
Sebelumnya
"Emang lo gak nanya ke dia nya?"tanya Salsa dan hanya dijawab gelengan lemah oleh Khanza.
"Telepon atuh Za,kalo gak kirim sms kek sama dia,"ucap Salsa memberi saran.
"Malu,"jawab Khanza jujur.
Mulut Salsa seketika membola mendengar jawaban dari Khanza. "Malu?"tanya Salsa seolah tak percaya dengan apa yang dia dengar.
Khanza menghela nafas panjang,"plus ragu Sa,gw takut ganggu dia,"jawabnya.
"Astaga Za,lo itu pacarnya loh,yak gak mungkin kalee,"gemas Salsa. Sini gw aja yang telepon deh kalo gitu."
"Gak usah Sa,"
"Ish gw gemes ma lo sumpah. Kalo gak tadi kan katanya Boy mau nolongin lo buat telepon Lintang,nanti tanya lagi sama dia."
Khanza diam seperti menimbang usulan Salsa,"Lihat nanti aja deh."
__ADS_1
Salsa memutar matanya mendengar jawaban Khanza. "Gw sih kalo jadi Khanza,dah gw telepon tuh cowok,sekalian gw maki-maki,"batinnya bermonolog.
****
Dah yuk,cuz kita kemon,"ajak Boy setelah jam pelajaran terakhir berakhir,namun bell pulang belum juga berbunyi.
"Belum bel beg*,"jawab Toni.
"Ckk alah bentar lagi juga bel,dijamin deh,kita keluar pintu kelas juga bunyi tuh bell."
"Fikri dan Rafael yang sedari tadi mendengarkan omongan Boy nampak ragu akan mengikuti jejak Boy atau tidak. Lain halnya jika yang mengajak itu Lintang mungkin tanpa pikir panjang mereka akan mengikutinya. Maklum Lintang adalah anak dari pemilik Yayasan sekolah tempat mereka menimba ilmu,jadi tidak mungkin kena hukum jika Lintang yang mengajak membolos.
Akhirnya karena tidak ada yang berani mengiyakan ajakan Boy,dia jalan sendiri,pulang duluan. Dengan santai Boy mencangklong back bagnya keluar dari kelas. Teman-teman dekat tidak ada yang berani menegur Boy apalagi teman sekelas lainnya.
Boy tersenyum smirk begitu mendengar bel pulang berbunyi. "Gw kata juga apa,gak pada percaya sih lo,"monolog disepanjang lorong kelas yang dia lewati.
Berbondong-bondong penghuni kelas yang Boy lewati berhamburan keluar kelas.
Senyum Boy terbit begitu dari jauh dia melihat Khanza keluar dari kelasnya bersama Salsa dan saat ini terlihat sedang bersenda gurau. Terlihat sesekali Khanza tertawa namun selalu menutup bibirnya,padahal ada gigi ginsulnya yang seolah menarik kaum adam mendekat padanya.
__ADS_1
"Gilak Khanza lo manis banget sih kalo senyum,apalgi kalo ketawa auto dobel tuh manisny,"batin Boy.
Dengan modal nekat,Boy melangkah kan kakinya cepat,mengejar Khanza didepannya.
"Hai Za,"sapa Boy dengan menampilkan senyum pepsoden* nya.
Khanza yang merasa namanya dipanggil dan merasa tidak asing dengan yang memanggilnya itu segera menengok ke belakang. "Hai Boy,"sapa balik Khanza.
Salsa memutar mata saat mendengar Boy menyapa Khanza. "Gw segede gini gak kelihatan? Cuma Khanza aja yang disapa?"batin Salsa kesal.
"Ehm,,,Za,cepetan yuk jalannya,nanti angkotnya keburu penuh,"ajak Salsa kesal sendiri.
"Sialan tuh cewek," batin Boy mengumpat.
Salsa segera mengapit lengan Khanza untuk kemudian ditariknya,berjalan meninggalkan Boy dengan wajah masamnya.
Khanza dengan berat hati mengikuti langkah Salsa yang menyeretnya lewat kapitan dilengannya. Dia merasa tidak enak pada Boy. "Hm,,,Boy kita duluan yak!"pamit Khanza dengan senyum terpaksa.
"Buru-buru amat Za,"jawab Boy seolah tidak rela ditinggalkan oleh Khanza.
__ADS_1
"I,,,ya"jawab Khanza makin tidak enak karena mendapat omongan seperti itu dari Boy.
Padahal gw niat mo anterin lo pulang Za.