
"Ayah! Lihatlah!" Lova meminta Brata untuk duduk disampingnya. Pagi ini Lova tidak bekerja karena menemani Alana di rumah.
"Ada apa?" tanya Brata yang berjalan sambil membawa segelas jus miliknya.
Alana ada di dekat Lova juga. Mereka sedang menonton tv pagi ini.
"Polisi mengamankan 300 kilogram sabu, ayah!"
Brata duduk di samping Lova dan ikut melihat berita di hampir semua stasiun tv itu.
"Kira-kira berapa rupiah itu, Yah?" tanya Lova sambil becanda.
Brata mengangkat bahu. "Entahlah, ayah juga tidak tahu."
"Hahahah, bisakah kita beli Lamborg*ni dengan uang itu, Yah?" tanya Lova lagi.
Brata tertawa. "Sejak kapan kamu punya selera mobil mahal seperti itu, Lov?"
"Sejak aku menjadi CEO. Hahaha..." Lova tertawa lebar.
"Ken...!" Alana meremas ujung blouse-nya. Ia meneteskan air mata haru sekaligus khawatir.
Lova dan Brata langsung menatap wanita yang terpaku pada layar tv dengan tumpahan air mata di pipinya.
Malam tadi, Ken mengbuhunginya untuk meminta restu darinya.
"Mom..." Suara Ken terdengar seperti sedang putus asa. Alana tahu, pria 30 tahun itu sedang menghadapi masalah besar.
"Ya, sayang!" jawab Alana.
"Doakan aku, karena malam ini aku akan meruntuhkan salah satu bisnisnya, Mom." Alana tahu, orang yang Ken maksud adalah Tuan Hendrico.
"Berhati-hatilah, Nak!" Isaknya. Ia tidak tahu harus bagaimana. Satu sisi Alvin dalam bahaya dan satu sisi lagi ia ingin Ken menyelamatkan Alvin.
"Mommy selalu mendoakanmu. Mommy merestui setiap langkah kebaikanmu."
"Terima kasih, Mom."
"Jaga dirimu baik-baik, Nak!"
Alana sedikit bernafas lega saat Ken mengatakan bahwa Alvin masih hidup dan putranya itu sudah tahu keberadaannya.
Saat ia meminta Ken menyelamatkan Alvin, Ken mengatakan akan, tapi tidak sekarang.
Alana hanya bisa berdoa yang terbaik untuk kedua putranya.
"Bunda..."
Alana tersadar dari lamunan saat Lova mengguncang bahunya. Ia lantas mengusap pipi yang terasa basah itu.
"Ya..." ia berusaha tersenyum pada putrinya.
"Ada apa, Bun?" tanya Lova. "Mengapa bunda menyebut nama, Ken?" tanyanya lagi.
Alana menggeleng. "Bunda tidak apa-apa, Nak!"
__ADS_1
"Jangan bohong!" Sentak Lova. "Aku tahu kapan bunda berbohong dan kapan bunda berkata jujur."
"Ayo, Bun. Katakan!" desak Lova.
"Ya, Ada apa Alana?" Brata juga bertanya. "Ada apa dengan Ken?"
Alana melihat kanan dan kiri. Ia memastikan tidak ada yang mendengarkan pembicaraan mereka.
"Ken..."
"Ken yang menjadi dalang penangkapan itu." Alana melihat sekilas kearah tv.
Lova membungkam mulutnya. Brata bahkan sampai menatap layar besar itu tanpa berkedip.
"Ke-Ken?" tanya Lova gugup. "Bagaimana bisa, Bun?"
Alana tersadar bahwa ada Brata yang tidak tahu apapun tentang Ken. Ia memberi kode pada Lova agar tidak membahas hal ini lagi.
Lova pun mengerti. Brata tidak boleh tahu tentang hal ini. Karena jika sampai ia tahu, pria itu tidak akan tinggal diam terlebih saat tahu Ken dalam bahaya. Sementara, Ken tidak membiarkan siapapun bergerak membantunya karena dikhawatirkan akan merusak semua rencana yang sudah ia susun.
"Maksud bunda..." Alana masih gugup. "Ken ingin menjadi dalang penangkapan setiap kejahatan." Alana berusaha mengarang cerita agar Brata tidak curiga. "Termasuk kejahatan seperti yang disiarkan di berita itu."
"Dulu, katanya, dia sempat bercita-cita menjadi polisi."
Alana menghapus air matanya dan tertawa. "Tapi dia malah jadi pegawai kantoran dan malah menuruti semua keinginanku."
Lova tertawa juga. "Kalau dia jadi polisi, bisakah dia menemb*ak musuh, Bun?" Lova tertawa sambil melirik Brata yang masih diam.
