
"Rosa! Temani saya makan siang!" Ajak Lova pada sekretarisnya itu. Ia sudah membereskan berkas yang tadinya berserakan diatas meja.
Rosa juga segera melakukan hal yang sama. Ia membereskan meja kerjanya setelah mendapat perintah dari Lova.
Lova dan Rosa memasuki sebuah restoran mewah. "Saya sudah lama sekali tidak makan enak, Ros!" Keluh Lova karena ia memang benar-benar menjaga pola makannya. Ia tidak ingin gaun pengantinnya menjadi sempit atau terlalu longgar.
"Hahah... anda ada-ada saja, Bu. Buah dan sayur mentah itu sepertinya cukup enak hingga anda selalu melahapnya dengan cepat." sindir Rosa karena Alana selalu membawakan bekal berupa salad atau hanya sekedar potongan buah padanya.
"Ck! Aku terpaksa, Ros. Terkadang aku merasa seperti kambing." Lova meletakkan tasnya di atas meja dan mulai memilih menu yang akan ia santap siang ini.
Sebenarnya lapar bukan menjadi satu-satunya alasan Lova mengajak Rosa makan siang di restoran mewah. Ia merasa bosan karena beberapa hari ini Ken sedikit sulit di hubungi. Waktu mereka untuk berkomunikasi sepertinya semakin berkurang karena Ken harus terus mengajari Alvin siang dan malam.
Terdengar berlebihan memang, tapi waktu tiga bulan sudah semakin berkurang. Ken hanya ingin Alvin benar-benar siap sampai akhirnya pria itu menerima tanggung jawab dan menjalankan perusahaan sepenuhnya.
Mereka telah memesan makanan. Dan Lova terus memeriksa ponselnya sambil menunggu pesanan mereka datang.
"Cobaan sebelum menikah memang begitu, Bu. Tiba-tiba tidak ada kabar, tiba-tiba kesalahannya terbongkar atau tiba-tiba merasa curiga berlebihan," ucapan Rosa membuat Lova menatap gadis itu lalu tertawa tanpa suara.
"Oh, ya? Ku fikir hanya mintos, Ros!" Lova menatap Rosa.
"Ck! Bahkan mantan-mantan pacar biasanya akan mulai berdatangan menggoda dan menggoyahkan hati kita," tambah Rosa.
Lova mengerutkan kening. "Aku tidak punya mantan pacar, Ros. Entahlah kalau Ken!"
"Ck! Kurasa tidak juga, Bu!" ucap Rosa serius.
"Dari mana kamu tahu, Ros?" tanya Lova.
"Saya mengenal Pak Ken cukup lama dan manusia sekaku itu mana mungkin punya pacar, Bu!" Rosa tertawa pelan.
"Jadi menurutmu aku termasuk yang tidak mungkin, Ros?" tanya Lova dan berhasil membuat Rosa mendelik menyadari kesalahannya.
"Bu... bukan begitu, Bu. Tapi sekarang mungkin pak Ken sedikit berbeda." Rosa berusaha mencari alasan sebelum bosnya itu marah besar.
"Mungkin dia menyadari usianya sudah tidak muda lagi dan mungkin dia sudah mengincar anda sejak lama."
"Ya... saya yakin demikian. Dia hanya menyukai anda hingga dia tidak tertarik pada gadis lain."
Lova senyum-senyum sendiri. Memang benar yang gadis itu katakan. Ken sendiri yang mengakui bahwa pria itu sudah sejak lama menyukainya.
"Ck! Apakah jatuh cinta seindah ini?" gumam Rosa. "Bahkan wanita seserius Bu Lova bisa berubah seratus delapan puluh derajat."
"Kadang senyum-senyum sendiri, kadang melamun dengan ekspresi sedih, kadang marah-marah tidak jelas." Rosa memandang wajah bosnya dengan tangan bertumpu di dagu.
__ADS_1
Lova masih senyum-senyum sendiri dan tidak memandang Rosa sedikitpun. "Kamu akan tahu rasanya jika kemarin-kemarin kamu menerima Alvin sebagai kekasihmu."
Rosa terkesiap dan ia bergidik ngeri. "Saya tidak berniat sedikitpun, Bu."
"Kenapa?" Lova menatap Rosa heran.
"Ya karena dia terlalu..." Rosa memikirkan kata yang tepat untuk mendeskripsikan sosok seorang Alviano Darrass.
"Dia terlalu norak, mungkin!" Rosa memanyunkan bibirnya. Bola matanya bergerak ke kanan dan kiri, memikirkan satu kata lagi yang cocok untuk pria itu.
