memang kamu hitung tiap kamu kunyah?"tanya ayah yang tergelak mendengar ucapan sang anak.
"Ya gak sih yah,tapi yang Abyan katakan merupakan sunah Rosul untuk mengunyah makanan sebanyak 33 kali,yah intinya agar dipastikan makanan yang masuk keperut benar-benar lembut untuk mempermudah kerja organ pencernaan. Begitu menurut buku yang Abyan baca yah.
"Anak ayah pintar menjawab untung ada ilmunya dalam menjawabnya,"ucap sang ayah sambil tersenyum.
"Sudah-sudah makan juga gak akan cepet selesai kalo diselingi ngobrol begini,"sanggah sang ibu kemudian membereskan piring-piring kotor,meninggalkan suami dan sibungsu.
Abyan yang melihat ibunya membereskan piring-piring kotor jadi mempercepat makannya. Ayah geleng kepala melihat tingkah sang anak.
"Makan jangan buru-buru,ingat harus kunyah sebanyak 33 kali,"canda sang ayah. Abyan yang mendapat sindiran ayahnya pun hanya menyengir diakhir makannya.
"Ayah bisa aja,Byan jadi malu,hehe.
"Abyan kekamar dulu yah,bu. Lalu Byan memasuki kamarnya dimana sang om yang juga berada disana.
"Lama banget dek makannya.
"Ngobrol dulu om sama ayah dan ibu.
"Om lagi ngapain?
"Oh ini lagi lihat-lihat kerjaan dikantor sekalian mempelajari rincian laporannya.
"Kerjaan kok dibawa pulang sih om.
Andre yang mendengar omongan adik sepupunya itu hanya tersenyum.
"Loyalitas dek,ngomong-ngomong soal motor kamu serius dek?
Abyan hanya nyengir,memperlihatkan deretan gigi putihnya. Serius,gak serius sih om,dikasih alhamdulillah,gak dikasih juga gak apa-apa,lagian usia Abyan belum boleh bawa kendaraan sendiri."
__ADS_1
Andre hanya tersenyum mendengar jawaban yang tak terduga,sersan,serius santai.
"Doain om aja,gaji nya besar,awet dikerjaan dan dapat kenaikan jabatan cepat.
"Doanya muluk amat om,tapi Abyan amin kan deh,aamiin!"
"Oh ya dek,kamu tahu info-info gitu kontrakan daerah sini,gak usah yang besar-besar,satu petak buat om sendiri juga dah cukup."
"Om mau ngontrak rumah,emang kenapa tinggal disini sama kita,Abyan juga gak keberatan kita tidur berdua disini,seneng malah Ayan ada temen ngobrol.
"Om gak enak,ngerepotin ibu kamu terus dek."
"Gak ngerepotin kali om,biasa aja. Dah ya om Abyan tidur duluan,ngantuk,hoam!"
POV Andre
Aku mencoba mengajukan lamaran via online kesalah satu terbesar di Jakarta tentunya dengan menyertai syarat-syarat yang diperlukan.
Alhmdulillah aku dapat email yang berisi panggilan wawancara padahal sebelumnya tidak terlalu berharap besar,seorang dari daerah sepertiku bisa bekerja diperusahaan besar diibukota.
Satu yang terlintas dipikiranku ketika mendapat panggilan wawancara adalah salah satu keluargaku yang ada di Jakarta. Segera saja menghubungi om Fathur kakak dari ayahku. Ah bila mengingat om ku yang satu itu yang terlintas dipikiran ku adalah sepupuku,Khanza apa kabarnya dia sekarang.
Begitu sampai Jakarta dikediaman pamanku pada tengah malam,semua penghuni telah tidur kecuali paman dan istrinya,tante Ratna. Harusnya aku memnaghilnya dengan sebutan bibi,tapi lidah ku lebih nyaman memanggil tante,dan beliaupun tidak keberatan. Menurutnya senyaman saja memanggil dirinya.
Pagi hari setelah semuanya bangun bahkan telah siap dengan aktifitas masing-masing aku melihat gadis manis yang akan bernajak dewasa. Jadi ini Khanza sepupuku yang dulu yang selalu ku gendong ketika masih kecil sekarang telah menjelma menjadi gadis cantik sekali. Dulu dari usia yang masih kecil aku mengagumi kecantikan dan sekarang setelah besar dia terlihat semakin mempesona,akan banyak para lelaki diluar sana pasti akan terpikat kecantikan,membayangkan sungguh membuat tak rela.
Semakin hari semakin rasa sayang tumbuh semakin besar padanya,hal yang tidak seharusnya aku miliki,tetapi aku tidak mencegah perasaan yang tumbuh dalam hatiku.
Omongan om dan tanteku semakin membuatku tak nyaman tinggal bersama mereka. Aku tahu maksud mereka baik,tapi jujur aku sama sekali belum terpikir untuk menikah secepatnya. Calon saja belum ada pikirku lagipula hati ini masih dipenuhi olehnya,gadis terlarang untuk ku miliki.
Keputusan untuk memilih mengontrak saja rasanya sudah tepat selain karena tidak ingin merepotkan mereka juga untuk mencegah perasaan ini semakin tumbuh yang pada akhirnya sulit untuk kuhilangkan.
Khanza mengapa kita dilahirkan sebagai keluarga bukan orang lain.
POV end
Bersambung
Mohon dukungannya dengan like,vote dan komen
__ADS_1
Love You
Author