
Semua awak media diminta meninggalkan rumah Brata. Polisi dibantu orang-orang kepercayaan Ken berhasil mengosongkan tempat itu.
Tak berselang lama, masuklah sebuah mobil sport keluaran terbaru. Dimana Alvin tengah bercanda tawa bersama Brata di kursi penumpang.
"Sudah sampai, Pak," ucap Alvin pada Brata.
"Sudah siap dengan segala kemungkinan terburuk?" tanya Alvin.
Brata mengangguk. "Demi sebuah keadilan, Vin. Saya siap!"
Alvin turun dan membantu Brata untuk turun dari mobil. "Oke, it's show time, Pak!" Alvin mengerling.
"Semoga adegan kita tidak di cut oleh bapak Ken sang sutradara." Alvin dan Brata kompak tertawa.
"Jika dia mengulur waktu kita, sebagai produser saya akan menghajarnya," jawab Brata.
"Hahaha... Saya suka bagian ini, Pak!"
Alvin membawa Brata masuk ke dalam. Brata menghela nafas panjang.
"Jangan gugup, Pak. Ambulance tidak standby di rumah," bisik Alvin dan dihadiahi cubitan oleh Brata.
"Saya masih kuat, Vin!"
"Ayaaaaah!" Lova berteriak dan berlari menubruk tubuh ayahnya. Ia merindukan pria tua yang sangat menyayanginya itu.
"Ayah sehat?" Lova memeriksa tubuh Brata. Ia memindai wajah, lengan bahkan pergelangan tangan ayahnya.
"Ayah tidak terluka?"
"Ayah sehat kan, Yah?"
Brata tersenyum kecil dengan setetes air mata di sudut matanya. "Ayah sehat, sayang! Kamu apa kabar, Nak?"
"Lova rindu ayah! Maaf membuat ayah khawatir!" Mereka kembali berpelukan.
"Maaf, Bu. Sepertinya lebih baik Bapak duduk dulu," ucap Alvin yang berdiri disebelah Brata membuat Lova menatap pria itu.
"Ah, ya... Ayo duduk!" Lova menggandeng tangan ayahnya.
"Dia siapa, Ayah?" tanya Lova. Yang ia maksud adalah Alvin, pria yang berjalan dibelakang mereka.
"Tampan juga. Ken pintar mencarikan perawat untuk ayah!" ucap Lova membuat Ken ingin tertawa. Lucu rasanya melihat Lova yang pura-pura tidak mengenal Alvin.
Sementara Alvin mendengus kesal karena disebut sebagai perawat Brata.
Mariska sedari tadi diminta duduk di ruangan itu juga. Bahkan seluruh pekerja di rumah itu. Rosa dan supir kantor sudah diminta untuk pulang.
"Apa yang terjadi denganmu, Nak?" tanya Brata saat ia sudah duduk berdekatan dengan putrinya itu.
"Banyak hal terjadi ayah. Lain kali, aku akan menceritakan semuanya."
"Karena semua sudah berkumpul, saya rasa ini saatnya." Ken membuat Mariska berdebar hebat.
Mau apa dia? batin Mariska.
"Pak Polisi, saya ingin anda menangkap beliau!" Ken membuat semua orang menatap arah jari telunjuknya yang mengarah pada Mariska.
"Apa maksudmu, Ken?" tanya Mariska dengan nada tinggi. Wanita itu berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Ya, Pak! Beliau sudah melakukan banyak kejahatan."
"Beliau pembun*uh!" Perkataan Ken mengundang banyak tanya di hati pekerja di rumah itu.
"Beliau beberapa kali mencoba melenyapkan pak Brata!"
"Semua bukti ada disini!" Ken menyodorkan sebuah amplop coklat berisi bukti kejahatan Mariska.
"Pengacara kami akan mengurusnya, Pak!"
Pihak kepolisian memeriksa bukti dan segera menangkap Mariska.
Mariska berontak. "Tunggu dulu! Kalian tidak bisa bertindak seperti ini!"
"Saya tidak merasa bersalah sama sekali!" Teriak Mariska. "Semua bukti itu palsu! Dia membuat bukti palsu!" tunjuknya pada Ken.
"Sebaiknya tangkap dia, Pak! Karena dia berniat menguasai seluruh harta suami saya."
Brata dan Lova hanya bisa diam. Mereka juga tidak tahu berapa banyak bukti yang Ken berikan pada pihak kepolisian.
"Saya tidak bersalah!"
"Silahkan anda jelaskan di kantor, Bu!"
Mauren hanya bisa terduduk lemas sambil menangis. Ia tidak ingin terbawa-bawa dengan kasus mamanya.
"Mauren! Mengapa kamu hanya diam saja? Bantu mama menjelaskan semua ini!" Mariska menatap tajam pada putrinya.
"Ma, ikut saja dulu. Mauren akan hubungi pengacara dan sisanya akan kita urus disana," ucap Mauren. Baginya percuma saja berjuang disini, karena perjuangan yang sesungguhnya adalah di persidangan nanti.
"Dasar anak durhaka!" teriak Mariska.
"Lalu bagaimana denganku dan putraku, Mariska!" Seorang wanita datang dari pintu depan membuat semua orang diam terpaku.
