ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 50 Balasan Pesan


__ADS_3

Tuan Hendrico mengerutkan kening saat melihat kemacetan di jalan raya. Ia tidak menduga akan ada razia gabungan malam ini.


Ia baru saja menemui klien pentingnya. Seorang pelanggan yang membeli barang haram itu darinya. Ia sudah beberapa kali bertransaksi langsung dengan pria itu. Dan sejauh ini aman-aman saja.


Ia memang terjun langsung jika bertemu dengan klien besar seperti itu. Klien juga perlu memastikan kualitas barang yang ia beli dan setelahnya kesepakatan baru terjadi.


Tuan Hendrico tetap tenang karena ia tidak membawa barang bukti apapun. Ia juga bukan pemakai yang apabila di cek urine sekalipun, ia tidak akan terbukti menggunakan barang haram itu.


Tuan Hendrico juga tidak membawa uang cash sebanyak bayaran yang harusnya ia terima. Semua uang itu akan masuk ke rekeningnya dengan beberapa kali pengiriman.


Ia membuka kaca jendela mobilnya saat seorang petugas lalu lintas mengetuk kaca mobilnya.


"Selamat malam, Pak!" sapa petugas berseragam lengkap itu.


"Selamat malam!" jawab Tuan Hendrico sopan.


"Bisa tunjukkan surat-suratnya, Pak?"


Ia lantas menunjukkan surat-surat yang dimaksud. Dan ia bisa melihat, polisi di dekatnya itu tengah menatapnya penuh selidik seolah menaruh kecurigaan.


"Anda dari mana dan mau kemana?" tanya petugas tersebut.


"Dari rumah teman dan akan langsung pulang, Pak."


"Boleh kita periksa mobilnya, Pak? Kami sedang melakukan razia terhadap peredaran miras, narkoba dan barang berbahaya lainnya seperti senjata tajam."


"Silahkan, Pak." Tuan Hendrico keluar dari mobilnya. Beberapa orang polisi memeriksa isi mobilnya yang tidak terdapat barang bukti dan hal mencurigakan lainnya.


"Terima kasih atas kerja samanya, Pak!" Ucap Polisi tersebut sambil menjabat tangannya. "Silahkan lanjutkan perjalanan anda, dan berhati-hatilah!"


***


Esok harinya...


Polisi berhasil menemukan sebuah gudang terbengkalai yang menjadi tempat penyelundupan dan transaksi jual beli sabu-sabu malam tadi.


Dari hasil penggerebekan ini, polisi berhasil mengamankan lima orang tersangka terkait pengedaran narkoba jenis sabu dengan berat sekitar 300 kilogram.


Pihak kepolisian sedang mendalami kasus ini karena di duga masih ada banyak orang yang terkait dalam sindikat pengendaran barang terlarang ini.


"Braaakk!" Tuan Hendrico melemparkan remote tv itu sembarangan. Ia mengemertakan giginya menahan geram.


Berita di tv barusan membuatnya menjadi tidak tenang. Tempat yang terlihat di layar tv tersebut adalah lokasi yang ia datangi malam tadi. Dan dia masih beruntung karena tidak berada di TKP saat terjadi penggerebekan.


Bagaimana bisa bisnisku ini terendus pihak kepolisian? Apa ini ada kaitannya dengan razia malam tadi?


Ia sudah rugi milyaran dan ia juga harus menanggung resiko jika tiba-tiba ia dibekuk polisi.


Aku harus apa? Aku harus bagaimana?


Ia menghubungi orang yang termasuk dalam sindikatnya. Ia meminta agar mereka segera mengantarkan barang tersebut pada klien atau memusnahkan saja barang tersebut jika ada hal yang mencurigakan.


300 kilogram yang berhasil polisi amankan adalah sisa dari 3 pengiriman sebelumnya. Dan ketiga pengiriman itu belum sampai pada kliennya.

__ADS_1


Ia merasa was-was karena pengiriman dengan berat rata-rata sekitar 50 kilogram per satu pengiriman melewati jalur darat.


Tuan Hendrico masuk ke ruang kerjanya. ia mengambil sebotol minuman beralkohol dari lemari.


Ia menenggak tanpa jeda hingga berhasil menghabiskan setengahnya.


"Kemarin, penyelundupan dengan speedboat berhasil digagalkan polisi. Dan malam tadi, kembali terjadi penangkapan!"


"Sialan!" Ia melempar asal berkas diatas meja. "Siapa yang menjadi penghianat dalam bisnis ini?" geramnya. Menurutnya, tidak mungkin pihak kepolisian berhasil menemukan tempat itu jika tidak ada yang memberi informasi.


"Siapa orang yang memberi informasi ini pada pihak kepolisian?"


"Bukankah mereka yang tertangkap sudah dibungkam mulutnya?"


Sebuah pesan masuk di ponselnya.


"Ken?" ia mengerutkan kening.


Ia membuka pesan yang semakin membuatnya naik darah itu. Pesan yang ia kirim kemarin, baru dibalas pagi ini.


