
Akad nikah sudah selesai. Ken dan Lova berkeliling menyapa tamu yang hadir, sama seperti yang Brata dan Alana lakukan.
Ken jelas mengenal para tamunya. Hampir 8 tahun hidup bersama Brata membuatnya mengenal tetangga, dan kerabat pria itu. Apa lagi rekan bisnis, tidak diragukan lagi karena ia turut serta dalam menjalankan perusahaan pria yang kini menjadi ayah mertuanya itu.
"Saya tidak menyangka, anda menikah dengan putri pak Brata!" ucap salah satu rekan bisnis yang dulu sering ia tangani proyeknya.
Ken tertawa hambar. "Saya juga tidak menduga, wanita cantik ini mau menerima saya, Pak!"
"Anda beruntung sekali, Bu Lova."
"Dia ini pria bertanggung jawab dan pekerja keras."
Obrolan terus berlanjut, namun sepertinya Lova dan Ken harus menyapa tamu yang lain.
"Sekali lagi, terima kasih sudah hadir hari ini, Pak. Jangan lupa, malam nanti datang lagi di hotel x."
"Pasti, Bu."
Lova dan Ken beralih pada empat orang gadis yang menjadi salah salah satu kerumunan tamu yang belum di sapa.
"Selamat kak!" Mauren dan Mauza memeluk Lova. Masih tersisa rasa bersalah dan rasa malu dibenak mereka. Tapi mereka bersyukur akhirnya Lova menemukan kebahagiaannya.
"Terima kasih kalian sudah menyempatkan diri untuk datang ke sini!"
"Kami pasti datang kak, kapan lagi kami memakai kebaya ini?" Mauza tertawa mencoba mencairkan suasana.
"Terima kasih untuk kebaya yang... perfect ini, kak!" sambar Mauren tersenyum lebar menunjukkan betapa pasnya kebaya itu ditubuhnya.
"Sama-sama. Malam nanti, kalian harus datang lagi..."
Mereka mengangguk. "Pasti. Sekali lagi selamat ya kak."
"Ros..." Lova beralih pada Rosa. "Memukau!" Ia mengerling dan Rosa tersenyum lebar.
"Jangan memujinya, Bu. Atau telinganya akan tegak berdiri seperti seekor kelinci!" canda Clara.
"Bukan istriku yang terpukau, Cla... Tapi pria dengan blazer hitam di sudut sana!" tunjuk Ken dengan lirikan matanya kearah dua pria yang sedari tadi menatap kearah mereka.
Rosa salah tingkah sementara bahu Clara sudah bergerak naik turun. Gadis itu berusaha menahan tawanya.
"Pak Alvin, ganteng Ros!" bisik Clara. "Bagaimana jika buatku saja!"
"Mau kamu kemanakan si Alex yang kamu bilang seperti Si-Won itu?" tanya Rosa sedikit kesal.
"Hahah, sepertinya aku butuh cadangan, Ros! Alex terlalu sering keluar kota mengurus buffet barunya."
"Jangan serakah, Cla! Bagaimana jika dengan pria disebelahnya."
Mauren sedikit terkejut saat Lova malah menyuruh Clara untuk mendekati pria di samping Alvin, pria yang sedari tadi saling melempar senyum dengannya.
"Dia masih jomblo, Cla!" sambar Ken.
Clara tertawa dan menggeleng berkali-kaki. "Tidak bu! Berikan saja pada Mauren atau Mauza." Kedua gadis yang disebut namanya itu langsung menatap Clara.
"Saya tidak sanggup mendengar suara s*ksi pak Thomas, Pak!" Kekehnya. "Dia terlalu hot," Clara bergidik ngeri.
__ADS_1
Mauren memperhatikan Thomas. Ia pernah bertemu pria itu di perusahaan saat Thomas membantu perusahaan Lova yang hampir bangkrut. Tapi ia tidak tertarik sedikitpun.
Berbeda dengan sekarang, Ia seperti terkena magnet yang ada pada pria itu. Tubuhnya kekar dan atletis. Terlihat bahunya tampak penuh dibalik jas yang pria itu pakai.
Suaranya s*ksi? Mauren menjadi semakin penasaran dengan apa yang Clara katakan barusan.
Kedua pria itu mendekat dan berhasil membuat Mauren dan Rosa sedikit berdebar.
"Mereka datang!" gumam Lova.
"Mau apa kalian?" tanya Ken saat keduanya sudah bergabung.
"Kakak belum menyapa kami berdua!" alasan Alvin membuat geli hati Thomas.
"Untuk apa? Aku sudah puas melihat wajah kalian diapartemenku!"
"Ayo Thom, kita pulang saja! Kehadiran kita disini sepertinya tidak diharapkan." ajak Alvin pada Thomas sambil menarik jas pria itu. Ia pura-pura merajuk.
Tunggu, bod*h! Aku belum puas melihat gadis ini dari dekat! batin Thomas.
Ia tahu, Mauren adalah putri Mariska. Ia juga tahu gadis itu pernah berbuat jahat pada Lova. Tapi kecantikan Mauren membuat semua itu menepi dari otaknya.
Yang ia lihat hanya bidadari yang tampak cantik dan anggun. Gadis itu juga terlihat berbeda, karena Thomas hanya pernah melihat Mauren dengan setelan lerja dan pakaian casual.
"Thomas!" suara Mommynya membuat Thomas menghela nafas.
