
Bel masuk berbunyi,Angel dan Fifah menyudahi obrolan mereka. Jauh dilubuk hati Angel dia telah menyusun rencana apa saja yang akan dia katakan serta lakukan pada Astrid untuk memuluskan rencana memisahkan Lintang dan Khanza.
"Kayaknya si Angel sama si Fifah lagi omongin lo dah Za!"ucap Salsa.
"Masa sih?"tanya Khanza memastikan.
"Iya keliatan banget,mereka bisik-bisik gitu sambil matanya menatap lo gitu dari tadi. Kayaknya ada rencana apa gitu sama lo."
"Kok kamu ngomongnya gitu,jangan suudzon ah jadi orang.
"Bae boleh Za jadi orang,tapi kita harus waspada juga sama orang itu. Apalagi sama orang-orang yang punya riwayat jahat sama kita"ucap Salsa panjang lebar.
"Makasih ya Sa,kamu dah ingetin aku"ucap Khanza menakup tangan Salsa.
"Sama-sama Za,kita temen"ucap Salsa sambil tersenyum membalas gengaman tangan Khanza.
Apa bener ya yang dikatakan Salsa kalo mereka punya niat sesuatu sama aku,batin Khanza.
"Benar apa yang dikatakan Salsa,aku harus waspada sama mereka,apalagi mereka pernah jahat sama aku. Apalagi aku pernah dijahati oleh mereka dulu batin Khanza.
Skip.
Khanza merapihkan alat tulisnya untuk kemudian dia masukkan kedalam tasnya.
"Za lo pulang naek apa?"tanya Salsa.
__ADS_1
Khanza bingung menjawab pertanyaan Salsa apalagi sampai menjelaskan jika dia mungkin sudah ditunggu Lintang.
Tak mendapat tak mendapat jawaban dari Khanza namun Salsa tetap mengajak pulang.
"Ayo!"ajak Salsa.
"Ya bentar!"jawab Khanza dengan cepat memasukkan semuanya kedalam tasnya dan setelah selesai menyusul Salsa yang sudah hampir dipintu dalam kelas.
Sementara didepan kelas,Lintang tengah menyandar ditembok kelas dengan bersedekap dada memejamkan matanya.
"Hari yang melelahkan ya Za!"ucap Salsa membuka obrolan.
Lintang yang tengah memejamkan mayanya terbangun setelah mendengar suara Salsa,lalu memperhatikan keduanya,terutama Khanza.
Baru saja Salsa membuka mulutnya ketika terdengar Lintang bertanya. Salsa mengangkat alisnya, matanya melihat kearah Khanza seolah berbicara padanya.
Khanza yang seakan bahasa isyarat Salsa hanya meringis namun akhirnya meminta maaf. "Sorry"ucapnya.
"Santai aja kali Za! Gw duluan ya! Bye!"
"Kenapa temen kamu Za?"tanya Lintang heran tak mengerti bahasa isyarat mereka.
"Gak tahu!"ucapnya lebih memilih menceritakan maksud mereka tadi.
Lintang menanggapi ucapan Khanza dengan menaik turunkan dagunya. Lalu kemudian mengambil tangan Khanza untuk dia genggam.
__ADS_1
Jantung Khanza berdebar dengan tindakan yang selalu implusif namun dia tidak bisa berbuat banyak,mengelakpun percuma karena dia tahu seperti apa Lintang.
Khanza sengaja pulang paling terakhir agar tidak banyak yang melihat dia pulang bersama dengan Lintang,namun masih ada beberapa siswa yang belum pulang alhasil mereka melihat saat Khanza dan Lintang berpegangan tangan.
Khanza menarik nafas panjang dengan keadaannya saat ini. Helaan nafas Khanza ternyata tertangkap oleh Lintang.
"Kenapa? Masih mikirin apa kata mereka?"tanya Lintang dengan menaikkan alisnya.
"Eng,,gak!"jawab Khanza pelan.
"Good!"ucap Lintang tersenyum mengacak raambut Khanza dengan tangan yang menganggur.
"Ih,,,prasta!
"Haha,,,!"
Khanza belajar untuk tidak memperdulikan apa kata oranglain,terbukti dia tidak perduli saat ini sedang bergandengan tangan sambil bersenda gurau dengan Lintang.
"Kamu bawa sweater gak Za?"tanya Lintang pada saat sudah diparkiran.
"Hah?"tanya Khanza dengan membuka lebar mulutnya.
"Sweater Khanza! Kamu bawa sweater gak?"tanya Lintang lagi gemas menutup mulut Khanza dengan cara mencomotnya.
"Hmmp,,,
__ADS_1