
Sebuah panggilan video dari Thomas. Ken menjawabnya dan meletakkan ponsel di meja. Lebih tepatnya ia sandarkan di vas bunga. Ia sedang mencari informasi penting dari laptopnya mengenai apapun yang berhubungan dengan Tuan Hendrico.
"Ada apa, Thom?" Tanyanya saat wajah Thomas muncul di layar.
"Gawat, Ken!" Seru Thomas agak berlebihan. "Ini gawat, Ken!" ulang pria yang wajahnye memenuhi layar ponsel Ken itu.
"Apa yang gawat?" Tanyanya sambil menatap layar ponsel sekilas lalu kembali menatap layar laptopnya. Ia tahu kebiasaan Thomas yang suka berlebihan jadi ia tidak begitu tertarik.
"Saat pulang dari kantor tadi, ada yang mengikuti mobilku," ucap Thomas penuh drama menurutnya.
"Lalu?" Tanyanya.
"Bisa saja itu fansmu atau gadis yang belum kamu bayar malam tadi," lanjutnya acuh. Kebiasana Thomas yang suka berganti-ganti gadis tak jarang membuat pria itu dikejar bahkan diikuti sampai ke rumah.
"Sial*an!" Umpat Thomas dengan wajah kesal dan Ken tertawa kecil.
"Jadi apa lagi kalau bukan itu, Thom?"
"Bukan itu, Ken! Tapi ada yang mengikuti mobil ku dan lebih tepatnya Alvin yang mereka ikuti," ucap Thomas tanpa jeda.
Ken langsung menutup laptopnya dan menatap layar ponsel yang menampakkan wajah Thomas.
"Maksudmu?" Tanya Ken penasaran. Wajah Ken mulai menegang karena ia tahu ini serius dan bisa saja menjadi tanda bahaya.
"Hahah... akhirnya kamu menatapku." Tawa Thomas meledak.
Memang jika menyangkut keselamatan Alvin, Ken rela melakukan apapun. Ia tidak ingin kehilangan satu-satunya keluarga yang ia punya. Ken telah berjanji pada dirinya sendiri untuk terus menjaga Alvin sebagai pengganti kedua orang tuanya.
Ken menunjukkan ekspresi datar dan Thomas tau itu tanda bahaya. Ia kembali serius dan fokus menatap layar ponsel.
"Oke. Oke. Kita serius."
"Pulang dari kantor sore tadi, Alvin menumpang mobilku. Dan dia menyadari ada mobil warna hitam yang mencurigakan terus mengikuti mobil kami."
"Aku mencoba berputar-putar dan mobil itu masih terus mengikuti. Dan aku akhirnya menurunkan Alvin di apartemen Jack."
"Oke..." Ken masih menyimak. "Lalu?"
"Aku pulang dan mobil itu tidak lagi mengikutiku."
__ADS_1
"Sorry Ken, aku tidak bisa mengambil resiko. Aku takut ini ulah Hendrico tua dan aku tidak ingin Mommy dan yang lain terlibat."
Ken mengangguk mengerti. Ia tahu, Thomas hanya merasa khawatir pada keluarganya.
Jika sampai Tuan Hendrico tau Alvin juga tinggal serumah dengan Thomas maka akan sangat berbahaya bagi keluarga Thomas. Meskipun Ken tidak yakin ini kali pertama mereka diikuti. Bisa saja selama beberapa hari ini, setelah bertemunya Tuan Hendrico dan Alvin, sudah ada yang mengikuti adiknya itu bahkan sampai ke rumah.
"Ini akibat dari pengakuannya yang konyol itu, Thom. Dan sekarang, dia harus siap menghadapi serangan yang mungkin datang tiba-tiba," ucap Ken menahan geram.
"Dia akan terus jadi target, Thom. Sampai Si tua itu mendapatkan apa yang ia mau."
"Dia pasti ingin mencari tahu siapa Alvino Aldric itu."
"Itu juga yang ku fikirkan, Ken!"
"Alvin ceroboh. Dia bukannya mengendarai sepeda motor atau angkutan umum, ini malah menumpang mobilku," geram Thomas.
"Ya, walaupun aku juga salah telah memberinya tumpangan," lanjut Thomas.
Ken menghela nafas. "Sudah, biarkan saja Alvin di sana dulu. Thom, kirim orang untuk menjaganya."
"Aku sedang mencari bukti bisnis haram si tua itu. Mumpung konsentrasinya sedang terbagi untuk Alvin."
