ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 77 Kejutan Tak Terduga


__ADS_3

Sudah dua bulan Lova tidak bertemu dengan Ken. Perasaan rindu sudah pasti ia rasakan dan untung saja selama ini pekerjaan bisa membuat perasaan itu teralihkan.


Rosa menjadi teman curhat paling menyebalkan karena prinsipnya yang tidak mudah percaya terhadap pria dan cinta, dan itu membuat Lova gemas sendiri. Ia memikirkan seribu cara agar bisa menjadikan Alvin sebagain pria yang memiliki kesan istimewa dimata gadis itu.


Berulang kali, Lova menceritakan bagaimana Alvin belajar dengan cepat sesuai cerita dari Ken via telpon. Tapi gadis itu hanya tersenyum miring dan tidak menanggapi apapun.


Lova sedang tiduran di atas ranjangnya. Malam ini ia sedang menunggu panggilan video dari pria yang akan menjadi suaminya dalam waktu sekitar satu bulan lagi.


Lova berkali-kali memandangi layar ponselnya namun tak kunjung ada yang menghubungi.


Ia melempar ponselnya dibantal dengan perasaan kesal. "Arrgh!" Teriaknya.


"Kamu sedang apa, Ken? Aku sedang menunggumu disini?" ucapnya geram.


"Ini sudah terlewat lebih dari satu jam dari yang kamu janjikan, Ken!"


"Aku harus menunggu selama itu hanya untuk sebuah panggilan video!" keluh Lova.


"Huh! Huh! Huh!" Lova mengatur nafasnya. Entahlah, akhir-akhir ini ia memang sulit sekali mengendalikan emosinya.


Semenjak mendengar Rosa mengatakan tentang cobaan sebelum pernikahan, ia selalu was-was dan khawatir berlebih.


Ia bahkan sampai mencari informasi mengenai hal itu dari mesin pencarian. Dan semua yang Rosa katakan memang benar tertulis di artikel yang ia baca.


Dan ia semakin mencari-cari kesamaan antara isi artikel itu dengan apa yang terjadi diantara ia dan Ken menjelang pernikahan mereka.


"Ck! Semakin mendekati hari pernikahan kami, entah mengapa aku jadi sedikit ragu." Ia bermonolog. Ia tidur tengkurap dengan bantal yang ia peluk di dada. Ia meletakkan kepalanya di bantal itu.


"Dia berubah, tidak selalu memiliki waktu luang untukku." Keluhnya lagi dengan wajah kesal.


"Apa ada gadis lain yang mendekatinya atau ada mantan pacar yang mengajaknya kembali bersama?"


Lova memejamkan matanya. "Sebulan, ayolah cepat berlalu. Aku benci dengan perasaan seperti ini. Dan aku benci dengan fikiran negatif ku sendiri."


"Baiklah Lov! Sepertinya suasana seperti ini harus kamu alihkan!" Lova ingat, ia masih menyimpan satu dessert box di kulkas.


Makanan manis lembut dengan bahan utama biskuit, coklat dan susu itu sepertinya bisa menjadi sasaran empuk untuk mengalihkan kekesalannya.


Ia turun dari ranjang, namun ia langsung terkesiap kala melihat seberkas cahaya dari arah balkon kamarnya. Ia melihat cahaya kuning kemerahan terlihat samar karena kain putih yang tertutup rapat dibalik pintu kaca itu.


"Cahaya apa itu?" gumamnya pelan. "Apakah ayah mengganti warna lampu di balkon kamar ini?"


Lova teringat, ia mematikan lampu balkon. Dan benar saja, saat melihat saklar lampu yang menandakan lampu sedang mati membuatnya semakin penasaran.


"Untuk apa ayah memasang lampu emergency dengan warna kuning begitu?" gumamnya pelan.


Lova semakin mendekat. Ia menarik kain gorden berwarna putih itu ke sisi samping pintu.

__ADS_1


Lova mengerutkan keningnya. Ada sekitar satu, dua, tiga, empat... bahkan lebih, mungkin sekitar sepuluh lilin yang menyala terletak di lantai.


Lova membuka pintu kaca itu dan keluar dari ke balkon. Ia tidak melihat siapapun disana. Ia melihat sekeliling dan hanya ada kesunyian yang ia lihat.


Jam memang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Terlalu larut untuk asisten rumah tangga berkeliaran di luar rumah.


"Semua ini ulah siapa?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Ia mendadak merinding, bulu halus ditangannya berdiri tegak dan ia mengusap tengkuknya.


Lova mundur kebelakang, menutup pintu kamarnya dan greb...


Sepasang tangan kekar melingkar di perutnya. Ia melihat ke arah perut dan membulatkan matanya. Ia tahu tangan siapa itu. Kemeja putih yang tergulung hingga siku itu mengekspos betapa kekarnya tangan kokoh itu.


Aroma parfum yang Lova kenal membuatnya tidak berkutik lagi. Jangankan untuk menyikut perut pria itu. Untuk mengatakan jangan saja ia tak mampu. Lidahnya terasa keluh.


Lova suka dekapan hangat ini. Lova suka hembusan nafas yang menyapu daun telinganya.


Lova merebahkan kepalanya di bahu pria itu. "Aku menunggumu terlalu lama dan aku tak menyangka kamu datang."


"Jika ini mimpi ataupun hanya khayalanku saja, please! Jangan bangunkan aku, Ken!"