"Yes Mom! Ada apa?" jawabnya dengan suara berat dan sedikit serak. Thomas berbalik dan melihat Mommynya berjalan mendekat.
Benar, suaranya begitu s*ksi. Batin Mauren.
"Bawakan dress Mommy. Karena Mommy akan ikut Alana dan Brata langsung menuju hotel sore nanti."
Thomas mengusap tengkuknya karena perintah yang Mommynya berikan di depan gadis-gadis sedikit membuat harga dirinya turun.
"Dimana dress Mommy?" Meski sedikit malu, Thomas tetap menanyakan dimana dress itu disimpan.
"Ada di lemari, masih tergantung."
"Bawakan, Thom! Jangan lupa!" Wanita itu berjalan menjauh namun seketika kembali berbalik. "Ah, ya Mommy hampir lupa! Yang terbungkus plastik, Thom!"
Alvin mengulum senyum. "Selamat menjadi petugas laundry Thom! Masuk ke hotel dengan membawa dress lengkap dengan hangernya!" Kekeh Alvin. Yang lainnya juga ikut tersenyum kecil.
"Tidak masalah bagiku! Aku akan pesan satu kamar, dan datang lebih awal." Jawab Thomas cool. Ia memasukkan sebelah tangannya ke kantong celana.
Ken dan Alvin kompak menatapnya curiga. Thomas yang biasanya akan bertingkah konyol, kali ini tampak menjaga image.
Alvin melirik empat gadis di dekatnya. Ia tersenyum licik menyadari keanehan Thomas disebabkan oleh Mauren.
"Mauren!"
"Ya pak Alvin!" jawab Mauren.
"Malam nanti pergi dengan siapa?" tanya Alvin basa-basi. Ia sebenarnya ingin membuat panas hati Thomas dan Rosa.
Sekali tepuk dua lalat jadi korban. Hahaha... Batinnya licik.
__ADS_1
"Dengan Mauza, yang pasti!" jawab Mauren cepat.
"Jomblo?"
Mauren mengangguk agak malu.
"Oh, God. Makhluk-Mu yang menjomblo begitu banyak! Mengapa tidak Engkau satukan saja mereka." Doa Alvin disambut gelak tawa Ken dan Lova.
"Tuhan juga tahu, Vin. Mauren tidak cocok untukmu." Sahut Ken.
"Kalau begitu, katakan pada Tuhan Kak, kirimkan gadis yang cocok untukku!"
"Ada, tapi gadis itu tak ingin denganmu!" Alvin langsung menjadi bahan tertawaan dikerumunan itu.
***
Mauren dan Mauza bersiap akan pulang. Tapi saat ia membuka pintu mobil, sikutnya membentur tubuh bagian depan seseorang, tepatnya dibagian perut.
Mauren menatap pria yang berhasil membuat sikutnya terasa sakit karena roti sobek yang Mauren yakin begitu menggoda dibalik pakaian yang pria itu pakai.
"Ehm, maaf pak Thomas!" ucap Mauren sedikit gugup saat melihat Thomas berdiri tepat di dekatnya.
"Ah, saya yang seharusnya minta maaf. Tanganmu tidak sakit, kan?" tanya Thomas yang baru saja mengakhiri panggilan telponnya dengan salah satu temannya.
Mauren menggeleng. "Sekali lagi, maaf Pak."
Thomas mengangguk. "Aku juga tidak memperhatikanmu yang akan membuka pintu mobil tadi."
"Ada apa, kak?" tanya Mauza yang baru saja mengalihkan pandangan dari ponsel di tangannya. Sedari tadi ia sedang membalas pesan seseorang hingga ia tidak memperhatikan apa yang telah terjadi pada kakaknya.
"Tidak apa-apa, Za." jawab Mauren.
Thomas mundur sedikit dan ia tersenyum tipis. "Silahkan duluan, Mauren!"
Mauren mengangguk sungkan. "Terima kasih, Pak Thomas."
Mauren masuk kedalam mobilnya. Rok yang panjangnya hingga mata kaki itu membuat gelang kaki yang gadis itu pakai tersangkut dan akhirnya terlepas dari kakinya.
Thomas berdiri menempel ke mobilnya, karena takut menghalangi mobil Mauren.
"Duluan, Pak Thomas." Gadis itu membuka kaca mobilnya dan kembali menyapa Thomas.
Thomas terus tersenyum hingga mobil itu pergi menjauh.
"Ingin masuk atau terus mengagumi gadis itu!" Sindir Alvin yang sudah bersiap di kursi kemudi. Kaca mobil yang terbuka membuat Thomas bisa dengan jelas melihat wajah pria yang sedang mencibirnya itu.
"Mengganggu kesenanganku saja!" Keluh Thomas. Namun, saat ia membuka pintu mobil, matanya menemukan sebuah gelang tergeletak ditanah.
Thomas mengambilnya dan memperhatikannya sekilas.
Ini sepertinya bukan barang palsu. Apa mungkin milik gadis itu?
Sepertinya iya. Karena gelang ini masih bersih dan tidak terinjak sama sekali.
Thomas menyimpan gelang kaki itu di saku jasnya.
__ADS_1
Jika Pangeran menemukan Cinderellanya hanya dengan sebuah sepatu kaca. Maka siapa tahu, aku menemukan Cinderellaku dengan serantai gelang kaki. Batin Thomas geli sendiri.