Aku Hanya Babysitter

Aku Hanya Babysitter
Bab. XXIV Dingin


__ADS_3

"Hah,,,gimana saya menghadapi Lintang ya nanti,"batin Khanza yang sedang berjalan menuju kelas. Dilorong Khanza melihat teman-teman yang biasa bersama Lintang tengah berjalan kearahnya.


Ketika mereka(teman-teman Lintang).


"Itu tadi gebetan nya si Lintang?,"tanya Danu.


"Masa sih,lo kata siapa ya,"Toni.


"Gw pernah liat dia sama si Lintang gandengan tangan waktu diparkiran sekolah,dah agak lama juga sih kejadiannya,"terang Danu.


"Sok tahu lo pada,Lintang gw liat lagi sama si Astrid,berduan dibangku kelas,"ucap Boy siplayboy sekolah.


Deg,,,


Percakapan terdengar jelas ditelinga Khanza walaupun langkah mereka telah menjauh dari nya.


"Berduaan?,mungkin kah aku hanya,,,,Khanza tidak mai menduga-duga.


"Za,,,Za,,,sini!,"panggil Salsa temen sebangkunya.


"Ada apa sih?,semangat banget kayaknya.


"Hari kita ada free class lagi,tapi yang jadi hot gosip"Salsa bercerita dengan menggebu-gebu.


"Lo tau kan ketua OSIS kita?Iya si Lintang pacar lo.


"Mungkin akan segera jadi mantan,"batin Khanza.


"Emang kenapa dengan ketua OSIS kita?,"tanya Khanza yang Salsa menceritakan tentang OSIS sekaligus 'pacarnya.


"Lo denger kan tadi gw bilang kita ada free class ,nah itu masalahnya ternyata hari ini ada pemilihan pergantian kepengurusan anggota OSIS yang baru,terus dari tiap kelas 3 akan dipilih 5 perwakilan dari kita buat ikut memilih calon yang baru.


"Selamat pagi,,,,


"Lintang,,,


"Mohon maaf sebelumnya kita menganggu waktu kalian,saya selaku ketua OSIS dan disamping saya Astrid wakil ketua yang sebentar lagi akan serah terima jabatan pada pengurus OSIS yang baru. "Oke singkat kata saya minta perwakilan dari kelas kalian 5 orang untuk ikut memilih.


"Ya siapa yang akan ikut memilih,"Lintang.


"Ayo siapa yang mau ikut memilih nanti,kita gak punya banyak waktu y,"ucap Astrid wakil ketua.


Selama berbicara Lintang tidak menatap kearah Khanza sekalipun kalaupun menatap itu terjadi karena ketidaksengajaan dan dia langsung memutus pandangannya.


"Gw ikut,"unjuk diri sendiri Adi siketua kelas.


"Oh oke siapa lagi?tanya Astrid.


"Khanza,"Adi menunjuk Khanza.


Lintang mengepalkan kedua tangannya begitu mendengar Adi memilih Khanza,dia tahu Adi sengaja menunjuk Khanza karena ingin membuatnya kesal.


Khanza yang ditunjuk sempat tidak percaya dirinya dipilih Adi untuk ikut memilih."Saya?",tunjuk diri sendiri.


"Iya za!,"lo ikut ma gw buat memilih pengurus yang baru".


"Hm,,,"ragu-ragu Khanza akan ikut atau tidak,kalo ikut dia tidak enak pada Lintang tapi sebenarnya memang malas ikut perwakilan memilih itu.

__ADS_1


"Dah gak pake lama,mo ikut apa gak,buang waktu aja,"ucap Lintang dengan nada suara agak tinggi.


"Next,,,siapa lagi,berarti kurang 3 orang lagi,gw tunggu diaula sisanya". "Ayo Trid,kita pergi,"ucap Lintang berlalu meninggalkan kelas Khanza dengan langkah sehingga Astrid agak tertinggal.


"Itu kenapa Lintang?,kayaknya lagi kesel gitu,"tanya Salsa yang juga heran mengapa dia tampak emosi.


Khanza hanya mengangkat bahunya lemah menjawab pertanyaan Salsa,dia terlalu malas untuk mengeluarkan suaranya. Khanza tidak mengerti mengapa Lintang berubah sikapnya bahkan semenjak baru masuk kelasnya.


"Ayo,kita dah ditungguin diaula!,"ajak Adi.


"Hm,,,Di yang lain aja deh saya gak ikut".


"Loh ?kan gw dah milih lo,klo mau batalin harusnya tadi pas ada anak OSISnya".


"Gimana mau nolak baru ngomong aja dah dibentak,"pikir Khanza.


"Yuk guys kita keaula,gw gak sabar sih calon Ketua OSIS yang baru dari anak kelas 2,"ucap Amel yang ikut perwakilan memilih dengan Angel tentunya.


"Oke berarti baru 4 orang ya,kurang seorang "absen Adi. Gerald!,"ikut kita ke aula.


Dengan terpaksa Khanza keaula untuk ikut memilih calon pengurus OSIS yang baru.


Ternyata diaula telah berkumpul para murid yang akan ikut memilih maupun calon pengurus yang baru.


"Inilah contoh buruk untuk dicontoh karena ngaret dari jadwal yang ditentukan,"sarkas Lintang ketua OSIS lama yang sedang memberikan pidato penyambutan.


Khanza tampak berkaca-kaca mendengar kata-kata Lintang yang menyakitkan bahkan sangat memalukan disindir hampir separuh warga sekolah.


Adi yang mendengar kalimat yang Lintang cukup tinggi mengepalkan kedua tangannya,jika tidak didepan umum mungkin dia akan menghajar Lintang. Dia tahu ucapan yang dikatakan Lintang ditujukan untuk dirinya dan Lintang .


