
Mariska keluar dari gedung rumah sakit. Ia ikut mengantarkan Brata yang mengalami kesulitan bernafas saat mendengar kabar diculiknya Lova. Ia sengaja mengatakannya dengan suara keras agar Brata mendengarnya tadi.
Ia tersenyum puas kala Brata lagi-lagi harus dirawat di ruang ICU dan Ken juga belum kembali hingga kini.
Aku berhasil mengacaukan semuanya. Dan sebentar lagi, aku akan mendapatkan apa yang dijanjikan Tuan Hendrico. Batinnya senang.
Mariska masuk ke dalam mobil dan menghubungi orang suruhannya yang sejak kemarin malam tidak memberi laporan apapun, tanda bahwa pekerjaan mereka tak terkendala.
Mariska mengerutkan kening kala nomor ponsel mereka tidak ada yang bisa dia hubungi.
"Kemana mereka?" Mariska bertanya-tanya. "Mengapa ponsel mereka tidak ada yang bisa dihubungi?"
Mariska mencoba berkali-kali tapi tidak membuahkan hasil. Karena kesal, ia membanting ponselnya di dashboad.
"Baj*ngan! Kemana mereka? Bisa mat* aku jika mereka menyakiti Lova!" Mariska panik.
Ia langsung melajukan mobilnya menuju tempat yang sudah direncanakan sebagai tempat untuk menyekap Lova. Sepanjang perjalanan ia diselimuti rasa khawatir. Waktu yang diberikan tuan Hendrico akan berakhir pada hari ini. Jika ia tidak menyerahkan Lova, maka dirinya dan kedua putrinya bisa dalam bahaya.
Mariska sampai di sebuah gudang kosong, setelah menempuh perjalanan selama satu jam. Ia tak melihat ada tanda-tanda keberadaan anak buahnya di dalam.
Mariska berjalan perlahan, masuk ke dalam. Ia berusaha mencari ke setiap sudut tempat kotor nan berantakan itu.
"Brak!" Ia mendorong kursi bekas hingga terjatuh ke lantai. "Baji*ngan! Kemana mereka membawa Lova!" Teriak Mariska geram. Tangannya mengepal kuat.
Ia kembali menghubungi orang suruhannya, namun sia-sia. "Arrrgghh!" Ia menjerit kebingungan. "Sial*an!"
Saat akan keluar dari gudang kosong itu, sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Ia melihat ada nama Tuan Hendrico di layar. Jantung Mariska berdebar tak karuan.
"Astaga! Aku harus mengatakan apa?" Mariska menggigit bibir bawahnya.
"Mengapa Si brengs*k ini menghubungiku disaat yang tidak tepat!" Mariska terus menatap nama Tuan Hendrico di layar ponselnya.
Mariska menjawab panggilan itu. "Ha.. hallo Tuan!" Ucapnya dengan susah payah.
"Bagaimana Nyonya Brata? Mana janjimu yang akan menyerahkan gadis itu hari ini?" Suara Tuan Hendrico menagih janji padanya terdengar santai.
"Ehm... Saya akan serahkan dia malam nanti!" Ucap Mariska berusaha tenang padahal otaknya sedang berputar memikirkan alasan paling tepat.
"Kenapa harus malam?" Dari suaranya, Tuan Hendrico tampaknya merasa heran karena Mariska seolah mengulur waktu.
"Apa anda tidak mengerti Tuan? Saat ini orang-orang sedang mencarinya. Bahkan mungkin polisi. Aku tidak mungkin membawanya siang hari begini. Terlalu beresiko untukku." Huh! Mariska sedikit bernafas lega karena sepertinya alasan yang ia berikan cukup masuk akal.
__ADS_1
"Hahahahah... jadi benar, Anda yang menculiknya?"
Mariska terdiam.
"Ah, yaaa... tentu." Jawabnya sedikit gugup. "Jika bukan aku, siapa lagi."
"Hahahah... ku tunggu malam nanti, di gudang milikku di jalan Xx!"
"Bawa gadis itu, atau jika tidak bisa. Bersiaplah menukarnya dengan kedua putrimu." Ancaman yang tidak main-main.
Panggilan langsung diakhiri. Mariska menghela nafas berat. Ia harus menyusun rencana baru untuk menyelamatkan kedua putrinya.
[Mauren, orang suruhan mama yang menculik Lova, tidak bisa dihubungi. Mama tidak tahu keberadaan mereka. Bawalah adikmu pergi dari kota ini sebelum malam tiba.]
