ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 55 Adik Menyebalkan


__ADS_3

Aland berlari cepat saat ia baru saja turun dari mobilnya yang terparkir di halaman sebuah kantor polisi.


Ia yang tengah berada di perjalanan menuju proyek, mendadak mendapat panggilan dari pihak kepolisian yang menyatakan bahwa daddynya telah ditahan.


Aland akhirnya bertemu dengan Tuan Hendrico dan pengacara pribadi mereka di sebuah ruangan yang tidak terlalu luas.


"Dad!" Aland memeluk pria yang terluka di bagian kaki dan tangannya itu akibat diinjak oleh Ken dan Alvin.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Aland saat melihat pria yang ia kenal tangguh namun kini terlihat lesu dan putus asa.


"Mengapa polisi bisa menangkap Daddy? Apa ada proyek yang bermasalah, Dad?" tanyanya tak sabar karena pria di depannya hanya diam menatapnya dalam.


"Tuan Aland, sebaiknya kita bicara di kantor saya!" Pengacara dengan nama Gerald yang tertulis di tanda pengenalnya berbicara pada Aland.


"Sebenarnya ada apa, Pak?" Aland menatap kedua pria itu bergantian.


"Saya akan jelaskan di kantor, Tuan!"


"Sekarang pulanglah, Aland!"


"Jangan kabari mommymu dulu!" Perintah Tuan Hendrico pada putra tunggalnya yang tidak mengetahui apapun tentang semua kejahatannya terhadap Ken dan Alvin.


Aland juga tidak mengetahui bisnis ilegalnya. Baik pengedaran narkotika hingga illegal trafficking.


Aland hanya tau, bahwa ada pasukan lain selain tim H yang bekerja dengan Tuan Hendrico dan tugas mereka adalah melakukan cara licik untuk urusan perusahaan. Seperti mengancam klien atau hal lain yang bersifat melanggar hukum lainnya tapi masih berhubungan dengan urusan perusahaan.


Aland dan pengacaranya keluar dari kantor polisi dan ia di sambut oleh banyaknya wartawan yang memberondongnya dengan puluhan pertanyaan.


"Apakah anda putra tunggal Tuan Hendrico?"


"Apakah yang melatar belakangi kasus penculikan ini, Pak?"


"Apa hubungan Tuan Hendrico dengan pria yang ia culik?"


"Apakah ada kaitanya dengan urusan bisnis?"


"Apakah korban penculikan itu ada hubungan keluarga dengan pemilih perusahaan Bratadikara?"


"Apakah ada dendam pribadi antara Tuan Hendrico dan korbannya?"


Aland mengangkat kedua tangannya sejajar wajah. Ia tidak mengerti duduk masalahnya. Ia tidak mengerti atas pertanyaan yang mereka berikan padanya.


Aland dan pengacaranya terus berjalan hingga ke mobil mereka. Meski harus berdesak-sedakan, tapi Aland tetap berusaha maju.


"Maaf teman-teman media. Saat ini kami belum bisa memberikan klarifikasi apapun!"


"Nanti, kami akan mengadakan konfrensi pers dan kalian bisa datang."


"Pihak kepolisian juga sedang mendalami kasus ini."


Pengacara Gerald juga belum bisa memberikan informasi apapun karena situasi mesih memanas dan dia juga belum tahu pihak lawan akan mengeluarkan kartu apa lagi untuk menghadapi kliennya.


Aland dan Gerald tiba di kantor milik pria itu. Gerald mempersilahkan Aland untuk duduk di sofa di ruang kerjanya.


"Sebenarnya ada apa, Pak?" tanyanya penasaran.


Gerald menceritakan semuanya pada Aland tentang kronologi kejadian tersebut. Meski tidak terperinci dan hanya garis besarnya saja.


"Siapa korbannya, Pak?"


"Alvin Darrass, adik dari Ken Darras, mantan asisten pribadi di perusahaan Baratdikara."


Aland membulatkan matanya. "Ken Darrass?"


"Bagaimana bisa?" Aland mengepalkan kedua tangannya.


