ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 45 Mainan Mahal


__ADS_3

"Tu... tuan Hendrico?" dengan ekspresi terkejut, Lova menatap bundanya yang juga sedang menatapnya. Ia tak menyangka, Tuan Hendrico memiliki hubungan erat dengan masa lalu Ken.


Alana mengangguk.


Lova menutup mulutnya, bahkan ia menggeleng pelan. "Bagaimana mungkin, Bun? Mengapa dunia ini sempit sekali?"


"Itulah sebabnya, Nak."


"Musuh Ken ada di depan mata kamu."


"La...lu mengapa Ken dan Tuan Hendrico tidak bersikap seolah ada rahasia besar di masa lalu, Bun? Mereka seperti mrmang baru saling mengenal, Bun?"


"Karena yang Tuan Hendrico tau, namanya adalah Alkenzy Aldric."


Lova melihat Alana dengan ekspresi kebingungan. "Ken pernah bilang kan? Kalau bibinya memberikan identitas baru pada kami?"


Lova mengangguk. "Ken Darrass, itu nama baru yang Ken terima dan Alvino Darrass untuk Alvin."


Lova mulai mengerti mengapa Tuan Hendrico tidak mencurigai Ken sama sekali.


"Ken baru mengetahui mengenai tuan Hendrico saat perusahaan kamu hampir bangkrut kala itu."


"Ia mengingat wajah pria itu tapi tidak menduga jika pria itu hidup di luar negeri dengan nama baru."


"Pantas saja Ken tidak pernah bisa menemukan pria itu meski ia mencarinya selama bertahun-tahun. Dan perusahaan milik papanya Ken telah di jual dan uangnya di gunakan untuk membuat perusahaannya sendiri."


"Tapi, wajah mereka?" tanya Lova. Apakah Tuan Hendrico tidak mengenali wajah Ken? Bukankah saat itu Ken sudah remaja?


"Wajah mereka banyak berubah, Lova. Dan kejadian itu sudah lumayan lama." Alana menangkup pipi putrinya.


"Jadi, mungkin saja Tuan Hendrico tidak mengenali mereka."


Lova diam dan mengangguk.


"Beberapa hari terakhir, Alvin sedang menjadi incaran orang yang tidak di kenal setelah ia mengakui namanya adalah Alvino Aldric di hadapan Tuan Hendrico saat pria itu sedang berada di perusahaan Thomas."


Lova mengerutkan kening. Mengapa Alvin melakukan itu?


"Alvin itu sulit mengendalikan dirinya, Nak. Dia tidak seperti Ken yang lebih tennag dan banyak berfikir." Lova tersenyum kecil.


Mereka memang berbeda, Bun. Aku mengenal Ken yang selalu serius dan Alvin yang tidak perah serius.


"Alvin selalu mengikuti apa kata hatinya. Dan ia selalu menggebu jika hal itu mengenai balas dendam mereka."


"Kecerobohan Alvin membuatnya selalu diintai bahaya. Dan membuat Ken harus cepat bergerak untuk mencari bukti kejahatan Tuan Hendrico."


"Ya, dengan menyelidiki bisnis haram pria itu."

__ADS_1


"Bisnis haram?" tanya Lova. Bukankah Tuan Hendrico memiliki sebuah perusahaan raksasa dan apakah mungkin pria itu juga menjalankan bisnis ilegal?


Alana mengangguk. "Dan Ken yakin, ada bisnis lain yang pria itu jalankan seperti puluhan tahun lalu."


"Ken pernah mengetahui sedikit mengenai bisnis itu. Dan karena dulu ia masih muda dan merasa itu bukan urusannya, Ken akhirnya memilih acuh."


"Dan sekarang ia kembali yakin bahwa Tuan Hendrico memang memiliki bisnis haram itu setelah orang-orangnya mulai menemukan titik terang."


"Bukankah itu tugas pihak berwajib, Bun?" tanyanya.


"Kamu benar, tapi Ken ingin semuanya segera terbongkar. Ia akan membuat pihak berwajib menangkapnya."


"Jika terlalu lama, tidak ada yang bisa menjamin keselamatan Alvin."


Lova mengerti sekarang. Ken melakukan ini demi keselamatan Alvin juga. Ia merasa bersalah karena salah menilai Ken.


Ia tidak menduga musuh Ken ada di depan mata mereka. Tidak bisa ia bayangkan bagaimana Ken menahan emosi dan rasa bencinya tiap kali mereka bertemu Tuan Hendrico.


Aku ingin membantu Ken, tapi dengan cara apa?


"Bun, tidak bisakah kita membantu Ken?" tanyanya lagi.


Alana tersenyum kecil. "Tentu bisa. Cukup dengan menjaga dirimu baik-baik."


"Waspada dan berhati-hatilah karena Tuan Hendrico kadang suka asal-asalan memilih target." Alana tertawa kecil.


Lova sampai keheranan karena bundanya masih sempat tertawa saat membahas hal penting ini.


