ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 96 Ken Dan Lova


__ADS_3

"Lov, bangun sayang!" bisik Ken ditelinga Lova. Istri cantiknya yang sudah tidak gadis lagi itu masih bergelung dalam selimut.


Hingga jam 4 pagi, ia baru berhasil mencetak gol dengan perjuangan yang begitu panjang. Tetesan keringat yang tidak sedikit dan kalori yang terbakar mungkin setara dengan berjalan di treadmill selama berjam-jam lamanya.


Untung saja juniornya bisa bertahan lebih lama dari yang ia duga. Bukan dirinya tidak mampu membobol gawang dalam waktu singkat, tapi ringisan dan rintihan Lova kerap kali membuatnya tidak tega melesakan juniornya lebih dalam lagi.


Dan benar saja. Berkat kenekatan dan sedikit teriakan gadis itu, ia berhasil menenggelamkan juniornya. Bukan hanya Lova yang kesakitan, tapi dirinya juga.


Ia merasakan juniornya itu hampir patah. Dan setetes darah membuatnya mengeluarkan kembali junior yang sudah masuk dengan susah payah. Ia memeriksa miliknya yang ia khawatirkan terluka.


Ia tidak merasakan perih, saat membersihkan miliknya dengan tissu.


"Dasar Ken, bod*h!" Maki Lova membuatnya terkejut. "Yang terluka itu milikku! Tapi yang kamu periksa malah milikmu!"


Ken memeriksa milik Lova dan benar saja. Darah mengalir dari sana. "Kamu datang bu...!"


"Ken! I'm still virgin! Dan sekarang sudah tidak lagi!" Bentak Lova menahan perih. Enak saja suaminya yang terlihat bodoh itu mengatakan dirinya tengah datang bulan.


"Jadi bagaimana?"


"Apanya?" tanya Lova karena Ken malah bertanya bagaimana.


"Harus berhenti atau dilanjutkan?" tanya Ken.


"Terserah padamu!" Bukannya membawanya terbuai hingga ke nirwana, Ken malah memancing emosinya.


Memiliki suami yang tidak berpengalaman memang seperti ini resikonya. Lova merapatkan kakinya dan menutup tubuhnya dengan selimut.


"Baiklah!" Ken kembali melanjutkan aktivitasnya. Ini memang pengalaman pertamanya. Dia tidak tahu kalau selaput dara seorang wanita robek bisa menyebabkan perdarahan seperti tadi.


Ia masih belajar. Belajar untuk bergerak mencari titik keni*kmatan untuk keduanya. Ia masih harus belajar mengatur posisinya agar tidak menyakiti Lova.


Beberapa video tutorial yang sering Thomas tunjukkan padanya saat di Australia ternyata lumayan berguna.


Ken mengguncang bahu Lova dan ia kembali meminta wanita itu untuk bangun.


"Aku masih mengantuk, Ken!" Lova menyingkirkan tangan Ken yang sedang berusaha mencubit cuping hidungnya.


"Aku ingin tidur lagi. Badanku sakit semua! Dibawah sana masih perih." rengek Lova.


Ken tertawa karena Lova terus bicara meski dengan nada manja. "Bagaimana jika mandi saja?"


"Akan ku siapkan air hangat agar tubuhmu segar, sayang!"


"Atau kita mandi bersama dan mengulangnya lagi..." bisik Ken dan Lova langsung membuka matanya lebar-lebar.


"Berani menyentuhku lagi, akan ku patahkan milikmu itu, Tuan Aldric!" ancam Lova dan Ken malah tertawa melihat kemarahan istrinya.


"Dasar pemerk*sa!" Lova menatap sinis dan kembali menutup tubuhnya.

__ADS_1


"Hei... Aku suamimu!" Ken tertawa lalu membuka selimut yang menutup wajahnya itu.


"Aku tahu, tapi aku tidak ingin lagi." Lova memejamkan matanya.


"Mommy dan ayah sudah menunggu untuk sarapan," ucap Ken dan Lova tidak peduli.


"Biarkan mereka makan berdua."


"Sayang, aku tidak enak hati pada mereka. Setelah sarapan mereka akan langsung check out dari hotel."


"Tidakkah kamu ingin menemui mereka dulu?" tanya Ken.


Lova menggeleng. "Katakan pada Mommy, aku sedang tidak berdaya karena ulahmu!"


"Hahaha... Mommy pasti akan bangga padaku karena berhasil menakhlukanmu." sahut Ken senang.


"Baiklah. Aku akan mengirim pesan pada Mommy kalau kita tidak bisa sarapan bersama mereka." Ken mengambil ponsel di nakas dan mengirimkan pesan pada Alana.


