ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 18 Kemarahan Aland


__ADS_3

Mariska mencari orang suruhannya di sebuah tempat yaitu markas para prem*an bayaran, dan tidak menemukan mereka disana. Beberapa orang seprofesi yang berada disana juga tidak mengetahui keberadaan orang yang ia cari.


Hingga malam hari, Mariska terus berputar-putar keliling kota. Ia bahkan sempat ke lokasi penculikan itu dan tidak menemukan petunjuk apapun tentang keberadaan Lova.


Ia berhenti dipinggir jalan. Mariska menenggelamkan wajahnya di setir kemudi. "Apa yang harus ku katakan pada Tuan Hendrico?"


"Alasan apa yang harus ku berikan?" Kepalanya terasa pening. Ia seperti sedang berada di depan mulut buaya kelaparan yang sedang terbuka lebar.


"Mauren dan Mauza...." ia baru mengingat tentang anak-anaknya.


"Astaga! Bagaimana dengan mereka? Semoga saja mereka sudah meninggalkan kota ini!"


Mariska mencari ponselnya dan mencoba menghubungi kedua putrinya. Ia bernafas lega karena nomor keduanya tidak bisa dihubungi.


Mariska membuka pesan chat dari Mauza.


[Kami menuju Bandara, Ma. Mama berhati-hatilah. Jika memungkinkan segera susul kami.]


"Baguslah! Mereka sudah naik pesawat." Mariska bisa bernafas lega. Setidaknya ia tidak perlu terlalu memikirkan kedua putrinya.


"Dug!"


"Dug!"


"Dug!"


Kaca jendela mobilnya diketuk oleh dua orang yang tidak ia kenal. Mariska membulatkan mata.


Jangan-jangan mereka suruhan Tuan Hendrico. Batinnya.


Mariska seketika langsung panik. Ia kebingungan harus berbuat apa. Tapi ketukan di kaca mobilnya tidak ada berhenti sama sekali. Justru ia melihat seorang pria menodongkan senjata api kearahnya.


Mariska menyalakan mesin mobilnya dan segera tancap gas. Ia melaju dengan kecepatan tinggi. Orang-orang tersebut tetap mengejarnya.


Tiba-tiba sebuah mobil menyudutkan mobilnya dan berhenti di depannya hingga ia terpaksa juga harus berhenti.


Beberapa orang pria turun dan kembali mengetuk kaca mobilnya. Ada juga yang menodongkan senjata api.


"Buka pintunya atau kedua putrimu akan mat*i!" Ancam seorang pria sambil menunjukan layar ponselnya kearah kaca jendela mobilnya.


Mariska membulatkan mata saat melihat foto Mauren dan Mauza dengan posisi terikat. Ini seperti buah silamakama. Jika ia menyelamatkan nyawanya, kedua putrinya bisa dalam bahaya. Jika ia ikut, bisa-bisa mereka bertiga juga mat* ditangan Tuan Hendrico.


Apa aku mencoba bernegosiasi saja? Semoga Tuan Hendrico bisa menerima alasanku. Batinnya.


Mariska membuka pintu mobilnya. Seseorang masuk ke dalam dan mengemudikan mobilnya mengikuti mobil di depannya.


"Dimana putriku?" Tanyanya tegas.


"Ada di tempat yang aman!"


Mariska menghela nafas. Ia sudah pasrah. Saat ini yang terpenting adalah bagaimana caranya agar ia bisa mengulur waktu. Ia harus mencari alasan paling masuk akal supaya Tuan Hendrico tidak curiga.


Mariska dibawa ke sebuah gedung yang sangat sepi. Ia berjalan dengan kaki gemetar karena ujung sebuah pist*l menekan tepat di belakang kepalanya. Sekali saja ia lari, maka dipastikan sebuah timah panas akan menempus kepalanya.

__ADS_1


Ia melihat Tuan Hendrico tengah duduk sambil menghisap sebatang rok*k bersama beberapa orang bodyguard yang berdiri di sampingnya.


"Dimana putri-putriku, Tuan?" Tanya Mariska.


"Mengapa anda terburu-buru Nyonya?" Tuan Hendrico menghembuskan asap yang seketika mengepul di udara. "Keduanya baik-baik saja. Tenanglah!"


Mariska mengepalkan tangannya. "Aku ingin melihat mereka sekarang! Dan pastikan dalam keadaan baik-baik saja."


"Sehelai rambut pun tidak ada yang berkurang Nyonya!"


"Sekarang, dimana gadis itu?" lanjut Tuan Hendrico.


Mariska sudah memikirkan jawabannya sejak tadi. "Dia... dia belum bisa ku bawa untuk menemui putra anda!" Jawabnya tak yakin.


