ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 91 Hotel


__ADS_3

Thomas mematut dirinya di depan cermin. Ia dan Alvin memilih untuk bersiap di apartemen. Keduanya juga tidak ingin menginap di hotel.


Kalau Alvin, ia berharap bisa mengantar Rosa pulang setelah acara resepsi malam nanti selesai.


Tapi, bagi Thomas, ia tidak ingin menginap di hotel jika tidak ada yang memanjakan senjata laras panjangnya. Kecuali ia menginap untuk urusan perusahaaan. Ia memang menggilai aktivitas ranjang. Tapi, tidak dengan semua wanita. Ia hanya melakukannya dengan wanita yang menjadi kekasihnya.


Dan sialnya, ia menjomblo sejak membantu Ken menggembleng Alvin mempelajari banyak hal mengenai perusahaan. Waktu bersama kekasihnya tersita habis hingga ia diputuskan. Miris sekali!


"Sebentar, Mom! Alvin sedang bersiap!" ucap Thomas melalui panggilan ponsel oada Mommynya yang sedari tadi sudah menyuruhnya untuk datang lebih cepat.


Dress yang akan dibawa Thomas harusnya sudah sampai ke tangan wanita itu sejak tadi. Tapi, Thomas yang butuh waktu lama untuk berdandan membuat pria itu sedikit lebih lambat berangkat.


"Jangan salahkan aku! Aku sudah selesai sejak setengah jam lalu. Dan lihat dirimu, kucing!" Alvin menunjuk Thomas yang ia samakan dengan kucing bod*h yang selalu kalah dengan seekor tikus itu.


"Kamu mengubah gaya rambutmu sebanyak 4 kali. Mulai dari miring kanan, kiri, disisir kebelakang dan sekarang kamu turunkan ke depan."


"Tidak sekalian saja, kamu cukur habis supaya tidak pusing-pusing mengatur rambut jelekmu itu!" Alvin kesal karena malah ia yang di jadikan kambing hitam.


"Oke, Mom! Kami sudah selesai. Tunggu kami disana, Mom! Kirimkan melalui pesan dimana kamar Mom!"


"Ayo, Vin!" ajak Thomas pada Alvin yang sudah rapih dengan jasnya.


Alvin tertawa melihat Thomas yang memakai dasi kupu-kupu. "Berdandan terlalu lama, dan disana tampilanmu sama seperti pegawai hotel," sindir Alvin. "Sia-sia, Thom!"


Thomas tak peduli, meski itu benar atau salah, yang penting ia sedang mengumpulkan stok senyum sebanyak mungkin untuk gadis yang akan ia sapa nanti.


"Hina aku sesukamu! Aku akan membalasmu dengan melihat dirimu yang gigit jari karena tidak bisa mengimbangiku!"


"Apa yang harus ku imbangi darimu. Kamu juga tidak lebih unggul dariku," ucap Alvin sombong.


Thomad menatap Alvin dan tersenyum sinis. "Aku akan mendapatkan gadis itu malam ini. Sementara kamu? Bermimpilah untuk bisa bersama Rosa."


"Kucing betina yang terlalu malu-malu itu!"


"Ck! Dia macan betina, Thom!" ralat Alvin.


"Terserah, tapi lohatlah betapa romantisnya kami nanti!"


Thomas tidak peduli, ia berjalan lebih dulu sambil bersiul dan menjinjing hanger yang tergantung dress mommynya.


***


"Lama sekali! Kalian dari kutub utara atau dari apartemen!" omel wanita yang sudah cantik dengan make up natural di wajahnya.

__ADS_1


Ia langsung menyambar hanger di tangan putranya dan segera masuk ke kamar mandi.


"Paman Brata dan Bibi Alana kemana, Mom?" teriak Thomas yang lagi-lagi melihat bayangan dirinya dicermin. Ia merapihkan rambutnya yang tidak berubah sesentipun karena gel yang terlalu banyak hingga rambut itu menjadi kaku dan tiupan angin tidak akan berpengaruh sedikitpun.


Cukup lama wanita di dalam sana menyahut. "Apa isi kepalamu sudah pindah ke lutut, Thom!" Tiba-tiba wanita di dalam kamar mandi itu menjawabnya sambil berteriak.


"Tentu mereka sudah di ball room, menyapa tamu yang hadir. Tidak sepertiku yang harus menunggu dress diantar oleh putraku yang lambat seperi siput ini!"


"Sudahlah, Mom! Jangan marah padaku lagi." Thomas menatap Mommynya yang baru keluar dari kamar mandi dengan wajah kesalnya.


"Malam ini aku harus tampil memukau, karena aku akan menemukan calon mantu untukmu, Mom!"


