
Ken sedang berada di dapur malam ini. Ia tengah menyeduh kopi hitam dengan air panas dari dispenser. Ia mengaduk perlahan dan membawa secangkir kopi itu ke halaman belakang.
Penjagaan masih berlangsung, tapi tidak seketat sebelumnya. Ia mendudukkan diri di sebuah kursi panjang dan menghadap ke kolam renang. Ia mencoba memikirkan rencana selanjutnya.
Tuan Hendrico mengenaliku sebagai Ken Darrass, pegawai di perusahaan pak Brata. Lalu bagaimana caranya agar aku bisa muncul dihadapannya tanpa melibatkan perusahaan Bapak?
Apa aku bekerja saja di perusahaan Thomas? Ck! Mana mungkin aku tiba-tiba muncul disana? Apakah tidak terlalu kentara?
Ataukah lebih baik aku menelusuri dan mencari tahu bisnis haramnya, supaya aku bisa memenjarakannya?
Tapi aku ingin nyawanya! Bukan melihatnya mendekam dibalik jeruji!
"Melamun, Ken?" Suara lembut itu membuat Ken menoleh dan menemukan Lova berdiri di dekatnya.
Gadis yang memakai piyama panjang itu kini sudah duduk di sampingnya membuat ia menegakkan posisi duduk. "Ehm, tidak."
Lova tertawa kecil. "Lalu untuk apa menatap air kolam yang tenang itu?"
"Hanya mencoba mencari udara segar. Dan kebetulan kolam renang yang ada di depan mata," jawab Ken.
"Seperti biasa! Selalu bisa menjawab!" ucap Lova terdengar hampir seperti kalimat sindiran.
"It's me!" Jawab Ken bangga. Inilah dirinya yang selalu bisa menjawab apapun pertanyaan orang lain. Meski pertanyaan yang menyudutkannya sekalipun.
Lova diam sejenak. Ia sesekali melirik cangkir kopi di tangan Ken.
"Mau ku buatkan kopi?" Tawar Ken.
Lova menggeleng. "Gak perlu."
"Ken,"
"Ya..."
"Ceritakan tentangmu!" Pinta Lova.
Ken tertawa pelan. "Cerita apa yang ingin anda dengar bu Lova?"
"Disini aku bukan Bos kamu!" Lova mendorong bahunya pelan dan Ken tertawa kecil.
Lova kembali menatap lurus ke depan. "Ceritakan bagaimana masa kecilmu, mengapa kamu bisa bertemu bunda di hutan. Dan bagaimana bisa kalian bangkit?"
"Yakin ingin mendengar ceritaku?" Lova mengangguk.
"Baiklah."
"Jangan menangis ya!" Lova tertawa kecil.
"Dulu, 13 tahun yang lalu."
Ken menghela nafas berat membuat Lova bisa menebak sesulit apa masa kecilnya.
"Tidak ada yang special," ucap Ken kemudian. "Jadi, tidak ada yang bisa diceritakan."
Lova diam dan melihat mata itu tidak sanggup menatap lurus ke depan. Ken menunduk dalam. Jelas bukan Ken pemberani yang ia kenal. Bukan Ken si ahli debat yang ia lihat saat ini. Tapi, pria biasa dengan luka menganga di dadanya.
Mungkin terlalu sakit untuk di ceritakan.
"Lalu Bunda?" Tanyanya. "Ceritakan tentang bunda selama beliau amnesia, Ken!"
Ken menatapnya. "Mommy pasti sudah menceritakannya padamu. Untuk apa aku bercerita lagi?" Tanya Ken.
__ADS_1
"Aku hanya ingin mendengar versimu!"
Ken tersenyum kecil. "Dia wanita hebat."
"Ah, ya Ken. Aku ingin bertanya!" Potong Lova.
"Dulu, saat kalian menemukan Bunda, tidakkah kalian menyadari bahwa Bunda adalah korban kecelakaan? Dan mengapa kalian tidak menyerahkan bunda pada pihak berwajib?"
Ken tersenyum pahit. "Bagaimana bisa kami menyerahkan bunda ke pihak berwajib jika kami saja sedang bersembunyi dari kejaran seseorang."
"Saat itu kami tidak memiliki ponsel, apalagi tv. Jadi, kami tidak tahu mengenai kecelakaan itu."
"Setiap kali mendengar dan melihat orang lain di hutan, kami selalu berusaha menghindar. Tidak ada yang bisa dipercaya kala itu, Lov! Semua kami anggap sebagai musuh dan ancaman."
"Siapa yang mengejar kalian Ken?"
Ken menatapnya sebentar. "Musuh!"
"Tapi siapa, Ken?" Cecarnya.
"Dia orang yang melenyapkan mama dan papa kami." Ken menceritakan sepenggal kisah pada Lova. Bukan untuk mencari simpati tapi untuk ketenangan dirinya. Mungkin dengan bercerita ia sedikit merasa lega.
Flashback On.
"Mama...." Alvin yang saat itu berusia 12 tahun menangis kala melihat mamanya tergeletak di lantai dengan keadaan berlumur darah.
