
Malam ini, Ken sengaja duduk di depan meja kerja Lova. Ia ingin menyampaikan suatu hal pada gadis yang merupakan atasannya saat di kantor itu.
Ken sudah memikirkan hal ini selama sehari semalam. Ia harus berpacu dengan waktu untuk membalas Tuan Hendrico. Jika tidak, keselamatan Alvin dan yang lainnya akan terancam.
Ken bisa saja menemb*ak mati pria itu, tapi tidak akan ia lakukan. Untuk apa dendamnya terbalas jika ia akhirnya masuk ke dalam penjara. Ia ingin semuanya terkesan natural, yaitu dengan mencari kesalahan pria itu.
Ia ingin reputasi dan kerajaan bisnis yang dibangun selama bertahun tahun itu runtuh. Kekayaan yang di dapat dengan penghianatan terhadap papanya. Dan kejayaan yang mengorbankan kedua orang tuanya.
"Ada apa, Ken?" tanya Lova saat melihat wajah Ken begitu terlihat serius. Ia tahu, Ken pasti sedang mengalami kesulitan atau ia sedang memikirkan masalah yang berat.
"Aku akan mengundurkan diri sebagai asisten kamu, Lov," ucapnya membuat Lova kaget.
"Dan aku juga akan keluar dari rumah ini?"
"Kenapa?" tanya Lova. Gadis itu duduk tegak di kursinya dengan tangan yang berada di atas meja. "Ada yang membuatmu tidak nyaman?"
Ken juga melakukan hal yang sama. Pria itu menggeleng. "Aku harus mengurus banyak hal."
"Lagi pula, Mommy akan terus menetap disini setelah ia kembali bersama bapak."
"Mommy sudah menemukan kembali kehidupannya dan aku harus kembali melanjutkan hidupku."
Ken tersenyum kecil. "Seperti yang kamu katakan, tugasku sudah selesai."
Lova menggenggam tangannya. Ken mendadak membeku melihat apa yang Lova lakukan. Debaran jantungnya semakin cepat seiring dengan semakin dingin tangan yang digenggam gadis di depannya.
"Bukan begitu maksudku, Ken. Aku tidak bermaksud membuatmu pergi dari hidup kami dan dari rumah ini."
"Ken, kamu dan Alvin adalah bagian dari hidup bunda. Ku yakin bunda tidak akan setuju dengan keputusanmu ini."
"Tetaplah disini dan bunda pasti akan bahagia."
Ken tersenyum kecil. "Aku akan tetap di kota ini tapi tidak di rumah ini."
"Tapi kenapa, Ken?"
"Maaf aku tidak bisa menceritakan banyak hal padamu, Lov."
"Aku akan tetap mengupayakan penjagaan di rumah."
"Untuk apa?" tanya Lova. "Wanita jahat itu sudah dipenjara dan Aland tidak lagi mengejarku."
Untuk berjaga-jaga jika tuan Hendrico menyerang kalian. batin Ken.
"Hati-hati tidak ada salahnya, kan?" tanya Ken.
***
__ADS_1
Lova dan Alana sedang berada di sebuah restoran mewah. Siang ini ia sengaja menemui bundanya yang belum tinggal serumah dengannya.
Alana langsung memeluk Lova dengan erat. Kesibukan putrinya membuat mereka jarang bertemu. Sesekali, Alana yang datang ke rumah Brata saat malam hari. Selain untuk bertemu Lova, tentu wanita itu juga ingin bertemu dengan Ken.
"Bunda, bisa kita bicara sebentar?" pintanya.
Lova dan Alana duduk di sofa dalam ruangan VIP itu. "Katakan, kamu ingin membicarakan hal apa, Sayang?" tanya Alana.
"Bunda pasti tahu segalanya tentang Ken?" tanya Lova.
Alana mengangguk pelan. "Tentu, dia adalah putra bunda juga."
Lova tersenyum kecil. Tidak ada rasa cemburu sedikitpun karena berkat Ken ia masih bisa kembali merasakan sentuhan kasih sayang dari bundanya.
"Dia selalu menceritakan hal sekecil apapun pada Bunda. Dia tidak pernah menyembunyikan hal apapun, Sayang."
Lova menyandarkan kepalanya di bahu Alana. Ia menikmati setiap sentuhan lembut tangan yang mulai keriput itu di rambutnya.
"Ken sedang dalam masalah apa, Bun?" tanya Lova tanpa menatap Alana.
"Malam tadi, dia meminta izin untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya."