"Lo gak apa-apa Za?,"tanya cemas Adi yang melihat raut muka Khanza yang berubah lebih tepatnya malu telah dipermalukan didepan umum.


Khanza memilih duduk dibelakang deretan teman-temannya. Dia sedikit tidak nyaman dengan tatapan yang lain.


"Loh denger gak tadi siLintang marah-marah ?


"Ya denger lo pikir gw budek!


"Gw yakin Lintang tuh marah-marah sebenarnya bukan sama kita,tapi ke ono,no,"Salsa menunjuk kearah yang dia maksud menggunakan dagunya,dari tadi marah-marah dah dimulai di kelas kita,"Salsa menambah kan.


"Gw sih lebih ngucapin 'mampus lo',"ucap Angel dengan tersenyum smirk.


"Kayaknya mereka lagi ada masalah ya?".


"Dah lah ngapain lo ngurusin kayak gitu,buat gw kejadian kayak tadi kabar yang membahagikan buat gw", "Cindy.


Setelah menggunakan hak pilihnya Khanza memutuskan langsung keluar dari ruangan aula tempat pemilihan pengurus OSIS yang baru.


Bukan kelas atau kantin tempat yang dia pilih,melainkan taman belakang sekolah tempat yang mulai menjadi tempat favoritnya.


Srek,,,srek,,,


Diteras rumah mang Dudung sedang menyapu dengan sapu lidi gagang panjang hingga suaranya terdengar sampai dibangku dimana Khanza tengah duduk.


"Apa lebih baik dia begitu sikapnya padaku,"batin Khanza bermonolog. Tapi mengapa sikapnya menjadi lebih serta kasar sebelum kita saling mengenal".


POV Khanza.

__ADS_1


Masa MOS.


Semua murid baru dikumpulkan dilapangan sekolah. Aku dan murid baru lainnya memakai aktribut khas MOS seperti topi kerucut,kalung dengan bandul permen lolipop,rambut dikuncir kuda,serta kaos kaki tinggi dengan warna yang berbeda kanan kiri.


Ada satu murid yang tampak menonjol ,tinggi,putih,alis tebal,rahang tegas serta bibir yang tampak berwarna cerah. Sudah terlihat dari penampilannya dia berasal dari kalangan berada.


Ah rasanya mengaguminya masih tidak pantas. Sampai MOS selesai dan belajar mulai efektifapun tak pernah berani menampakkan diri depan bahkan saat berpapasan dia sekalipun. Banyak teman-teman baru ku dan kakak kelas berusaha mendekatinya dengan terang-terangan maupun yang diam-diam.


Sampai dia mendekatiku dikelas 3 ini. Apa tidak tahu maksud dia mendekati,takut tentu saja aku takut. Aku takut dia mendekati karena taruhan seperti cerita novel-novel online yang kubaca. Seorang siswa most wanted mendekati murid biasa-biasa saja namun ternyata hanya sebagai bahan taruhan.


Semakin lama dia semakin intens mendekatiku. Dari sikapnya itu tidak terlihat seperti sedang bertaruh dengan seseorang. Sampai akhirnya aku menerimanya,namun saat hubungan kami semakin dekat,ibuku mulai menyadari dan memperingatiku untuk tidak berhubungan khusus dengan orang kaya karena akan membuat kita sakit hati nantinya seperti pengalaman ibu dimasa muda.


Akhirnya dengan terpaksa aku mulai belajar menjauhinya,dan sempat gagal. Namun kali ini aku mencoba menjauhinya sebenarnya bukan menjauhi tapi lebih tepat menjalin hubungan dibelakang orangtuaku. Berhasil tapi membuatnya salah paham,seperti sekarang.


Aku tidak tahu apa menyebabkan perubahan sikapnya padaku,dari awalnya dia bersikap hangat dan perhatian malah terkesan berlebihan sekarang dingin dan agak kasar.


Apa dengan kesempatan ini aku meneruskan saja rencana awal seperti ibu ucapkan untuk tidak berhubungan lagi dengannya?


POV end.


"Loh neng ngapain disini sendirian lagi?,"neng yanv kemarin sama den Lintang minjam ruang tamu mamang kan?


"Neng?


"Khanza mang sambil tersenyum. "Iya mang saya kemarin sama Lintang yang minjam ruang tamu mamang.


"Sekarang den Lintang mana neng?


"Saya sendirian mang,lagi ada free class mang makanya saya kesini".


"Free class apa neng?,"maklum jaman mang sekolah mang ada istilah begitu.


"Feuri,,,apa tadi neng?"aduh lidah mamang keblibet jadinya.


"Free class mang,"ucap Khanza mengulangi.


"Nah iya itu neng,feri klas,haha"


Khanza tersenyum mendengar pengucapan yang terdengar lucu.


"Aduh neng senyum manis banget sih,ada bolong-bolongnya dipipi,"ucap mang Dudung sambil menunjuk pipinya sendiri." Pantesan den Lintang cinta mang neng.


Khanza yang awalnya tersenyum mendengar ucapan mang Dudung yang memujinya,namun mendengar nama Lintang mendadak senyumnya menghilang.


"Mamang bisa aja". "Dah mang lanjutin nyapunya,saya numpang duduk disini ya!.


"Sok atuh neng,ini kan bangku sekolah,siapa aja boleh duduk disini. Mamang lanjut lagi ya neng nyapunya."


"Silahkan mang,"ucap Khanza tersenyum.


Dari jauh Lintang melihat duduk ditaman sampai mulai mengobrol asik dengan mang Dudung.


Mohon dukungannya dengan like,komen dan vote.


Love You


Author

__ADS_1


Follow me on


Ig : cinta.dmynti


__ADS_2