"Ken Darrasa adalah putra dari sahabat beliau. Ya, orang yang beliau lenyapkan 13 tahun lalu."


"Siapa sahabat Daddy itu?"


"Adam Aldric!"


Aland membulatkan matanya. Ia mengenal pria yang Gerald sebutkan tadi. Pria yang dulu sangat akrab dengan daddynya.

__ADS_1


"Paman Adam?" Aland duduk bersandar di sofa. "Dia meninggal karena bunuh diri, Pak. Itu yang ku tahu."


"Istrinya meninggal karena perampokan dan kedua putranya meninggal karena kecelakaan."


Aland mengetahui hal itu dari Daddynya. Saat itu ia juga seusia Ken, tapi ia sedang berada di luar negeri untuk urusan kuliahnya. Ia sudah terdaftar menjadi salah satu mahasiswa di sebuah negara di benua Amerika.


Gerald menggeleng pelan. "Tuan sudah mengakui semuanya."


"Mungkin yang anda ketahui itu hanyalah karangan beliau saja."


"Adam meninggal bukan karena gantung diri, tapi karena ayah anda yang menggantungnya."


"Kematian istrinya juga karena ulah ayah anda."


"Termasuk kecelakaan mobil yang di duga ada kedua putra Adam di dalamnya."


Aland menyandarkan kepalany di sofa. Ia menengadahkan kepala, memijat keningnya yang terasa pening.


Daddy ternyata begitu kejam! Rahasia besar yang Daddy sembunyikan dariku ini bisa membuat semua karir dan nama baik Daddy hancur. Dan aku juga akan terkena imbasnya!


Aland meninju pahanya sendiri. Ia marah sekaligus kecewa. Ia teringat Mommynya. Apakah wanita itu juga terlibat?


"Polisi juga akan memeriksa Tuan Hendrico terkait kasus penyelundupan dan pengedaran narkotika jenis sabu."


Aland menegakkan duduknya. Ia menatap Gerald tajam. Ia bahkan menarik kerah jas pria itu.


"Apa katamu?"


"Berani-beraninya menuduh Daddyku serendah itu!" Geram Aland. "Dia sudah kaya! Bisnis kotor itu tidak akan membuatnya tertarik!"


"Tenang Tuan Aland! Dan tolong lepaskan tangan anda dari tubuh saya!"


Aland melepaskan cengkraman tangannya. Ia tidak terima atas ucapan Gerald.


"Pihak pelapor yang melakukannya. Meminta polisi menyelidiki kasus itu. Dan sepertinya mereka punya bukti yang kuat."


"Ken?" tanya Aland dan Gerald mengangguk.


"Istri? Bukankah istrinya di penjara?" Aland hanya tahu bahwa Mariskalah istri Brata.


"Istri pertamanya."


Aland diam sejenak. Ya, dia tau Mariska hanya ibu tiri bagi Lova.


"Lalu bagaimana langkah selanjutnya, Pak?" Aland sudah pasrah. Dia tidak mungkin bisa menyelamatkan Daddynya.


"Saya dan tim kuasa hukum beliau akan melakukan yang terbaik."


"Jika cara suap bisa dilakukan, lakukanlah!" Perintah Aland.


"Jika dengan menekan pihak lawan, bisa meringankan hukuman, maka lakukan juga!"


"Saya tidak mau tahu, bebaskan Daddyku bagaimanapun caranya!"


"Berapapun imbalan yang anda minta, akan saya beri."


***


"Ken, dia tidak tahu apapun?" tanya Lova pada Ken yang saat ini sedang duduk bersamanya di ruang keluarga. Ia melihat Aland muncul di tv dan menghindari pertanyaan dari wartawan.


Ken menyeringai. "Dia anak manja! Tidak mungkin dilibatkan dalam masalah seperti ini, Lov," jawab Ken yang sedang asyik dengan tabnya.


"Tapi dia cukup kejam, Ken! Dia juga sepertinya sedikit gil*. Aku pernah beberapa kali merasa terancam karena sikapnya."