"Menghukum anak yang masih pajang masa depannya karena kesalahan mama dari gadis itu." Alana sedikit emosi. "Apa tidak ada cara lain?"


Lova mengangguk faham. Itu artinya, siapa saja bisa dimanfaatkan Tuan Hendrico untuk mengalahkan musuhnya.


Pria itu memang licik, Bun. Dia merasa berkuasa karena semua harta dan tahtanya.


***


"Buatkan aku kopi!" Perintah Aland pada Mauza yang saat ini sedang membantu pelayan lainnya memasak di dapur.


Ia baru saja pulang bekerja dan langsung duduk di meja makan yang sangat besar dan bisa menampung banyak orang.


Mauza yang memakai pakaian pelayan, berjalan agak ragu sambil membawa secangkir kopi buatannya dan meletakkannya di atas meja. Tepatnya di depan Aland. Padahal ini bukan kali pertama ia membuatkan Aland kopi.


Aland meniup lalu meminumnya sedikit karena masih sangat panas. Seperti biasanya, enak.


"Aku ingin kamu melayaniku setiap hari," ucap Aland tanpa menatapnya. Aland bahkan terus meniup dan meminumnya.


Mauza membulatkan matanya. Ia yang berdiri disamping tubuh Aland mulai menegang. Fikirannya sudah lari entah kemana-mana.

__ADS_1


Aland tertawa dalam hatinya. Meja makan yang mengkilap itu bisa menampilkan bayangan wajah Mauza yang tampak lucu dengan ekspresi terkejut.


"Mak-sudnya tuan?" Mauza salah mengartikan kata melayani. Fikirannya sudah mengarah pada hal negatif. Ia takut diminta melayani pria itu di atas ranjang.


"Layani aku!" seru Aland menahan senyum karena wajah Mauza semakin lucu dimatanya.


Lebarkan terus matamu itu gadis bod*h! Aku tahu, otakmu sudah dipenuhi oleh hal-hal negatif. Asal kamu tahu, aku tidak tertarik dengan tubuh kurusmu itu. Bahkan d*damu saja tak terlihat. batin Aland.


"Buatkan aku jus setiap pagi, dan kopi saat sore atau malam hari," lanjut Aland.


Mauza mengangguk. "Ba-baik Tuan." Mauza bernafas lega karena apa yang ia fikirkan ternyata salah.


"Semir sepatuku dan bersihkan kembali setiap kali aku pulang dari bekerja."


"Sepatu jenis apapun itu, tanpa kecuali." Karena Aland menyesuaikan sepatu yang ia pakai saat bekerja. Sepatu untuk ke kantor pasti tidak sama dengan saat ia ke proyek. Aland pasti akan memakai safety shoes.


"Jika aku di rumah, jangan kerjakan pekerjaan apapun kecuali aku tidak sedang membutuhkanmu!" lanjut Aland.


Oke. Mauza mencatat hal penting itu di dalam otaknya. Tidak ingin memancing amarah dan membuat kesalahan fatal yang akan mengubah seluruh nasibnya dalam sekali jentikan jari.


"Kamu faham?" tanya Aland karena Mauza hanya diam.


"Faham, Tuan."


"Sekarang kembalilah bekerja, karena aku akan istirahat di kamarku." Aland berdiri dari meja makan setelah menghabiskan kopinya.


Aland berjalan menuju kamarnya sambil tersenyum puas.


Mengapa gadis itu sangat polos? Aku jadi semakin ingin mengganggunya.


"Mahal sekali mainan barumu Aland!" Suara daddynya membuat Aland menghentikan langkah.


Tuan Hendrico sedang duduk di sofa sambil menghisap rok*oknya. "Seharga beberapa unit mobil mewah."


"Kamu bahkan bisa memakai mobil berbeda tiap hari selama seminggu Land. Tapi kamu malah memilih barbie mengenaskan itu."


Aland tertawa mendengar sindirian Daddynya. Ia lantas ikut duduk sambil memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan. Aland tau, daddynya pasti melihat kejadian di meja makan tadi.


"Aku masih nyaman memakai mobilku saat ini, Dad."


"Lagi pula, uang segitu juga akan menganggur di tabungan daddy."


"Jangan terlalu pelit padaku." Aland menyandarkan tubuhnya.


"Jika daddy mau, daddy juga bisa punya mainan sepertiku."


Aland melirik daddynya sambil tersenyum kecil. "Tapi sembunyikan baik-baik dari Mommy."

__ADS_1


Aland berdiri. "Karena kalau sampai mommy tau, mainan itu akan ia bakar di depan mata daddy!" Aland tertawa meninggalkan Tuan Hendrico yang tersenyum miring.


Pria tua itu tahu bagaimana pengorbanan istrinya selama ini. Rela melakukan hal jahat demi tujuan yang sama. Dan pria itu menghargai semua pengorbanan istrinya.


__ADS_2