ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 10 Mariska Mempengaruhi Brata


__ADS_3

Mariska melihat sekitar ruang tamu dan dapur yang tampak sunyi, ia perlahan masuk ke kamar Brata saat tidak melihat siapapun termasuk Nur dan Ken.


Ya, Ken memang sedang keluar sementara Nur mungkin sedang mandi sore ini. Sedangkan orang-orang suruhan Ken sedang berjaga diluar.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Mariska basa-basi saat melihat Brata tengah menatap arah luar dari jendela kamarnya. Pria yang duduk di kursi roda itu menoleh sekilas lalu kembali menatap lurus kedepan.


"Seperti yang kamu lihat!" jawab Brata dingin.


Ini kali pertama Mariska masuk ke kamarnya selama ia sakit. Selama setahun ini, ia dan Mariska memang sudah pisah kamar. Brata tak ingin lagi sekamar dengan Mariska karena pernah memergoki istrinya itu bersama pria lain di sebuah hotel mewah.


Brata tidak menceraikan Mariska karena wanita itu terus memohon dan meminta maaf. Ia juga tak ingin kisruhnya rumah tangga mereka menimbulkan isu dan kabar tidak baik yang akan berpengaruh pada nama baik keluarga dan perusahaan.


Mariska tersenyum simpul. Ia berjalan mendekat lalu berjongkok di depan kursi roda suaminya.


"Aku punya satu berita penting untukmu," ucap Mariska menatap Brata.


Brata diam saja. Ia tak mengatakan apapun. Ya, pria itu memang lebih banyak diam setelah kejadian beberapa waktu lalu yang hampir merenggut nyawanya.


"Kamu pasti belum tahu, kan?" Mariska menyeringai.


"Perusahaan yang kamu bangun bertahun-tahun sudah bangkrut." Mariska tertawa kecil.


"Putri tercintamu itu yang meruntuhkan semua yang sudah kamu bangun!"


"Putrimu, dalam sekejap membuat semua usahamu selama bertahun-tahun menjadi sia-sia."


Brata menatapnya tanpa ekspresi. Mariska sendiri tidak bisa mengartikan arti tatapan itu. Apakah marah, atau terkejut?


Apakah detak jantungmu mulai tidak stabil, Brata? Batin Mariska.


Mariska melihat sekeliling kamar nan luas itu. Lalu ia tertawa. "Ah ya. Tidak ada tv disini?" tanyanya mengejek. "Makanya kamu tidak tahu berita itu?"


"Oh!" Mariska menutup mulutnya dan berlagak terkejut. "Bahkan ponselmu juga ia buang?"


"Hahahah... pintar juga putrimu menyembunyikan hal sebesar itu." Tawanya begitu lepas.


"Bahkan Ken?"


"Ck! ck! ck!" decaknya berulang kali sambil menggeleng pelan. "Anj*ng jalanan yang kamu pungut, yang kamu fikir setia itu, justru bekerja sama dengan putrimu untuk membohongimu."


Mariska tertawa. "Ah! Sudahlah! Lagi pula ini bukan urusanku."


"Perusahaan itu juga bukan milikku."


Mariska berdiri dan meninggalkan Brata yang masih diam tanpa ekspresi.


Mariska menghentikan langkah. "Ah, yaaa..." Ia berbalik. "Jaga putrimu, jangan sampai ia menjual dirinya pada pengusaha kaya hanya untuk membayar hutang perusahaanmu." Mariska kembali tertawa dan keluar dari kamar itu.


Brata tersenyum kecil. Ia memejamkan matanya dan berusaha menahan emosinya.


Ia kembali ingat pesan Ken, orang kepercayaannya.

__ADS_1


Flashback on


"Pak, aku ingin mengatakan sesuatu." ucap Ken pada Brata saat mereka sedang menunggu dokter.


Nur ia perintahkan untuk kembali ke mobil mengambil sesuatu yang tertinggal. Hal ini menjadi satu kesempatan baginya untuk bicara hal penting dengan Brata.


"Ada apa, Ken?"


Ken menghela nafas. "Pak, saya harap bapak bisa mendengarkan saya dengan tenang," ucap Ken sepelan mungkin.


"Saat ini, Bu Lova sedang sangat sibuk. Banyak klien baru berdatangan dan ia mendapat 5 proyek besar dari sebuah perusahaan besar yang berpusat di luar negeri."


Brata tersenyum simpul. Ia yakin putrinya memang bisa membawa perusahaan itu menjadi lebih maju.


"Tapi, beberapa minggu sebelumnya, ada pihak yang ingin menjatuhkan Bu Lova dan perusahaan." Ken memegang bahu Brata.


