ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 49 Ken Beraksi


__ADS_3

Ken terus mengerahkan seluruh orang-orangnya untuk melacak keberadaan Alvin. Tapi sayang, ponselnya tidak terlacak.


Ken memijat keningnya yang terasa pusing. Otaknya sudah berfikir keras, namun percuma. Tidak adanya petunjuk apapun membuat pencarian terhadap Alvin sulit dilakukan.


Ken ingat, ia pernah memberi Alvin sebuah kalung dengan liontin berupa batu permata berwarna hitam yang dibaliknya tersembunyi sebuah GPS, saat Alvin ada di sini bersamanya. Ia hanya ingin memastikan Alvin dalam keadaan baik-baik saja karena adiknya itu selalu bertindak diluar rencana.


Ken memeriksa ponselnya. Ia mencoba melacak keberadaan kalung itu. Ia tidak yakin Alvin memakainya karena selama di Australia pria ceroboh itu pasti tidak memakai kalungnya.


Dan saat melihat GPS-nya terlacak dan berada di tempat yang cukup jauh dari posisinya membuat Ken sedikit lega.


Meskipun belum bisa dipastikan bahwa kalung itu masih berada di tubuh Alvin atau tidak atau bahkan masih melekat namun adiknya itu sudah tidak bernyawa, Ken tetap berusaha.


Ken mulai menyusun rencana. Ia tidak bisa asal pergi kesana. Bahaya yang ada di depan mata pasti sangatlah besar.


Satu pesan masuk ke ponselnya. Ken mengerutkan kening saat nomor tidak dikenal mengirim sebuah foto.


Saat membuka foto itu, Ken lansung terkejut.


Ia melihat Alvin sedang dalam keadaan terikat di kursi dan sepertinya tidak sadarkan diri.


Sebuah pesan tertulis di bawahnya.


Datanglah jika ingin mengucapkan salam terakhir padanya.


Aku tidak tahu sampai kapan ia masih bisa bernafas.


Ken menghela nafas. Bagaimana penculik itu mengetahui nomor ponselnya jika ponsel Alvin saja tidak terlacak. Ini pasti ulah orang terdekat, dan sudah pasti seribu persen pelakunya adalah Tuan Hendrico.


Terlalu berani dan terburu-buru, Paman Juan! Mengapa kamu terlalu terburu-buru memberi kabar tentang adikku. Ken tersenyum licik.


Ken tidak membalas pesan itu. Setidaknya ia tahu Alvin masih hidup. Ken meminta timnya untuk menyelidiki dimana posisi Alvin. Ia mengirim beberapa orang yang sengaja ia minta hanya untuk mengawasi.


"Kalian cari tahu saja dimana lokasinya. Setelahnya, cukup awasi sampai aku memberi perintah!"


"Jangan bertindak bodoh, dan berusaha menyamar! Jangan pakai pakaian seperti ini!"


"Baik, bos!"

__ADS_1


Hari sudah semakin gelap, Ken segera pergi ke suatu tempat dimana sesuai informasi yang ia dapatkan, ada gudang terbengkalai yang menjadi salah satu tempat Tuan Hendrico melakukan bisnis ilegalnya.


Perjalanan yang ia tempuh lumayan jauh. Dan sesaat memasuki area perkebunan itu, ia melihat sebuah mobil masuk kedalam perkebunan. Ken menaruh curiga, ia tidak mungkin mengikuti mobil itu dari belakang, karena akan menimbulkan kecurigaan.


Ken berhenti sejenak. Ia berdiskusi dengan timnya.


"Tidak ada akses lain menuju lokasi, Bim?" tanyanya pada Bima, pemimpin pasukan yang menyelidiki tentang gudang tersebut.


"Ada, dari arah selatan. Tapi sepertinya kita harus berjalan kaki supaya cahaya lampu dan suara mobil tidak menimbulkan kecurigaan mereka."


"Tim kita masih mengawasi dalam jarak 300 meter, Pak."


"Mereka akan melaporkan jika memang mobil yang ada di depan kita tadi menuju ke sana."


"Dan semoga saja mereka tidak ketahuan."


"Berapa lama untuk tiba tempat itu, Bim?"


