ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 100 End


__ADS_3

Lova sedang memangku bayi mungil yang lebih senang ia panggil baby Ax. Nama yang indah menurutnya. Selama ini tidak ada rencana apapun dalam pemberian nama bayi mereka.


Lova menyerahkan semua itu pada Ken, karena suaminya yang paling antusias saat mengetahui hasil pemeriksaan di bulan ke 4 kehamilannya menunjukkan jenis kelamin janin mereka adalah laki-laki.


"Dia keturunan Aldric, dan kamu putri tunggal Bratadikara. Aku akan memberikan kedua nama itu pada putraku kelak," ucap Ken saat itu padanya.


Lova sudah sangat bersyukur karena Ken mengerti bahwa nama Bratadikara tidak boleh terputus, meski tidak ada anak laki-laki dari keluarga ayahnya.


"Dia minum terus, Sayang?" tanya Ken saat melihat Lova baru saja menutup sumber kehidupan putranya itu.


"Ya... dia hebat!" Lova mencium pipi bayi yang sudah terlelap itu.


Di rumah sakit, hanya ada mereka berdua karena Alana dan Brata harus segera pulang dan mengganti pakaian mereka. Malam hari nanti, keduanya akan tidur di rumah sakit membantu Ken dan Lova jika keduanya kesulitan mengurus Axelle.


Ken menggendong bayinya dan meletakkannya di box bayi di samping ranjang Lova.


"Dia tampan, Ken. Sama sepertimu!" Ucap Lova saat ia melihat begitu mirip wajah Ax dan Ken.


Ken tertawa. Ia menutup kelambu bayi yang terbuat dari kain tipis itu agar putranya tidur dengan nyaman.


"Karena dia putraku, Sayang!" Ken duduk di atas ranjang Lova.


Ia menggenggam tangan Lova dan tersenyum kecil. "Terima kasih untuk keajaiban ini, Sayang!"


Ken mencium tangan Lova. "Kamu adalah sumber kebahagiaanku, Sayang!"


Ken meneteskan air matanya. "Aku bisa seperti ini karena kamu!"


"Terima kasih sudah mengubah statusku menjadi ayah!"


"Aku berusaha menjadi sehebat ayah kala membesarkanmu dan seluar biasa papa yang melindungi keluarga!" Ken teringat akan papanya yang mengorbankan nyawa demi menyelamatkan mamanya dan Alvin serta dirinya.


Ken dan Lova saling peluk. Mereka menumpahkan tangis dalam pelukan hangat itu.


"Terima kasih juga atas apa yang kamu lakukan untukku selama ini sayang!"


Pintu ruangan itu terbuka. Lova dan Ken melepas pelukan dan menghapus air mata mereka.


Tiga pasangan muda masuk ke dalam ruangan itu. Ada yang membawa bunga, buah bahkan perlengkapan bayi.


"Selamat, Ken! Selamat, Lova!" Aland mengulurkan tangannya pada mereka. Lova dan Ken menyambutnya dan mengucapkan terima kasih.


Mauza dan Mauren mengintip baby Axelle dari luar kelambu. "Dia tampan, kak!" bisik Mauza karena melihat baby Ax tengah tertidur.


"Mirip ayahnya!" Mauren mengangguk setuju.


"Buka saja kain itu, Za." Ken membuka kelambu itu agar kedua gadis yag merupakan adik sambung Lova itu bisa melihat dengan jelas ketampanan bayi mereka.

__ADS_1


Ken lantas membawa Aland untuk duduk bersama Alvin dan Thomas. Sementara Rosa masih menata barang-barang yang mereka bawa di atas meja dan di samping sofa.


"Ros, sekarang kamu adikku. Bukan lagi asistenku!" Rosa tertawa dan seketika ia melihat kearah Lova yang melambaikan tangan memintanya mendekat.


"Sebentar, Kak. Aku cuma menyusunnya supaya lebih rapi."


Rosa mendekat dan ia langsung menuju box bayi dimana Mauren masih terus memandangi bayi itu sementara Mauren lebih banyak bertanya mengenai bagaimana rasanya melahirkan di dalam mobil.


"Aku sampai ingin menabrak semua kendaraan yang ada di depanku!" Ucap Thomas saat ia menceritakan perasaannya kala melihat Lova mengejan di dalam mobil.


"Itu perintahku, Thom!" ucap Ken sinis. Bukankah ia yang menyuruh Thomas untuk menabrak mobil yang menghalangi jalan mereka. Dan sekarang sepupunya itu malah mengaku-ngaku.


"Hahaha..." Thomas tertawa.


"Ssst!" Desis Mauren. "Kamu mengganggu tidur baby Axelle, Sayang!"


