ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 46 Alvin Dijebak


__ADS_3

Selama seminggu ini, tidak ada pergerakan yang mencurigakan dari Tuan Hendrico terhadap Alvin. Pria yang sedang menikmati peran sebagai office boy itu mulai merasa releks karena tidak ada lagi orang yang mengikutinya selama pergi atau pulang kerja.


Ken, ia mulai merasa diatas awan, karena satu persatu bisnis Tuan Hendrico mulai terendus olehnya. Pihak berwajib juga sepertinya menargetkan 'si Bos besar' yang bertanggung jawab atas semua penangkapan atas pengiriman dan penyelundupan obat-obatan terlarang.


Keadaan yang mulai aman, membuat Ken meminta Alvin untuk datang ke negara ini. Ken merasa akan lebih mudah mengawasi dan melindungi adiknya jika berada di dekatnya.


Walaupun tidak bisa tinggal serumah dengannya agar tidak menimbulkan kecurigaan Tuan Hendrico, tapi Ken mencarikan apartemen dengan penjagaan ketat.


"Oke. Nanti akan ada orang yang menjemput kalian di bandara," ucap Ken pada Alvin melalui panggilan telepon. Pria itu sudah berada di bandara dan siap terbang menuju Jakarta.


"Baiklah. Hati-hati dan jangan sampai lengah. Keadaan memang sepertinya sedang aman, tapi tetaplah waspada jika ada serangan mendadak," pesan Ken yang ke sekian kalianya pada Alvin.


***


Alvin berjalan menuju gerbang keberangkatan. Ia dan dua pengawalnya membawa koper masing-masing. Alvin memakai masker dan kaca mata hitam. Ia mencoba mengubah sedikit penampilannya agar tidak mudah dikenali.


Bught!


"Au! Sakit!" keluh seorang gadis saat secara tak sengaja tubuh Alvin menabrak tubuhnya.


Berkas dan tiket pesawat yang Alvin pegang sampai terjatuh di lantai. Ia lantas berjongkok dan mengambilnya.


Sepasang kaki mulus dihadapannya membuat jiwa kelaki-lakiannya bangkit seketika. Namun, Alvin langsung tersadar bahwa ini bukan saat yang tepat untuk menikmati keindahan kaki mulus itu.


Alvin segera berdiri dan ia kali ini benar-benar terkejut. Di depannya tampak seorang gadis berambut panjang sepunggung tengah memegangi lengannya. Dan yang paling membuat Alvin terkejut adalah gadis itu menggunakan bahasa Indonesia yang fasih.


"Sorry..." ucap Alvin berusaha menatap gadis itu.


Gadis itu langsung menatap wajahnya dan tersenyum kecil. "No problem."


"From Indonesia?" tanya Alvin penasaran.


Gadis itu mengangguk dan tersenyum.


Cantik sekali.


"Orang Indonesia juga?" tanya gadis itu. Alvin mengangguk pelan. Ia melihat gadis yang memakai sneakers dan dress simple selutut dengan denim jaket di tangannya.


Dia bukan orang yang perlu dicurigai. Batin Alvin setelah ia melihat kesegala arah dan tak ada tanda-tanda bahaya.


"Akan kemana?" tanya gadis itu.


"Kembali ke Indonesia." jawab Alvin. "Kamu?"


Gadis itu tersenyum. "Baru tiba."


"Senang bertemu denganmu, aku duluan," lanjut gadis itu dan berjalan meninggalkan Alvin yang masih terpukau dengan keanggunannya.

__ADS_1


Ponselnya bergetar, membuatnya sedikit terkejut dan tidak lagi melihat kearah gadis itu. Sebuah panggilan masuk dari Ken.


"Terima kasih, Kak. Pastikan orang yang menjemput mengenaliku!" Ucap Alvin pada Ken yang mengatakan ada orang yang akan menjemputnya saat tiba di bandara Jakarta.


"Iya. Kami akan tetap waspada," ucap Alvin lagi.


Tanpa Alvin ketahui, gadis yang menabraknya itu mendengarkan apa yang ia ucapkan pada Ken.


Gadis itu lantas berjalan menjauh setelah mendapatkan sedikit informasi namun sangat berharga. Gadis itu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Dia akan ke Jakarta. Seseorang akan menjemputnya. Akan ku cari tahu, pesawat akan berangkat dan tiba jam berapa."


"Akan ku beri kabar lagi, nanti."


***


Alvin tiba di Indonesia. Ia dan dua pengawalnya langsung mencari orang yang menjemputnya.


"Tuan Alvino Darrass?" seorang pria bertubuh besar menghampirinya. Dengan memakai pakaian serba hitam, pria itu mendatangi Alvin dan kedua pengawalnya.


