ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 37 Tentang Mauza


__ADS_3

"Ken, apa ini sesimple kita membawa uang sekoper dan menyerahkannya pada Tuan Hendrico dan Mauza akan kembali pada kita?" tanya Lova saat mereka sedang berada di dalam mobil.


Ken menggeleng pelan. "Dia mengatakan akan menghubungi lagi, kan?"


Lova mengangguk. "Mungkin dia akan menyusun rencana dulu."


"Apa dia akan berubah fikiran dengan jumlah uangnya, Ken?"


Ken mengangkat bahu. "Jika dia menukar dengan saham Bratadikara senilai uang itu, maka selesailah sudah!" keluh Ken.


"Jika dia sampai masuk dalam perusahaan, maka habislah!" sahut Lova. "Tangannya akan mengacak-acak habis perusahaan Bratadikara!", lanjut Lova.


"Berdoa saja semoga hanya uang itu yang ia minta!" Ken menghelan nafas berat.


Kemarin urusan Mariska dan sekarang Mauza. Ditambah lagi Thomas yang terus memaksanya bermain dengan Hendrico Group. Dan Alvin sudah ada dibelakang Thomas sebagai pendukung nomor satu. Adiknya itu hanya memikirkan keseruan permainan balas dendam yang akan terjadi kedepannya tanpa memikirkan dampaknya pada perusahaan dan karyawan.


"Bagaimana?" tanya Brata saat Ken dan Lova baru saja tiba di rumah. Brata sengaja menunggu keduanya di ruang tamu karena ia harus memastikan keduanya oulang dengan selamat.


"Mauza bisa dibebaskan?" tanyanya lagi.


Lova menggeleng lemah. "Hanya dengan uang 10 Milyar itu, Ayah!" jawab Lova lemas. Ia menyandarkan kepalanya di sofa.


"Dia ingin uang itu dikembalikan."


Brata menatap Ken. "Atur waktunya Ken. Tabunganku cukup untuk menebusnya."


Lova membulatkan matanya. "Ayah. Jangan terburu-buru, yah!"


"Kita tidak tahu dia selicik apa?" lanjut Lova.


"Tapi kasihan Mauza, Sayang!" jawab Brata. "Semua ini harus diselesaikan."


Brata tahu gadis lugu itu hanya korban. Brata memang tidak menyayangi Mauza seperti rasa sayangnya terhadap Lova. Tapi entah mengapa rasa kemanusiaannya muncul tanpa diminta. Dia tidak tega semua itu terjadi pada Mauza, gadis yang sudah sepuluh tahun tinggal bersamanya.


"Iya ayah. Lova tahu. Tapi kita perlu mengatur strategi. Bisa saja dia membawa uang kita tanpa mengembalikan Mauza." Lova khawatir Tuan Hendrico bertindak curang.


"Untuk itu, kita harus tetap waspada," jawab Brata.

__ADS_1


Mauren mendengar semua percakapan itu. Ia bersandar dibalik tembok dan perlahan air matanya menetes. "Bagaimana bisa aku menebus Mauza dengan uang sebanyak itu?"


"Dari mana aku mendapatkannya?"


Kekasih yang ia harapkan bantuan dan dukungannya malah meninggalkannya setelah Mariska tertangkap. Mauren benar-benar ditinggalkan oleg semua orang termasuk teman-temannya.


"Aku akan kesana!" tekadnya. "Biarlah aku bersimpuh dan mencium kakinya asal Mauza bisa kembali."


***


Mauza sedang duduk di halaman belakang rumah keluarga Hendrico, tepat di depan kamarnya. Ya, disini setiap asisten rumah tangga mendapatkan fasilitas berupa kamar yang terletak di bagian paling belakang rumah ini.


Ia menatap bintang dan tersenyum kecil. "Hidupku berubah 360 derajat hanya dalam sekejap."


"Keserakahan mama membawaku kesini hingga aku menjadi pelayan di rumah besar ini." gumamnya pelan.


"Entah ini adil atau tidak. Tapi aku memang mengetahui kejahatan mama dan aku mendukungnya meski tidak melakukan apapun."


"Kak Mauren, kenapa tidak ada kabar darimu?" Mauza meneteskan air mata.


"Tidak tahukah kamu, aku disini mengerjakan pekerjaan yang sama sekali tidak pernah kulakukan sebelumnya."