"Baiklah, Ken."
"Aku terpaksa menolak, Ken!" Thomas tersenyum hambar.
"Kenapa?" Tanya Ken karena Thomas sepertinya enggan berurusan dengan Tuan Hendrico.
"Aku tidak ingin masalah pribadinya menjadi pemicu karyawan kita kehilangan pekerjaan."
"Dia masuk dalam perusahaan sepertinya sama saja memasukkan singa ke kandang kita."
"Sama saja memasukkan duri dalam daging."
"Dia juga akan lebih cepat mengetahui siapa kamu dan Alvin yang sebenarnya."
"Saranku, segeralah menyerang tanpa melibatkan perusahaan Ken!"
"Ini masalah dendam pribadi antara kamu dan dia. Ini juga masalah pribadinya yang penasaran dengan perusahaan yang dalam sekejap mau membantu perusahaan Lova. Dan dia pasti tahu ini ulahmu, Ken."
__ADS_1
"Alvin tidak bisa menunggu sampai kapan ia akan terus berada dalam bahaya."
"Aku juga tidak bisa terus memberi alasan logis jika pria itu terus menginginkan kerja sama dengan kita." Yang Thomas maksud pria itu adalah Tuan Hendrico.
"Aku akan menjalankan perusahaan sebisaku, meski nanti pria itu menyerang dari arah luar seperti yang ia lakukan pada perusahaan Lova."
"Thanks Thom! Aku akan berusaha sebisaku. Semua anggota tim sedang bekerja keras mencari info dan bukti."
"Oke, Ken! Segera bertindak dan jika kamu sudah sampai di ujung permainan. Aku titip satu timah panas di keningnya sebagai balasan atas rasa sakit yang bibiku rasakan karena ulahnya."
Ken tertawa kecil. Sepupunya itu bisa-bisanya menitip sebuah tembak*an di kening Tuan Hendrico.
"Aku yang akan membalas apa yang ia lakukan pada mama, Thom!" jawab Ken. Tanpa Thomas ajari, ia pasti akan melakukannya. Membalas kekejian yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
Panggilan di akhiri. Ken memijat kening yang terasa berdenyut itu. Ia pasti memikirkan keselamatan Alvin. Sewaktu-waktu Tuan Hendrico bisa saja menyerang adiknya itu.
Ken tidak bisa berbuat banyak, ia tidak bisa melindungi Alvin yang ada di benua lain itu. Ia hanya bisa memperketat penjagaan agar tidak kecolongan.
Ken mengirim pesan pada Alvin.
Jaga dirimu! Aku akan perintahkan pada Thomas agar memberimu pengawal, seorang Office boy yang akan menjadi temanmu saat pergi dan pulang dari kantor. Bahkan dia akan menjadi bayanganmu selama di kantor serta di apartemen Jack juga.
Tak butuh waktu lama, Alvin langsung membalas.
Terima kasih, Kak. Ku rasa kakak terlalu berlebihan. Jika dia menyerangku, itu akan jauh lebih baik. Aku bisa langsung menemb*k jantungnya.
Dasar pria kekanakan. Dia fikir semua ini seperti main perang-perangan. Hendrico tidak mungkin muncul dihadapanmu, bod*h! Dia akan berdiri dan berlindung di belakang anak buahnya yang jumlahnya sangat banyak. Batin Ken kesal.
Ken kembali membalas pesan Alvin. Simpan saja pelurumu! Dia tidak akan muncul. Tetap berhati-hati dan jangan gegabah lagi!
Iya. Aku akan berhati-hati. Balas Alvin lagi.
Ken meletakkan ponselnya dan dalam hitungan detik sebuah pesan masuk membuat layar segi empat itu berkedip.
Sebuah screenshoot laman berita muncul pertama kali saat ia membuka pesan itu.
Judul beritanya adalah Polisi berhasil menggagalkan transaksi sa*bu seberat 5 kg ditengah laut.
Diduga itu salah satu bisnisnya, Tuan!
__ADS_1
Ken kembali meletakkan ponselnya setelah mencari tahu tentang berita itu. Dan berita itu benar adanya. Tapi kedua pelaku masih bungkam mengenai siapa bos besar mereka.
Jika dihadapan pihak berwajib saja mereka bisa tutup mulut, apalagi jika aku yang berhasil membekuk salah satu anak buahnya. Mereka pasti setia pada pria itu.