"Jangan main-main Thom!"


"Aku tidak main-main, Mom! Aku serius! Aku jatuh cinta pada seorang gadis."


"Jangan membual. Kamu hanya mencintai isi br* dan pantynya!" sindir wanita yang tengah bercermin itu.


"Hahahah... Sangat hafal tentang diriku, uh?" Thomas tertawa. Ia meletakkan tangannya dipinggang dan wanita paruhbaya itu menyelipkan tangannya. Keduanya keluar dari kamar hotel sambil bergandeng tangan.


"Jangan merusak gadis disini, Thom!"


"Aku akan menikahinya, Mom. Bukan merusaknya!"


"Mommy rasa otakmu sudah mulai waras. Bagus jika niatmu baik! Tapi, sekali saja kamu merusak gadis disini apalagi itu keluarga Brata, maka bersiaplah, Mommy akan memotong juniormu itu dan menjadikannya makanan ikan koi di rumah Alana."


***


"Terima kasih, my Hero!"


Ken mencium pipi Lova berkali-kali. Membuat gadis itu mendorong keningnya menjauh. "Jangan sampai make up ku luntur, Ken!"


"Aku akan memperbaikinya!" sahut Ken tidak peduli karena ia malah menelusuri leher gadis itu dengan bibirnya.


"Ken! Kamu membuatku geli!" Lova menggerakkan bahunya agar pria itu menjauh.


"Aku suka parfummu!"


"Nih! Pakai saja kalau kamu ingin!" Lova meletakkan parfum di pipi Ken.


"Huuh! Bolehkan kita skip resepsi ini dari jadwal hari ini?" bisik Ken padanya.


"Kenapa?" tanya Lova.

__ADS_1


"Karena aku ingin langsung masuk ke acara puncak!"


"Menghabiskan malam bersamamu dan membuat bayi lucu yang akan menjadi penerus Alkenzy Aldric."


Lova tertawa dan berbalik. "Jangan bicara omong kosong!"


"Ayo kita kesana, atau bunda akan menggedor pintu dan menyeret kita keplaminan, Sayang!" Lova menggandeng tangan Ken.


"Give me one kiss!" minta Ken.


Lova menghela nafas. Ia mendekatkan wajahnya dan mencium kening Ken. "Sudah!"


"On lips!"


"Oh God, banyak maunya!" gumam Lova dan Ken tertawa kecil.


Lova mengecup singkat bibir suaminya itu. Tapi Ken menahan tengkuknya dan melahap bibir yang terlihat segar dengan sapuan lips cream berwarna golden peach itu.


Lova hanya bisa pasrah, karena jika ia melawan, sudah dipastikan, tidak hanya make upnya yang rusak, tapi juga tatanan rambutnya.


Make up artis yang mereka sewa sudah pulang. Sebenarnya belum jadwalnya, karena mereka harus memastikan riasan Lova aman hingga akhir acara. Tapi, Ken yang hanya ingin berdua dengan gadis itu di kamar ini mengusir mereka sejak setangah jam yang lalu dan meminta mereka untuk segera pulang.


Lova sempat ingin marah, tapi ia tidak boleh membuat moodnya hancur diacara penting ini.


Pintu kamar mereka diketuk. Dan Ken segera melepaskan Lova. Ia tertawa melihat ekspresi kesal istrinya itu.


"Lipstik mahal tidak akan luntur, sayang!" Ken meraih tissu dan mengusap perlahan bibir basah istrinya.


Ketukan di pintu semakin intens dan tak berjeda membuat Lova buru-buru melihat ke cermin dan memastikan tampilannya tidak rusak.


Ken membuka pintu dan menemukan Mauren serta Mauza di depan pintu. "Kak, ayah dan tante Alana meminta kami menjemput kalian!"


"Acara akan dimulai 15 menit lagi. Kalian diminta untuk menunggu di back stage!"


Lova dan Ken keluar dari kamar dan berjalan menuju ball room. Dan mereka bertemu Thomas yang akan menuju kamarnya.


"Bibi memintaku untuk menjemput kalian," ucap Thomas saat bertemu mereka di lorong hotel.


"Kenapa bukan Alvin?" tanya Ken heran.


Thomas berjalan dibelakang Ken, berdampingan dengan Mauren dan Mauza.


"Dia sedang gelisah karena macan betinanya belum datang!" bisik Thomas dan Ken tertawa pelan.

__ADS_1


Mereka masuk ke dalam lift. Thomas melihat bayangan malaikat cantik didinding lift. Ia menertawakan dirinya yang tampak konyol.


Dia ada disampingku, tapi aku malah memilih melihat bayangannya. Sungguh menggelikan!


__ADS_2