"Sekitar satu jam lebih jika kita berjalan kaki, Pak!"


Ia juga mendapat laporan, bahwa Tuan Hendrico tidak ada di rumah. Semua tempat yang biasanya didatangi pria itu, ia kirimkan mata-mata. Ia hanya ingin memastikan dimana keberadaan pria itu.


Ken tiba di sebuah gudang yang tampak terbengkalai. Ia melihat dari kejauhan, pencahayaan yang temaram membuatnya sulit melihat situasi dengan jelas.


Ken mengintip di balik pepohonan. Samar-samar ia melihat ada banyak pria, sedang mengisi muatan ke dalam sebuah truck besar. Terlihat sekilas seperti karung-karung berisi pupuk.


Dan satu pria yang ia kenali bentuk tubuhnya berjalan keluar. Ia menduga-duga, apakah itu tuan Hendrico atau bukan.


Ken ingin mendengar percakapan mereka, karena ada seorang pria lain yang berjabat tangan dengan pria yang ia duga adalah Tuan Hendrico. Tapi, area yang penuh semak itu membuatnya sulit bergerak, sekali saja ia salah melangkah, maka suara ranting kering akan menimbulkan kecurigaan mereka.


"Sepertinya baru saja ada transaksi yang mencurigakan!" Bisik Ken pada Bima.


Bima mengangguk. Dan Ken mengisyaratkan untuk masuk ke rencana ke dua.


Bima mengirim pesan pada salah satu temannya yang bekerja di wilayah sekitar, sebagai anggota kepolisian. Mereka sudah bersiap-siap untuk melakukan penggrebekan.


Sekitar hampir 15 menit, kedua pria itu masuk ke mobil masing-masing dan pergi meninggalkan tempat itu, padahal pihak berwajib belum datang. Ken merasa geram karena ia pasti akan gagal menangkap kedua pria itu.

__ADS_1


Jika Ken beserta timnya bergerak menggerebek mereka, lalu tidak ditemukan barang bukti, makan akan timbul masalah baru yang lebih besar. Ken tidak ingin gegabah kali ini.


Ken dan orang-orangnya mengawasi kegiatan mereka cukup lama. Mereka saling memberi perintah bahkan sesekali tertawa.


Suasana perkebunan yang sepi membuat percakapan mereka terdengar meski tidak terlalu jelas. Dan Ken semakin yakin jika dari beberapa karung itu berisi barang haram seperti obat-obatan terlarang.


Akhirnya pihak kepolisian datang dan membuat mereka terkejut. Semua orang lari tunggang langgang masuk ke dalam hutan.


Pasukan Ken dan pihak berwajib bekerja sama mengejar mereka.


Ken tidak tinggal diam. Ia mengejar salah satunya. Ken menendang punggung pria itu hingga jatuh tersungkur dan menabrak pohon. Pria itu jatuh ke tanah, dan ken menghajarnya dengan tangan kosong.


Ia berhasil menginjak leher pria yang sudah tak berdaya itu. Pria yang tengkurap di tanah itu sudah tak bisa lagi melawannya.


"Katakan siapa kedua orang pria tadi?" tanya Ken dan pria itu hanya diam.


"Jawab atau ku temb*k kepalamu!" ancam Ken.


"Saya tidak tahu, Pak!" jawab pria itu.


"Siapa!" Bentak Ken lagi.


"Saya... saya tidak tahu, Pak! Saya cuma bekerja disini!"


Berulang kali Ken bertanya tapi pria di kakinya itu tidak memberi jawaban sesuai keinginannya.


Ken menyerahkan pria itu kepada pihak berwajib karena memang benar, setelah dilakukan penggeledahan, terdapat barang bukti yang mereka cari.


Ken dan Bima serta rombongan pulang dengan sedikit rasa ketidak puasan karena dua orang yang mereka duga si Bos besar sudah lolos.


Ia harus lebih berhati-hati dan menyusun rencana yang lebih matang agar bisa menangkap Tuan Hendrico.


***


Maaf jika bab ini terkesan flat, author masih belajar nulis adegan-adegan action seperti ini.


Terima kasih untuk kalian yang masih baca cerita ini. Salam sehat dari emak 😁

__ADS_1


__ADS_2