"Cita-citaku kuliah di Paris sudah pupus. Dan sekarang aku harus rela jika sisa hidupku harus ku habiskan disini!" Mauza mengusap air mata dengan punggung tangannya.


"Mengapa tidak tidur?" suara yang ia kenal terdengar dari arah belakangnya. Ia berdiri dan berbalik. Ia menemukan Aland berjalan mendekat.


Ia menunduk dan menggeleng pelan. "Saya belum mengantuk, Tuan!" jawabnya pelan.


"Duduk saja!" Aland menyuruhnya duduk. Dan Pria itu juga duduk disampingnya.


Mauza sedikit takut dan ragu. "Jangan takut. Aku tidak akan menggigitmu," ucap Aland dingin.


Mauza memang sangat ketakutan. Jika saja Aland berbuat macam-macam ia pasti tidak bisa menolak dan melawan pria itu.


"Masuklah!" perintah Aland.


Mauza diam dan tidak mengatakan apapun.

__ADS_1


"Masuk kataku!" tegas Aland. "Jangan sampai tukang kebun dan bodyguard yang haus akan mangsa melihatmu disini seperti kelinci gemuk yang siap mereka santap."


Mauza mendadak menatap Aland. Mauza mendadak merinding dan merasa ketakutan. Ia memang pernah mendengar suara aneh di kamar sebelah dan tak lama, seorang berbadan besar keluar dari kamar itu.


Bahkan pagi tadi, ia melihat seorang tukang kebun tengah melakukan hal tidak senonoh pada salah satu asisten rumah tangga di balik pohon di dekat taman. Ia bisa melihat kebebasan dalam tanda kutip di rumah ini. Sungguh membuat bulu kuduknya berdiri.


Aland juga menatap Mauza. Manik mata itu sungguh membuat Aland tidak mengerti gejolak apa yang ada pada dirinya. Jika ia tertarik dengan mata Lova yang tajam, liar dan menantang. Maka kali ini sangat berbeda. Manik mata Mauza memancarkan keluguan dan rasa takut yang begitu besar.


"Tu-tuan!" ucapnya ragu. Tapi perlahan air matanya menetes. Ia tidak tahu harus meminta perlindungan dari siapa. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika sampai ia menjadi budak **** para pekerja di rumah ini.


"Ada apa?" tanya Aland tegas.


"Ti-tidak bisakah aku bekerja di salah satu kantor milik tuan?" Aland mengerutkan keningnya.


"Ehm..." Mauza takut jika dirinya salah bicara. "Ma-maksudku meski hanya menjadi Office Girl."


"A-ku takut melihat apa yang mereka lakukan pada asisten rumah tangga... di rumah ini."


Aland bisa melihat gadis itu m*erem*as ujung piyama tidurnya.


Aland tak urung tertawa kecil. "Kamu pernah melihat hal itu?"


Mauza mengangguk lemah. "Hahaha... bukankah kamu sudah sering melihat bahkan melakukannya?" Tanya Aland asal menebak. Ia menduga pergaulan bebas menjadi hal biasa di kalangan anak muda termasuk remaja seperti gadis di sampingnya ini.


Mauza diam menunduk. Ia bingung harus bagaimana. Aku harus menjawab apa? Jika ku katakan aku pernah, aku takut dia melakukannya padaku. Dan jika aku jujur dan mengatakan aku belum pernah melakukan hal itu, aku jauh lebih takut jika ia membuktikannya dengan memperko-


"Kenapa diam?" Mauza tersentak saat Aland memecah lamunannya.


Mauza menggeleng pelan. "Sa-saya masuk dulu Tuan!" pamitnya meninggalkan Aland dan masuk ke dalam kamarnya.


Aland menatap punggung gadis yang berjalan pelan tanpa berbalik dan menatapnya.


"Gadis malang!" gumamnya dan tersenyum sinis. "Menjadi korban keserakahan ibunya!"


*Padahal a**ku bisa saja mendapatkan Lova dengan caraku meski dengan menyakitinya. Tapi Ibumu dengan rasa percaya diri tinggi, yakin bisa membawa gadis itu di hadapanku dengan meminta imbalan besar.


Dan lihat yang terjadi, aku tidak menikah dengan gadis itu. Ibumu dipenjara dan kamu menjadi pelayan*.

__ADS_1


****


__ADS_2