ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 35 Dalam Diam


__ADS_3

Proses hukum yang dijalani Mariska terus berlanjut. Banyak nama terseret akibat terlalu banyaknya kejahatan yang ia perbuat.


Nama Tuan Hendrico tak luput dari pemeriksaan pihak berwajib. Mariska menyebut nama pria penguasa itu karena berharap Mauza bisa di bebaskan.


Saat mengingat Mauza, ia akan histeris karena merasa bersalah. Dan saat melihat Mauren, ia kembali mengingat Mauza. Untuk itu, demi kesehatan mentalnya, Mauren tidak ingin menemui Mariska. Ia lebih memilih menunggu kerja pengacara mereka walaupun untuk lepas dari jeratan hukum adalah hal yang sangat mustahil.


Mauren masih tinggal di rumah Brata. Selama ia tidak diusir ia tidak akan keluar dari rumah itu. Ia harus mengirit biaya karena tabungannya mulai menipis.


"Kamu akan kembali bekerja di perusahaan setelah semua persidangan mama kamu selesai," ucap Lova saat mereka sedang berada di meja makan malam ini.


Sudah 2 minggu Mariska di tahan. Mauren bak orang asing di rumah ini. Tapi Lova dan yang lain tidak pernah mengucilkannya.


"Untuk saat ini, tetaplah di rumah. Aku bisa saja menerima kamu kembali di perusahaan. Tapi, ku tahu beban mental yang akan kamu terima pasti sangat berat. Seluruh karyawan bisa saja memperlakukanmu dengan tidak baik."


"Aku tidak ingin hal itu terjadi di perusahaan," lanjut Lova.


Mauren mengangguk pasrah. Ia sepertinya harus mencari pekerjaan lain demi menghasilkan uang karena mulai detik ini ia harus membiayai dirinya sendiri.


Lova beralih menatap Brata. "Ayah, semoga saja ayah tidak keberatan. Setelah perceraian ayah dan ma-ma..." Huuh! Lova enggan menyebut Mariska dengan sebutan mama. "... Mariska disahkan hakim, Lova ingin ayah dan bunda kembali bersama."


"Banyak waktu yang harus ayah bayar untuk bunda. Karena dulu ayah tidak ingin mengotopsi jenazah yang di sangka adalah bunda."


"Hingga ayah baru tahu kenyataannya akhir-akhir ini."


Lova menatap Brata dan menunggu jawaban pria itu. Lova menganggap semua itu adalah kelalaian Brata. Hanya karena jenazah Attala sudah teridentifikasi dengan jam tangan yang masih melingkar di jenazah yang sudah tidak di kenali itu, lantas ia dengan mudah menyatakan bahwa jenazah yang lain adalah jenazah Alana.


Brata mengangguk lemah. Ia tersenyum kecil. "Ayah akan bicarakan ini dengan bundamu."


Lova tersenyum senang. Berbeda dengan Ken yang menatapnya datar. Ia tengah memikirkan bagaimana hubungannya dengan Lova.


Jika Brata dan Mommynya kembali bersama, itu artinya ia akan menjadi saudara dengan Lova meski hanya saudara angkat.


Dan bagaimana mungkin perasaan dalam diamnya akan terbalas meski kelak dia mengungkapkannya.


Apa tidak aneh jika aku memiliki perasaan istimewa pada saudariku sendiri. Huh! Apakah aku layak memiliki putri dari wanita yang telah memberikanku kehidupan baru.


Ken hanya menatap cangkir kopi yang sudah mulai dingin di genggaman tangannya. Hal itu tidak luput dari perhatian Brata.


"Ada apa, Ken? Ada masalah?"


Ken terkesiap saat Lova dan Brata kompak menatapnya. "Ehm, tidak Pak. Saya sepertinya harus segera berangkat ke kantor. Ada meeting pagi ini."


Ken berdiri dari kursinya. "Ken tunggu!" ucap Lova sambil menyambar segelas susu dan meminumnya.

__ADS_1


"Kita berangkat bersama!"


"Dah ayah!" Lova mencium punggung tangan Brata dan mencium pipinya. "Lova pergi dulu."


"Mauren, titip ayah!" Lova berjalan cepat demi mengejar Ken.


Mauren diam mematung. Kak Lova menitipkan ayah padaku setelah semua kejahatan yang mama lakukan pada mereka? Dia tentu tahu kalau aku terlibat, tapi mengapa ia mempercayakan ayah padaku?


"Habiskan sarapanmu, Mauren!" perintah Brata.


Mauren tersenyum sungkan. Ia mengangguk lemah dan melanjutkan sarapannya. Hari ini, untuk pertama kalinya ia kembali sarapan bersama mereka setelah Mamanya di penjara.


Mauren merasa kecil hati dan tidak layak duduk bersama mereka hingga ia selalu makan di dapur atau di kamarnya.


"Ken akan mengurus soal Mauza."


"Semoga dia bisa segera kembali ke rumah ini."


Mauren menatap Brata dengan tatapan yang sangat dalam. Bagaimana bisa pria tua di depannya ini bisa sebaik itu?


