ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 54 Pulang


__ADS_3

Setelah kedatangan pihak kepolisian, Ken dan Alvin menyerahkan Tuan Hendrico yang wajahnya sudah memucat. Tubuh pria itu bahkan bergetar hebat saat polisi memborgol kedua tangannya.


Ya, ini adalah mimpi paling buruk baginya. Ia tak menduka, kedua putra mantan sahabatnya itu masih hidup dan membalaskan dendam padanya.


"Selamat membusuk di penjara, paman Juan!" Ejek Alvin dengan senyum puas.


"Sering-seringlah tertidur, supaya kedua orang tuaku bisa datang dalam mimpimu untuk mengucapkan selamat!" Alvin semakin tersenyum lwbar saat pria itu menatapnya tajam. Bagi Alvin, kemarahan Tuan Hendrico saat ini adalah kebahagiaan baginya.


"Silahkan bawa dia pak!" Perintah Alvin.


Semua proses hukum akan tetap berlanjut. Ken tidak akan memberi ampun. Ia akan membongkar segala kejahatan pria itu. ken terus mencari bukti agar hukuman yang di terima pria itu semakin berat.


"Ayo, pulang!" Ken merangkul bahu Alvin dan mengisyaratkan seluruh anak buahnya untuk pulang.


Mereka pulang dengan membawa kemenangan. Biar bagaimanapun, ini adalah impian terbesar mereka yang sempat pupus karena mereka tidak mengetahui keberadaan Tuan Hendrico.


"Mommy!" Alvin dan Ken langsung berjongkok saat menyadari lengan Alana berdarah. Bahkan blouse lengan panjang yang wanita itu gunakan sudah basah oleh darah.


Lova yang sedari tadi hanya fokus pada Ken dan Alvin sampai tidak memperhatikan bundanya.


Alana juga tidak peduli dengan lukanya. Ia malah terus menatap dua orang putranya yang sedang berjuang memberikan keadilan pada mendiang kedua orang tua mereka.


Alana tersenyum puas, karena penderitaan Ken dan Alvin sebentar lagi akan terbayar.


Menyimpan dan membalas dendam memang bukan hal terpuji, tapi Alana hanya berharap penderitaan, kesulitan dan kesedihan kedua putranya berbalik pada pria kejam yang tega merusak seluruh hidup mereka.


Alana menangis memeluk Alvin yang dulunya merupakan anak berusia 12 tahun yang berjuang melawan trauma. Terdiam diatas ranjang bersamanya yang juga sedang terluka saat itu.


Alana juga memeluk Ken, pria yang menerima satu ginjal darinya. "Selamat nak, akhirnya hari ini datang juga!" Alana menahan sakit karena tangannya terangkat untuk memeluk tubuh mereka.


"Mommy senang, pria itu sudah mendapat balasannya."


Ken dan Alvin melepaskan pelukan. Ken menarik lengan baju Alana dan melihat lukanya.


Lova dan Alvin membuang muka karena tidak kuat melihat luka yang ada di lengan Alana.


Tanpa banyak bicara, Ken langsung membuka jaketnya lalu mengoyak kemejanya yang akan ia gunakan untuk mengikat luka itu.


"Kita ke rumah sakit sekarang! Luka ini harus diobati, Mom!"


"Alvin?" Alana juga memperhatikan Albin yang wajahnya penuh luka. Bahkan pakaian yang dipakai pemuda itu juga tampak lusuh dan robek akibat cambukan yang terlalu keras.


"Ya, dia juga akan dirawat, Mom."


Alvin dibantu Ken, membantu Alana untuk berdiri. "Kak!" Alvin memberi kode pada Ken dengan menaikan dagunya menunjuk Lova. Ken tau artinya. Alvin meminta Ken untuk membantu gadis itu.

__ADS_1


"Ayo!" Ken mengulurkan tangannya sementara Lova hanya diam dan menatap tangan Ken.


"Ayo, Bu Lova!" Lova tersadar ia menggandeng lengan pria itu.


"Jangan takut!" Lirih Ken karena tangan Lova masih bergetar sementara pist*l yang ia pegang sudah ia tinggalkan.


"Semua sudah aman," lanjut Ken.


Mereka masuk ke dalam mobil dimana Ken dan Lova serta Alana duduk di kursi tengah dan Alvin duduk di kursi depan.


"Ke... Ken!" Lova mendadak gugup saat mengingat nasib ayahnya dan para asisten rumah tangga.


"A-ayah! Ayah disandera!" Ia membulatkan mata. Ken yang duduk di tengah sambil memegani Alana, kini juga harus menggenggam tangannya.


"Tenanglah! Bapak baik-baik saja!"


"Darimana kamu tahu?" tanya Lova.


"Security rumah sudah memberi kabar. Mereka dalam keadaan baik-baik saja."


"Ba-bagaimana bisa? Semua orang sudah tergeletak tak bernyawa di depan rumah, Ken!" Lova masih belum percaya. Ia hanya takut jika Ken cuma ingin menenangkannya.


