
Satu jam sebelum kejutan itu Ken berikan.
Ken mengirim pesan pada Lova bahwa ia akan menghubungi gadis itu satu jam lagi. Padahal ia tengah berada di perjalanan dari bandara menuju rumah Bratadikara.
Pesawatnya baru saja landing setelah menempuh lebih dari 6 jam perjalanan. selama perjalanan, Ken beralasan pada gadis itu bahwa ia meeting bertiga dengan Thomas dan Alvin.
Ken tiba di rumah, disambut Alana dan Brata. Ketiganya bekerja sama untuk memberikan kejutan pada gadis yang tengah mengurung diri di kamar.
"Ini lilinnya Ken!" Alana memberikan sebuah paperbag berisi lilin dan korek. Alana dan Brata hanya mempersiapkan apa yang telah Ken rencankaan.
"Semoga berhasil," Alana menepuk bahu Ken. Bagi Alana rasanya begitu mendebarkan, Ia menyemangati putranya yang akan memberikan kejutan pada putri kandungnya sendiri. Sungguh, ini seperti mimpi baginya, tapi entah mengapa terasa begitu indah.
Dua orang yang penting dalam hidupnya akan bersatu. Dua anak yang menjadi kesayangannya akan hidup bersama. Alana tidak perlu mengkhawatirkan hal-hal klasik seperti tidak akur dengan menantu, merasa tidak enak hati jika ingin menegur, dan yang pastu tidak perlu sungkan untuk meminta bantuan.
"Yes, mom! Semoga ia tidak membuka pintu balkon sebelum aku selesai menyalakan lilin-lilin ini."
Ken berlari ke arah balkon kamar Lova yang ada di lantai dua. Ken tidak butuh alat bantu apapun. Ia bisa memanjat dari dinding.
Alana dan Brata menatap kagum karena pria itu begitu lincah memanjat padahal medan yang dilalui cukup sulit.
"Mengapa terlihat begitu mudah baginya, Al?" tanya Brata pada istrinya.
"Entahlah," ucap Alana mengangkat bahu. "Aku tidak tahu, dia berbakat jadi maling sepertinya. Hahaha..." Alana tertawa.
Ken mengendap perlahan. Lampu balkon yang mati membuat Ken sedikit berdebar. Jika cahaya lilin terlihat oleh Lova sementara ia sedang berjongkok menyalakan lilin-lilin itu, maka habislah sudah kejutan ini.
Ken selesai menyalakan lebih dari sepuluh batang lilin kecil. Ia berusaha turun dan akhirnya berhasil. Ia hanya perlu menghubungi gadis itu dan memancingnya keluar kearah balkon.
Tapi rencananya meleset. Lova sudah membuka tirai pintu kaca itu dan Ken lari seribu masuk ke dalam rumah.
Ia menemui Alana dan Brata yang sudah menunggu di dalam. "Lova sudah membuka pintu balkon!"
"Kamu sudah menghubunginya?" tanya Alana.
"Belum, Mom. Rencana berubah. Aku akan masuk ke kamarnya dan memberikan kejutan ini padanya."
"Ini kunci cadangan kamarnya jika kamu butuhkan!" Alana membarikan sebuah kunci kepada Ken.
Ken mengangguk. "Thanks Mom! Terima kasih, Pak!"
__ADS_1
Ken segera berlari menaiki anak tangga. "Sesuai janji Ken, just five minutes!" Alana menunjukkan lima jemari tangannya.
Ken mengacungkan ibu jarinya tanda ia menjawab Oke.
Sesuai rencana, Alana hanya memberikan waktu pada keduanya selama lima menit. Meski Ken sudah ia anggap sebagai putranya, ia tak lantas percaya begitu saja.
Jika waktu yang Alana berikan lebih dari itu atau bahkan berjam-jam, ia khawatir, Ken akan membobol gawang putrinya sebelum waktunya.
Ken masuk ke dalam kamar itu dengan mudah karena Lova tidak mengunci pintu kamarnya. Ken masuk dan langsung memeluk gadis itu.
Satu hal yang membuat Ken berdebar hebat. Lova mengenali dirinya bahkan tanpa menatap wajahnya. Ia percaya, rasa cinta itu begitu dalam. Kerinduan itu begitu nyata. Bahkan Ken nyaris terbawa oleh fikiran Lova yang menduga semua itu hanya mimpi. Ken juga takut, jika apa yang ia dekap sekarang berubah menjadi guling, seperti malam-malam sebelumnya saat mereka terpisah jauh.