"Terima kasih, a-yah!" ucapnya dengan suara serak menahan tangis. Rasa bersalahnya kian besar. Meski ia tidak pernah melakukan kejahatan itu secara langsung, tapi ia mengetahui semuanya dan dia hanya diam saja kala itu.


Dan sekarang, bahkan sesuap nasi dan sedikit belas kasihan dari Brata justru menjadi hal paling berharga baginya dari pada ia harus berkeliaran di jalanan.


"Kenapa hanya diam, Ken?" tanya Lova karena selama perjalanan menuju kantor, Ken tidak bicara apapun.


"Tidak apa-apa, Bu."


Lova tertawa. "Panggil Lova saat diluar jam kantor. Aku merasa tidak enak hati, karena kebaikanmu yang membawaku sampai di titik ini."


"Kamu seperti saudara bagiku. Jadi, jangan anggap aku atasanmu jika tidak berada di kantor."


Lova melirik Ken yang hanya diam dan mengangguk.


"Ah yaa..." Lova tertawa kecil. "Bahkan kamu lebih kaya dariku, Ken!"


"Perusahaanku tidak ada apa-apanya dibanding dengan perusahaanmu."


Ken menatapnya sekilas lalu kembali fokus pada jalan raya. "Semua itu karena Mommy yang menjalankan. Dibantu Thomas dan sedikit dari Alvin."


"Tapi kamu pemiliknya." Ken tertawa.


Sampai di parkiran, keduanya bertemu Aland. Lova menghela nafas panjang sementara Ken tersenyum kecil melihat apa yang Lova lakukan.

__ADS_1


"Mengapa akhir-akhir ini, dia sering kesini, Ken!" gumam Lova saat keduanya berjalan beriringan. "Aku sampai bosan!"


Ken tertawa kecil. "Tentu untuk membuat masalah. Bukankah itu hobbynya?" tanya Ken dan Lova menggeleng pelan sambil tertawa kecil.


"Selamat pagi, Bu Lova dan Pak Ken!" Sapa Aland sok ramah.


"Selamat pagi juga, Pak Aland!" Lova dan Ken berhentin sebentar.


"Ada keperluan apa sehingga pagi-pagi sekali anda datang ke kantor ini?" tanya Lova.


"Ya, ada hal yang harus saya bahas tentang proyek pak Robert."


Lova mengangguk dan mempersilahkan Aland untuk berjalan bersamanya.


Lova dan Ken berjalan sedikit lebih cepat. "Ken, tunda meeting selama 30 menit."


"Urusan dengan Pak Aland pasti jauh lebih penting!" sindir Lova. "Beliau juga orang sibuk. Dan waktunya tidak banyak, itu sudah pasti." Ketiganya masuk dalam lift khusus pimpinan.


"Baik, Bu!" Ken mengulum senyum karena jelas Lova tengah mengusir Aland secara tidak langsung.


Aland terus menatap kagum wajah Lova dari arah samping dan Ken pasti memperhatikan hal itu. Aland menatap sinis pada Ken yang tak mengalihkan pandangan sedikitpun dari dirinya.


Aland masih mengincar Lova meski daddynya sudah tidak mendukung jika putranya itu memilih Lova sebagai istri.


Bagi Tuan Hendrico, jika masih ada gadis yang siap dengan senang hati menikah dengan putranya, untuk apa mengejar gadis yang tidak ingin dipersunting itu.


Bagi Tuan Hendrico, gadis matre itu merupakan hal biasa karena kemewahan dan serba berkecukupan memang salah satu sumber kebahagiaan.


Ketiganya masuk ke dalam ruangan Lova. Ken kembali menjadi asisten Pribadi Lova dan Rosa kembali menjadi sekretaris senior. Rosa trauma menjadi asisten pribadi yang harus menemani Lova meeting keluar kantor atau mengunjungi proyek.


Dan Lova tidak keberatan karena ia juga tidak ingin membahayakan nyawa Rosa untuk kedua kalinya.


Aland membahas ketidak sesuaian material yang datang di lokasi proyek. Material yang ia minta tidak sesuai dengan yang datang di lapangan.


Tebakanku benar, cuma masalah kecil tapi repot sekali datang ke sini!"Batin Ken.


Lova tertawa dalam hatinya. Bukankah disana ada manager proyek yang selalu memberitahukan setiap kendala pada perusahaan. Mengapa dia seperti tidak tahu aturan main seperti ini


"Baik, Pak Aland." Lova mengangguk berkali-kali. "Saya akan segera urus semuanya."


"Lain kali, anda tidak perlu repot datang ke perusahaan."


"Sampaikan saja pada manager proyek dan pengawas yang lain. Semua keluhan nada akan sampai ke perusahaan ini secepat hembusan angin." Lova menahan tawanya menatap wajah Aland yang merasa bahwa kehadirannya disini memang tidak diharapkan.

__ADS_1


Aland keluar dari ruangan itu. "Semoga hembusan angin tidak membawanya kembali kesini!" Ucap Ken pelan, membuat Lova tertawa keras.


__ADS_2