Jelas-jelas saat ia pergi tadi, Brata terjatuh karena sebuah pukulan dan asisten rumah tangga juga disandera.


"Ceritanya nanti saja. Bapak juga sedang berada di kantor polisi untuk dimintai keterangan."


Ken mendapat kiriman pesan dari salah satu security rumah itu. Satu-satunya penjaga rumah yang sedang dalam keadaan sehat dan selamat.


Pria itu sedang keluar komplek untuk membeli makanan untuk para orang suruhan Ken.


Dan saat pria itu kembali, ia melihat orang asing sudah menguasai rumah itu dengan rekan-rekannya yang sudah tergeletak tak berdaya.


Ia lantas langsung melapor kepihak berwajib dan akhirnya orang suruhan Tuan Hendrico berhasil ditangkap.


Mereka tiba di klinik terdekat. Luka Alana dengan cepat dibersihkan. Alvin juga mendapatkan perawatan pada semua lukanya.


Siang menjelang sore, mereka tiba di sebuah rumah mewah. Rumah dimana Lova pernah ditawan oleh Ken. Rumah Brata masih diberi garis polisi hingga tidak mungkin bagi mereka untuk pulang kesana.


"Ayah!" Lova terisak saat menemukan Brata terus mondar-mandir di ruang tamu untuk menunggu kepulangan mereka.


"Ayah, tidak kenapa-kenapa?" tanya Lova khawatir. Ia melihat seluruh anggota tubuh Brata. Lova bisa melihat ayahnya tidak terluka sama sekali.


Brata menggeleng. "Ayah fikir, kita tidak akan bisa bertemu lagi!" lirih pria itu.


"Ayah..." Lova memegang kedua tangannya. "Aku juga sempat berfikir begitu, Yah!"

__ADS_1


"Tapi untung saja Tuhan masih melindungi kita semua."


Brata berjalan kearah Alana yang sedang duduk diapit oleh Ken dan Alvin. Wanita itu menangis melihat bagaimana Lova dan Brata begitu saling menyayangi.


"Kamu baik, baik saja Alana?" tanya Brata.


Wanita itu mengangguk. Brata duduk di samping Alana karena Ken bergeser ke sofa yang lain.


"Aku juga mengkhawatirkanmu." Brata memeluk wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu.


"Aku baik-baik saja, Mas!"


Lova dan Ken tersenyum senang melihat dua orang yang saling mencintai itu kembali dipersatukan.


"Ayah! Bagaimana dengan yang lain?" tanya Lova masih belum puas dengan jawaban Ken tadi.


"Mereka baik-baik saja."


"Entahlah, Ayah hanya heran, karena mereka tidak menghabisi kami semua."


"Hanya orang-orang bersenjata saja yang mereka serang."


"Ken..." Brata menatap Ken. "Maaf telah menyebabkan orang-orangmu banyak yang tewas."


Ken mengangguk pelan. Semua itu sudah resiko dan Ken akan menjamin kehidupan keluarga yang ditinggalkan. "Saya yang harusnya minta maaf, Pak. Karena sayalah semua ini terjadi."


Brata mengangguk.


"Mengapa begitu, Ayah? Kalian tidak ada yang terluka sama sekali?" tanya Lova.


Brata mengangguk. "Mereka ketakutan, Lov. Mereka tidak ada yang berani melawan sampai akhirnya kami semua dikurung di satu kamar lalu mereka pergi!"


"Security kita melapor polisi dan mereka berhasil ditangkap saat akan keluar dari gerbang kompleks."


Lova menghembuskan nafas lega karena ada saja jalannya untuk bisa selamat. Mereka tidak diserang, mungkin karena memang hanya dirinya dan Alana yang menjadi target. Lagi pula, para asisten rumah tangga mungkin dinilai tidak membahayakan bagi mereka.


"Ayah, kita harus meminta maaf pada mereka."


"Pasti, Nak! Ayah juga akan memberikan mereka uang untuk mengganti ponsel mereka yang sudah dihancurkan saat penyerangan tadi."


"Ayah akan bawa mereka ke rumah sakit. Ayah khawatir mereka ada yang trauma."


Ya, menghamcurkan ponsel meraka merupakan cara yang digunakan agar tidak ada yang melapor kepihak kepolisian. Meskipun aksi penyerangan itu terekam cctv, tapi orang suruhan Tuan Hendrico tidak gentar sedikitpun karena mereka yakin bahwa polisi tidak akan bisa menangkap mereka. Tapi nyatanya mereka salah. Saat ini mereka telah mendekam dibalik jeruji besi bersama Tuan mereka dan Ken berjanji akan mengirim sisanya ke tempat yang sama.


***

__ADS_1


Next kita akan fokus ke kisah Lova-Ken serta Aland-Mauza. Sambil mengiringi jalannya kehancuran Tuan Hendrico ☺


Terima kasih masih setia menunggu. 😚 Salam sehat guys 😚


__ADS_2