ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 29 Kepulangan Lova


__ADS_3

Mariska sedang berada di kamarnya bersama Mauren. Mereka kebingungan mondar-mandir tak karuan memikirkan cara untuk mengembalikan uang yang telah Tuan Hendrico berikan


"Ini semua salah mama!" tuding Mauren. "Mama terlalu terlena dengan pemberian Tuan Hendrico."


"Berhenti menyalahkan mama, Mauren! Kamu juga menikmati uang itu saat di Paris!" Bentak Mariska tak terima.


"Kamu membeli banyak barang-barang mewah disana! Kamu fikir uang itu dari mana? Dari langit?"


Mauren menghentakkan kakinya. Ia duduk dipinggir ranjang dengan perasaan kacau. Ia tentu tidak ingin menjadi tumbal mamanya dan diserahkan begitu saja pada Tuan Hendrico.


"Lalu, kita harus apa, Ma? Uang 10 milyar yang mama terima hanya tersisa seperempatnya. Dari mana kita mencari sisanya, Ma!"


"Bahkan dengan menjual jiwa mama juga belum cukup!" gumam Mauren kesal.


"Jaga bicaramu, Mauren!" Bentak Mariska. "Anak durhaka!"


"Terserah ma! Yang penting! Aku tidak ingin jadi penebus hutang mama!"


"Makanya bantu mama berfikir, Mauren! Cari cara agar kita bisa mengembalikan uang itu. Kasihan Mauza yang bekerja sebagai pelayan di rumahnya!"


"Kamu masih enak! Masih bisa tidur nyenyak di rumah!"


"Tapi aku kehilangan pekerjaanku! Aku sekarag pengangguran dan tidak punya penghasilan, Ma!"


"Bukankah kamu hanya diberi cuti?" tanya Mariska heran.


"Pagi tadi aku mendapat kiriman email dari perusahaan dan aku dipecat!"


"Sial*an! Kurang aj*r! Ini pasti ulah Ken!" Mariska tak terima. Ia keluar dari kamar dan menemui Ken yang sedang menyesap kopi sambil menatap layar Tab di meja makan.


"Saya mau bicara!" Mariska menarik kursi di dekat Ken dan segera duduk.


Ken menatap wanita itu sekilas lalu kembali menatap Tabnya. Ia sama sekali tidak peduli dengan kedatangan Mariska.


"Bicaralah!"


"Mengapa kamu memecat Mauren! Kamu lupa dia siapa? Dia anakku, anak Brata. Majikanmu!" Bentak Mariska.


"Semakin hari, tingkahmu semakin menjadi-jadi! Kamu bertindak sesukamu! Mengacak-acak rumah bahkan perusahaan suamiku!"


"Dasar tidak tahu diri!"


Ken meletakkan Tab nya dan menatap Mariska dengan melipat tangan di atas meja.


Ia tersenyum kecil. "Tidak tahu diri?" Ken menggeleng pelan.


"Saya tanya, siapa yang tidak tahu diri, Nyonya?"


"Saya atau anda?"


"Tentu dirimu!" tunjuk Mariska.


Ken tertawa. "Hahaha... Mengapa anda lucu sekali!"


"Anda lupa dengan semua kejahatan anda?"


"Anda lupa dengan semua yang telah anda lakukan pada Bapak dan Bu Lova?" Ken membuat Mariska terpancing emosinya.

__ADS_1


"Apa yang ku lakukan? Ha!" Marahnya.


"Kamu tidak punya bukti apapun, Ken! Jadi, berhentilah menuduhku!" Mariska menuding wajah Ken.


"Saya punya bukti!" jawab Ken.


Air muka Mariska langsung berubah. Ia mendadak memucat tapi ia tidak boleh terlihat lemah di mata Ken.


"Bukti apa? Jangan mimpi Ken!" bentaknya.


Ken kembali menatap Tabnya. "Jangan pucat begitu, Nyonya! Saya belum ingin memenjarakan anda!"


Mariska mengepalkan tangannya. Ia berdiri dan meninggalkan Ken. Rasanya percuma saja bicara dengan pria licik itu. Bagi Mariska semakin ia banyak bicara justru Ken semakin memojokkannya.


Beberapa langkah Mariska berjalan. Ken memanggilnya.


"Nyonya..."


"Mulai sekarang, coba hitung semua kesalahan anda!" perintah Ken. Mariska menghentikan langkahnya. Ia mendengarkan apa yang akan Ken bicarakan lagi.


"Dimulai dari kasus kecelakaan Nyonya Alana dan putranya, Attala!"


Mariska diam mematung. Ia tak bergerak sedikitpun. Mendadak jantungnya berhenti berdetak. Ia juga hampir lupa bagaimana caranya bernafas.


Ken, Dia tahu apa soal kecelakaan itu? Dia tau apa? Mengapa dia bertingkah seolah mengetahui apa yang telah terjadi tiga belas tahun silam?


Ken, Aku tidak menduga kamu semembahayakan ini. Mengapa aku tidak membuatmu tewas dalam kecelakaan kemarin? Aku tidak menyangka peliharaan Brata yang satu ini begitu cerdik!