Brata membelalakan matanya. "Lalu?"


"Bu Lova bisa mengatasi ini, Pak." Ken membuat pria tua itu menghembuskan nafas lega.


"Tapi ada tugas baru untuk kita." Ken berusaha membuat Brata semangat berjuang untuk sembuh.


"Bu Lova dan anda masih dalam situasi bahaya."


"Serangan demi serangan bisa saja datang tanpa kita tahu dari arah mana dan dari siapa." Yang Ken maksud serangan adalah masalah baru yang bisa saja mengancam nyawa.


"Untuk itu, Bapak harus tetap sehat dan waspada. Jangan terpengaruh omongan siapapun termasuk Nyonya Mariska." Brata mengangguk.


"Rahasiakan setiap kemajuan kesembuhan Bapak."


"Saya akan memaksa Nur untuk bungkam."


"Tapi kenapa Ken?" tanya Brata.


"Ada dua alasan, Pak."


"Pertama, musuh akan menganggap Bapak bukan ancaman selama bapak masih sakit."


"Semoga saja." lanjut Ken.


Brata mengangguk pelan tanda ia mengerti maksud dan tujuan Ken.


"Kedua, kita belum tahu, di rumah itu siapa saja orang yang berpihak pada kita dan siapa yang menusuk kita dari belakang."


"Kalau kesembuhan Bapak sampai diketahui orang lain, berarti Nur terlibat."


"Tapi, Dokter Nugroho?" tanya Brata karena tidak mungkin seorang Dokter berbohong.


"Saya akan mengatur semuanya."


"Dokter Nugroho tidak akan mengatakan apapun."

__ADS_1


"Baiklah, Ken." Brata sudah mengerti permainan apa yang Ken ciptakan.


Flashback off


Brata menghela nafas.


Terima kasih, Ken. Kamu sudah menceritakan kebenarannya tepat pada waktunya.


Mariska bertujuan untuk membuat kondisiku menurun dengan memberi tahuku berita itu.


Aku belum tahu tujuan utamanya untuk apa. Tapi yang pasti aku tidak akan kalah. Aku tidak akan membiarkan putriku kalah. Batin Brata.


***


Mariska berjalan mondar mandir di kamarnya. Ia merasa risau karena sampai detik ini, keadaan Brata masih baik-baik saja.


"Kenapa dia masih bisa tertawa lebar bersama Ken, si bud*ak sial*n itu!" Makinya pelan.


"Padahal aku sudah berusaha membuat fikirannya kacau agar kesehatannya menurun."


"Dua hari." gumamnya geram.


"Astaga!" Ia memijat keningnya. "Waktuku dua hari lagi," ia semakin panik.


"Bagaimana aku bisa membuat Lova setuju untuk menikah dengan putra Hendrico dalam dua hari?"


Mariska memutar otak, menyusun rencana. "Apa ku culik saja dia dan ku serahkan pada keluarga itu?" Mariska duduk di atas ranjang dengan perasaan tak tenang.


"Jangan!" Ia kembali berdiri dan berjalan mondar-mandir. "Aku bisa di penjara."


"Tuan Hendrico itu mana mungkin menolongku."


"Lagi pula, kalau Brata dan Ken tau bisa mat* aku!"


Mariska mengacak rambutnya. "Aaargh!"


"Seandainya Brata tiada dan Ken juga tiada..."


Mariska diam mematung, lalu tak lama ia tersenyum lebar. "Oh God... terima kasih untuk kecerdasan yang ada padaku ini."


Sebuah ide gil* melintas dalam fikiran Mariska. Ia bersiap untuk pergi menemui seseorang.


Ia tak peduli lagi dengan resikonya. Ia yakin, dirinya akan selamat dari segala tuduhan jika seandainya semua rencananya berjalan mulus.


Brata hidup atau tidak, tidak berpengaruh padanya. Toh, dirinya dan kedua putrinya tidak dapat warisan sebanyak Lova.


Justru lebih banyak apa yang Tuan Hendrico tawarkan padanya. Mariska sudah gelap mata. Ia menghalalkan segala cara untuk hidup lebih baik dari saat ini.


Yang ada dalam fikirannya hanya uang dan kemewahan. Terlebih saat Lova sudah memegang kendali keuangan di rumah itu. Ia sama sekali tak berdaya lagi. Ia tak bisa seleluasa dulu saat ia meminta uang tambahan dari Brata.


***

__ADS_1


Mariska mau menghabisi dua orang sekaligus???


Kira-kira berhasil gak ya? 😅


__ADS_2