Alvin mengangguk. Dua orang pengawal Alvin menatap pria berseragam hitam itu penuh selidik.


"Ayo!" Alvin memberi kode pada pengawalnya untuk ikut bersama pria yang menjemputnya.


Mereka masuk ke sebuah mobil hitam nan mewah. Alvin duduk bersama dua pengawalnya di kursi belakang kemudi. Sementara dua orang pria yang menjemputnya duduk di kursi depan.


"Mobil siapa yang kamu masuki, Vin?" bentak Ken. "Keluar dari sana karena orang suruhanku baru saja menghubungi dan mengatakan bahwa mereka tidak menemukanmu di bandara!" Perintah Ken panik.


Alvin menatap dua orang penjaganya bergantian. Lalu beralih pada dua orang pria yang duduk di kursi depan.


Jika ini bukan orang suruhan kakak, lalu siapa mereka berdua? Batin Alvin masih berusaha memahami situasi.


"Alvin!" Panggil Ken lagi. "Kamu mendengarku, Vin?" bentak Ken.


"Arrhg!" Kedua pengawal Alvin kompak berteriak. Alvin sempat kebingungan dan akhirnya dia mengerti setelah melihat darah segar mengalir di kepala bagian belakang keduanya.


Sebuah tembakan tanpa suara tepat mengenai kepala dua orang disisi kanan dan kirinya.


Ia sudah tidak lagi berkonsentrasi dengan suara Ken yang terus memanggil namanya. Karena Alvin menyadari ujung pistol juga telah menyentuh kepala dan lehernya.


Oh God! Situasi macam apa ini?


Dua orang di kursi paling belakang yang melakukannya. Keduanya sedari tadi bersembunyi dan akhirnya berhasil menghabisi kedua pengawal Alvin.


"Jangan melawan atau mati!" bisik pria itu di belakang telinganya. Pria itu juga mengambil ponselnya dan mengakhiri panggilannya dengan Ken.


Alvin hanya bisa diam mematung. Percuma saja ia melawan. Ia tidak membawa senjata api karena baru saja turun dari pesawat.

__ADS_1


"Siapa kalian? Dan mau apa?" tanya Alvin kasar.


"Sopan sedikit!" Pria itu mendorong kepalanya dengan ujung pistol.


"Nyawamu ada di tangan kami!"


"Aku punya Tuhan. Jadi jangan terlalu sombong!" jawab Alvin congkak.


"Diamlah!" Teriak pria di kursi depan. "Ikat dia!"


Alvin tak bisa lagi melihat karena matanya saat ini sedang di tutup dengan kain berwarna hitam.


"Ck! Mau main penculik-penculikan, Paman?" tanyanya sambil bercanda. Padahal jantungnya sudah berdebar hebat. Dalam hatinya tak putus memanjatkan doa agar ia masih diberi kesempatan untuk bernafas


"Diam!" bentak pria itu lagi.


"Oke aku akan diam. Tapi berhati-hatilah, karena kakakku bisa mengetahui kejahatan kalian bahkan dalam radius 1000 kilometer."


"Dasar anak kecil!" Geram pria di kursi depan.


Pria itu mengambil tali, dan mengikat tangan Alvin. Lalu meminta pria di kursi belakang untuk menutup mulutnya dengan kain.


"Mmmmmmmpppp!" Alvin berusaha untuk teriak namun tidak bisa. Alvin juga terus bergerak hingga membuat keempat pria itu marah.


Sialan! Sebenarnya siapa mereka? Mengapa mereka menculikku ? Apakah mereka orang suruhan Tuan Hendrico?


Alvin akhirnya tak sadarkan diri setelah satu suntikan diberikan di lenganya. Mobil terus melaju dan masuk ke dalam hutan.


Mereka tiba di sebuah bangunan tua yang sangat tidak terawat. Sudah banyak pria berpakaian serba hitam menunghu di sana.


"Amankan mayat-mayat ini, dan ikat dia di kursi itu!" Perintah salah satu pria yang membawa tubuh Alvin yang masih belum sadarkan diri.


Alvin didudukkan di sebuah kursi dengan tangan dan kaki yang terikat.


"Byuuur!" Seseorang menyiram wajah dan tubuhnya membuat ia terbangun dan terbatuk.


Aku dimana?


Itu adalah hal pertama yang ia fikirkan sesaat setelah membuka mata. Mulutnya tak lagi di tutup. Ia melihat banyak sekali pria berpakaian hitam di sekitarnya.


Ini bukan neraka, kan?


"Plaak!" Sebuah tamparan keras ia dapatkan.


Sakit. Ini masih nyata. Aku belum mati.


"Bangun! Karena Bos kami ingin bertemu dengamu!" Bentak pria yang menamparnya itu.

__ADS_1


__ADS_2