"Katanya, dia harus melanjutkan hidup tanpa keluarga kita."
"Jujur, aku tidak mengerti apa maksudnya, Bun." Lova menarik diri dan duduk menghadap wanita yang ia rindukan selama ini.
Alana diam sejenak. Ia mengamati wajah putrinya yang tampak murung. Alana tahu, keputusan Ken yang mendadak membuat Lova sedikit tidak siap. Gadis di depannya ini tidak suka Ken menjauh darinya.
"Ada apa denganmu, Nak?" tanya Alana. "Kamu sepertinya tidak suka dengan keputusan yang Ken buat?"
Lova diam sejenak. "Tentu, Bun. Aku tidak suka dia pergi begitu saja dari kehidupan kita. Mengapa dia tidak memikirkan perasaan Bunda, dan Ayah."
"Aku tahu, dia punya perusahaan sendiri. Herannya dia mengatakan tidak akan pergi dari kota ini, tapi dia hanya keluar dari rumah."
"Lalu, untuk apa semua itu, Bun. Bukankah perusahaanya tidak ada di kota ini?"
Alana tersenyum kecil. "Selama ini, Ken juga tinggal sendiri di apartemennya, Nak."
Lova terdiam. Ia menyadari apa yang bundanya katakan ada benarnya. Ken bahkan baru beberapa bulan terakhir tinggal di rumahnya setelah ia menugaskan Ken untuk menjaga ayahnya.
"Tapi..."
"Lova, dengarkan bunda sayang."
"Bunda akan memberitahu padamu sebuah rahasia besar. Dan semoga setelah ini kamu mengerti posisi Ken dan kamu tidak pernah memaksanya untuk tetap tinggal di rumah ayah."
Lova mengangguk pelan. Ia menunggu bundanya bercerita.
__ADS_1
"Kamu tahu kan, jika kedua orang tua Ken meninggal dengan cara yang tidak wajar?" tanya Alana.
Lova mengangguk. "Ken sudah cerita sedikit, Bun."
"Kamu tahu sayang?"
"Selama bertahun-tahun Ken dan Alvin hidup dalam bayang-bayang kejadian dimana keduanya melihat mama mereka meregang nyawa."
"Mengerihkan dan membawa trauma yang begitu berat, Nak."
"Masa remaja keduanya hanya diisi dengan keinginan balas dendam dan balas dendam."
"Keadaan diperparah dengan sebuah fakta bahwa yang melakukan semua itu adalah sahabat papa mereka sendiri."
"Kelicikan orang itu membuat keluarga Ken kehilangan perusahaannya. Bahkan Ken dan Alvin juga menjadi targetnya. Ya, Ken dan Alvin akan dibun*uh juga."
Lova mengusap air mata Alana. Bagaimana pun Alana pasti menjadi saksi bagaimana kepedihan itu mewarnai hari-hari Ken dan Alvin.
"Dan beberapa saat lalu, ia menemukan pria yang membantai keluarganya habis-habisan."
Lova membulatkan matanya. Jadi, apakah dia ingin membalaskan dendamnya?
"Ya, dia ingin membalas dendam pada orang itu, Nak."
"Bunda..." Lova memeluk Alana erat. "Tidak bisakah bunda membujuknya?"
"Bukankah balas dendam itu membahayakan nyawanya, Bun?" tanya Lova.
"Sayang, bunda pasti ingin dia selamat dan terhindar dari bahaya." Alana mengusap rambutnya. Ia tahu putrinya begitu mengkhawatirkan keselamatan Ken.
"Tapi, bunda pernah merasakan apa yang dia rasakan sayang, hidup dalam ketidak adilan. Dimana orang keji yang membuat hidupnya hancur berkeping masih bisa menikmati hidup bahkan juga menikmati harta orang tuanya."
"Bunda mendukungnya?" Lova menatap wajah Alana.
Alana mengangguk. "Bunda ingin Ken dan Alvin terbebas dari rasa sakitnya. Meski caranya dengan membalas dendam."
"Tapi bunda, bahaya yang akan mereka hadapi..."
"Untuk itulah sayang, Ken akan pergi dari rumah kamu. Ken akan menjauh sementara dalam hidup kita."
"Karena dia tidak ingin musuh memanfaatkan kita untuk menyulitkanya."
"Ia tidak ingin kita berada dalam bahaya, Nak. Sebab, musuhnya sangat dekat dengan kita."
Lova mendelik tak percaya. "Siapa, Bun?" tanyanya penasaran.
"Juan Verdiand alias Tuan Hendrico."
__ADS_1