"Bibi Anna!" gumam Lova pelan namun Brata mendengarnya.
Brata dan Lova kebingungan karena hal ini tidak ada dalam rencana mereka. Keduanya saling tatap saat wanita itu semakin melangkah maju.
"Siapa dirimu?" Bentak Mariska. "Aku tidak mengenalmu!"
Wanita itu tersenyum kecil. "Bagaimana dengan mobil sedan yang terjun ke jurang karena ulahmu, Mariska?"
Mariska membulatkan matanya. Mo-mobil sedan? Jurang?
Semua orang masih kebingungan. Terkecuali Alvin dan Ken.
"Jangan mengatakan hal yang tidak ku mengerti!" Bentak Mariska. "Rencana apalagi, Ken?" tanyanya dengan tatapan tajam. "Setelah bukti palsu, kini kamu menghadirkan saksi palsu!"
"Dasar licik!"
"Berhenti menuduh orang lain, Mariska!" teriak Mommy Anna.
"Bagaimana dengan wajah ini? Apakah kamu juga lupa?" Mommy Anna membuka topeng silicon yang ia pakai dari kepala wajah hingga menutupi lehernya.
Perlahan tapi pasti, topeng itu terbuka dan nampaklah wajah asli Mommy Anna.
"Alana!" seru Mariska tak percaya.
"Alana." Brata berdiri dari duduknya. Ia tak percaya dengan apa yang ia lihat. Wajah itu mirip sekali dengan wajah istrinya yang telah meninggal 13 tahun lalu.
__ADS_1
Lova berdiri dengan mata berkaca-kaca. "Bun-daaaa!" bisiknya pelan. Ia masih ingat wajah itu. Wajah bunda yang tidak berubah sedikitpun. Wajah yang ia lihat hanya dari sebuah foto.
Mommy Anna adalah bunda. Tidak! Ini tidak mungkin! Ini sulit dipercaya. Batin Lova belum bisa menerima apa yang ia lihat saat ini.
"Alana! Tidak!" Mariska menggeleng lalu tertawa. "Tidak mungkin! Kamu sudah mati Alana!" Teriak Mariska.
"Kamu sudah mati! Jasadmu sudah dikuburkan!" Jerit Mariska.
"Mauren!" Mariska memanggil putrinya yang masih duduk terpaku berusaha mencerna apa yang terjadi. "Lihat! Mama berhalusinasi lagi!" Mariska tertawa kecil.
"Aku masih hidup, Mariska!" Mommy Anna berjalan mendekatinya. "Lihat ini dan rasakan!" Ia mengusap pipi Mariska dengan lembut.
"Terasa nyata, bukan?" Mommy Anna perlahan meneteskan air matanya.
"Dan pembalasan itu juga akan terasa nyata, Mariska! Bahkan lebih pedih dari yang kamu bayangkan!" Mommy Anna menggemertakan giginya.
"Sekarang aku kembali, Mariska! Aku kembali untuk melindungi Putriku dari kebusukanmu!"
"Aku tidak akan membiarkan kamu merenggut nyawa putriku!"
"Cukup Attala! Cukup dia yang menjadi korban kerakusanmu!" Mommy Anna menunjuk-nunjuk wajah Mariska yang sudah pucat itu.
"Kamu tatap mata ini!" Teriak Mommy Anna. "Mata yang selalu basah saat aku menyadari putraku telah tiada!"
"Mata yang selalu basah saat aku kembali dan melihatmu sudah menggantikan posisiku!"
"Mata yang selalu basah karena harus mati-matian berjuang untuk membalas semua kejahatanmu!"
"Sekarang, hari pembalasan sudah ada di depan matamu!"
"Bersiaplah membusuk dipenjara!" Mommy Anna menatap Mariska dengan penuh kebencian.
"Bawa dia, pak!" Perintah Mommy Anna pada pihak kepolisian.
Mariska terus berontak dan melawan, namun usahanya sia-sia. "Maureeen! Tolong mama!" teriaknya histeris.
"Mauren! Mama tidak salah, kan?"
"Ken, aku bersumpah akan melenyapk*nmu!"
"Aku bersumpah akan menghancurkan keluargamu, Brata!" Perlahan suara Mariska menghilang seiring jarak mereka yang semakin jauh.
Di ruangan itu hanya tersisa sebuah luka dan tanda tanya besar. Mauren bersedih, Lova dan Brata juga bersedih. Semantara mommy Anna menangis lega.
Ken dan Alvin sudah memeluk tubuh wanita yang terisak itu. "Mommy berhasil, Mom!"
"Mommy berhasil melawan kesakitan itu, Mom."
***
Maaf kalau semua gak sesuai ekspektasi kalian!
Next kita akan flashback tentang kejadian 13 tahun silam 😉
Ah, ya... Saat ini Noveltoon sepertinya dalam masalah ya? Karena semua akun pengguna sepertinya otomatis log out dan harus log in lagi.
Yang sedang mengupayakan akunnya kembali, semoga bisa segera kembali.
Sepertinya yang log in pakai akun google akan aman-aman aja. seperti emak. Alhamdulillah. 😊😊
__ADS_1
Emak sedih, kalau pembaca emak gak bisa log in ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