Benda kenyal nan lembut menyentuh leher Lova membuatnya kian meremang dan kaki-kakinya terasa lemas.


"Aku datang karena rasa rindu ini, My Lova."


"Ternyata begitu tersiksa saat jauh darimu," bisik Ken di telinganya.


"Tetap disini meski ini hanya mimpi..." gumam Lova lagi. "Aku rela tak terbangun asal bisa terus bersamamu."


"Membuang kecurigaan dan kekhawatiran yang selalu datang seperti hantu."


"Aku... Aku mencintaimu sangat!" Lova menyadari semua kegelisahan, kekhawatiran, rasa kesal dan cemburu berlebihan yang ia rasakan terhadap Ken hanya karena satu hal, ia sangat mencintai pria itu.


Ia hanya berusaha melindungi hatinya dari rasa sakit akibat kecewa yang mungkin ia rasakan jika Ken akhirnya tidak bisa bersamanya.


Ken memberikan kecu*pan lembut di pipi Lova. "Aku milikmu dan tetap menjadi milikmu, Lov."


"Aku akan disini, disampingmu, memelukmu hingga hari dimana janji suci akan kita ucap."


"Aku tidak akan pernah menghilang dari pandanganmu meski hanya sedetik."


"Jangan menjanjikanku apapun, Ken! Aku tidak ingin kamu ingkar!" potong Lova.


Ken melepaskan pelukannya. Ia membalikkan tubuh Lova hingga menghadap kearahnya.


Ken bisa melihat mata indah dengan bulu mata lentik itu terpejam. Bibir merah muda yang begitu menggoda iman tak luput dari perhatian Ken.

__ADS_1


Dengan tangannya, Ken menyentuh dan sedikit mengangkat dagu itu. Perlahan wajahnya mendekat.


Ken menyentu*h benda lembut nan manis itu perlahan. Untuk pertama kalinya, ia punya keberanian melakukan kesalahan termanis ini.


Lova tidak membuka matanya sama sekali. Ia merasakan manisnya detik demi detik waktu berlalu. Debaran jantung tak terkendali tidak ia hiraukan. Cengkraman tangan di kerah kemeja pria itu semakin erat.


Ken melepaskan diri dari gadis yang tampak tak melawan sama sekali itu. Ia tersenyum melihat bibir merah muda itu basah karena ulahnya.


Ken mengusap bibir Lova dengan ibu jarinya. Sementara satu tangan lagi mengukung erat pinggang langsing yang tersembunyi dibalik piyama tidur gadis itu.


Terakhir kali, Ken mengecup kening Lova. "Buka matamu, sayang. Ini bukan mimpi dan lihatlah aku dengan kedua bola mata indah yang amat ku rindukan itu."


Lova perlahan membuka matanya dan ia melihat senyum pria yang ia rindukan. Tatapan mata keduanya seolah terkunci. Tidak ada yang bicara lagi. Tatapan mata itu sudah cukup menjelaskan seberapa besar rindu tertahan yang selama ini mereka rasakan.


Ken melepaskan dagu Lova dan mengusap surai hitam kecoklatan yang panjangnya melewati bahu itu.


"Jangan pernah katakan lagi bahwa ini hanya mimpi, Lov!"


"Karena aku juga benci jika akhirnya aku terbangun dan kembali hidup berjauhan darimu." Ken memeluk Lova dan mengusap rambut gadis itu.


"Katakan ini bukan mimpi, Ken?" bisik Lova.


Ken melepas pelukannya. Ia menatap dalam wajah Lova. "Semoga ini menyadarkan bahwa kita tidak sedang bermimpi, Lov!" bisik Ken pelan.


Ken kembali menyatukan diri dengan benda merah muda milik gadis itu. Rasa manis yang mereka ulang untuk kedua kalinya semakin membuat tubuh mereka memanas.


Satu, dua menit, masih terus berlanjut. Penuh kelembutan dan tidak menuntut. Ken tak lupa memberi kesempatan Lova untuk bernafas dan...


"Tok... Tok... Tok...!" Suara pintu di ketuk dari luar.


"Ken! Kamu berjanji pada Mommy hanya 5 menit!" Teriak Alana dari arah luar kamar Lova membuat Lova seketika menarik diri.


Ia membulat menatap Ken yang tertawa tanpa suara. "Bagaimana? Ini nyata bukan?"


Lova menunduk malu dan tersenyum kecil. Ia segera berjalan ke arah pintu tapi Ken kembali menarik tangannya.


Ken mengusap bibir indah itu dengan ibu jarinya. "Hilangkan jejak, aku takut Mommy menggantungku di pembatas balkon!"


Lova tertawa pelan dan mengangguk.


"Ken! Buka pintunya atau Mommy akan benar-benar menggantungmu di pohon beringin di ujung jalan, Ken!"


"Dengar! Ancamannya bahkan jauh lebih menyeramkan!" Ken dan Lova tertawa bersamaan.


Saat pintu dibuka, tampak sepasang paruhbaya berdiri di depan mereka. Wajah santai Brata berbanding terbalik dengan wajah Alana yang menahan marah.


"Mommyku yang cantik, Putrimu masih utuh, Mom!" Ken mengecup pipi wanita yang hampir menerkamnya itu.

__ADS_1


***


😘😘 Kasih yang manis sekali-kali 😂


__ADS_2