Sebuah tembakan berhasil menembus keningnya dan wanita cantik itu seketika menghembuskan nafas terakhirnya.
Ken berusaha menutup mulut Alvin. Keduanya saat itu tengah bersembunyi di bawah kolong tempat tidur.
Beberapa menit lalu mereka sedang berkumpul di kamar itu. Tapi ketika mendengar ada yang menyerang dari arah luar, mereka memilih bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Namun, saat mamanya belum bersembunyi, musuh sudah masuk ke dalam kamar itu.
"Aku akan membantai seluruh keturunan Aldric!" Suara seorang pria yang Ken kenali membuatnya membulatkan mata.
"Dimana anak-anak mereka?"
"Semua kamar kosong, Tuan! Sepertinya mereka tidak ada disini!"
"Bagaimana bisa?"
"Salah satu mobil yang mereka bawa tidak ada di rumah ini, Tuan!"
"Mungkin anak-anak mereka pergi bersama salah satu asisten rumah tangga."
"Cari mereka sampai ketemu! Dan bila perlu bawa mayatnya ke hadapanku!"
Hampir satu jam mereka bersembunyi dan akhirnya Ken memberanikan diri untuk keluar setelah suasana terasa sepi.
Ken melihat keluar jendela dan tidak ada lagi kendaraan mereka di luar.
Alvin menangisi jasad mamanya. "Mama.... bangun, Ma..."
"Alvin takut, Ma!"
"Ssst!" Ken memintanya untuk diam. "Tenanglah Vin! Kita harus segera pergi dari rumah ini!" Ken menarik tubuh Alvin untuk keluar.
"Ayo ke kantor polisi kak! Kita harus meminta polisi menangkap mereka."
"Jangan!" tolak Ken. "Mereka mengincar kita, Vin!"
"Kalau kita melapor polisi, mereka akan dengan mudah menemukan kita!"
__ADS_1
Ken mencari barang berharga milik mamanya yang tersimpan dalam brangkas yang tersembunyi. Ken mengambil seluruh perhiasan mahal sebagai bekal mereka melarikan diri.
"Ayo, Vin!" Ken menarik tubuh Alvin yang masih meratapi jasad mamanya.
"Mama kak!" isaknya.
Ken bersimpuh di depan jasad itu. Ia mencium tangan dan kening yang memucat itu untuk terakhir kalinya.
"Ken bawa Alvin pergi, Ma. Kami harus tetap hidup untuk membalas kekejian ini." ucap Ken penuh dendam.
"Maaf Ken harus meninggalkan Mama disini. Semoga pihak berwajib bisa menemukan mama segera."
Ken keluar dari rumah itu dan menemukan beberapa orang kepercayaan papanya tengah bersembunyi di luar rumah. Di balik pepohonan besar.
"Tuan muda!" Ken melihat tiga orang yang sedang dalam keadaan terluka.
"Kalian masih disini?" tanya Ken heran.
"Kami menunggu Tuan muda Ken Dan Tuan muda Alvin keluar dari rumah!" jawab Salah satunya.
"Kami yakin kalian pasti selamat karena salah satu dari mereka memerintahkan untk mencari Tuan Muda di luar rumah. Tepatnya mencari mobil yang kalian kendarai."
"Sebenarnya dimana mobil kita?"
"Mobil sedang di bawa supir ke bengkel. Dan mungkin mereka mengira kalian keluar dengan mobil itu."
Ken bernafas lega. "Kami akan pergi dari tempat ini, Pak!"
"Kami ikut, Tuan muda!" ucap mereka semua.
"Kalian..."
"Kami sudah berjanji pada Tuan besar untuk menjaga kalian berdua."
"Ayo!" Ken mengangguk. Ken menggendong Alvin di punggungnya. "Jangan menangis lagi, Vin! Kita akan selamat."
"Tuan Muda! Akan lebih aman jika kita masuk ke dalam hutan!" Ucap salah satu pria saat Ken berjalan menuju jalan utama.
"Tapi, Pak?"
"Mereka pasti berjaga di jalan utama menuju lokasi ini untuk menunggu kepulangan tuan Muda."
Ken mengangguk faham. Hanya ada satu akses jalan menuju rumah ini dan sudah pasti mereka menunggu disana.
Flashback Off
Lova menatap Ken yang berusaha menahan air matanya.
"Itu rumah kalian, Ken?" tanya Lova dan Ken mengangguk kecil.
"Sebenarnya bukan rumah yang biasa kami tinggali. Kami kesana untuk bersembunyi karena terakhir kali papa menghubungi, ia telah di jebak dan sedang berusaha kabur dari kejaran musuh."
"Letaknya dipinggiran hutan."
"Kalian terpisah atau bagaimana, Ken?" tanya Lova.
"Saat itu, papa sedang dalam perjalanan bisnis. Dan dalam keadaan genting, papa masih sempat menghubungi kami, Lov."
"Dan papa juga menghubungi adik perempuan mama."
"Bibilah yang akhirnya membawa kami dari negara ini."
__ADS_1
****
Kita sambung di bab selanjutnya