
"Huuh!" Rosa menghembuskan nafas kasar. Ia bingung bagaimana caranya untuk bisa membantu menyelesaikan masalah Ibu Siti, wanita yang berjasa membesarkannya.
"Bagaimana jika kita lapor polisi saja!" usul Rosa.
"Percuma, Ros! Dia punya surat tanah itu ditangannya," jawab Bu Siti.
Rosa menghela nafas berat. Ia melihat anak-anak panti berusia antara 1-8 tahun itu tampak patuh dan duduk di rerumputan. Sebagian dari mereka ada yang sudah pulang dari sekolah, dan masih ada juga anak panti yang sedang bersekolah. Khususnya mereka yang sudah tingkat SMP.
Rosa menghampiri mereka yang duduk memeluk lutut. Rosa tersenyum pada mereka.
Kalian penurut sekali. Pasti Bu Siti meminta kalian untuk tetap tenang ya?
"Kalian jangan sedih, ya... Kakak akan carikan rumah baru untuk kalian," ucap Rosa mencoba menghibur mereka.
Anak-anak itu menatap Rosa dengan mata berkaca. "Tapi bonekaku ada di dalam, kak!" salah satu anak hampir menangis.
"Buku cerita tentang putri milikku juga ada di sana, kak!"
"Mobil polisiku juga disana."
Rosa tersenyum kecil. "Kita berdoa ya, semoga Tuhan memberikan gantinya kepada kita semua, segera."
"Kalian anak-anak baik, pasti Tuhan akan memberikan semua yang kalian inginkan!"
Rosa berusaha membuat tenang anak-anak itu.
Tapi ada seorang anak yang mencuri perhatian Rosa. Seorang anak laki-laki menangis dengan menenggelamkan wajahnya di lutut. "Kamu kenapa?" tanya Rosa pada bocah berusia 8 tahun itu.
Anak laki-laki itu menatapnya dengan mata memerah. "Foto ayah bundaku ada disana!" tunjuknya ke arah bangunan yang sudah hancur setengah itu.
Rosa memeluk anak laki-laki itu. Seorang bocah yang dititipkan ke panti asuhan karena orang tuanya menjadi korban kebakaran.
Bocah itu berhasil menemukan sebuah foto di reruntuhan puing-puing bangunan yang sudah rata dengan tanah itu. Dan selembar foto usang itu menjadi satu-satunya harta berharga yang ia punya.
"Kakak akan cari!" Bisik Rosa. "Ada di kamarmu?" Anak laki-laki itu mengangguk.
Rosa segera berdiri. Ia akan mencari foto yang dimaksud di kamar bocah laki-laki itu.
Bertepatan dengan mobil Alvin yang datang bersama sebuah minibus dibelakangnya.
Alvin keluar dari mobilnya dan menemui Rosa. "Ros, minta mereka untuk naik ke minibus itu." Tunjuk Alvin pada minibus berwarna silver yang sudah terparkir di sisi kiri jalan.
Rosa mengangguk. Ia kembali mendekati Bu Siti dan yang lainnya.
"Bu, anak-anak, kalian masuklah ke minibus itu. Untuk sementara kalian akan tinggal di rumah..." Rosa menatap Alvin karena ia bingung harus mengatakan rumah siapa yang akan menjadi tempat tinggal sementara bagi mereka.
"Kalian akan tinggal di rumah kakak saya. Kebetulan sedang tidak di tempati oleh beliau," ucap Alvin ramah.
Bu Siti mendekat, "terima kasih, Nak..."
__ADS_1
"Alvin, Bu. Nama saya Alvin."
"Terima kasih, Nak Alvin," lanjut Bu Siti.
"Sama-sama, Bu. Saya hanya bisa membantu semampu saya," ucap Alvin pada wanita yang memakai hijab itu.
"Anak-anak, katakan terima kasih pada kak Alvin!"
"Terima kasih, kak Alvin!" ucap anak-anak itu kompak.
Alvin tersenyum dan ia berjongkok ke arah anak laki-laki berusia 3 tahunan yang berdiri di barisan paling depan. Anak laki-laki yang sama sekali belum tahu tentang apa yang sebenarnya telah terjadi pada tempat tinggalnya selama ini.
Anak laki-laki yang belum tahu kerasnya hidup meski telah ditempah untuk menjadi kuat sejak dini.
Alvin menggendong anak laki-laki itu, tanpa peduli jas mahalnya kotor akibat pakaian lusuh bocah itu.
"Nama kamu siapa?"
Anak laki-laki itu menatap Alvin dalam. Mungkin ia sedang mencoba memahami, pria yang menggendongnya adalah orang baik atau jahat.
"Namanya Ammar, Nak!" jawab Bu Siti karena bocah itu enggan menjawab.
