
"Ayo ke salon, Lov!" ajak Alana kesekian kalinya pada putri sematawayang yang akan menikah 2 hari lagi.
"Kamu harus melakukan perawatan, Nak," lanjut Alana.
Sementara Lova sedang duduk di ruang tamu dan memeriksa berkas-berkas yang baru saja diantarkan oleh Rosa ke rumahnya.
Karena sibuk mengurus anak panti, Rosa jadi sedikit terlambat mengerjakan semua pekerjaannya. Hingga baru kali ini ia menyerahkan berkas yang harus Lova periksa dan tanda tangani.
Rosa yang duduk di dekat Lova merasa tidak enak hati karena keterlambatannya membuat bos kesayangannya itu harus kehilangan waktu untuk melakukan perawatan tubuh yang biasanya di lakukan oleh calon pengantin.
"Sebentar bunda, ini hanya butuh waktu sebentar. Bukankah masih ada besok?" tanya Lova namun ia masih fokus oada berkas di tangannya.
"Lov, besok kamu harus full istirahat, Nak. Tidak keluar rumah dan hanya akan makan tidur saja."
Lova tertawa pelan, ia meletakkan berkas diatas meja dan menatap wanita yang melahirkannnya itu.
Wanita yang duduk disebrang meja, dan terus menunggu dirinya mengatakan ya.
"Bunda, jika aku hanya makan tidur, aku jamin, perutku akan terlihat buncit, bun!"
"Aku janji, besok aku akan melakukan perawatan di rumah. Aku akan meminta orang salon dan spa untuk datang." Lova tersenyum kecil.
"Apa bisa dipesan mendadak, Lov?"
"Rosa akan mengurusnya, bunda." Lova mengerling kearah Rosa yang terlihat tampak merasa bersalah.
"Bukan begitu, Ros?"
"Ah, iya, Bu. Iya nyonya." Rosa terkesiap tapi sigap menjawab.
"Saya akan segera menghubungi salon terbaik untuk melayani Bu Lova besok." Alana diam menatap Rosa.
"Bunda tenanglah, Rosa cukup kompeten, untuk diandalkan." Lova kembali memeriksa berkas-berkas itu.
"Tapi, bukankah akan ada orang dari W.O yang akan datang besok, Lov?"
"Kamu pasti akan sibuk dan rumah ini akan sangat ramai. Apa kamu akan nyaman melakukan perawatan?"
Lova menghela nafas. Bundanya terlalu antusias menyambut hari pernikahannya hingga selalu mengkhawatirkan hal-hal kecil karena menginginkan semuanya berjalan lancar dan sempurna.
"Aku akan pakai kamar Ken jika orang W.O mendekorasi kamarku, Bun!"
Akhirnya Alana tidak lagi bisa membantah keinginan Lova. Terlalu sulit merayu gadis yang gil* kerja itu.
__ADS_1
"Maaf ya, Bu. Gara-gara saya anda jadi bertengkar dengan nyonya," ucap Rosa penuh penyesalan setelah Lova selesai memeriksa berkas dan Alana sudah pergi ke dapur.
Lova tersenyum lebar. "Tidak masalah, Ros. Masih ada besok dan aku berharap akan lebih fresh jika melakukan perawatan di H-1."
"Ah, ya. Aku mendapat kabar dari orang butik, kalau kamu belum mengambil dressmu?"
Rosa mengangguk. "Saya masih belum sempat, Bu."
"Sore ini atau besok pagi akan saya ambil, Bu. Terima kasih untuk dressnya," ucap Rosa. Ia dan Clara mendapatkan dress gratis dari Lova.
"Lakukan perawatan juga, Ros. Supaya kamu lebih fresh. Akhir-akhir ini sepertinya kamu terlalu bekerja keras dan sedikit stress," ada tawa kecil diujung kalimat Lova.
"Ya, urusan panti membuat saya sedikit kepikiran, Bu. Tapi untungnya pak Alvin, anda dan pak Ken berbaik hati untuk membantu."
"Saya sekarang sedang berusaha mencari kontrakan atau rumah yang bisa dibeli dengan harga murah yang layak untuk mereka."
"Kenapa? Bukankah ada rumah Ken?"
Rosa tersenyum kecil, "Saya tidak enak hati, Bu. Saya tidak mungkin membiarkan mereka terlalu lama di rumah besar itu."
"Anak-anak terlalu antusias, mereka berlari di halaman luas itu, naik turun tangga, berdiri di balkon saat malam hari hanya untuk melihat lampu di sekitar komplek yang tampak indah dan mereka berenang setiap hari." Rosa tertawa saat mengingat apa yang Ibu panti ceritakan padanya.
Lova tertawa. "Harusnya bagus, Ros? Bukankah itu artinya anak-anak betah dan bahagia?" tanya Lova.
"Iya, Bu. Tapi barang-barang mahal di rumah pak Ken, buat ibu-ibu pengurus panti sport jantung tiap saat." Rosa kembali tertawa.
