ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 84 Alvin dan Rosa (3)


__ADS_3

"Terima kasih!" ucap Rosa pada pria berhelm kuning itu saat alat berat sudah berhenti beroperasi.


Rosa langsung berlari menuju area dimana terdapat deretan kamar anak-anak. Ia mencari celah diantara reruntuhan puing-puing bangunan.


"Hati-hati, Ros!" Teriak Alvin saat melihat Rosa hampir terjatuh akibat tersandung bongkahan batu bekas runtuhan tembok.


"Saya bisa, Pak!" Rosa mulai tak bisa menahan tangisnya. Tempat ia dibesarkan susah benar-benar hancur.


Kenangan masa kecil seketika melintas dalam fikirannya. Selama ini ia selalu bernostalgia bersama Bu Siti mengenang masa kecilnya tiap kali ia berkunjung ke panti.


Kini, hal itu tak akan bisa ia lakukan lagi. Kekejaman Bu Diana sungguh diluar batas. Sekedar untuk membereskan barang-barang saja tidak ia beri kesempatan.


Rosa membuka satu kamar yang ia tahu adalah kamar bocah laki-laki berusia 8 tahun itu. Kamar ini masih utuh, bahkan masih tampak rapi.


Rosa mencari di lemari dan di meja belajar, namun tidak menemukan foto itu.


"Kamu cari apa, Ros?" tanya Alvin.


"Sebuah foto, Pak!" jawabnya sambil terus mengedarkan pandangan.


"Foto apa?" tanya Alvin lagi.


"Foto suami isteri," jawab Rosa cepat.


Alvin membantu mencari dan melihat sebuah plastik bening mengintip dibawah bantal. Alvin mengangkat bantal usang itu dan melihat sebuah foto berukuran 7 inci dimasukkan kedalam plastik itu.


"Ros, yang ini?" tanya Alvin mengangkat foto itu di tangan kanannya.


Rosa berbalik dan matanya berbinar. Ia berjalan mendekat dan mengambil benda ditangan Alvin itu. Rosa meletakkannya di dada dan memeluk erat.


"Huuh!" Rosa bernafas lega. "Setidaknya aku berhasil menyelamatkan benda penuh kenangan ini," gumamnya dengan air mata yang menetes di pipinya.


"Setidaknya bocah itu masih bisa menatap wajah kedua orang tuanya tiap kali akan terlelap meski hanya dari selembar foto."


Rosa merasa lega. Ia merasa bahagia bisa menyelamatkan satu benda paling berharga bagi seorang anak.


"Ros, ayo kita keluar dari sini!"


Rosa mengangguk dan segera keluar dari kamar itu. Mereka kembali berjalan diantara puing-puing bangunan dan langkahnya kembali terhenti kala ia melihat sebuah benda terinjak di kakinya.


Sebuah figura yang sudah remuk kacanya membuat Rosa berjongkok dan mengambil benda itu. Tangannya terluka akibat tergores pecahan kaca namun ia tak peduli.


Alvin bahkan tidak berani mencegah gadis itu. Ia tahu bagaimana perasaan Rosa saat ini. Ia sendiri pernah merasakan apa yang terjadi pada Rosa sekarang. Harus pergi meninggalkan semua kenangan demi satu kehidupan baru yang jauh dari bahaya.


Rosa tergugu. Sebuah foto yang membuat air matanya tak bisa berhenti menetes. Foto dirinya saat kecil, bersama semua pengurus dan penghuni panti.


"Bu, cepatlah! Kalian sudah lebih dari 10 menit menghalangi pekerjaan kami," teriak pria berhelm kuning yang memberi kesempatan selama sepuluh menit pada mereka.


Alvin merangkul bahu Rosa dan menuntun gadis itu keluar dari area panti. Ia tidak mengatakan apapun dan terus menuntun Rosa menuju mobilnya.


"Sini...!" Alvin membuat Rosa ternganga tak mengerti. Mereka sudah berada di dalam mobil dan duduk saling berhadapan di kursi depan.

__ADS_1


"Berikan tanganmu!" perintah Alvin tegas.


Rosa masih bergeming. Alvin terpaksa melepaskan pegangan tangan Rosa pada figura itu dan meletakan benda-benda ditangan Rosa ke dashboard mobil.


"Aku hanya meminta tanganmu, Ros." Alvin memegang tangan Rosa dengan satu tangannya, sementara satu tangannya lagi meraih kotak P3K dan ia mulai membersihkan luka ditangan Rosa.


Rosa hanya bisa diam melihat apa yang Alvin perbuat padanya. Hati yang penuh luka, jauh lebih pedih dari luka ditangannya.


"Jangan heran, bagaimana aku bisa membersihkan luka seperti ini," ucap Alvin memecah keheningan diantara keduanya.


"Dulu, aku sering marah pada keadaan dan melukai diriku sendiri dengan menghajar tembok yang hanya diam tak melawan," ucap Alvin sambil tertawa kecil.


