
"Ken!" Lova memanggil Ken yang baru saja keluar dari kamar ayahnya. Pria yang mamakai celana jeans dan kemeja itu terlihat rapi.
"Ya, Bu!" Ken mendekat kearah Lova yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Duduklah!" Perintah Lova.
"Bagaimana perkembangan ayah?" tanyanya pada Ken.
"Bapak semakin baik."
"Tapi kenapa ayah belum bisa berjalan, Ken?" tanya Lova penasaran karena selama ini ayahnya masih saja duduk di kursi roda.
"Semua itu butuh proses, Bu."
"Dokter mengatakan, bahwa kondisi tubuh bapak harus benar- benar sehat. Kita akan menunggu bapak benar-benar kuat."
"Dan menurut saya, ada benarnya Bu."
"Bapak akan membutuhkan kekuatan lebih untuk kembali belajar berjalan."
"Selama ini, seperti yang ibu pernah lihat, bapak hanya latihan kurang dari sepuluh menit, bukan?"
Lova mengangguk, ia memang pernah menyempatkan diri melihat ayahnya menjalani terapi.
"Itu karena Dokter tidak ingin bapak berusaha terlalu keras hingga kondisi fisiknya kembali menurun."
Lova mengangguk faham.
"Saat terapi siang tadi, Bapak sudah mulai bisa berdiri dengan menopang sesuatu, seperti meja dan dinding!" ucap Ken sepelan mungkin.
Lova berbinar. "Benarkah, Ken?"
Ken mengangguk. "Tapi tolong jangan sampai siapapun tahu, Bu." bisik Ken pelan.
Ia tahu Mariska dan kedua putrinya sedang tidak ada di rumah. Tapi asisten rumah tangga bisa saja menjadi mata-mata nenek sihir itu.
"Kenapa?"
"Bu, sampai saat kita menemukan pelaku percobaan pemb*nuhan pada anda dan Bapak. Saya rasa, keadaan belum benar-benar aman, Bu."
"Lalu...?"
"Bersikaplah seperti biasa! Tetap waspada." Lova mengangguk mengerti.
***
"Selamat pagi, Bu Lova..." Sapa Clara ceria.
"Salamat pagi, Cla... Ros sudah sampai?" tanyanya.
"Sedang di ruang meeting, Bu." Lova mengangguk, ia ingat, kemarin ia yang meminta Rosa mempersiapkan ruangan karena pagi ini timnya akan mengadakan meeting dengan salah satu klien baru yang menginginkan jasanya untuk mendirikan sebuah hotel mewah.
"Tolong pesankan kopi, Cla." perintahnya sebelum benar-benar masuk dalam ruangannya.
***
"Apakah bisa kita mulai meetingnya, Pak?" tanya Lova pada seorang pria yang merupakan pemilik hotel ternama.
__ADS_1
"Sebentar, Bu Lova. Kami sedang menunggu arsitek yang akan menjelaskan rancangannya."
Lova mengangguk sopan. "Baiklah, Pak."
"Selamat pagi. Maaf sedikit terlambat!" Seorang pria masuk bersama seorang gadis yang berjalan dibelakangnya.
"Ah, tidak masalah pak Aland." jawab Pria bertubuh sedikit gemuk, pemilik hotel berbintang itu.
Mendengar nama Aland, seketika perhatian Lova pada layar laptopnya langsung teralihkan. Ia melihat pria berjas rapi dengan warna senada dengan celananya masuk ke ruangan itu sambil tersenyum simpul.
"Silahkan duduk, Pak."
"Terima kasih Pak Robert," jawab Aland yang duduk di sisi kanan Lova. Jarak keduanya hanya selisih dua kursi yang diduduki oleh karyawan Lova.
"Perkenalkan, ini Bu Lova." Lova mengangguk dan tersenyum ramah.
"Ini Pak Aland, arsitek ternama yang sudah biasa mendesain puluhan gedung saya."
"Senang bertemu dengan anda, Bu Lova." Senyum Aland begitu sulit ia artikan. Tatapan nakal yang Aland tujukan padanya membuatnya yakin, pria ini ingin bermain api dengannya.
Meeting berjalan lancar, tidak ada kendala berarti hingga pertanyaan Aland membuatnya mengerutkan kening.
"Apakah bisa, Bu Lova terjun langsung ke proyek?"
Semua orang menatap heran, untuk apa seorang CEO langsung turun ke lapangan? Bukankah ada tim dan pekerja yang mewakilinya?
"Ah, bukan apa-apa!" Aland mengelak. "Saya hanya ingin beliau melihat kinerja pekerjanya."
"Ini adalah proyek besar tapi waktu saya tidak banyak hanya untuk sekedar mengurus proyek ini."
"Saya ingin, proyek ini sesuai dengan rancangan saya."
