ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 64 Aku Menunggumu


__ADS_3

Ponsel yang bergetar di dalam tas tidak Lova hiraukan. Saat ini ia sedang mengadakan meeting penting dengan kliennya. Ia masih sangat fokus pada jalannya meeting siang ini.


Meeting selesai menjelang waktu makan siang. Lova mengambil ponselnya dan matanya terbuka lebar, karena ada lebih dari 20 panggilan tak terjawab dari Alvin dan Alana.


Ada apa sebenarnya?


Lova membaca pesan chat yang Alvin kirim.


Kamu dimana kak. Aku berusaha menghubungimu puluhan kali. Ken akan berangkat jam 12.30 siang ini. Cepatlah datang ke bandara jika kakak ingin melihat dia berangkat.


Lova terkejut karena waktunya kurang dari satu jam lagi. Yang ia tahu, Ken akan berangkat malam nanti. Jika ia tahu pria itu akan berangkat siang ini, ia akan mengantarnya dan menunda meeting.


Lova bergegas keluar dari ruangannya. "Ros! Aku pergi dulu!" pamitnya.


"Aku tidak tahu akan kembali lagi atau tidak. Jadi, jangan buat janji dengan siapapun."


Lova berjalan cepat. Ia mencoba menghubungi Alvin.


"Astaga, kak! Kamu kemana saja?" tanya Alvin begitu panggilannya dijawab.


"Diamlah! Aku baru selesai meeting dan tidak mendengar getar ponselku. Kalian sudah di bandara?" tanyanya.


"Sudah, dan sepertinya penerbangannya akan terlambat sedikit."


"Bagus! Jika perlu hentikan pesawat yang akan membawanya. Aku akan segera menuju kesana." Lova mengakhiri panggilannya.


***


Alvin mengerutkan kening. "Bagaimana aku bisa menghentikan pesawat yang akan membawanya? Dia fikir aku siapa?" gumam Alvin sebal.


"Bagaimana?" tanya Alana.


"Dia sedang dalam perjalanan, Mom!"


"Syukurlah!" Alana menghembuska. nafas lega. "Ini karena ulah Ken yang mendadak merubah jadwal keberangkatannya."


"Ya, karena ada klien penting yang akan kembali ke negara asalnya besok pagi dengan penerbangan pertama, Mom."


"Karena Ken ingin bertemu dengan orang itu. Dan saat yang paling tepat adalah pada acara makan malam yang Thomas adakan malam ini."


"Bagaimana?" tanya Alana pada Ken yang baru saja kembali mencari informasi.


"Sepertinya akan di tunda, Mom. Mungkin setengah jam."


"Baiklah, setidaknya kita bisa menunggu sampai Lova tiba disini," sahut Brata yang duduk di samping Alana.


"Lova akan kesini?" tanya Ken terkejut. Ia sengaja tidak pamit dan tidak memberi tahu gadis itu. Ia takut jika melihat gadis itu, ia menjadi berat hati untuk pergi.


Alana dan Alvin mengangguk. "Ini ulahmu?" tanya Alvin.


Pria tengok itu mengangguk. "Sedari tadi aku menghubunginya. Ternyata dia sedang meeting."


Alvin tertawa. "Harusnya aku punya nomor ponsel pribadi sekretarisnya," ucapnya bercanda.


"Saya punya nomor ponsel Rosa. Mengapa tidak kepikiran, ya Vin?" ucap Brata kemudian.


"Rosa pasti ikut dalam meeting itu, Pak!" Sahut Ken.


"Ah, ya... Rosa itu yang..."


"Yang terkejut melihatmu kemarin," sambar Alana.


"Ah, ya aku ingat. Yang keningnya selalu berkerut saat melihatku kan, Mom!" Alvin senyum-senyum sendiri.


"Dia single!" bisik Ken.


"Sudah ku duga!" balas Alvin.


Ken tertawa dan merangkul adiknya. "Dia perfeksionis. Dia tidak akan tertarik dengan pengangguran sepertimu."


Alana dan Brata hanya bisa senyum mendengar percakapan kakak dan adik itu.

__ADS_1


Bibir Alvin mencabik kesal. "Aku akan meminta pekerjaan pada Kak Lova."


"Kamu kembalilah kesana karena aku akan menjadi sukses di negara ini."


