ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
59 Aland Terpuruk


__ADS_3

"Aaarrrrghhh!" Aland melemparkan semua barang-barang di kamarnya. Ia memecahkan cermin dan semua barang-barang berserakan di lantai.


"Kalian membuat hidupku hancur!" Teriaknya tak terkendali.


"Kalian membuatku malu!"


"Kalian menghancurkan semuanya. Reputasiku bahkan semua karir yang ku bangun tanpa pijakan dari kalian!" makinya pada foto kedua orang tuanya yang terpasang di kamarnya.


Figura besar itu bahkan sudah tidak ada lagi kacanya. Semua susah remuk redam di lantai.


Aland kecewa karena ternyata Mommynya terlibat dalam kasus pembunuhan 13 tahun lalu itu. Meski kemungkinan hukuman yang di terima tidak seberat Daddynya tapi sama saja merupakan aib bagi Aland.


Ia sedikit bersyukur karena tidak pernah ikut campur dalam urusan bisnis kedua orang tuanya.


Aland memilih jalannya sendiri meski ia punya pegangan yang begitu kokoh. Ia tidak bergantung pada orang tuanya karena dari awal, ia tidak didukung oleh orang tuanya untuk menjadi arsitek yang bekerja pada orang lain.


Beberapa hari lalu, ia sudah bertemu Ken dan sepertinya pria itu enggan membuat hukuman orang tuanya diringankan.


Rumah ini juga sudah digeledah polisi dan juga satu rumah lagi yang sering disinggahi Daddynya.


Banyak bukti yang berhasil di dapatkan dan harapan untuk terbebas semakin kecil bahkan hampir nol persen.


Aland meraih kunci mobilnya, dan mengambil jaket. Ia ingin pergi dari rumah ini dan tidak akan kembali lagi. Ia meninggalkan kamar yang terlihat seperti kapal pecah.


Aland membuka pintu dan menemukan Mauza berdiri di depannya. Ia menatap gadis yang berani menatapnya itu.


"Minggir!" perintah Aland.


"Anda akan kemana, Tuan?" tanya Mauza dengan tubuh masih berdiri tegak di hadapan Aland.


"Bukan urusanmu!" ucapnya dingin tanpa menatap mata indah yang kini tengah menatap wajahnya.


"Ya, tapi urusan kita belum selesai Tuan!" ucap Mauza.


Ia sebenarnya tidak ingin melakukan ini. Mempertaruhkan keselamatannya dengan menemui Aland. Tapi keributan yang ia dengar dari dalam kamar ini membuatnya tidak tega membiarkan majikannya ini terpuruk.


Kerisauan para asisten rumah tangga yang lain jugalah yang membuat Mauza ada di hadapan Aland sekarang. Semua asisten rumah tangga mengkhawatirkan nasib mereka, gaji mereka dan dimana mereka akan bekerja setelah ini.


"Anggap saja urusan kita sudah selesai dan aku membebaskanmu!" Aland menatap tajam mata Mauza.


"Hutangmu ku anggap lunas. Dan pergilah dari sini." Aland maju selangkah dan Mauza masih diam seperti batu. Tubuh mereka bahkan hampir menempel sekarang.


"Itu untukku. Lalu bagaimana nasib mereka, Tuan?" Mauza menunjuk orang-orang di belakangnya. Tepatnya di lantai bawah.


Aland diam sejenak. "Aku akan urus semuanya. Aku akan memberikan kalian uang dan setelahnya kalian bisa pergi."


"Kosongkan saja rumah ini."


"Jika ingin, aku akan menjualnya dan jika disita pihak berwajib akan ku serahkan."


"Tidakkah rumah ini memberi kenangan indah pada anda hingga anda begitu keras kepala ingin meninggalkannya?" tanya Mauza.


Aland menatap Mauza. Kenangan itu sudah musnah bersama rasa kecewanya. Lagi pula rumah ini masih baru mereka tinggali. Selama ini orang tuanya berada di luar negeri dan dia tinggal di apartemen.


"Tidak ada kenangan apapun!" Aland menyingkirkan tubuh Mauza dengan begitu mudah hingga gadis itu terjatuh.


Aland terus berjalan dan Mauza mengejarnya yang sudah berjalan menuruni anak tangga. Mauza menarik tangan Aland dan pria itu berhenti.

__ADS_1


Mauza maju dan ia berada satu anak tangga di bawah Aland. "Sebelum anda pergi, saya ingin mengucapkan terima kasih."


Mauza meneteskan air mata. "Terima kasih telah menolong saya malam itu." Mata basah itu menatap wajah Aland yang terlihat lesu.


"Terima kasih telah menyelamatkan masa depan saya. Terima kasih sudah membuat apa yang saya jaga selama ini tetap utuh."


"Terima kasih, Tuan! Saya tahu anda masih punya sisi baik."


"Semoga anda bahagia selalu." Mauza menunduk dan menyeka air matanya.


Pagi hari setelah kejadian malam itu, salah satu asisten rumah tangga yang tidur disebelah kamarnya menceritakan pada Mauza bahwa Alandlah yang telah menolongnya.


Ia berbalik dan berjalan lebih dulu tanpa mendengar respon apapun dari Aland. Aland juga tampak tidak peduli. Ia yang akan berjalan mendahului Mauza tanpa sengaja menabrak bahu gadis itu. Mauza kehilangan keseimbangan dan terjatuh di depannya.


Maura berguling hingga jatuh ke lantai tanpa sempat Aland tolong. Aland melihat tubuh kurus itu berguling dengan cepat dan seketika lantai dipenuhi darah yang mengucur keluar dari kening Mauza.


