
"Okeh,,,tapi uang kuota melayang yak!"ancam Andre ucapnya santai.
"Ya Om Andre mainnya ancam balik. Gak seru ah,"ucap Byan. Yak udah kalo gitu Byan balik lagi keluar aja." Lalu memutar handle dan meloloskan badan gemoy nya keluar.
"Hah,,,untung ada bahan anceman. Kalo gak itu bisa diaduin aku,ketahuan nguping,"batin Andre sambil tersenyum sendiri dan geleng-geleng kembali. Lalu dia melanjutkan kegiatan mengupingnya.
***kembali pada Khanza yang disidang kedua orangtuanya.
"Byan,,,ngapain kamu disitu?"tanya Ayah pada si bungsu,Abyan yang berdiri ditengah-tengah pintu belakang.
"Hehe,,,"Byan menjawab sang Ayah hanya dengan cengiran sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Dari pada berdiri disitu,mending kamu cuci mobil Ayah sana!"
"Yah Ayah,masa Byan cuci lagi sih! Capek tau kan tadi habis cuci motor Om Andre."
"Cape juga kamu dibayar kan?"ucap Ayah dengan tersenyum kecil.
"Hehe,,,kok Ayah tahu sih Byan diupahin Om Andre. Berarti sekarang Byan cuci mobil Ayah diupahin juga?"
"Boleh,,,tapi senin gak Ayah uang saku yak!"
"Yey,,,itu sih sama aja bohong,"cebik Byan.
"Sudah sana,cuci mobil Ayah. Nanti Ayah tambahin uang sakunya besok."
"Asiikk,,,"ucap Byan semangat,lalu melangkah ke depan. Namun sebelum keluar,Byan memutar tubuhnya,"ngomong-ngomong berapa Ayah mau nambah uang saku Byan?"tanya masih dengan semangat.
__ADS_1
"Goceng (lima ribu),"jawab Ayah dengan mengulum senyum.
Abyan memonyongkan bibirnya hingga 5 centi,"sama aja bohong dong,"gerutunya lalu kali ini menghilang dari pandangan Ayah.
Wajah Ayah kembali ke mode serius. Dia sengaja menyuruh Abyan mencuci mobil agar tidak menguping pembicaraan mereka bertiga.
"Jadi bisa kamu jelaskan nak? Apa maksudnya kamu berbohong seperti tadi?"
"Maafin Khanza Ayah,"ucap Khanza dengan tertunduk dalam.
"Ayah tidak butuh maaf dari kamu. Yang Ayah minta jawaban kamu kenapa kamu sampai tega membohongi ibu kamu?"
Tangis Khanza akhirnya keluar juga,sambil terisak Khanza menjawab,"Khanza takut Ayah sama Ibu."
"Kenapa kamu harus takut sama Ibu?"
"Kami saling mencintai Ibu."
"Cinta? Tahu apa kamu tentang cinta. Kamu tuh masih kecil Khanza. Yang kamu rasakan hanya cinta monyet,cinta sesaat,"balas Ibu. Kamu belum pernah merasakan pahit manis kehidupan,apalagi dunia percintaan. Tahunya kamu yang indahnya saja."
"Kamu sudah tahu kan kisah perjalanan orangtua kamu Khanza?"tanya Ayah.
"Tahu Ayah,"jawab Khanza sambil terisak.
"Harusnya dari situ kamu belajar nak. Ayah tidak ingin merasakan apa yang Ibu kamu rasakan."
"Ayah,,,"ucap Ibu lirih lalu menggenggam tangan sang suami.
__ADS_1
"Ayah tahu,betapa kerasnya Ibu kamu melupakan 'orang' itu. Bukan hal yang mudah juga Ayah bisa menaklukan ibu kamu,nak!"
"Maafin Khanza Ayah,Ibu,"ucap Khanza tak pernah bosan mengucap maaf pada mereka. Khanza janji akan mengakhiri dan menjauhi Lintang Ayah,,,"
"Harus itu,"potong Ibu Ratna masih kesal.
"Ibu,,,"ucap Ayah penuh penekanan.
"Ayah tidak butuh janji,tapi Ayah butuh bukti dengan ucapan kamu. Ini semua untuk kebaikan kamu nak!"
"Iya Ayah,akan Khanza buktikan omongan Khanza.
"Baik Ayah pegang kata-kata kamu,"ucap Ayah. Sekarang kamu masuk kamar. Renungi semua perbuatan kamu selama ini."
"Baik Ayah,"ucap Khanza kemudia mengangkat bokongnya dari kursi makan lalu berlalu ke kamarnya.
"Bagaimana ini Yah?"tanya Ibu setelah Khanza masuk ke kamarnya.
"Apanya yang bagaimana bu? Memangnya kenapa ? Kok Ibu seperti gak percaya sama anak sendiri?"tanya Ayah sambil mengerutkan keningnya.
"Bukan begitu Ayah. Ibu percaya sama Khanza,tapi masalah sama anak itu Yah. Ibu perhatikan laki-laki itu yang terus mengejar Khanza."
"Kita lihat besok pagi aja Bu,"ucap Ayah.
"Atau bagaimana jika mulai besok kita suruh Andre yang mengantarkan Khanza ke sekolah kalo Ayah kebetulan tidak bisa. Apapun alasan Khanza,pokoknya dia harus ada yang mengantar salah satu dari kalian. Gimana?"tanya Ibu meminta pendapat.
"Boleh,"jawab Ayah singkat.
__ADS_1