"Bagus!" Sahut Ken cepat. "Di kantornya sedang mencari Office Boy tambahan. Melamarlah kesana dan minta Lova untuk menempatkanmu di lantai dimana ruangan Lova berada."


"Setiap hari kamu akan bertemu Rosa dan membuatkan kopi untuk gadis itu."


"Sekalian saja, pakai ilmu pelet dan masukkan ke kopi gadis itu," bisik Ken.


Brata dan Alana kompak tertawa. Ide Ken sungguh luar biasa menggelikan. Apakah masih ada hal semacam itu di zaman modern seperti ini?


Alvin menatap kesal kearah Ken. "Sekalian saja, jadikan aku tukang parkir atau security yang bisa menyambut dan tersenyum kearahnya setiap pagi. Aku bisa menunggunya di jam pulang dan aku akan menjaga mobilnya sepanjang hari."


"Hahahahah... Itu sepertinya jauh lebih baik."


Setelah menunggu lumayan lama. Akhirnya Ken akan segera memasuki terminal keberangkatan.


"Kemana gadis itu, Mom!" Kesal Alvin karena Lova tak kunjung muncul.


Ken memeluk Brata. "Hati-hati disana, Ken. Aku akan merindukan dirimu dan sering-seringlah datang ke sini."


"Sukses selalu, Ken!" Brata menepuk punggung pria tiga puluh tahun itu yang sudah ia anggap sebagai putranya sendiri.


"Terima kasih, Pak."


"Aku yang harusnya berterima kasih, Ken. Kamu telah menjagaku, Lova dan membawa kembali istriku."


Ken mengangguk senang meski matanya berkaca-kaca. "Aku senang pernah menjadi bagian dari keluarga dan perusahaan Bratadikara."


"Kamu masih menjadi bagiannya sampai kapanpun, Ken!"


Ken beralih memeluk Alana. "Jaga kesehatan!"


"Oke Mom! Berbahagialah, Mom. Aku tahu ini tempat yang Mommy impikan selama bertahun-tahun. Titip si ceroboh itu, Mom. Jika macam-macam, masukkan saja dalam box dan kirim kepadaku!"


Alana tertawa tapi menyeka air matanya. "Mommy akan membuatnya menjadi pria dewasa, Ken! Akan Mommy masukkan dia ke les kepribadian."


Alvin memeluk Ken. "Jangan kembali jika kamu menikah dengan gadis di sana!"


"Aku tetap ingin kamu menikah dengan Lova."


Ken mencubit pinggangnya. "Jangan menyakitiku, Kak! Aku juga tahu itu impianmu!"


"Jangan frustasi! Aku akan memastikan tidak ada satu pria pun yang berani mendekati Kak Lova."


"Urus saja dirimu sendiri, Vin. Rosa sepertinya akan membuatmu berubah seratus delapan puluh derajat." Ken terkekeh.


"Aku kan belum mengatakan kalau..."


"Aku tahu kamu tertarik padanya," potong Ken.


"Jangan asal menebak!"


"Jika tebakanku salah, wajahmu takkan memerah seperti ini!" Ken menepuk bahu Alvin.


Ia berbalik dan berjalan menjauh.


"Ken, tidakkah ingin mengucapkan selamat tinggal padaku?" suara Lova membuat mereka semua berbalik termasuk Ken.


Lova perlahan berjalan maju melewati tubuh Alana, Brata dan Alvin. Ia terus melangkah hingga tubuhnya berada di jarak 30 senti di depan Ken. Lova sedikit menengadahkan kepalanya karena Ken sedikit lebih tinggi darinya.


Sepanjang perjalanan, ia terus mem*aki karena kemacetan diberapa titik. Ia berulang kali terjebak lampu merah padahal ia sedang berpacu dengan waktu.


Disaat seperti itu ia mengerti seberapa berartinya Ken bagi dirinya. Ia mengerti sedalam apa rasa itu. Perasaan yang tidak pernah ia sadari sejak kapan ada di hatinya.


Selama ini, Lova hanya menyadari bahwa dirinya merasa nyaman ketika bersama Ken. Ia percaya pada pria itu, dan yang ia tahu, ia selalu membutuhkan Ken.


Lova hanya bisa menatap dalam manik mata hitam itu. Tanpa ada satu patah katapun yang keluar dari bibir keduanya.


Ken tidak sanggup terus menatap manik mata yang tidak bergerak sedikitpun itu. Ia memberanikan diri menyentuh kepala Lova.