***
"Mommyku yang cantik, Putrimu masih utuh, Mom!" Ken mengecup pipi wanita yang hampir menerkamnya itu.
"Sekarang, keluarlah!" perintah Alana. "Atau Mommy akan mengirimmu ke Antartika dan kembali menjemputmu saat akad nikah akan berlangsung."
Ken tertawa dan melewati tubuh Alana begitu saja. Tapi rangkulan tangan Brata di bahunya membuat ia merasa ada perasaan aneh di dadanya. Rangkulan seorang ayah yang begitu ia rindukan.
"Kita ngopi saja, Ken! Jangan dengarkan Mommymu!" Brata menuntun Ken kearah tangga dan membawanya duduk di ruang keluarga.
"Anggap saja dia iri pada kalian!" Brata tertawa.
Alana dan Lova ikut bergabung. Alana melirik Brata. "Itu karena kamu tidak romantis, Mas! Cara kamu mengajakku menikah seperti mengajakku membeli sekaleng kerupuk!"
"Hahahahah..." Brata tertawa. "Apa perlu ku ulang sekarang?"
"Tidak perlu!" sahut Alana cepat. "Putrimu akan mentertawakan kita, Mas!"
Lova menutup matanya. "Ulangi saja ayah! Aku tidak melihat!" Matanya memang tertutup tapi mulutnya tertawa.
"Ken! Ayo tutup matamu juga!" Lova menyuruh Ken melakukan hal yang sama.
"Ah, ya..." Ken menutup matanya. "Sekarang tak perlu malu lagi, Mom! Kami tidak melihat apapun!"
Alana berdiri. "Bunda akan buatkan kopi dulu,"
"Yaaaa..." ucap Lova lemas. "Bunda, tidak seru!"
__ADS_1
"Ayah sih, lambat sekali!" Lova menyalahkan Brata.
"Kenapa jadi salah ayah?"
"Bunda tidak butuh hal romantis, Ayah! Ganti saja dengan Koleksi limited editionnya Shanas Jewerely." Alana tertawa sambil berjalan kearah dapur.
"Oh, God! Yang bintang iklannya si Mauza, Bun?" tanya Lova mengejar Alana.
"Tentu!" Alana terus berjalan sementara Lova berjalan cepar dan berdiri depan Brata.
"Ayah dengar?"
Brata mengangguk. "Tentu, telinga ayah masih baik-baik saja!"
"Hahahaha... Dan setelah ini saldo di tabungan ayah yang tidak akan baik-baik saja."
"Ayah masih sanggup, Lov!" jawab Brata santai dan Alana tersenyum di dapur.
"Satu buah kalung dengan bandul berdesain ekslusif yang sudah sold out di toko, ayah mau cari kemana?" tanya Lova. Ya, perhiasan yang dimaksud sudah lounching beberapa bukan lalu dan langsung Sold out.
"Ayah bisa memesan secara khusus," jawab Brata. "Bundamu akan lebih senang jika di desainkan secara khusus oleh mereka."
"Baiklah? Setidaknya sediakan 9 digit sampai 10 digit, ayah!"
Brata menatap Lova tak percaya. "Sebanyak itu?" tanya Brata.
Lova mengangguk dan tertawa. "Kenapa? Ayah terkejut?" tanya Lova.
"Tidak, hanya aneh saja rasanya. Sebuah benda kecil yang di pakai di leher, seharga dengan sebuah mobil mewah yang bisa di tumpangi empat sampai enam orang."
Ken tertawa. "Itulah wanita, Pak! Terlalu pandai berinvestasi."
"Ken benar! Semakin tahun, semakin langka dan harganya semakin mahal, Mas. Bisa berkali-kali lipat."
"Jika ingin membuatku tambah senang, boleh ditambahkan dengan Red diamond ataupun Batu Emerald." Alana meletakkan nampan berisi empat cangkir kopi diatas meja.
Ken dan Lova tertawa bersama. "Ada apa?" tanya Brata. "Apa saldo ayah akan benar-benar habis, Lov?"
Lova tertawa dan mengangguk. "Bahkan perusahaan Bratdikara akan terjual setengahnya ayah!"
__ADS_1
Brata menggaruk tengkuknya sementara Ken terbahak melihat Alana begitu suka mengerjai suaminya sendiri.