Mariska berbalik. "Tahu apa kamu tentang Alana?" tanyanya.


"Tidak banyak, hanya sedikit cerita dari Bapak."


"Bagus! Pasti Brata membagi kisah pilu itu padamu, kan?"


"Saya tahu kamu pasti prihatin pada-"


"Non Lova! Astaga!" teriakan asisten rumah tangga dari arah depan memotong ucapan Mariska.


Ken langsung berdiri saat ia mendengar asisten rumah tangga menyebut nama Lova.


Mariska berbalik melihat arah pintu depan. Ken sudah melewati tubuhnya.


"Pak Ken! Ya Tuhan, Non!" asisten rumah tangga histeris sambil menyebut nama Ken.


Mauren keluar dari kamar Mariska saat mendengar teriakan yang menyebut nama Lova.


"Ada apa, Ma?" tanyanya pada Mariska.


Mariska masih belum percaya ini. "Lova... Lova kembali!"


Mauren dan Mariska segera berlari kearah depan untuk memastikannya.


Keduanya melihat Lova yang berantakan. Rambutnya kusam dan pakaian yang ia pakai juga tampak lusuh. Ia masih memakai pakaian yang sama seperti saat penculikan itu terjadi.


Jeans birunya sudah entah berapa warna disana. Kaos putihnya penuh dengan noda tanah.


"Bu Lova!" Ken langsung membawa Lova duduk di ruang tamu. "Apa yang terjadi, Bu?"

__ADS_1


"Ambilkan minum dan makanan!" perintah Ken pada salah satu asisten rumah tangga yang juga turut mengerumuni Lova.


Mereka senang bercampur sedih melihat kepulangan Lova. Mereka ingin mendengar cerita dan penjelasan Lova tentang menghilangnya wanita itu selama hampir sepekan.


"Ken, ayah..." tanya Lova dengan suara lemah.


"Bapak sedang di rumah sakit. Sore ini beliau akan pulang jika hasil pemeriksaan menyatakan bapak dalam keadaan sehat."


"Anda ingin ikut menjemput?" tanya Ken dengan mata berkaca? Pria itu berlutut di lantai.


"Bapak pasti senang, Bu. Saya yakin, Bapak pasti senang!"


"Minum dulu, Non!" Ucapa wanita 30an tahun yang membawa nampan berisis makanan dan minuman.


"Bi, tolong! Beri makanan dan minum juga pada orang yang berbaik hati mengantar saya, Bi."


"Beliau ada di depan. Saya minta dia untuk menunggu!" Lova meneguk minuman di gelas. Ia melihat Mariska dan Mauren saling sikut. Keduanya sepertinya sedang bertanya-tanya apakah Lova benar-benar menghilang atau disembunyikan.


"Ken, beri sedikit untuk pria itu!"


"Baik Bu. Nanti saya akan mengurusnya."


"Sebenarnya apa yang terjadi, Bu?" tanya Ken.


Lova tidak menjawab. Ia malah menatap tajam pada Mariska. Ia melihat Mariska dengan tatapan kebencian.


"Ken, menjemput ayah, nanti saja. Sore nanti tolong undang media dan polisi sekaligus!" ucap Lova melepaskan tatapannya dari Mariska.


"Aku ingin memberitahu seluruh dunia, siapa yang berbuat jahat padaku."


"Aku ingin polisi langsung menyeret paksa tubuhnya di depan banyak orang!" Tatapan mata Lova membuat Mariska mendadak berdebar hebat.


Lova menatap Ken. "Dan ya... Jangan biarkan siapapun keluar dari rumah ini."


"Jangan ada yang masuk ruang cctv sampai polisi datang!" perintah Lova.


"Aku ingin menghukum siapapun itu meski dia hanya asisten rumah tangga atau benalu sekalipun di rumah ini!"


Mariska dan Mauren memucat.


"Anda punya bukti apa, Bu?" tanya Ken.


"Polisi lebih tahu bagaiman caranya mencari bukti, Ken! Kita serahkan saja pada mereka!"


"Ah, ya... dimana Mauza! Aku tidak melihatnya?" tanya Lova yang tidak melihat gadis itu.


"Mauza sudah lima hari tidak pulang, Bu!" jawab Ken sambil melirik pada Mariska.


Lova menatap Ken. "Apa dia menggantikanku dan sudah menikah dengan putra dari keluarga Hendrico?" tanya Lova pura-pura tidak tahu apapun.


Ken tertawa dalam hatinya. "Saya tidak tahu, Bu."


"Ehmm... Mauza sedang berlibur bersama teman-temannya." jawab Mariska gugup.


"Enak sekali dia bisa berlibur, Ken. Sementara aku hidup tak tentu arah di dalam hutan selama berhari-hari."


Mariska membulatkan matanya. *Jadi, dia tersesat di hutan? Lalu dimana orang-orangku? Apa mereka memperk*sa gadis ini lalu meninggalkannya di hutan dan kabur begitu saja karena takut akan ancamanku yang tidak membiarkan mereka menyentuh Lova.

__ADS_1


Brengs*k. Dasar preman rakus*!


__ADS_2