"Bodoh, bukan?" tanya Alvin pada Rosa.


"Tapi itulah aku, begitulah caraku menghilangkan trauma," Alvin kembali membersihkan luka ditangan Rosa.


"Berbeda dengan kak Ken, dia lebih bisa mengendalikan dirinya. Memanjat tebing, memukul samsak, latihan menembak dan banyak hal lain yang ia lakukan demi keluar dari trauma dan mungkin ia punya niat balas dendam." Alvin kembali terkekeh, ia tidak menyadari Rosa terus melihat wajahnya yang sedikit menunduk itu.


"Ah, ya. Jangan khawatir, lukamu tidak akan infeksi."


"Aku tahu, kamu akan memilih untuk menyusul mereka di rumah kak Ken dibanding dengan mampir di klinik untuk mengobati lukamu."


Rosa tetap diam meski ia membenarkan ucapan Alvin.


"Sudah selesai," ucap Alvin saat ia selesai memberi plaster di goresan luka itu.


"Terima kasih, Pak!"


****


"Ide Alvin lumayan juga," ucap Ken memuji adiknya.


"Apa katanya?" tanya Lova pada Ken.


"Dia meminta izin untuk memakai rumah untuk tempat tinggal sementara bagi anak-anak panti."


Lova mengangguk. "Kamu izinkan!"


"Tentu. Kamu dengar sendiri, kan Sayang!" tanya Ken.


Lova mengangguk. Ia menyandarkan kepalanya dibahu Ken. "Ah, ya... setelah menikah kita akan tinggal dimana, Sayang?" tanya Lova pada pria yang mengusap rambut lembutnya.


"Jujur aku belum menyiapkan rumah baru," jawab Ken. "Aku hanya punya rumah itu." Ya, rumah yang akan di tempati anak panti, sekaligus rumah dimana Lova pernah ditawan.


"Dan satu unit apartemen," lanjut Ken.


"Apartemen, lucu juga," gumam Lova. Ia membayangkan hidup mandiri hanya berdua dengan Ken. Dia berharap dengan hanya tinggal berdua dengan pria itu, mereka akan lebih saling mengenal satu sama lain.


Ken menatap Lova. "Lucu?" tanya Ken kemudian.


"Ya..." Lova mengangguk. "Kita akan hanya benar-benar berdua disana!"

__ADS_1


"Aku memasak dan kamu mencuci."


"Aku bersih-bersih rumah dan kamu, menjemur pakaian." Lova menatap lurus ke depan. Ia membayangkan apa yang ia ucapkan.


"Sarapan bersama, bersiap ke kantor dan pergi bersama."


"Makan siang, bertemu di salah satu restoran, dan pulang bersama lagi."


Lova menatap Ken. "Bisa kamu wujudkan itu untukku, Ken?" pinta Lova.


Ken mengangguk. "Tentu...!"


"Tapi aku tidak yakin Mommy dan Bapak menyetujui ide kamu ini, Sayang!"


"Aku akan membuat mereka mengerti, Ken."


"Aku akan membuat mata mereka berbinar dengan alasan yang kuberi."


Ken mengerutkan kening. "Alasan apa?"


"Cucu!" Lova mengerling.


Ken tertawa tanpa suara dan ia langsung memeluk gadis itu. Entahlah, tapi mendengar kata cucu hatinya terasa seperti jutaan kembang api meledak bersamaan. Itu artinya Lova siap memberikan keturunan untuknya.


"Boleh ku cicil?" bisik Ken.


"Apanya?"


"Membuatkan Mommy cucu!"


"Hahahaha..." Ken terbahak karena Lova telah mengigit leher Ken.


"Katakan lagi atau aku akan menggigit lehermu lagi."


"Hahahah.." Ken malah terbahak mendengar ancaman gadis itu.


Jika bisa memilih untuk terus digigit, ia akan memilih itu. Karena gigitan itu seolah memberikan sengatan listrik ditubuhnya.


"Jika ada vampir secantik dirimu, aku rela digigit setiap waktu!"


Lova mengecu*p singkat rahang kokoh yang terdapat rambut halus yang mulai tumbuh itu. Lalu ia melepaskan pelukan Ken.


"Jika korbannya setampan dirimu, aku lebih memilih menikahimu daripada memangsamu!"


"Aku mencintaimu, Lovampire!" Ken mengecup singkat bibir gadis itu.


"Ken!" Teriak Lova agak keras karena terkejut atas kelakuan Ken yang tiba-tiba.


Sementara pria yang dalam empat hari akan resmi menjadi suaminya itu malah terbahak.


***

__ADS_1


Siapkan kado guys 😚😚


Semua udah pada manis-manis nih. Jalan Alvin, kita muluskan aja yaaa 😂 Kasian dia 😅


__ADS_2