ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 65 Tinggal Dimana?


__ADS_3

"Sore nanti aku sudah diizinkan pulang, Kak." Seru Mauza senang pada sang kakak.


Mauren baru saja tiba di rumah sakit itu. Sejak pagi ia berkeliling mencari tempat tinggal yang layak untuk mereka berdua. Uang yang tersisa di ATM Mauren tidak mencukupi untuk menyewa sebuah apartemen atau pun rumah mewah.


Namun, untuk mencari kost-kostan juga tidak mudah. Rata-rata sudah terisi penuh dan jika ada yang kosong pasti tidak cocok menurut Mauren. Mauren ingin mencari kostan khusus wanita.


Selama ini ia menumpang di apartemen temannya. Dan dia tidak mungkin membawa Mauza kesana. Akan sangat merepotkan dan ia pastinya juga merasa tidak enak hati.


"Kak!" Panggil Mauza saat menyadari kakaknya itu tengah melamun. Ia bahkan samoai mengguncang bahu wanita yang lebih tua 6 tahun darinya itu.


"Ah, ya." Mauren terkesiap. "Aku dengar, Za! Kamu senang?" tanya Mauren.


Mauza mengangguk. "Kakak tidak senang?"


"Bicara apa kamu ini, Za. Tentu kakak senang."


"Saat ini hanya kamu yang kakak punya, Za. Tidak ada lagi yang lainnya. Tidak pacar, Mama atau..."


"Atau apa kak?"


"Tidak." Mauren menggeleng.


"Oh, ya... Saat penyerangan itu, kakak sedang dimana?"


"Apa sekarang kakak masih tinggal bersama ayah dan kak Lova?" tanya Mauza. "Ck! Aku adik yang payah ya kak. Baru menanyakan hal ini sekarang!"


Mauren tersenyum kecil. "Kakak tidak tinggal bersama mereka lagi, Za."


"Apa?" ia terkejut. "Bagaimana bisa? Kaka yang pergi atau diusir?"


Mauren menggeleng. "Saat terjadi penyerangan itu, kakak sedang berusaha mencari pekerjaan."


"Dan saat kakak mendengar rumah diserang, kakak pulang dan mereka sudah tidak ada disana. Bahkan seluruh asisten rumah tangga."


"Rumah dipasang garis polisi, Za. Dan menurut kakak ini adalah kesempatan untuk pergi dari keluarga itu."


"Mereka sudah bahagia. Ayah sudah kembali bersama istrinya, dan kak Lova sudah bertemu dengan mamanya."


"Kakak merasa seperti orang lain disana. Menumpang dan hanya merepotkan. Rasa bersalah selalu kakak rasakan saat mendengar tawa mereka, Za. Tawa yang pernah hilang karena ulah mama."


Mauren menghela nafas. "Kakak selama ini menumpang diapartemen teman kakak."


"Kakak sudah berusaha mencari tempat tinggal tapi belum juga mendapatka yang sesuai."


"Apa kakak jual mobil saja, ya..." Sebuah ide bagus melintas difikirannya. "Ah, ya. Kenapa tidal berfikir sampai disana!"


"Kakak pergi dulu, kakak akan kembali setelah menemukan apartemen untuk kita tinggali."


"Jangan, Kak!" Mauza menahan tangan Maure. "Jangan jual mobil itu. Mobil itu sangat penting untuk kakak. Kakak akan lebih membutuhkan mobil itu, kak." larangnya.


"Tapi, kita juga butuh tempat tinggal, Za."


"Kak, bagaimana jika kita menginap di hotel kecil untuk sementara waktu. Besok aku akan membantu kakak mencari kost-kostan untuk kita berdua." Mauza tersenyum lebar menyemangati kakaknya.


"Tapi, Za..."


"Ssstt! Sudahlah kak! Aku tidak apa-apa! Setelah ini, aku akan bekerja di cafe-cafe atau restoran. Atau, jika kakak masih punya modal, kita bisa buka usaha loundry kak."


Mauren memeluk adiknya. "Dulu, saat kakak seusiamu, kakak hanya tahu kuliah dan meminta uang dari mama."


"Tapi kamu sudah mengalami penderitaan seperti ini."

__ADS_1


"Sudahlah kak, aku juga sudah ikhlas menerima takdir yang Tuhan beri untuk kita."


"Sekarang, kita fokus saja untuk bangkit. Aku bahkan tidak memikirkan nasib mama, Kak."


"Aku bukan tidak sayang padanya. Tapi, aku dan kakak tidak punya daya untuk bisa menyelamatkan mama."


"Sekarang, sepertinya kita lebih baik fokus pada dirikita kak."


Mauren mengangguk. "Kapan-kapan kita jenguk mama, ya?"


Mauza mengangguk.


Tanpa mereka sadari, percakapan itu di dengar oleh Aland. Ia yang berniat masuk karena hari ini akan menjadi hari terakhir baginya untuk melihat gadis itu.


Ia tidak yakin akan bisa kembali bertemu Mauza setelah ini. Karena Aland memang benar-benar akan melepaskan gadis itu.


"Pak, Aland!" Sapa Lova saat tiba di depan ruang rawat Mauza.


Aland terkejut dan tersenyum canggung. Lova tidak sendirian, dibelakangnya ada tiga orang lainnya.


"Boleh saya menjenguk Mauza?" tanyanya sopan.


Aland mengangguk dan membukakan pintu. "Silahkan masuk."


Mereka berlima masuk ke dalam dan kedua gadis di dalam ruangan itu melihat kedatangan mereka.


"Hai, apa kabar, Za." Lova menyapa Mauza.


