ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 13 Penculikan


__ADS_3

Lova dan Rosa tetap menunggu di dalam mobil. Setelah Aland pergi, sedari tadi hanya ada beberapa kendaraan yang lewat, tapi sama sekali tidak menawarkan bantuan.


Kenapa taxi onlinenya lama sekali. Montir dari bengkel juga belum muncul juga. Batin Lova sedikit khawatir.


Satu mobil kantor yang lainnya sudah lebih dulu pulang, meminta mereka kembali juga tidak mungkin.


Ponsel Lova berdering mengagetkannya yang tengah terhanyut dalam lamunan. Ia segera mengambilnya dari dalam tas.


"Dari rumah!" Gumamnya pelan saat melihat nomor rumah yang muncul di layar. Tiba-tiba perasaannya menjadi tidak nyaman. Ia merasa sesuatu telah terjadi. Padahal sebelum pulang, ia sudah mengirim pesan pada Ken dan pria itu juga mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.


"Kenapa Bu?" Tanya Rosa saat melihat wajah panik Lova.


"Ada panggilan dari rumah." Jawabnya sambil menggeser icon berwarna hijau. Lova menempelkan ponselnya di telinga.


"Hiks... hiks... hiks..." suara tangis yang pertama kali ia dengar.


"Hallo..." sapanya heran.


"Kak Lova..."


"Mauza..." ia terkejut saat suara Mauza yang ia dengar. "Ada apa Za?"


"Ayah... Ayah..."


"Ayah kenapa, Za?" Ia panik saat Mauza menyebut kata ayah sambil menangis.


"Ayah dilarikan ke rumah sakit karena tidak sadarkan diri, Kak!"


Tapi sejam lalu ayah baik-baik saja. Apa mungkin ayah keracunan lagi?


"Apa?" Lova seketika panik. "Ayah, kenapa bisa ..."


"Tut... tut... tut...!" Panggilan tiba-tiba terputus.


"Hallo! Hallo, Za!" Teriak Lova.


"Bu, apa yang terjadi?" Rosa panik melihat Lova yang sudah meneteskan air mata sambil bergerak gelisah kebingungan.


"Saya harus segera sampai, Ros! Dimana taxi yang kamu pesan?"


"Ken!" Ia ingat seseorang. "Aku harus menghubungi Ken!" Lova mencoba mencari nomor pria itu di ponselnya.


"Bug!"


"Bug!" Suara gaduh membuat Rosa dan Lova melihat ke arah depan.


"Arrgh!" Jerit supir yang menunggu di depan mobil. Tubuhnya langsung tumbang saat salah satu dari empat orang pria yang tidak mereka kenal memukulnya.


"Astaga! Mereka siapa, Bu!" Panik Rosa yang mencoba mengunci pintu mobil. Belum selesai kepanikan yang Lova rasakan, saat ini mereka malah berada dalam situsi sulit.


Rosa terlambat karena seorang pria sudah berhasil membuka pintu mobilnya.


"Keluar!" Teriak pria itu sambil menarik paksa tubuh Lova. Dan satu pria yang lain menarik paksa tubuh Rosa.

__ADS_1


"Kalian siapa?" tanya Rosa panik. "Kalian mau apa?"


"Lepaskan!" Teriak Lova.


"Diamlah!" Keduanya tak bisa lagi bergerak karena tangan mereka sudah dipegang oleh pria dengan penutup wajah itu. "Jangan melawan jika ingin nyawa kalian selamat!"


"Ambil apapun yang kalian ingin, tapi lepaskan kami!" Lova berusaha untuk berontak tapi tetap saja gagal.


Keduanya terkulai lemas saat kain putih yang telah diberi obat bius membungkam mulut dan hidung mereka.


Lova dan Rosa seketika pingsan. "Bawa yang ini ke mobil!"


"Sisanya biarkan saja!" Perintah salah satu pria.


Mereka membawa Lova ke dalam mobil dan meninggalkan Rosa serta supir kantor terkapar di pinggir jalan.


Mobil itu melaju ke dalam jalanan sunyi tak beraspal. Mobil hitam itu masuk ke dalam perkebunan yang tidak di lalui warga, terlebih saat hari sudah mulai petang ini. Mereka membawa Lova ke tempat yang sepertinya memang sudah dipersiapkan.


"Bos! Target sudah ditangan kami!" Pria yang duduk di kursi depan menghubungi seseorang.


"Bawa ke tempat yang ku perintahkan!" suara diseberang telpon memberi perintah.


