
"Aku akan mengatakannya pada Ken, Al." Brata dan Alana sedang duduk di halaman belakang malam ini. Keduanya menghabiskan banyak waktu selama tinggal di rumah ini.
Kesehatan Brata sangat baik belakangan ini. Mungkin ungkapan obat paling mujarab adalah hati yang bahagia ada benarnya. Terbukti apa yang Brata rasakan.
Brata juga bisa melihat Lova tampak lebih bahagia karena pelukan hangat yang telah lama hilang dari gadis itu kembali bisa dia rasakan.
Lova tidak lagi hanya fokus pada pekerjaan, tapi juga pada keluarga. Lova lebih sering berkumpul bersama dibanding mengurung diri di kamar seperti saat tinggal bersama Mariska dan kedua putrinya.
"Aku tidak setuju!" Tolak Alana. Brata ingin mengatakan pada Ken agar bersedia menikahi Lova tapi Alana menentangnya.
Bagi Brata, ia akan lebih bahagia melepas gadis kecilnya itu pada pria yang memang sudah ia kenal dengan baik dan ia percaya.
"Kenapa? Ken juga putramu, Al. Dia baik dan aku sudah sangat mengenalnya. Aku percaya dia bisa menjaga putri kita."
Alana menggeleng pelan. "Aku ingin Lova memutuskannya sendiri, Mas."
"Dia juga belum tentu punya perasaan istimewa pada Ken."
"Tapi aku tahu, Ken menyukainya," potong Brata.
"Aku juga tau itu, Mas," balas Alana.
Brata membulatkan matanya. "Kamu tahu?" Brata baru mengetahui hal ini. Ia heran mengapa Alana baru memberitahunya padahal mereka sudah cukup lama bertemu kembali.
Alana tertawa. "Tentu, dia putraku!"
"Meski bertahun-tahun dia bersamamu, tapi dia tetap putraku. Aku tempatnya bercerita meski tidak semuanya."
"Karena Ken itu, tipe pria yang akan menyembunyikan apapun dari orang lain selama ia bisa mengatasinya sendiri."
Brata mengangguk setuju.
"Aku masih ingat, Mas. Bagaiman Ken mengakui perasaannya terhadap Lova di hadapanku."
Alana mencoba mengingat kejadian beberapa tahun lalu. "Dia datang padaku dan duduk bersimpuh di kakiku."
"Dia meminta maaf karena mencintai putriku. Dia mengakui bahwa dia menyayangi Lova. Hingga siapapun gadis yang mendekatinya tidak ia hiraukan." Alana tersenyum mengingat momen itu dan Brata juga tersenyum senang.
"Aku senang, tapi aku memberi satu syarat untuknya." Alana tertawa. "Aku egois, memang."
"Syarat apa?" tanya Brata.
Alana menarap Brata sekilas lalu kembali menatap lurus ke depan. "Aku hanya meminta dia mencari bukti bahwa kecelakaan itu disebabkan oleh Mariska."
"Dan selama itu pula aku memintanya untuk terus menjaga Lova."
"Aku ingin, Lova mengetahui bahwa aku masih hidup. Aku ingin kembali bertemu Lova sebagai bundanya, bukan sebagai Mommynya Ken."
"Kenapa kamu tidak datang kepadaku, Al?"
Alana tersenyum kecil. "Aku bisa apa jika kamu dan Mariska sudah menikah."
__ADS_1
"Aku tidak ingin hadir kembali dan membuat situasi menjadi sulit, Mas."
"Aku hanya butuh keadilan saat itu."
"Aku sudah ikhlas karena aku juga menghilang dalam waktu yang lumayan lama."
"Jika aku muncul saat itu, mungkin aku akan dibuat mat* untuk kedua kalinya."
"Dan mungkin juga, Lova menjadi korban berikutnya."
Brata mengangguk. "Kamu benar."
"Aku hanya berusaha menghindari hal buruk yang mungkin terjadi," lanjut Alana.
"Dan saat Ken mulai menemukan titik terang, kalian malah berada dalam bahaya."
"Ya, karena sebelum aku menyerahkan perusahaan pada Lova aku sempat mengumpulkan mereka semua dan mengatakan bahwa perusahaan adalah milik Lova sepenuhnya," ucap Brata.
"Aku masih ingat, perusahaan itu dibangun dengan uang darimu."
"Aku tidak mungkin memberikannya pada putri sambungku meski hanya sedikit."
"Ya, Mariska marah karena apa yang kamu beri padanya tidak sebanding dengan apa yang Lova dapatkan."