"Tidak apa-apa sayang! Bayi itu harus diperkenalkan dengan suaraku sejak dini. Karena aku adalah pahlawan yang berhasil membawa dirinya dan ibunya ke rumah sakit saat ia dilahirkan!" ucap Thomas bangga.


"Dia harus tahu, bahwa dia lahir di mobilku! Hahah.." Thomas kembali tertawa. "Kelak aku akan menceritakan pada putramu, Ken! Bahwa dia lahir di mobilku."


"Dan yaa!" Thomas ingat sesuatu. "Kenapa tidak kamu beri nama Car saja. Kan artinya mobil."


Ken tertawa sinis. "Simpan saja untuk nama bayimu nanti, Thom!"


"Car Thomas Darrass!" Thom merangkai sebuah nama.


"Lumayan!" Sahut Thomas.


"Aku tidak setuju sayang!" sahut Mauren agak kesal. Sedari tadi gadis itu mendengar apa yang kekasihnya itu katakan.


"Why?" tanya Thomas.


"Karena, nama kamu itu adalah nama tokoh kartun yang visualnya adalah kereta api!"


"Dan anakku mau kamu beri nama mobil?"


"Mengapa tidak becak saja sekalian!"


Kalimat masuk akal yang Mauren ucapkan memancing gelak tawa mereka semua.


"Bagaimana jika Toya saja, itu loh! Bis kecil ramah!" Potong Alvin yang sedari tadi lebih banyak diam karena membalas pesan ucapan selamat yang masuk ke ponselnya.


Thomas menempelkan bantal ke wajah Alvin. "Simpan nama itu untuk putramu kelak!"


"Sudahlah! Jangan berdebat." Lova mencoba menengahi.


"Ah, ya Thom? Kapan kamu akan menikahi Mauren!"

__ADS_1


Thomas terkesiap. Ia menegakkan duduknya sementara Mauren salah tingkah mendengar pertanyaan Lova.


"Kaaaak!" Mauren berbisik dan menyenggol tangan Lova. Maksudnya adalah aar Lova tidak melemparkan pertanyaan seperti itu.


"Ehhmm... Secepatnya, Lov!" Jawab Thomas.


"Bagus!" sahut Lova.


"Dengar itu, Mauren! Secepatnya ia akan menikahimu!"


"Jaga dirimu, dan jangan dulu produksi Car sebelum pernikahan."


Semua orang mengulum senyum kecuali Mauren dan Thomas. Mauren mengangguk malu karena ia dan Thomas bahkan hampir kelepasan beberap hari lalu.


"Thom? Kamu mendengarku?" tanya Lova.


"Ya, tentu aku dengar!"


Ah, dia tidak tau saja kalau aku hampir melakukannya di mobil kemarin malam. Salah sendiri, adikmu itu terlalu menggoda. Batin Thomas.


"Aland, ku harap kamu serius dengan Mauza!"


Aland terkesiap. Ternyata ia juga mendapat bagian. Ia lantas mengangguk pelan. Ia jelas serius dengan Mauza. Tapi gadia itu masih ingin melanjutkan pendidikannya.


"Za, kakak harap kamu bisa bahagia bersama Aland."


"Kakak akan mengabdi sepenuhnya untuk Ken dan baby Axelle. Waktuku untuk memperhatikan kalian sepertinya akan sangat berkurang."


Mauza menggenggam tangan Lova. "Kami tahu akan hal itu kak. Terima kasih atas kebaikan kakak selama ini."


"Iya, kak! Kami sangat berterima kasih pada kakak. Mulai sekarang, jangan fikirkan apa lagi terbebani karena kami."


"Kami sudah baik-baik saja kak."


Lova memeluk keduanya. "Ros! Tidak ingin memelukku? Aku juga kakakmu, Ros!"


Rosa tersenyum lebar dan memeluk ketiganya. "Aku bahagia, akhirnya aku punya keluarga. Aku punya saudara dan aku punya suami sekarang!"


"Aku juga bahagia, aku punya kalian semua." Sahut Lova.


Sementara para lelaki tersenyum melihat pasangan mereka saling akur dan sayang. Ken bahkan tidak menduga, dirinya kini tengah duduk di sofa yang sama dengan putra dari musuhnya.


Dendam itu dulu begitu besar. Kebencian itu dulu begitu dalam. Tapi kini, dia melihat Aland sebagai temannya. Ia bersyukur karena Tuhan begitu cepat membolak-balikkan hati manusia.


Dan doa Ken hanya satu. Semoga kelak, Axelle tak merasakan kepedihan yang terjadi padanya.


...-End-...

__ADS_1


__ADS_2