Lova menatapnya jengah. Perut yang terasa lapar membuat Lova perlahan beringsut turun dari tempat tidur. Ia harus segera mandi dan mengisi perutnya. Rasa sakit dan perih tidak ia pedulikan lagi. Dengan selimut yang masih melilit tubuhnya, Lova masuk ke kamar mandi.


"Sayang! Tunggu aku!" Lova menoleh dan ia langsung menutup matanya. Pria diatas ranjang itu ternyata masih polos tanpa sehelai benangpun. Selimut yang ia bawa membuat tubuh berotot itu tak lagi tertutup apapun.


"Ken! Pakai celanamu!" Bentak Lova. Ia bergegas masuk ke kamar mandi karena tak ingin menjadi korban senjata yang sudah siap tempur itu.


"Hahahah..." Ken turun dari tempat tidur dan berjalan kearah kamar mandi. "Lov... buka pintunya sayang!" Ken mengetuk pintu kamar mandi tapi Lova tidak memperdulikannya.


Ken dan Lova sudah tampak rapi. Keduanya duduk di sofa dengan banyak hidangan yang tersedia.


"Untuk apa makanan sebanyak ini, Ken?" tanya Lova melihat beberapa porsi makanan diatas meja.


"Tentu untuk kita makan," sahut Ken sambil meletakkan napkin diatas paha Lova.


"Sebanyak ini?" tanya Lova tak yakin bisa menghabiskan semuanya hanya berdua


Ken mengangguk. "Kamu pasti sangat lapar, sayang! Begitu juga denganku."


Mereka makan dengan tenang. Ken sering sarapan bersama dengan Lova, tapi pagi ini status mereka sudah berubah. Lova adalah istrinya sekarang.


Lova menyeka bibirnya dengan napkin dan membereskan piring-piring kotor diatas meja. Entah bagaimana satu persatu piring itu kosong dan semua makanan masuk ke perut mereka.


"Siang ini, kita akan ke dokter," ucap Ken.


Lova menatap suaminya. "Untuk apa? Kamu sakit?" tanyanya.


Ken tertawa tanpa suara. "Bukan! Aku sehat sayang! Aku akan memeriksakanmu."


"Untuk apa? Aku sehat," jawab Lova.


"Lukamu harus dirawat. Mungkin sobekan di ... disana harus dijahit!"

__ADS_1


"Aku sudah mencari rekomendasi dokter wanita terbaik di kota. Dia akan memastikan lukamu tidak terinfeksi."


Lova tertawa sampai memegangi perutnya. Ken menatap heran pada istrinya yang bisa tertawa selepas dan sekuat itu, padaha ia melihat wanita itu berjalan sambil meringis menahan sakit. Cara berjalannya saja terlihat berbeda.


"Kenapa malah tertawa, Lov?"


Lova menghapus air mata di sudut matanya. "Aku tidak apa-apa, Ken. Tidak perlu kedokter. Luka ini akan sembuh sendiri."


"Kamu yakin? Tidak perlu diobati? Dengan salep atau kamu butuh pil?"


Lova menggeleng. Ia merentangakan tangannya minta dipeluk. Ken dengan senang hati memeluknya.


"Aku hanya perlu dipeluk, disayangi dan di cintai..." Lova menyandarakan wajahnya di bahu Ken.


"Aku sudah kehilangan harta paling berharga, dan aku harap kamu tidak oernah meninggalkanku."


"Sayangi aku seperti janji yang kamu ucapkan kemarin saat menikahiku!"


Ken mengelus rambutnya. "Aku bahkan sudah berjanji sejak lama. Jauh sebelum aku menjadikanmu sebagai istriku. Dari dulu, kamu tetap prioritasku meski tanpa kamu sadari."


"Aku, sebisa mungkin menjadi bayanganmu, mengikuti kemanapun kamu pergi dan selalu ada disaat kamu butuhkan."


Lova menatap Ken. "Aku tahu, kamu melakukanya dengan sangat baik. Jika tidak, bagaimana mungkin kamu bisa menculikku dari orang-orang Mariska tepat pada waktunya."


Ken mengangguk. "Aku bahagia, akhirnya aku bisa mendekapmu, memilikimu dan melindungimu tanpa harus sembunyi-sembunyi."


"Terima kasih, Ken. Aku tahu kamu mencintaiku!"


Ken tertawa. "Kamu juga mencintaiku?"


"Ya...."


"Apa?" tanya Ken.


"Ya... yang kamu tanyakan tadi, jawabannya ya."


"Katakan, sayang!" Ken mencium keningnya.


"Aku mencintaimu!"


"Lagi...."


"Aku mencintaimu!"


"Aku tahu, tidak perlu mengulangnya!"


"Kamu yang minta, Ken!"


"Hahahah...." Ken tertawa saat Lova mencubit hidungnya.

__ADS_1


__ADS_2