"Ayah!" Lova memegang tangan Brata. "Bunda hanya sedih karena cita-cita Ken tidak tercapai. Bukan karena berita itu. Jadi, jangan melihat berita itu lagi!" Lova mengganti saluran tv dengan film kartun.
"Kita nonton film kartun, saja. Lagi pula, masih pagi tapi beritanya sudah menghebohkan begini." keluh Lova.
"Hahahah..." Lova tertawa keras.
"Dia belum seminggu pergi dari rumah ini, tapi ayah sudah merindukannya?"
"Apa dulu ayah juga merindukanku saat Ken menculikku?" Lova melipat tangannya di dada pura-pura merajuk.
Brata tersenyum kecil. "Tentu." Ia mengusap rambut Lova. "Kamu satu-satunya harta ayah, Nak. Bagaimana mungkin ayah tidak merindukanmu. Bahkan setiap helaan nafas ayah selalu ayah sebut namamu."
Lova mengangguk sambil tersenyum. Ia lantas langsung memeluk Brata. "Ketika itu, Lova juga merasa hanya ayah yang Lova punya."
"Jangan cemberut lagi!" Brata mengusap rambutnya. "Ayah hanya sedang memikirkannya yang tidak pernah lagi datang setelah kepindahannya."
Lova menghela nafas berat. Sepertinya Brata merasakan bahwa Ken dalam bahaya.
"Arrhhh!"
"Arrrhhh!"
"Siapa kalian?"
"Jangan banyak bicara!"
"Bugh!"
__ADS_1
"Bugh!"
"Bugh!"
Terdengar keributan dari arah luar. Dan sepertinya ada orang yang sedang berkelahi di depan rumah mereka.
"Suara apa itu, Ayah?" tanya Lova kebingungan.
"Entahlah! Seperti ada yang berkelahi." Lova menjadi panik saat mendengar ucapan Brata.
Siapa yang berkelahi? Batinnya.
Alana berdiri dan berbalik menatap arah depan rumah. Ia melihat begitu ramai orang di depan dengan berseragam hitam.
Penjaga di rumah ini tidak sebanyak itu dan Alana yakin, mereka sedang di serang.
Alana berdiri dan menarik tangan Lova dan Brata. "Ayo sembunyi! Kita diserang!" Alana membuat Lova dan Brata berdiri dengan kondisi kebingungan.
"Siapa yang menyerang?" tanya Brata yang tidak tahu apapun.
"Tapi kemana, Bun?" tanya Lova.
Mereka berlari menuju anak tangga dan...
"Jangan bergerak atau mat*!" Dua orang pria dengan penutup muka masuk dari arah samping dan menghadang mereka.
"Angkat tangan kalian keatas!" Ucap seorang pria lagi dari arah belakang mereka.
"Jangan ada yang berani melawan apalagi lapor polisi!" Bentak seseorang yang lainnya. Semua asisten rumah tangga sudah menyerah dan dikumpulkan di ruangan itu.
"Jika ada yang melakukannya! Kami akan menghabisi kalian semua sebelum pergi dari sini!"
Jangankan untuk melawan, untuk berteriak saja mereka tidak ada yang berani melakukannya. Puluhan senjata api tertodong kearah mereka.
Penjaga di rumah itu sudah tidak bernyawa lagi, karena di serang secara mendadak.
"Si-siapa kalian?" tanya Lova. "Apa mau kalian?"
***
Ken tersenyum puas saat mengirim balasan pesan itu pada Tuan Hendrico. Ken tahu pesan itu akan memancing amarah pria tua yang sedang bermain-main dengannya.
Berita menggemparkan di tv pagi ini, pasti sudah membuat jantung pria itu nyaris lepas dari tubuhnya.
Ken sedang dalam perjalanan menuju lokasi dimana Alvin ditawan. Ia yakin, pria itu akan kesana. Bukan Hendrico namanya jika tidak langsung menyaksikan kemat*an musuh.
Bahkan kecoa sekelas Mariska saja tidak ia lewatkan untuk melihat pemberitaannya. Sepertinya menjadi hobi bagi Tuan Hendrico melihat penderitaan orang lain.
Ken menunggu mobil pria itu melintas dan benar saja, hanya butuh waktu beberapa menit, sebuah mobil mewah melintas di depan Ken yang sedang bersembunyi di balik pohon.
Ken tersenyum, ia memberi perintah pada anak buahnya.
"Masuk dan selamatkan Alvin!" perintahnta pada pemimpin tim yang sudah berada sangat dekat dengan lokasi dimana Alvin di sekap.
Ken tidak punya banyak waktu, ia harus menyelamatkan adiknya meski hari masih pagi menjelang siang.
__ADS_1
Aku akan menjadikan siang ini begitu mengesankan untukmu, paman Juan!
***