
Ken menatap Brata yang terlelap dengan wajah tenangnya. Pria yang berusia 60an tahun itu sudah mulai membaik. Namun, masih harus dirawat di rumah sakit.
Ken tetap melakukan penjagaan terhadap Brata. Silih berganti, orang-orangnya berjaga di luar maupun di dalam kamar demi mencegah hal hal buruk lainnya terjadi.
Ken takut, Mariska atau Aland memanfaatkan kondisi buruk Brata untuk memancing kemunculan Lova. Terlebih keduanya jelas-jelas mencurigai dirinya yang telah menculik Lova.
Aku akan tetap menjalankan semua rencanaku. Aku akan menjamin kesemalamatan kalian berdua. Aku tidak mungkin egois dengan mengorbankan kalian demi misi balas dendamku pada Hendrico.
Dalam waktu dekat aku akan membalas Mariska karena waktu yang Hendrico berikan untuknya sudah hampir habis.
Aku sudah mencuti-kan Mauren dengan alasan ia tengah berduka akibat menghilangnya Lova. Dengan seringnya gadis itu di rumah, akan lebih mudah mengawasinya.
Cepatlah sehat Pak Brata, maaf telah menculik putrimu tanpa berbicara dulu padamu hingga semua ini terjadi.
Ken keluar dari ruang rawat Brata. Diluar sudah ada dua orang yang menunggu.
"Terus jaga beliau. Jangan sampai lengah apalagi kecolongan!" Ken memperingatkan keduanya. "Saya berharap banyak pada kalian!"
Brata menatap punggung Ken yang berjalan keluar dari ruang rawatnya. Sedari tadi Brata sebenarnya tidak tidur. Ia sengaja ingin mendengar apa yang Ken ucapkan saat ia terlelap. Tapi nyatanya, pria itu hanya diam tanpa kata.
Sesekali Ken memperbaiki letak selimutnya, bahkan posisi kepalanya. Brata sudah mengetahui bahwa putrinya bersama Ken. Brata percaya karena Ken menunjukkan cctv di kamar Lova dimana gadis itu tengah di kurung.
Brata mengingat apa yang Ken katakan malam itu, setelah dirinya sadarkan diri dan siap diajak berkomunikasi.
Flashback On
"Pak, maafkan atas kelancangan saya." Ucap Ken padanya dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Saya harap bapak bisa tenang selama saya bercerita. Cukup dengarkan saya, Pak." Brata mengangguk lemah.
"Malam itu, saya pergi untuk melihat kondisi Bu Lova." Brata membulatkan matanya. "Ya, malam dimana saya tidak pulang."
"Orang yang kita bayar untuk menjaga Bu Lova, telah menghubungi saya bahwa Bu Lova diculik saat mobil kantor yang ia tumpanginya mogok."
"Saya perintahkan untuk menyelamatkan bu Lova dan membawanya ke tempat yang aman."
"Malam itu saya akan kesana, tapi saya mengalami kecelakaan, Pak."
"Ken..."
"Sssstt! Bapak tenang ya..."
"Saya tetap menemui Bu Lova. Saya tetap memastikan kondisinya baik-baik saja." Brata bernafas lega.
"Saya juga mengurus beberapa hal untuk menghilangkan jejak agar polisi tidak bisa melacak keberadaannya. Karena jika sampai polisi tau, saya dan semuanya akan selesai."
Brata kembali mengangguk tanda ia mengerti.
"Bu Lova masih dalam kejaran Mariska."
"Bapak, maafkan saya yang akan menghukum istri Bapak yang serakah itu dengan menggunakan keserakahannya. Saya akan jadikan semua usahanya sebagai boomerang untuknya sendiri."
__ADS_1
"Hukum dia, Ken... Dia pantas mendapatkannya." Ucap Brata dengan suara lemah.
"Pasti, Pak."
"Saat ini, menyembunyikan Bu Lova untuk sementara waktu adalah sebuah pilihan tepat."
"Saya bisa membaca serangan dari Mariska, tapi tidak dengan keluarga Hendrico, Pak."
"Mereka penguasa. Jadi, saya harap bapak bersabar sebentar saja untuk tidak bertemu dengan Bu Lova."
Flashback Off
Apa yang sedang kamu rencanakan, Ken? Kenapa belakangan ini, kamu begitu sulit ku tebak. Apa karena daya fikirku yang meurun atau memang ini adalah sisi dirimu yang selama ini tidak ku ketahui?
Kamu memang pekerja keras. Bekerja cepat dan tepat. Kamu cerdas dan tangkas. Tapi kali ini, kamu sepertinya lebih menggunakan emosi dalam diri kamu, Ken.
Apa yang kamu sembunyikan, Ken?
Brata menghela nafas. Ken yang bukan siapa-siapanya rela berkorban sejauh ini untuk dirinya dan juga putrinya. Brata berharap Ken melakukan ini dengan tulus. Karena ia sudah berharap penuh pada pria itu. Ken, ia pasrahkan untuk mengatur perusahaan.
