
Alvin baru saja keluar dari kamar mandi. Ia sedari tadi hanya bisa menahan kesal di hatinya karena Thomas belum muncul juga di bandara. Pria itu entah pergi kemana sementara ia dan bibinya harus membawakan koper milik pria itu.
Alvin segera kembali ke tempat dimana Lova dan Ken sedang menunggunya. Tapi, sebelum sampai tempat itu, Alvin melihat sosok Rosa yang berada tepat di depannya.
Gadis itu berdiri di jarak sekitar 10 meter dengan raut wajah yang sulit Alvin tebak.
Dia kenapa? Apa dia sudah membaca surat dariku? Apa ia marah dan tersinggung?
Alvin, pagi tadi ia menyuruh seorang pria yang tidak lain adalah OB yang biasanya membersihkan ruang kerja Rosa untuk meletakkan amplop pemberiannya serta surat itu ke tas Rosa.
Alvin berharap, pria yang ia suruh dengan upah lumayan itu berhasil. Dan Alvin memang sudah mendapatkan laporan bahwa surat itu sudah di letakkan ditempat yang sudah di rencanakan.
Alvin mengurus semuanya dengan cepat berkat bantuan Lova dan Ken. Ia kasihan pada Rosa yang seperti terbebani dengan nasib anak panti sementara ia sendiri tidak tega melihat anak panti yang terlantar itu.
Alvin sadar, kelak Ken pasti akan menempati rumahnya, terlebih jika Kakaknya itu sudah punya anak.
Alvin perlahan berjalan mendekat karena gadis itu tidak bergerak sedikitpun. Meski tidak tahu akan mengatakan apa, tapi Alvin harus tetap maju menemui Rosa.
"Ros, kamu disini?" tanya Alvin sedikit menunduk. Jarak mereka kurang dari satu meter.
"Kak Lova ada disana!" tunjuk Alvin kearah dimana Lova dan Ken berada.
Rosa mengangguk. Dia masih diam menatap pria bernama Alvin itu.
Alvin mengerutkan keningnya. Ia bisa melihat Rosa seperti habis menangis dan kali ini matanya juga mulai berkaca-kaca.
"Hei... kamu kenapa, Ros?" Alvin menyentuh bahunya.
Rosa melirik tangan Alvin yang menyentuh bahunya. Dan Alvin sadar akan hal itu. Alvin langsung menurunkan tangannya.
"Kita kesana?" Ajak Alvin.
"Ayo..." Alvin berjalan lebih dulu. Dan saat tubuh Alvin melewati tubuh Rosa, gadis itu menangkap jemari tangan Alvin. Rosa berbalik dan Alvin yang terkejut juga melakukan hal yang sama.
Keduanya saling tatap. Bibir Rosa mulai bergerak tanda ia akan bicara. Namun kembali bungkam karena ia masih bingung akan mengatakan apa.
"Kenapa Ros?" tanya Alvin.
"Mengapa anda terlalu baik, Pak Alvin?" pertanyaan pertama keluar dari bibir Rosa.
Alvin menarik kedua sudut bibirnya. "Bagian mana yang kamu sebut baik, Ros?"
"Saya hanya melakukan apa yang saya ingin..."
"Tapi semua yang anda berikan terlalu berlebihan, sementara saya tidak bisa untuk membalasnya..." Rosa masih menatap wajah Alvin.
Alvin tertawa hambar. "Sudah saya katakan, saya hanya melakukan apa yang saya inginkan."
"Saya tidak meminta balasan apapun dari kamu, sungguh!" Alvin mengangguk.
"Tapi saya tidak bisa menerima semua yang anda berikan."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Karena saya tidak..."
"Tidak bisa menerima pernyataan cinta saya?" tebak Alvin.
"Ros, dengarkan saya! Perasaan kamu, hubungan kita, dan perasaan saya, tidak ada kaitannya dengan urusan rumah panti."
"Itu murni karena rasa empati dan prikemanusiaan yang ada pada diri saya."
"Tapi anda bilang, saya harus memikirkan hidup saya..." Ucap Rosa agak ragu. "Dan dalam surat itu, anda juga mengatakan agar saya tidak terbebani dengan urusan panti.."
Alvin mengangguk. "Ya, itu benar. Pikirkan diri dan hidup kamu, Ros!"
"Anak panti akan terus berganti generasi."
"Yang dewasa akan keluar, dan yang bayi akan datang!"
"Kamu mau menunggu sampai kapan?"
"Semua itu tidak akan putus kecuali panti itu tidak ada lagi."
Alvin terdiam kala ada pemberitahuan bahwa pesawatnya akan segera berangkat.
"Saya harus segera berangkat Ros!"
"Jaga dirimu baik-baik dan berbahagialah!"
Alvin berjalan menjauh dari Rosa. Jantung Rosa berdegup lebih cepat seiring menjauhnya langkah kaki Alvin.
"Pak Alvin!" Panggil Rosa dan Alvin kembali menoleh kebelangan.
"Peluk saya!" pinta Rosa merentangkan tangannya.
Alvin tak percaya atas apa yang Rosa minta. Tangan gadis itu direntangkan dan ia minta dipeluk.