"Saya tidak ingin mengecewakan pak Robert, apa bila desain dengan hasilnya bergeser satu centi saja. Bukan begitu pak Robert?"
"Hahahah..." Pria bernama Robert itu tertawa pelan. "Tentu, Pak Aland. Anda tidak pernah mengecewakan saya."
"Bagaimana Bu Lova?" tanya Robert langsung.
Lova menatap Aland penuh kekesalan. Tapi tak urung ia mengembangkan senyum lebar. "Tentu, Pak Robert!"
"Saya akan sering datang ke proyek itu."
"Melihat langsung kinerja karyawan saya dan mengikuti setiap progresnya."
Rosa menatap Lova tak percaya. Ia seolah mengatakan Apa yang anda katakan, Bu? Tapi Lova mengangguk kecil, membuat Rosa faham bahwa hal terpenting untuk saat ini adalah mengutamakan klien mereka.
Meeting selesai.
Aland masih duduk di ruangan itu sementara rekannya sudah keluar semua. "Bu Lova."
Lova menatapnya. "Bisa kita bicara sebentar," pinta Aland sopan.
"Katakanlah, Pak Aland." Lova menutup laptopnya.
"Hanya berdua," pinta Aland.
Lova mengehela nafas berat. Ia mengangguk. "Ros, silahkan tinggalkan kami berdua." Lova meminta Rosa untuk keluar, karena memang hanya tinggal mereka bertiga di ruangan ini.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Lova sesaat setelah Rosa keluar dari ruangan itu.
"Tidak ada. Hanya ingin mengagumi betapa cantiknya dirimu." Aland melipat tangannya di meja dan satu tangan lagi menyangga dagunya.
"Jaga bicara anda, Pak Aland!" tegas Lova dengan nada tak suka.
"Salah jika aku mengagumi calon istriku sendiri?" tanya Aland tanpa dosa.
Lova membuang muka. Menarik nafas dalam lalu kembali menatap pria yang duduk lumayan dekat darinya itu.
"Bermimpilah, Pak Aland!" Lova menunjukkan seringainya.
"Tapi jangan lupa. Tidurlah dulu!" Lova berdiri dari kursinya dan berjalan hendak meninggalkan Aland.
Namun, Aland dengan begitu cekatan meraih pinggangnya membuat ia terjatuh dalam pangguan pria itu.
Lova membelalakkan matanya. Ia berusaha bergerak, namun kukungan pria itu begitu erat.
"Lepaskan!" Desis Lova.
Aland menyeringai. "Tatap aku seperti itu! Aku suka matamu yang begitu menantang."
Aland menyelipkan anak rambut di telinga Lova. Rambut yang ia kuncir kuda membuat lehernya yang jenjang nan putih itu terekspose di depan wajah Aland. Membuat jiwa kelaki-lakiannya seketika bangkit.
"Bu*******!" Geram Lova. "Lepaskan atau aku teriak!" ancamnya kemudian.
"Silahkan teriak!" bisik Aland. "Aku akan memperk*samu di depan seluruh karyawanmu!" Aland meniup lehernya yang seketika langsung meremang.
"Dasar pria g*la!" Maki Lova tanpa takut.
Aland memegang dagu Lova dan perlahan mendekatkan wajahnya. Lova sama sekali tidak bisa bergerak. Jantungnya berdetak hebat saat Aland nyaris menempelkan bibir mereka.
Aland tersenyum simpul. "Aku tidak ingin bagian keamanan di kantormu menikmati tontonan gratis berupa ci*man panas CEO dan calon suaminya." Aland melirik arah CCTV di ruangan itu.
Aland menyapukan ibu jarinya dibibir Lova. "Ini akan tetap menjadi miliku."
"Jangan coba untuk lari, atau pria jompo di rumahmu akan menjadi bangkai!"
Lova mendelik tak percaya. Ia tak menyangka Aland bahkan menggunakan ayahnya sebagai bahan untuk mengancam dirinya.
Aland melepaskannya. Lova langsung berdiri dan berjalan kearah pintu.
"Keep your virgin*ty for me!" Ucap Aland dan berhasil membuat Lova menghentikan langkahnya.
*Jaga keper*wananmu untukku.*
"Jangan terkejut, aku bisa melihatnya meski hanya dari d*damu!" Aland tertawa pelan.
Lova menatap dadanya, kemejanya terbuka satu kancing lagi dari sebelumnya. "Huuh!" Lova kembali berjalan meninggalkan pria yang menurutnya sudah tidak waras lagi.
Lova coba mengingat, Aland sama sekali tidak menyentuh bagian dadanya.
Mungkin kancing kemejaku terbuka saat ia menarikku tadi.
***
Aland meresahkan ya 😅
__ADS_1