"Aku... aku baik, kak." Mauza menunduk. Batinnya membenarkan apa yang sempat Mauren katakan. Rasanya begitu malu menatap wajah Lova dan Brata.


"Kapan kamu diizinkan pulang?" tanyanya kemudian.


"Hari ini, Kak." jawab gadis yang duduk diatas brangkar itu.


"Pak Aland, saya akan memberikan uangnya sore ini juga." Yang dimaksud Lova adalah uang untuk menebus Mauza.


"Saya berjanji. Dan izinkan saya membawa Mauza pulang."


Aland menatap Lova. Ia heran karena gadis ini masih bisa menerima Mauren dan Mauza kembali.


"Tidak, Kak." jawab Mauren agak ragu.


"Aku dan Mauza memutuskan untuk hidup mandiri."


"Mengenai uang itu," Mauza melirik Aland. "Tuan Aland sudah membebaskanku kak. Dia tidak lagi meminta uang itu."


Lova mendelik tak percaya. Ia menatap Aland dan Mauza bergantian.


Apa yang terjadi diantara pria ini dan Mauza? Apa gadis ini telah menjual keperawa*nannya seperti banyak cerita novel yang ku baca? Atau Mauza telah menjadi budak **** pria ini?


"Tidak! Kalian akan tinggal dengan kami!" paksa Lova.


"Maaf sekali lagi, Kak!"


"Ayah, terima kasih untuk semuanya. Maaf atas semua kesalahan kami."


"Dan mulai sekarang kami tidak akan mengganggu kebahagiaan kalian," ucap Mauza tulus.


"Ayah, aku keluar dulu! Aku akan mengurus administrasi dan membawa mereka pulang." Muncullah sikap kerasa kepala Lova. Ia tidak suka Aland menjadikan Mauza sebagai korbannya. Memanfaatkan gadis lemah dan tak berdaya.


"Tidak perlu. Aku sudah mengurus semuanya," ucap Aland membuat mereka semua menatapnya.

__ADS_1


"Mereka juga sudah ku pinjamkan apartemenku," lanjutnya.


Mauren dan Mauza saling pandang dan sama-sama menggeleng samar. Aland tidak mengatakan apapun sejak kemarin dan hari ini dia malah mengatakan bahwa telah meminjamkan apartemennya untuk mereka.


Lova menatap Aland tidak suka. "Bisa kita bicara berdua, Pak?" pinta Lova dan ia melewati tubuh Aland begitu saja. Ia keluar dari ruangan itu dan Aland mengikutinya


"Mereka tidak akan saling cakar, kan Ayah?" Bisik Alvin pada Brata. Semenjak menjadi adik bagi Lova, Alvin mulai membiasakan dirinya untuk memanggil Brata dengan sebutan ayah.


Brata menggeleng pelan. "Semoga saja tidak."


Sementara Mauza menatap khawatir kearah pintu yang baru saja dilewati oleh dua orang lawan jenis itu.


Setibanya di luar, Lova menatap Aland tajam. "Sebenarnya apa rencana anda, Pak Aland?"


"Kemarin anda tidak ingin saya menebus Mauza."


"Dan sekarang anda membebaskannya bahkan memberikan tempat tinggal untuknya."


"Anda tidak menjadikannya mainan kak? Anda tidak menjadikannya budak pelampiasan nafs* anda, kan?"


Mendadak apa yang pernah Ken katakan berputar-putar di kepalanya. Bagaimana jika Mauza juga menikma*ti hubungannya dengan Aland? Oh God. Haruskah ku mundur dan membiarkan mereka berjalan di jalan mereka sendiri?


Aland tertawa remeh. "Terlalu negatif isi kepala anda, Bu Lova!"


"Aku memang baj*ngan! Tapi aku tidak pernah menjadikan kelinci lemah sebagai mangsaku!"


"Tanya saja pada gadis itu jika tidak percaya."


"Dan satu lagi! Biarkan mereka mandiri karena anda tidak mengetahui bagaimana keduanya menangisi rasa bersalah mereka. Bagaimana mereka menangisi rasa malu tiap kali melihat wajah anda."


"Apa menurut anda mereka akan bahagia jika setiap hari harus hidup bersama anda? Wanita yang membuat mereka merasa bersalah dan malu?"


"Ku rasa tidak. Mereka akan merasa kecil dan hina."


Aland meninggalkan Lova dan pergi menelusuri lorong rumah sakit.


Lova diam dan mencoba memahami maksud Aland.


Dia ada benarnya.


Lova masuk ke dalam dan langsung berdiri di depan Mauza.


"Za, sebenarnya aku khawatir padamu. Tapi aku akan menghargai setiap keputusanmu."


"Aku tidak akan melarang kalian tinggal di apartemen pria itu."


"Tapi, Za, aku akan menanggung biaya sekolah dan kuliahmu nanti."


"Dan kamu, Mauren! Kembalilah bekerja di perusahaan!"


"Tapi kak..."


"Kenapa? Kamu tidak nyaman?" tanyanya kemudian dan Mauren mengangguk lemah.


Lova menghela nafas berat. "Baiklah. Akan ku coba carikan pekerjaan untukmu."


"Tidak di kantorku, mungkin di kantor rekan bisnisku yang lain."


Mereka melihat kearah pintu dan tampak Aland datang bersama dua orang suster yang salah satunya mendorong kursi roda.


"Kita pulang sekarang!" perintah Aland.

__ADS_1


Mereka bersiap dan akhirnya kedua gadis itu ikut dengan mobil Aland. Lova menghargai keputusan mereka. Padaha Mauza dan Mauren hanya sedang menghindari Lova. Mereka juga tidak yakin menerima bantuan dari Aland yang terkesan berlebihan itu.


__ADS_2