"Jangan lupa transfer!" Pria itu tertawa licik.


"Selesaikan dulu tugas kalian!" Bentak wanita di seberang telpon.


"Hahahah, boleh kami bersenang-..."


"Lecet sedikit saja! Nyawa kalian sebagai gantinya!" Ancam wanita itu lagi.


Panggilan di akhiri. "Jangan sampai lecet!" Pria di kursi depan itu memperingatkan teman-temannya agar tidak menyentuh Lova.


"Tapi ini mulus, bos! Sayang kalau...!"


"Nyawa kalian bisa...!" Pria yang duduk di kursi depan mobil itu menggerakkan jari telunjuknya melewati leher membuat orang yang memegang Lova bergidik ngerih.


"Ada yang menghadang, Bos!" Jawab pria dibalik kursi kemudi. Ia panik karena melihat dua mobil Jeep dari arah depan dan belakang tiba-tiba muncul.


"Brak!" Mobil mereka di tabrak dibagian depan dan belakang. Dua mobil Jeep berisi beberapa pria itu mau tak mau membuat mereka berhenti.


"Sialan! Siapa mereka!"


"Keluar dan lawan mereka!" perintah Pria di kursi depan itu kepada teman-temannya.


Beberapa orang bertubuh kekar dengan jaket hitam berlogo huruf A berwarna putih di bagian dada turun dari mobil jeep itu.


"Buka pintunya!" Keempatnya panik dan langsung membuka pintu.


Pria-pria berjaket itu seketika menodongkan senjata api ke kepala mereka. "Serahkan gadis itu!"


"Siapa... kalian?" Tanya pria yang memegang tubuh Lova.


"Tidak penting siapa kami!"

__ADS_1


"Serahkan atau mat*!"


Keempatnya mencoba melawan. Baku hantam dan pun terjadi. Tapi tetap kalah dengan pria-pria berjaket hitam itu karena peluru yang lumayan banyak menembus tubuh mereka.


"Bawa mereka!" Perintah satu orang berjaket hitam yang sepertinya bertindak sebagai bos. Keempat pria yang meculik Lova sudah dilumpuhkan.


"Baik, bos!"


***


"Ken, mengapa perasaanku tidak enak begini?" Tanya Brata yang sedang duduk di depan jendela kamarnya. Ken selalu setia berada di dekatnya. Terkadang Brata membutuhkannya sebagai teman cerita.


Hari hampir gelap tapi Lova sama sekali tidak memberi kabar. Gadis itu hanya menghubunginya saat ia sedang di rumah sakit siang tadi membuatnya semakin khawatir.


"Bapak tenanglah!" Ken berlutut di samping Brata. "Bu Lova akan baik-baik saja." Pria bertubuh kekar itu berusaha meyakinkannya.


"Coba hubungi dia, Ken?" Pinta Brata yang sampai detik ini tidak di beri ponsel oleh Lova. Putrinya itu sengaja melakukan itu untuk melindungi Brata dari segala ancaman yang bisa saja datang dari Mariska atau Aland Hendrico.


"Beliau masih di jalan Pak. Satu jam lalu Bu Lova mengirimkan pesan bahwa ia sedang dalam perjalanan pulang."


Brata diam sejenak. Ia memikirkan suatu hal yang masih membuatnya selalu mengkhawatirkan keselamatan putrinya. "Ken, apakah aku dan Lova masih menjadi target?"


Ken mengangguk. Seketika Brata kembali bungkam. Anggukan Ken sudah cukup menjadi jawaban tanpa ia perlu meminta alasan.


"Ken, tidak bisakah kamu melindungi putriku?" pintanya sambil menatap dalam netra pria berparas tampan itu.


Tentu aku melindunginya, Pak. Aku menjaganya semampuku. Batin Ken.


"Bu Lova bisa menjaga dirinya sendiri, Pak."


"Tapi dia perempuan, Ken?"


"Bukankah putri bapak merupakan seorang gadis yang tangguh?" Tanya Ken sambil tersenyum kecil.


"Tapi..."


"Sudahlah, Pak." Ken mengusap bahu Brata, berusaha memberi ketenangan pada pria itu.


"Berhenti memikirkan hal yang belum pasti. Bu Lova pasti bisa menyelesaikan setiap masalahnya."


***


Kelakuan siapa sih?


Mariska?


Nyonya Hendrico?


Aland?


atau Ken?


😥😥😥 puyeng yah?

__ADS_1


__ADS_2