***
Lova duduk di atas ranjangnya. Bukan di kamarnya, tapi masih di kamar tempat ia dijadikan tawanan. Kamar yang sama sejak beberapa hari lalu.
Ia melihat handle pintu yang bergerak. Lova melihat siapa yang datang. Ternyata seorang pria muda yang lumayan tampan dengan setelan jeans panjang dan hoodie berwarna putih.
Lova mengernyitkan keningnya karena ini kali pertama ia melihat pria itu. Pria dengan pakaian berbeda dari para penjaga.
"Selamat siang. Kamu siapa?" tanya Lova sedikit ragu. Diakah yang menculikku?
Alvin tersenyum ramah. "Alvin. Nama saya Alvin. Anggap saja saya asisten pribadi Bibi Anna."
"Asisten pribadi bibi Anna?" Ulang Lova dan pria itu mengangguk.
Lova tertawa kecil. "Asisten rumah tangga punya aspri? Baru tahu." Gumamnya membuat Alvin ikut tertawa.
"Jangan difikirkan, nanti kondisi anda bisa drop, Nona."
"Yang terpenting sekarang adalah anda harus makan, karena jika bos saya tahu kalau anda tidak makan dan anda kembali sakit, maka dunia per-rekeningan kami semua dalam bahaya." Alvin meletakkan nampan di pangkuan Lova. Pria itu mengucapkannya dengan mendramatisir, seolah itu merupakan sebuah masalah besar.
Lova tersenyum kecil. "Bos kalian itu kejam, ya?" Lova meletakkan nampan di atas nakas. Lalu ia perlahan menyuapkan nasi di piring yang ada di atas pangkuannya.
Alvin diam sebentar. Lalu ia tersenyum licik. "Hu'um." Angguknya.
"Kami semua bahkan sering dipotong gaji. Dia pernah memotong 50 persen gaji bibi Anna hanya karena salah menggoreng telur."
"Oh, ya?" Lova memasang wajah terkejutnya. "Menggoreng telur pun jadi masalah?" Tanyanya heran.
Bos kalian itu kejam atau pelit?
Alvin mengangguk. "Dia ingin telur mata sapi."
__ADS_1
"Tapi ingin yang bola matanya coklat. Supaya terlihat seperti dirinya."
Lova diam saja. Ia hanya bisa menghela nafas karena pria ini hanya sedang bercanda.
Alvin mengerutkan kening saat melihat Lova yang terus makan dan tidak tertawa sedikitpun.
Ia melihat wajah tenang itu tengah menikmati makanannya. "Habiskan Nona!" Perintah Alvin.
"Aku ingin bertemu Mr. A!" Pinta Lova saat ia sudah selesai makan.
"Beliau sedang sibuk." Jawab Alvin singkat.
"Jika dia sibuk, mengapa dia sempat untuk menculikku."
Alvin tertawa kecil. "Bukan dia yang menculik anda, Nona. Tapi kaki tangannya."
"Orang suruhannya, ada dimana-mana!"
Ken atau Aland? Mendadak ia ragu.
"Lalu kenapa dia tidak muncul dihadapanku. Aku ingin melihat wajahnya."
"Dia takut anda lari. Hahah." Alvin tertawa.
"Kenapa?" tanyanya heran.
"Karena dia sangat jelek dan bau..." Alvin menahan tawanya.
Pria itu wangi, dan sepertinya tampan karena bentuk tubuhnya sempurna.
"Anda tidak percaya?" tanya Alvin saat Lova tidak mengatakan apapun.
Lova menggeleng.
Alvin tersenyum kecil. "Percayalah, pria yang menahanmu disini, dia sangat menyayangimu." ucap Alvin pelan.
Lova menatap manik mata pria di depannya. Ia merasa kali ini Alvin berkata serius.
Alvin menyadari Lova sedang mencari kejujuran di wajahnya. "Ah, yaaa..." Alvin mencoba mengalihkan perhatian.
"Anda sudah selesai makan. Sekarang, minum obatlah." Alvin memberikan obat di tangan Lova, dan gadis itu langsung menelannya dengan minum segelas air putih. Lova masih terus menatap Alvin.
"Saya rasa tugas saya sudah selesai." Alvin meraih piring kotor di atas nampan. Ia berdiri dan berjalan kearah pintu.
"Alvin...!" panggil Lova dan pria itu menoleh kearahnya.
"Dia Ken?" tanya Lova. Entah mengapa hanya nama Ken yang ia ingat saat Alvin mengatakan bahwa pria yang menculiknya adalah orang yang sangat menyayanginya.
Nama Aland sempat terlintas, tapi jika memang pria itu Aland, ia pasti sudah habis tercabik-cabik diatas ranjang pria itu.
"Suatu saat anda akan tau, Nona." Alvin keluar dari kamarnya.
__ADS_1