"Belum lagi sofa yang akan jebol karena ulah anak-anak." Rosa menggeleng lalu menghela nafas berat. "Saya tidak bisa membayangkan bagaimana Ibu- ibu yang mengurus mereka selalu merasa was-was."
Lova terus tertawa karena ia tahu, Ken tidak mungkin menuntut atas kerusakan yang anak panti timbulkan. Barang-barang di rumah Ken memang terkesan mewah, namun bukan barang yang terlalu mahal seperti guci antik atau barang langka lainnya.
"Lalu, kamu akan mencari rumah sewa untuk mereka?" tanya Lova.
Rosa mengangguk. "Untuk saat ini sepertinya lebih baik begitu, Bu."
"Ehm, uang saya belum cukup untuk membeli rumah baru untuk mereka," ucapnya lesu.
"Jika pun cukup, saya akan mencari rumah dengan harga murah yang letaknya dipinggiran, tidak dipusat kota, Bu."
Lova menghela nafas berat. Ia bisa saja membantu Rosa, tapi gadis itu sudah pasti akan menolak. Ia tahu, Rosa tipe gadis seperti apa.
"Bagaimana jika saya memberimu lahan kosong dan bangunlah rumah untuk mereka disana."
"Ti-tidak Bu," tolak Rosa gugup. Ia merasa terkejut atas tawaran Lova. Kemarin, Lova sudah mengirimkan ratusan stel pakaian dan puluhan lusin buku serta alat tulis ke rumah Ken agar dapat digunakan oleh anak-anak panti.
__ADS_1
Dan kali ini, Rosa tidak bisa menerima apapun lagi dari bosnya itu. Kebaikan Lova sudah sangat cukup baginya. Belum lagi, hari ini dan esok ia tidak tahu barang-barang apa yang akan Rosa bawa dari kantor, karena Lova mengajak seluruh karyawan kantor untuk ikut berpartisipasi memberi sumbangan ke panti.
Baik pakaian bekas layak pakai, dan beberapa mainan yang masih bisa digunakan dan boleh juga berupa uang cash.
"Saya tidak bisa menerima bantuan apapun dari anda, Bu!" lanjut Rosa sopan.
"Ros, saya ingin membantu anak-anak. Ini bukan hanya untuk memudahkan kamu, Ros. Tapi untuk kehidupan lebih layak bagi anak-anak," balas Lova.
Rosa diam sejenak. Jika ia menerima bantuan Lova, mungkin uang tabungannya cukup untuk membuat rumah sederhana, hanya beberapa kamar, dapur, dan beberapa ruangan penting lainnya. Soal furniture masih bisa ia cicil dari gajinya.
"Ros!" panggil Lova karena gadis itu diam saja.
"Ehmm, saya akan fikirkan lagi nanti, Bu."
"Fikirkan baik-baik, Ros. Tanah kosong itu berada di jalan X. Nanti kamu bisa lihat dan kamu fikirkan ulang tawaran saya."
"Kalau kira-kira cocok, kamu bisa segera hubungi saya,"
"Baik, Bu. Saya pamit kembali ke kantor dulu, Bu."
"Clara sedang sibuk dengan uang yang di donasikan kepada panti, dan saya ucapkan banyak terima kasih, Bu. Berkat anda, saya banyak terbantu."
"Anak-anak panti seperti mendapatkan hidup mereka kembali setelah pengalaman kemarin, yang saya yakin menimbulkan trauma bagi mereka."
Lova mengangguk. "Sama-sama Ros. Justru saya bangga karena kamu lebih mengedepankan mereka dibanding hidup kamu sendiri."
Aku tahu bagaimana besarnya rasa rela berkorban itu dalam dirimu, Ros. Hanya karena Bu Siti berjasa dalam hidupmu, kamu rela sebagian gajimu mengalir untuk mereka semua.
Padahal kamu sudah keluar dari panti sejak puluhan tahun lalu. Aku salut padamu. Melihat kehidupanmu, aku merasa malu pada diriku yang sepertinya kutang bersyukur dengan segala yang ada dalam hidupku. Batin Lova.
Rosa keluar dari rumah Bratadikara dan bertepatan dengan masuknya Alvin. Mereka bertemu di teras rumah.
Rosa tersenyum kecil pada pria yang sejak kemarin selalu membantunya itu.
"Selamat siang, pak Alvin."
"Ah, selamat siang, Ros! Sedang ada urusan dengan kak Lova?" tanya Alvin dengan tegas dan lugas. Alvin yang tampak sering becanda kini mulai berubah. Ia bisa tampak serius dan berwibawa.
"Iya, Pak."
"Sudah selesai?" tanya Alvin lagi.
"Sudah pak. Saya permisi dulu, saya harus segera kembali ke kantor."
__ADS_1
Alvin mengangguk. "Hati-hati."
Alvin tidak memberi tawaran karena mobil serta supir dari kantor sedang menunggu Rosa di halaman rumah.