"Hai, Ammar! Kita naik bus, mau?" tanyanya.
Bocah bernama Ammar itu menatap wajah Alvin lalu mengangguk ragu.
Alvin tersenyum. "Anak-anak, ayo kita naik!" ajaknya pada anak-anak itu. Anak-anak sontak bersorak senang, terlebih saat melihat Bu Siti juga masuk ke dalamnya, membuat mereka yakin bahwa Alvin bukanlah orang jahat.
Alvin terkejut saat mendengar kata sayang terucap dari bibir Rosa. Namun sayang, bukan untuknya.
Ck! Seandainya panggilan istmewa itu dia berikan untukku.
Alvin menggeleng pelan dan tetap masuk ke dalam mini bus itu dan mendudukkan Ammar di salah satu kursi di dalamnya
"Kalian masuk ke belakang, ya!" perintah Rosa pada anak-anak yang lebih besar.
Saat seorang anak yang kehilangan foto kedua orang tuanya hendak masuk, anak itu kembali menatap bagunan yang sudah rusak setengahnya itu.
"Jangan sedih!" Rosa menyentuh bahunya. "Kakak akan berusaha menemukan foto itu."
Anak laki-laki itu mengangguk pelan. "Kalau membahayakan nyawa kakak, lebih baik jangan," ucapnya dengan mata berkaca.
"Kakak akan usahakan, kamu masuk duku dan ikut Bu Siti ke rumah yang untuk sementara waktu akan menjadi tempat tinggal kalian."
Minibus itu sudah berangkat. Sang supir sudah mendapat petunjuk dari Alvin tentang lokasi rumah itu dan Ken sudah mengurus orang-orangnya untuk menyambut mereka.
Alvin hendak masuk ke dalam mobil, tapi ia terkejut melihat Rosa masih berdiri di tempat itu.
Ia ingin pulang bersamaku? batin Alvin percaya diri.
__ADS_1
"Ros! Kamu masih disini?" tanya Alvin.
"Saya harus ke sana, Pak!" Rosa segera berjalan mendekati bangunan yang sudah porak poranda itu.
Dari jarak kurang dari 200 meter, bangunan itu terlihat jelas karena tanah kosong di sekitar bangunan. Tanah kosong itu juga milik almarhum ayah Bu Diana, dan masih satu surat dengan Panti asuhan.
Bu Diana menjual seluruh tanah yang lumayan luas itu. Bahkan tidak menyisakan sedikitpun meski hanya area panti saja.
"Ros! Tunggu!" Cegah Alvin tapi gadis itu tidak peduli. Rosa terus berjalan sementara Alvin mengejar dibelakangnya.
"Rosa, berhenti!" perintah Alvin.
"Bapak pulang saja! Saya akan kembali nanti."
"Saya tidak bisa meninggalkan kamu sendirian, Ros!" Huh! Akhirnya Alvin bisa menyeimbangkan langkah mengejar Rosa.
"Saya sudah biasa sendirian, Pak!" Rosa berkata dengan suara bergetar membuat hati Alvin tertohok.
Tapi mulai sekarang kamu tidak akan sendirian lagi, Ros!
Alvin tidak mengucapkan apapun lagi, tapi dia terus mengikuti langkah kaki gadis berheels 5 cm. Rosa sama sekali tidak kelihatan kesulitan saat berjalan.
Rosa membuka gerbang panti dan berdiri tepat di depan alat berat.
"Ros! Ini bahaya!" cegah Alvin.
"Kalian! Hentikan sebentar!" teriak Rosa tak peduli. Tak ada yang berhenti, alat berat itu terus bergerak meruntuhkan bangunan dan pepohonan di sekitarnya.
Rosa melihat pria berhelm kuning dan ia menebak pria itu adalah penanggung jawabnya.
"Pak! Tolong berhenti sebentar!" pinta Rosa pada pria berusia 40an tahun itu.
Alvin setia membuntuti kemana saja kaki gadis itu melangkah.
"Maaf, Bu. Jangan menghalangi pekerjaan kami."
"Saya mohon, pak!" Rosa melirik alat berat yang siap menghancurkan deretan kamar anak-anak.
"Sebentar saja. Hentikan! Saya hanya ingin mengambil satu benda berharga milik salah satu anak panti."
"Saya janji, ini tidak akan lama." Rosa memohon dengan mata berkaca.
"Please, pak! Sebentar saja!" Alvin ikut bicara.
"Tapi..."
"Pak, please!" mohon Rosa dengan menangkupkan kedua telapak tangannya.
"Hanya untuk sebuah foto orang tua dari anak yatim piatu, Pak!"
__ADS_1
"Satu-satunya kenangan yang dia punya."
Pria itu tampak berfikir dan akhirnya mengangguk. "Sepuluh menit," ucap pria itu.