"Terlalu sok tampan!" tambahnya.
Lova tertawa terbahak. "Ya, kamu benar, Ros!"
"Dia memang punya rasa percaya diri yang tinggi."
"Ck! Sangat terlihat, Bu!" jawab Rosa. Entah mengapa ia kesal pada pria yang sudah tiga kali menyatakan cinta padanya itu.
"Ya, kamu melihatnya sendiri kan? Dia dengan percaya diri menyatakan cinta padamu dan kamu tolak untuk ke tiga kalinya. Bisakah ku masukkan ini dalam rekor dunia, Ros?" Lova masih berusaha menahan tawanya.
"Bu... ada mantan?" bisik Rosa tiba-tiba sambil matanya memberi kode kearah belakang Lova.
"Mantan?" gumam Lova heran. Mantan siapa? Mantan Rosa?
Ia melebarkan matanya menatap Rosa yang ternyata juga sedang menatapnya.
"Mauza...?" gumamnya pelan.
Selama ini Lova masih berhubungan baik dengan gadis itu dan Mauren. Lova juga pernah mampir ke apartemen mereka yang dipinjamkan oleh Aland.
Lova juga masih terus membiayai kuliah gadis itu. Tapi ia tak menyangka Mauza makan siang bersama Aland.
"Huh!" Lova menghela nafas. Apa yang Ken katakan sepertinya akan benar benar terjadi.
Ya, Ken pernah menebak keduanya memiliki hubungan khusus hingga Ken mengatakan kelak keduanya akan menemui Lova dan memberikan undangan pernikahan mereka berdua.
Aku tidak berhak ikut campur. Mauza sudah dewasa dan dia berhak menentukan pilihan. Sejauh ini dia masih selalu hadir di kampus, itu artinya dia baik-baik saja dan Aland tidak bertindak buruk pada gadis itu.
Tapi bagaimana bisa Mauza jatuh cinta pada pria itu?
"Mereka sepertinya punya hubungan, Bu?" bisik Rosa.
"Aku pesan milkshake saja, Pak."
__ADS_1
"Lalu makanannya apa?"
"Aku tidak lapar."
"Baiklah, kamu bisa pilih apapun untuk dibawa pulang. Bisa kamu hangatkan untuk makan malam nanti bersama Mauren!"
Lova dan Rosa mendengar perbincangan mereka. Terdengar akrab tapi masih menggunakan panggilan yang wajar.
Rosa berusaha menyembunyikan wajahnya dibalik tubuh Lova karena ada Aland yang ia takutkan mengenali dirinya.
Sementara Rosa tidak tahu Lova akan menghindar atau tidak. Jika Lova ingin menghindar, itu artinya Aland tidak boleh melihat wajahnya apalagi sampai mengenali keduanya.
Melihat dan menyadari kegelisahan Rosa, Lova berdiri dari kursinya dan menyapa keduanya.
"Mauza!"
"Kak Lova?" Mauza tampak terkejut melihat Lova ada disini dan memergoki dirinya sedang bersama Aland.
"Ya, Hanya berdua?" tanya Lova.
Mauza menatap Aland sekilas lalu mengangguk ragu. "Tadi kami dari kantor, Kak. Langsung ke toko buku dan mampir sebentar kesini," jawab Mauza agak takut. Ia takut Lova marah padanya.
"Libur kuliah, Za?" tanyanya lagi.
"Iya kak. Tidak ada jadwal hari ini."
Lova mengangguk dan ia melihat Aland yang tampak tak terpengaruh oleh kedatangan Lova. Pria itu tetap duduk tenang di kursinya.
"Selamat siang, Bu Lova." sapa pria itu saat Lova menatapnya.
"Selamat siang juga, Pak Aland."
"Mau bergabung?" Aland malah menawarinya. Untung saja Lova bisa menolak karena pelayan sudah datang membawa makanan yang ia pesan.
"Maaf, saya makan di meja saya saja bersama Rosa." Rosa tampak mengangguk hormat pada Aland.
"Titip Mauza, Pak Aland!"
Lova kembali ke kursinya dan tatapan mata Mauza serta Aland tidak berpindah darinya.
Mauza merasa ada makna lain dari kalimat Lova. Sementara Aland mendengus kesal.
Dia sepertinya tahu tentang apa yang ku rasakan pada gadis ini. Jika tidak, kata titip tidak mungkin keluar dari bibir gadis itu! Batin Aland.
__ADS_1