"Kenapa?"


"Dia sedang kurang sehat."


Tuan Hendrico diam. Pria itu memindai wajah Mariska yang diselimuti ketakutan dan kegugupan.


"Bohong!" Sambar Aland yang baru saja datang bersama beberapa orang bodyguard nya.


Semua orang melihat kearahnya yang berjalan mendekati Mariska. Aland menatap tajam wanita yang sudah bergetar itu.


"Jangan membohongiku!" Bentaknya pada Mariska.


"Anda tidak berhasil menculiknya!"


"Gadis itu tidak ada ditangan anda!" Tunjuk Aland tepat di wajah Mariska.


"Katakan jika itu benar!" Bentak Tuan Hendrico.


Mariska menangis. Ia berjalan maju dan berlutut di kaki Tuan Hendrico. "Maafkan saya Tuan!"


"Ada yang menggagalkan rencana saya dan berhasil membawa Lova."


"Anak buah saya bahkan ikut menghilang entah kemana."


"Ponsel mereka tidak terlacak, Tuan!"


Aland menggeram kesal. Ia berjalan cepat dan menarik rambut Mariska membuat wanita itu meringis kesakitan.


"Katakan siapa yang melakukannya!" Bentak Aland.


"Saya ti... tidak tahu!"


Aland menghempaskan kepala Mariska hingga wanita itu jatuh tersungkur.


"Arrhhh!" Jeritnya menahan sakit.


"Kalian! Kerahkan sebanyak mungkin orang untuk mencari gadis itu!" Perintah Aland pada anak buahnya.


"Sejak kapan dia lepas dari tanganmu?"

__ADS_1


Mariska diam. Lalu menjawab, "Sejak orang-orangku berhasil membawanya."


"Setelah itu, aku tidak mendapat kabar lagi."


"Plak!" Aland menampar Mariska. "Bod*h!" M*kinya. "Bisa-bisanya membiarkan gadisku berada di tangan brandal*n brengs*k itu!"


Aland kembali menarik rambut Mariska. Sudut bibir wanita itu berdarah. "Kalau sampai terjadi sesuatu pada gadisku, maka bersiaplah ku kirim kau ke neraka!" Jerit marah


"Beri saya waktu, saya akan menemukan gadis itu." Mariska memohon.


"Saya yakin, orang suruhan Brata yang menyelamatkannya."


"Ada... ada orang lain yang menyelamatkannya."


Aland melepaskan rambut Mariska. Ia berdiri tegak dan mulai berfikir kira-kira siapa yang membawa Lova.


Aland kembali menatap Mariska. "Lima hari!"


"Waktumu lima hari!"


Mariska terdiam. Ia tidak yakin bisa mengatasi kerumitan ini dalam lima hari. Tapi sebuah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.


"Aland!" Tuan Hendrico menegur putranya. Baginya tidak ada ampun untuk seorang Mariska.


"Biarkan Daddy!" Aland sengaja memberinya kesempatan karena terakhir kali Lova ada bersama anak buah Mariska, jadi kemungkinan orang pertama yang mendapat kabar tentang keberadaan Lova adalah Mariska.


"Sa..saya janji. Dalam lima hari saya akan menemukan gadis itu," ucap Mariska.


"Bagus!" Aland tersenyum licik.


"Sebagai jaminan, putri keduamu akan menjadi pelayan di rumah kami!"


Mariska membulatkan mata.


"Dan putri pertamamu harus menjadi mata-mata dan membocorkan setiap rahasia perusahaan Bratadikara."


Mariska makin membulatkan matanya. Jika Mauren membocorkan rahasia perusahaan dan ketahuan, maka putrinya itu akan berakhir dipenjara.


"Bagaimana?"


Mariska mengangguk pelan. "Tapi saya ingin bertemu dengan putri saya."


"Bawa mereka!" Sekali perintah, kedua putri Mariska di bawa dengan posisi tangan terikat dan mulut tertutup kain.


Mariska langsung memeluk kedua putrinya. Ia menangis. "Maafkan mama, sayang!"


"Maafkan mama!"


Kedua putri Mariska berhasil ditangkap oleh mereka saat perjalanan menuju bandara.


Keduanya sudah diintai oleh orang suruhan Tuan Hendrico sebagai antisipasi jika Mariska berbohong.


"Semakin cepat kerjamu, maka semakin cepat kedua putrimu terbebas!" Ucap Aland tenang.

__ADS_1


Mauren membelalakan mata saat melihat Aland terlibat dengan semua ini. Ia pernah melihat Aland dan mengetahui bahwa Aland adalah salah satu rekan kerja Lova. Hari ini, dia baru mengetahui bahwa Aland adalah putra Tuan Hendrico.


***


__ADS_2