Mariska mengirimkan pesan itu pada Mauren. Ia kembali melajukan mobilnya menuju tempat dimana ia bisa menemui orang-orang suruhannya yaitu markas para prema*n bayaran.
Mauren membalas pesannya.
[Aku tidak bisa mengambil cuti, Ma. Pekerjaanku sangat padat. Biarkan Mauza saja yang pergi.]
"Anak ini sungguh keras kepala!"
***
Ken berlari menelusuri koridor rumah sakit. Kabar sakitnya Brata baru ia ketahui saat Nur menghubunginya. Ken sedang mengurus hal lain dan tidak kembali ke rumah malam tadi. Ia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga pria itu.
"Nur!" Panggilnya dengan nafas tersengal. "Ba...gaimana keadaan Bapak?"
"Pak Ken?" Nur yang sedang duduk di kursi tunggu langsung berdiri.
"Duduk saja, Nur!" Ken juga langsung ikut duduk.
"Bapak masih di dalam, Pak." Nur menunjuk ruang ICU dibelakangnya dimana Brata terbaring di dalam.
"Bapak terkena serangan jantung saat mendengar kabar bahwa Nona Lova diculik."
Ken mengusap wajahnya kasar. "Bagaimana bisa, Nur?" Tanya Ken kesal.
"Tadi, setelah sarapan, Bapak minta duduk di halaman, Pak."
"Dan..." Nur sedikit ragu. "Saya meninggalkan Bapak untuk membereskan piring kotor bekas sarapan beliau."
__ADS_1
"Sa... ya menitipkan bapak pada dua orang yang berjaga di samping."
Ken masih mendengarkan.
"Tapi Nyonya Mariska, Non Mauren dan Non Mauza mengatakan bahwa Non Lova diculik. Semua asisten rumah tangga berkumpul dan ikut menanyakan kabar itu."
"Mereka tidak mengetahui bahwa Bapak ada di luar."
Ken menghela nafas. Yang lain tidak lihat, tapi nenek sihir itu pasti melihatnya.
"Bapak hampir kehilangan kesadaran saat saya kembali dan penjaga langsung membawa Bapak ke rumah sakit." Nur sudah terisak. Ia ketakutan karena Ken tidak mengucapkan sepatah katapun.
"Saya minta maaf, Pak. Saya lalai menjaga... bapak."
Ken mengangguk lemah. "Sudahlah, Nur. Kamu sudah melakukan yang terbaik."
"Saya akan menemui dokter dulu." Ken berdiri dari kursinya.
"Kepala Bapak?" Nur menatap Ken lalu menunduk. Ia sadar karena telah lancang menatap wajah Ken dan menanyakan hal yang bukan urusannya.
Selama ini, Nur hanya mendengar perintah dan arahan Ken tanpa harus menanyakan alasannya. Sejak dulu, Ken menjadi orang kedua yang disegani dan ditakuti di rumah besar itu setelah Brata.
Ken bahkan menjanjikan Nur sebuah kebebasan agar terhindar dari tuduhan jika terjadi sesuatu pada Brata selama Nur menuruti perintah Ken.
Nur ingat apa yang pernah Ken katakan. "Turuti setiap perintahku, Nur! Demi keselamatan Bapak."
"Mulai saat ini, panggil dia Bapak, bukan Tuan. Anggap dia sebagai orang tuamu sendiri. Jaga dan rawat dia tanpa rasa takut tapi tetaplah waspada."
Nur terkesiap saat Ken meninggalkannya tanpa menjawab pertanyaanya.
"Apa yang kamu lakukan, Nur? Pak Ken tidak akan menjawab rasa penasaranmu ini!" Nur menepuk keningnya.
Ia bersandar pada kursi. Ia mengehala nafas saat memikirkan kerumitan keluarga majikannya.
Keluarga yang aneh. Pak Brata justru lebih percaya pada Pak Ken dibanding dengan Nyonya Mariska.
Apa benar Non Lova diculik? Tapi kalau kabar itu salah, kenapa beliau belum pulang juga.
Dan Pak Ken terluka? Apa dia terluka karena menyelamatkan Non Lova dari penculik itu?
"Astaga! Mikir apa aku ini!" Nur menggeleng pelan. "Semua itu bukan urusanku. Aku hanya harus menuruti perintah Pak Ken agar aku tetap selamat."
__ADS_1