__ADS_1


"Jaga dirimu!" ucap Ken pelan.


"Aku tidak bisa," jawab Lova dengan suara serak. Ia sedang menahan tangisnya.


"Ada Alvin." Ken melirik pria dibelakang Lova.


"Dia tidak bisa diandalkan!" jawab Lova kesal. Sementara Alvin memutar bola matanya jengah. Entah apa dosanya hingga semua orang selalu meremehkan dirinya.


Ken tertawa tanpa suara. "Gadis kuat, pasti bisa berpijak di atas kakinya sendiri."


"Aku tidak bisa. Bertahun-tahun kamu menjadi tongkat bagiku. Menjadi pelindung bagi keluarga kami, Ken."


"Maka..."


"Ada seseorang yang mengatakan padaku bahwa pria yang telah menawanku beberapa bulan lalu adalah pria yang menyayangiku," potong Lova sebelum Ken melanjutkan kata-katanya. Ken langsung menatap kearah Alvin yang membuang muka seolah tak tahu apapun.


"Ada wanita tua yang mengatakan bahwa aku berada tempat yang aman, padahal tepat itu asing bagiku." Ia ingat apa yang Alana katakan padanya saat ia diculik dulu.


"Entahlah, tapi aku percaya itu." Lova tersenyum hambar.


"Pergilah Ken! Raih kebahagiaanmu."


"Capai apa yang ingin kamu capai." Lova menyeka air matanya yang sudah membasahi pipi.


"Semoga sukses..."


Ken resah, karena pemberitahuan untuk masuk ke terminal keberangkatan terus terdengar. Waktunya tidak lama lagi.


Ken mundur selangkah. Ia juga menyeka air matanya. "Semua itu benar. Aku menyayangimu bahkan mencintaimu." Lova tersenyum


"Aku pergi dulu." Ken berbalik dan berjalan menjauh.


"Ken!" teriakan Lova membuatnya menoleh kebelakang.


"Aku menunggumu karena aku juga mencintaimu." Ken tersenyum lebar dan ia segera berbalik. Ia berlari memeluk Lova.


Lova tertawa karena pria itu memeluknya begitu erat. "Terima kasih untuk kata terindah yang pernah ku dengar."


Ken melepas pelukannya dan berlari menuju terminal keberangkatan. "Vin! Titip kakakmu!" teriaknya sebelum benar-benar tak terlihat lagi oleh mereka.


Lova menyeka air matanya. Ada rasa lega dan bahagia sekaligus sedih yang ia rasakan. Dia bisa melepaskan Ken pergi karena hati mereka sudah terikat satu sama lain.


Ia senang bisa mengatakan hal ini sebelum pria itu benar-benar pergi. Setidaknya, pria itu sudah mengetahui perasaannya.


"Ayo pulang!" Alvin menarik bahunya dan membuat tubuhnya berbalik arah. Alvin mendorong bahunya agar ia berjalan maju.


"Percuma memandang kearah sana hingga larut malam. Si batu itu tidak akan kembali muncul dan memelukmu lagi, Kak!"


Lova tertawa. "Aku tidak berharap dia memelukku lagi, Vin!"


"Aku tahu, karena kamu berharap dia menikahimu, kan?"


"Hentikan bualanmu itu!" marah Lova pada Alvin.


Alana dan Brata yang berjalan di depan tertawa pelan. "Aku tidak menduga, rumah akan ramai dengan perdebatan dua orang dewasa, bukan karena tangis dua bocah yang berebut mainan, Mas!"


"Ya, dan sepertinya ini akan lebih membuat pusing ketimbang tangis anak-anak."


"Tolong pastikan persediaan obat darah tinggi untukku selalu ada."


"Ayah!" Tegur Lova. "Ayah hanya butuh lakban untuk menutup mulut pria ini, yah!"


"Kak..." Alvin berusaha mengalihkan pembicaraan karena Alana dan Brata kompak menertawakan dirinya.


"Apa?"


"Minta kontak Rosa!"


Lova mengerutkan kening dan menatap Alvin dalam-dalam. Ia bahkan sampai menghentikan langkah.


Lova tersenyum licik. "Boleh!"

__ADS_1


"Dengan syarat, jadilah supir pribadiku selama sebulan, full!" Lova melangkah maju meninggalkannya.


__ADS_2