Ken tertawa pelan. "Kejadian di ruang meeting?" tanya Ken dan Lova mengangguk.


Ken meletakkan tab-nya dan menatap gadis yang duduk di sebelahnya.


"Dia itu pria bebas, Lov. Dia bahkan tidak ingin terikat dengan ayahnya." Lova mengerutkan kening.


"Lihat bagaimana dia tidak peduli dengan perusahaaan ayahnya sendiri."


"Jika yang legal saja dia tidak peduli, bagaimana mungkin ayahnya melibatkan dia dengan bisnis illegal?"

__ADS_1


Lova mengangguk faham.


"Lagi pula, yang dia tahu hanya urusan dada dan paha."


"Mencari kesenangan dengan gadis panggilan."


"Serta mengganggu gadis yang bisa menarik perhatiannya."


"Dan aku tidak lagi diganggu olehnya," sahut Lova. "Itu artinya dia tidak lagi tertarik denganku?"


Ken tersenyum tipis. "Kamu sedih?"


"Sedih? Untuk apa?"


"Ya karena pria itu tidak lagi mengejarmu!" ucap Ken acuh sambil meraih kembali tab-nya.


"Justru aku bersyukur, Ken. Akhirnya aku tidak perlu was-was saat bersamanya."


"Dia... dia tidak tertebak! Berlaku sesukanya. Muncul sesukanya dan pergi juga sesukanya." Lova kesal. "Hantu saja bisa lebih sopan darinya!"


Ken tertawa pelan. "Sekarang, Mauza menjadi mainan baru baginya!"


Lova menantap Ken tajam. "Mauza?"


Ken mengangguk. "Menurutmu untuk apa dia rela menahan Muaza hanya demi cicilan yang sebulannya hanya beberap juta jika dia bisa mendapatkan 10 M tunai di depan matanya saat itu juga?"


Lova menutup mulutnya. "Bagaimana... bagaimana jika Mauza menjadi budak s*eksnya, Ken?"


"Mauza bisa..."


"Itu bukan urusan kita. Dan ku rasa tidak," potong Ken.


"Kamu tidak tahu, dia begitu berbahaya, Ken!"


"Jika Mauza memang menjadi budak s*eksnya, dia pasti tidak menolak saat Mauren meminta untuk bertukar posisi," ucap Ken.


"Tapi, jika memang apa yang kamu khawatirkan itu benar terjadi dan Mauza menolak tawaran Mauren, mungkin gadis itu juga menikmatinya!"


"Bug!"


"Bug!"


"Bug!"


Lova memukulnya bertubi-tubi sampai Ken memiringkan tubuhnya untuk bisa menghindar.


"Keeen!"


"Dia masih lugu!"


"Aku percaya Mauza tidak seperti itu."


"Aduh! Iya... iya... aku percaya!" Ken menyerah.


"Tetaplah dengan fikiran positifmu itu sampai kamu melihat sendiri keduanya mengundangmu ke acara pernikahan mereka!" lanjut Ken dan Lova semakin menyerangnya.


"Jika cemburu, jangan aku yang menjadi pelampiasanmu, Lov!" Ken terkekeh saat pukulan Lova lebih terasa seperti gelitikan.


"Aku tidak cemburu sedikitpun!" Lova berlutut di sofa dan ia mendorong tubuh Ken hingga terjatuh di lantai.


"Aduh!" Keluh Ken.


"Aduh!" Keluh Lova karena ia terjatuh tepat diatas tubuh Ken. Kening keduanya terbentur lumayan keras. Pria itu tak sengaja memegang tangannya saat ia mendorong Ken hingga ia ikut terjatuh.


Ken dan Lova saling tatap...


"Kalian tidak mengerti apa itu hotel?"


Suara pria paling menyebalkan membuat keduanya menoleh dan terkesiap. Lova bangun dari atas tubuh Ken. Sementara pria itu juga bangun dan menatap tajam kearah adiknya yang begitu menyebalkan.


"Urus saja wajahmu yang tidak lagi tampan itu, Vin!"


Mengganggu saja!

__ADS_1


__ADS_2