***


"Keeen!" Teriakan Lova memekakan telinga sesaat sebelum tubuhnya terlempar ke kolam renang.


"Byuuuurrrr!"


"Hahahahahah..." Tawa Brata dan Alana meledak seketika saat tubuh Lova terlempar dan luapan air kolam membasahi mereka yang berdiri di pinggirnya.


Hari ini hari ulang tahun Lova. Hari masih pagi dan kejutan menyebalkan sudah ia dapatkan.


Beberapa menit sebelumnya.....


"Happy birthday my Lova..." Brata memeluk Lova yang baru saja turun dari lantai dua.


"Happy birhday my little princess..." Alana bergantian memeluk Lova dan mencium kening putrinya itu.


"Ini akan jadi ulang tahun terindah, Bun. Tetap disini dan jangan pergi lagi." Pelukan itu kian erat.


"I promise!" bisik Alana pelan.


"Gantian, Mom!" Alvin membuat Alana melerai pelukannya dari Lova.


"Happy birthday Lov."


"I love you so much!" Alvin melirik wajah Ken yang tampak dingin.


Lova mencubit perut Alvin. "Hahahah..." pria itu tertawa.


"You expect another man to tell you?" bisik Alvin pelan.


*(Kamu berharap pria lain yang mengatakannya padamu?)


"Jika pria batu itu yang kamu harapkan. Percayalah, he won't tell you!"


*(Dia tidak akan mengatakannya padamu)


Lova menatap tajam pada pria yang baru saja melepaskan pelukannya itu.


"Never!" sahut Lova singkat.


"Let's see later." Alvin menyeringai.

__ADS_1


"Happy birthday!" Ken memeluknya. Meski sedikit canggung setidaknya ia menganggap ini hanya pelengkap ucapan selamat yang Ken berikan untuknya.


"Thank you!"


Lova melepaskan pelukannya. "Tidak ada cake?" candanya karena ia hanya mendapat ucapan selamat.


"Tidak, karena masih ada satu kejutan lagi," ucap Alvin berjongkok di depan Lova.


Semua orang menatapnya karena ini tidak ada dalam rencana. Alvin menggendong Lova di bahunya. Ia berlari menuju halaman belakang.


"Ayah, tolong hentikan si gil*a ini!"


"Bundaaaa! Hentikan dia bun!" teriak Lova sambil memberontak.


"Alvin, awas jatuh!" Alana, Brata dan Ken mengikuti langkah Alvin.


"Hahahah...! Selamatkan putri kalian dariku!" Teriak alvin sambil berlari seolah ia adalah raksasa jahat yang berhasil menculik putri raja.


"Ken...! Hentikan adik bod*hmu ini!" teriaknya pada Ken.


"Vin! Berhenti, Vin! Apa yang kamu lakukan ini berbahaya!" Ken ingin sekali menendang punggung pria berkaos putih itu. Tapi resiko yang akan di dapat adalah Lova terjatuh dari gendongan pria itu.


"Alvin!"


"Keeeeennn!" Terlambat! Lova sudah tercebur ke kolam renang.


Tingkah Alvin yang awalnya terkesan membahayakan bagi Lova ternyata cukup menghibur mereka. Kapan lagi melihat Lova berteriak dengan wajah panik memanggil nama Ken.


Ken berjongkok di kolam renang dan mengulurkan tangannya agar bisa Lova raih. Sementara Alvin juga ikut berjongkok mengulurkan tangannya.


Lova berdiri dan menatap kesal keduanya. Ia mencebikkan bibir kearah Alvin. Ia berjalan ke arah Ken tapi tidak langsung meraih tangannya.


Lova memintanya mendekat dan menunjuk telinganya sendiri. Ken mengerti maksudnya. Ia mendekatkan telinganya karena Lova sepertinya ingin membisikkan sesuatu.


Lova mendekatkan wajahnya ke telinga Ken. "Ini untukmu yang terlambat menolongku!" bisiknya bersamaan dengan terceburnya tubuh Ken ke kolam renang.


"Byuurrr!"


Tawa Alvin, Brata dan Alana kembali terdengar. "Lova, kamu pintar!" Ucap Alvin senang.


"Itu karena dia terlambat menolongku, Vin!"


Lova bergerak mendekati Alvin dan ia duduk di pinggir kolam, disamping pria itu.


"Ya, itu memang pantas untuknya," sahut Alvin.


"Byuuur!" Seketika tubuh Alvin juga masuk ke dalam kolam karena Ken dengan cepat menarik kerah kaosnya.


Lova tertawa. "Tenggelamkan dia Ken!" Perintah Lova sambi bercanda.


Ken menenggelamkan Alvin dengan menekan kepala pria itu ke dalam air.


"Pembun*han berencana ini namanya!" ucapnya saat wajahnya berhasil muncul di permukaan. Ia juga berusaha menarik nafas dalam.


"Lebih baik dibawah air, dari pada muncul tapi suara menyebalkanmu itu yang terdengar!" Ken kembali membuat kepala Alvin tenggelam di dalam air.


"Ken, dia bisa kehabisan nafas! Lepaskan, Ken!" Alana membuat Ken melepaskan adiknya itu.

__ADS_1


Alvin segera menjauh dari Ken dan duduk tepat di depan Alana. "Huuh! Untung saja pawangnya ada disini."


"Thanks Mom!" Alvin tertawa sambil mengatur nafasnya.


__ADS_2