"Dan berjanjilah untuk kembali untuk saya..."
Alvin masih belum bergerak membuat Rosa sedih dan menurunkan tangannya. Ia sempat takut, Alvin tidak akan menerimanya setelah beberapa kali penolakan yang ia berikan. Dan ternyata ketakutannya benar-benar terjadi. Pria di depannya tidak bergerak sedikitpun.
Rosa menunduk. "Apakah kesempatan untuk bersama anda sudah tidak ada lagi, Pak Alvin?"
Tidak ada jawaban. "Selamat jalan!" Rosa berbalik. Ia menatap lurus kedepan. Ia malu, ia menyesal dan ia tidak sanggup melihat kepergian pria itu.
Rosa berjalan menjauh, dan greeb... Sebuah pelukan dari arah belakang membuatnya begitu terkejut.
Rosa menangis kala ia mengetahui siapa pria itu bahkan dari aroma parfumnya. Rosa merasa kehangatan menyelimuti seluruh tubuhnya. Pandangan orang-orang kearah mereka sungguh tidak lagi mereka pedulikan.
"Kesempatan itu masih ada, Ros. Cinta itu masih sama dan terima kasih untuk hari ini."
Rosa berbalik dan memeluk Alvin. "Maaf telah membuat anda kecewa berkali-kali..."
"Tidak masalah, Ros. Aku mencintaimu sungguh!"
"Saya menyayangi anda, Pak Alvin!"
__ADS_1
"Vin, pesawat akan segera berangkat! Tetaplah disana jika kamu ingin pulang dengan naik kepunggung bangau!"
Alvin berbalik dan menemukan Thomas sedang mengenggam jemari tangan Mauren.
Alvin kembali menatap Rosa. "Aku pergi dulu, berjanjilah akan tetap menungguku. Aku akan segera kembali!" Alvin menangkup kedua pipi Rosa.
Rosa mengangguk. "Saya akan menunggu."
Alvin menggandeng tangan Rosa agar gadis itu bisa mengantarkannya ke gerbang keberangkatan.
"Ayo sayang!" Thomas juga membawa Mauren mengikuti Alvin dari belakang.
"Sejak kapan?" tanya Alvin karena Thomas tiba-tiba bisa membawa Mauren dan memanggil gadis itu dengan sebutan sayang.
"Baru saja!"
"Dasar buaya! Kopermu membebaniku dan bibi!"
"Terserah. Aku butuh cinta, tidak butuh koper. Harusnya buang saja!" Sahut Thomas tak peduli jika di dengar Mauren dan Rosa.
"Dasar!" guman Alvin kesal.
"Setidaknya aku lebih baik! Aku mengejar gadisku ke kantornya! Dari pada kamu yang menyerah begitu saja dan pergi tanpa..."
"Diamlah, Thom!" Potong Alvin dan Thomas langsung diam.
"Sudah bertemu pasangan masing-masing?" tanya wanita paruh baya yang merupakan Mommynya Thomas.
"Seperti yang Mommy lihat!" sahut Thomas sambil menunjukkan gandengan tangannya dengan Mauren. Semetara Mauren tersipu malu karena disana juga ada Lova dan Ken.
"Kami pulang dulu, Ken. Jaga dirimu baik-baik."
"Istrimu juga!" Wanita itu mengusap pipi Lova. "Cepat hamil, sayang! Bibi akan senang menimang cucu dari kalian!"
Lova dan Ken sama-sama tersenyum. "Terima kasih untuk kehadirannya, Bibi." ucap Lova tulus.
"Jika mereka datang ke sini, maka ikutlah bersama mereka, Bi."
"Pasti, Bibi sangat suka tinggal di sini."
"Mommy yakin suka tinggal disini? Bukan karena duda kaya klien pak Brata yang hadir di pesta mereka, Kan?" ejek Thomas dan mata wanita itu langsung melirik tajam.
"Ah, sayang!" Thomas langsung beralih pada Mauren karena lirikan Mommynya susah setajam belati.
"Tunggu aku, aku berjanji akan menikahimu segera." Thomas mencium pipi Mauren. Mauren sedikit terkejut tapi pelukan Thomas membuatnya bisa menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.
"Menjauh atau ku lempar kamu kelandasan, Thom!" geram Lova karena Thom terlalu cepat beradegan mesra dengan Mauren yang baru saja menerimanya.
"Lihat, Ros! Aku tidak akan berani melakukannya padamu. Kak Lova sudah mengeluarkan tanduknya." Alvin mengusap rambut Rosa.
"Aku hanya ingin katakan, tunggu aku!"
Rosa mengangguk. Gadis itu sedikit berjinjit dan mencium kedua pipi Alvin. Pria itu membulatkan matanya. "Bu Lova tidak akan marah, karena aku yang melakukannya." Bisik Rosa.
__ADS_1
Lambaian tangan Thomas, Mommynya dan Alvin perlahan semakin menjauh. Mereka tidak menunda keberangkatan meski perasaan cinta baru saja terbalas. Mereka pulang dengan niat akan kembali untuk meminang, suatu saat nanti.
***