Brata mengangguk. "Ya, dan aku tidak tahu Mariska akan berbuat nekad padaku dan Lova."
"Sekarang, semua sudah baik-baik saja. Aku cuma berharap agar Lova bisa membuka hatinya untuk Ken." ucap Alana penuh harap.
"Aku juga berharap demikian."
***
"Aku ingin ke kantor."
"Sepertinya situasi disana sudah aman. Wartawan sudah mendapatkan apa yang mereka mau," jawab Lova sambil mendudukkan dirinya di kursi makan, bergabung bersama Alvin dan Brata.
"Biar Ken yang mengantar, Lov!" perintah Alana yang baru keluar dari dapur sambil membawa nasi goreng spesial masakannta sendiri.
Lova menatap Ken yang diam di tempat. "Dia pasti mau, Kak! Tenanglah!" Lova terkejut karena Alvin menepuk bahunya.
"Dia tidak akan mungkin menolak permintaan, Mommy."
"Ken?" tanya Alana.
"Ya, Mom. Akan ku antar," sahut Ken membuat Alana tersenyum.
"Benarkan apa kataku?" ucap Alvin percaya diri.
"Ayo sarapan dulu," ajak Alana.
***
__ADS_1
Ken dan Lova sudah sedang dalam perjalanan. Keduanya saling diam dan tenggelam dalam fikiran masing-masing.
Lova sesekali menatap Ken yang duduk disampingnya. Pria itu tampak serius menatap jalan raya.
Ken, mengapa aku sulit tidur hanya karena memikirkanmu yang menolak menjadi kakakku?
Apa yang membuatmu menolak itu, Ken? Apa karena kamu takut aku merebut Mommymu? Lova merasa lucu.
Dia bundaku Ken, dan aku rela ia berbagi kasih sayang untuk kita bertiga. Aku saja bisa menerima bahwa ayah juga menyayangimu seperti putranya apalagi tentang bunda yang sudah kamu selamatkan hidupnya.
"Ken, kembalilah bekerja di kantor," pinta Lova. Padahal hatinya merasa aneh saat meminta hal itu dari Ken. Bagaimana mungkin ia meminta seorang pemilik perusahaan bekerja sebagai asisten di perusahaannya?
"Tidak bisa, Lov. Dua hari lagi aku akan kembali ke Australia. Aku akan membantu Thomas disana."
Lova langsung menatap tajam pria itu. Lova terkejut atas keputusan Ken kali ini. Terlalu mendadak dan sangat tidak ia duga-duga.
"Tidak boleh!" Bentak Lova tanpa sadar.
Ken sampai terkejut dan langsung menatap gadis di sampingnya. Ken melihat matanya memerah seperti menahan tangis.
Sadar Ken sedang menatapnya, Lova membuang muka. Ia menatap jendela, dan tidak lagi ingin menatap pria itu.
Ken tidak mengerti mengapa Lova membentaknya. Ia kembali fokus mengemudi karena Lova enggan menatapnya lagi.
Dia menangis? Tapi untuk apa? Dia tidak mungkin menangisiku, kan? Lagi pula siapa diriku baginya? Batin Ken.
Lova menyeka sudut matanya. "Baiklah, jika itu keputusanmu."
"Semoga selalu sehat dan sukses di sana, Ken."
Ken tidak menjawabnya. Ia hanya tersenyum kecil.
Aku akan sering datang, Lov. Bukan sebagai Ken- asisten pribadimu. Tapi sebagai Ken Darras, partner kerja samamu.
"Sering-seringlah datang!"
"Pasti!" jawab Ken mantap.
"Bunda pasti akan selalu merindukanmu."
Mungkin aku juga. Lanjut Lova dalam hatinya.
"Aku tahu itu."
Apakah kamu juga akan merindukanku? Tanya Ken dalam hatinya.
"Ayah akan sangat terkejut dengan keputusanmu."
Ken tersenyum kecil. "Aku tahu itu. Tapi ku yakin Bapak pasti mengerti. Aku sama sepertimu, Lov. Menjalankan perusahaan yang orang tuamu dirikan."
"Hanya saja aku menjalankan perusahaan yang kami rintis bersama, dengan semua perhiasan mamaku yang ku jual.
__ADS_1
Lova mengangguk ragu. Aku ingin membuatmu berfikir ulang untuk pergi, Ken. Tapi bagaimana caranya? Jika menjadikan bunda dan ayah sebagai alasannya saja tidak berhasil.
Semoga ini yang terbaik, Ken. Semoga kamu pergi bukan karena marah padaku ataupun Mommy.