Siapa kamu? Jangan menipuku dengan meminta tebusan setelah ini!


Aku tidak mengenalmu dan kamu tidak mengenalku. Jadi, jangan mengancamku karena aku tidak mengenal orang yang ada dalam fotomu!


"Sialan!"


Brak!


Ia kembali melempar asal berkas diatas meja yang masih tersisa. Ken yang seolah tidak peduli dengan ancamannya membuat kesabarannya sudah diambang batas.


"Aku akan membuatmu mengakui bahwa dirimulah putra Adam Aldric!"


Tuan Hendrico keluar dari ruangan itu. Hari memang masih pagi, tapi semangatnya untuk melenyapkan seseorang begitu besar.


"Mau kemana, Dad?" tanya Aland yang sedang menikmati secangkir kopi sambil menunggu Mauza menyemir sepatunya.


Tuan Hendrico menatap putranya dengan wajah datar. Ia berhenti sejenak dan melihat Aland begitu santai menikmati hidupnya.


Dasar anak tidak berguna! Taunya hanya bermalas-malasan dan main perempuan saja.


"Kenapa, Dad? Ingin minum kopi juga?" Aland mengangkat cangkir kopinya seolah menawari pria paruh baya yang berdiri tanpa ekspresi di depannya.


"Mommy akan pulang tiga hari lagi," ucap Aland memberi tahu. "Aku tahu Dad merindukannya, kan?"


Nyonya Hendrico memang tengah berada di luar negeri untuk urusan bisnis perhiasannya yang akan me-lounchingkan keluaran terbarunya.


Tuan Hendrico pergi tanpa mengucapkan satu katapun. Aland hanya bisa menghela nafas. Ia tahu pria tua itu memang tidak pernah santai menjalani hidupnya. Bisnis yang berada dimana-mana membuat seluruh waktunya tersita hanya untuk pekerjaan.


Itulah sebabnya Aland enggan terjun dalam bisnis Daddynya. Aland bahkan tidak peduli dengan perusahaan yang besar itu.


Ia memilih bekerja sebagai arsitek yang menurutnya lebih santai. Ia hanya akan menangani satu proyek dalam satu kurun waktu. Tak perlu mengerjar rupiah karena ia sudah memiliki tabungan berlimpah hanya dari jatah bulananya.


Aland melirik Mauza yang tangannya bergetar. Gadis yang berjongkok dihadapannya itu tampak ketakutan.

__ADS_1


Aland menyadari, mungkin gadis itu takut melihat wajah Daddynya yang seperti singa lapar yang siap melahap mangsa.


"Kenapa?" tanyanya.


Mauza menatapnya sekilas lalu kembali menunduk.


"Aku bicara denganmu!" ucap Aland dan gadis itu menggeleng pelan.


"Jangan takut pada Daddyku!" ucap Aland.


"Dia memang seperti itu. Cukup tundukan kepalamu, maka hidupmu akan selamat!"


Mauza membulatkan matanya tak percaya. Kalimat Aland seperti berusaha menenangkannya tapi sekilas terdengar seperti ancaman baginya.


"Tenanglah, dia tidak akan menyentuhmu!"


Mauza semakin membulatkan matanya. Jantungnya berdebar hebat.


Tidak akan menyentuhku? Apakah itu artinya Tuan Hendrico sering atau pernah menyentuh pelayan yang lain?


"Sudah selesai?" tanya Aland.


"Hei! Sudah selesai?" tanyanya lagi karena Mauza hanya diam. Bahkan tangannya berhenti bekerja.


"Ah, i... iya Tuan!"


"Ini." Mauza meletakkan sepatu itu tepat di dekat kaki Aland.


"Pakaikan!" Perintahnya.


Astaga! Kenapa dia bertingkah seperti bayi? Kesal Mauza dalam hatinya.


"Jangan menatapku!" Ucap Aland dingin. Ia benci dengan mata gadis di bawah kakinya ini.


Mata indah yang selalu mamancarkan ketakutan itu membuatnya menjadi tidak tega untuk membentak ataupun memerintahnya.


Mauza menunduk dan ia telah selesai memakaikan sepatu Aland.


Aland segera pergi, tapi sebelumnya ia berpesan banyak hal pada Mauza.


"Longgarkan pakaianmu!" tunjuknya pada seragam yang Mauza pakai.


Ini juga sudah sangat longgar! Batinnya.


"Minta pada pelayan senior, bila perlu pakai seragam miliknya!"


Astaga! Apa yang terjadi jika aku pakai seragam senior yang berat badannya tiga kali lipat dariku?


"Aku pergi dulu,"


Pergilah! Aku pusing mendengar celotehanmu!


"Kunci pintu kamarmu agar serigala lapar tidak menyantapmu!"

__ADS_1


Tanpa anda ajari, Tuan!


Mauza hanya bisa mengangguk sopan agar urusannya dengan Aland pagi ini cepat selesai.


__ADS_2