ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 81 H -4


__ADS_3

"Cukup sekian meeting kita pagi ini, semoga kita bisa terus menjalankan tanggung jawab kita dengan baik."


"Dan semoga kita tidak mengecewakan beliau." Lova menunjuk Alvin di depan karyawan kantornya saat meeting pagi ini.


Semua peserta meeting bubar dan kembali ke ruangan masing-masing. "Ros, selesaikan laporannya hari ini juga. Mulai besok saya tidak akan masuk kantor sampai minggu depan."


"Saya harap kamu bisa saya andalkan."


"Baik, Bu. Saya akan lakukan yang terbaik." jawab Rosa menunduk hormat pada Lova.


"Ayo, Vin!" ajak Lova pada pria yang masih duduk di kursinya."Kamu sepertinya butuh kopi!"


Alvin nyengir menunjukkan gigi putihnya. "Selalu tahu apa yang ku butuhkan!"


"Huuh! Meeting dua jam membuat mesin-mesin di kepalaku sedikit panas kak," lanjut Alvin sambil bercanda.


Lova berjalan lebih dulu. Di belakangnya ada Alvin dan Rosa yang berjalan hampir beriringan.


"Sudah selesai?"


Lova terkejut. Ia bahkan sampai berjingkat saat mendengar suara Ken yang sudah duduk di ruangannya. Sebelum meeting tadi, Ken tidak ada di kantor ini karena pria itu harus mengurus pekerjaannya sendiri.


"Mengagetkan saja," keluh Lova. Ia sampai lupa menjawab pertanyaan pria itu.


"Astaga! Dia sudah disini lagi kak?" tanya Alvin yang membuntut di belakang Lova.


Sementara Rosa segera ke pantry karena gadis itu harus membuat kopi untuk Lova. Lidah bosnya itu sudah terlanjur jatuh cinta dengan kopi buatannya.


Alvin segera masuk dan duduk di samping Ken. "Apa tidak ada pekerjaan lain kak? Membuntuti kak Lova setiap hari sepertinya menjadi hoby baru bagi kakak."


Ken mendengus kesal. "Terserahku."


"Saldo rekeningku akan terus bertambah meski aku hanya tiduran setiap hari, Vin!" balas Ken pada adiknya yang sekarang juga tengah mendengus kesal.


"Ya, selama aku masih bisa bekerja, marayu klien dan menjalankan semua proyek, maka rekeningmu akan semakin gendut kak.," ucap Alvin sinis.


"Huuh! Kadang aku merasa seperti sapi yang harus menarik bajak. Sementara kakak hanya perlu naik diatasnya," ucap Alvin kesal. "Dan kakak akan memanen hasilnya."


Lova hanya bisa tertawa. Ia juga ikut duduk samping Ken.


"Tapi aku tidak menganggapmu sebagai seekor sapi, Vin," Ken tertawa.


"Ck! Tapi yang ku rasa demikian."


"Ayolah Vin, jangan mengeluh! Rosa masih belum jadi milikmu!" bisik Lova.


Alvin menghela nafas. "Aku tau itu kak."

__ADS_1


"Seorang CEO harus punya rasa percaya diri, tanggung jawab dan tidak bermental kerupuk, Vin!" ucap Ken menasehati.


"Perusahaan itu akan terus menjadi tanggung jawabmu."


"Sampai kapan kak?" tanya Alvin.


"Sampai seterusnya. Karena aku sudah membulatkan tekad untuk memulai semua dari nol di sini."


"Aku tidak akan meninggalkan istriku apalagi sampai ke luar negeri."


Alvin menatap Ken. "Lalu aku yang terlempar keluar?" tanya Alvin.


"Ayolah, Vin. Thomas dan Bibi ada di sana!"


"Kelak, Rosa juga akan kesana!"


Alvin terdiam. Ia sebenarnya tidak keberatan jika terpisah dari Ken dan Mommy Alana. Jarak yang tidak terlalu jauh membuatnya bisa sering-sering datang berkunjung.


"Jangan cemberut begitu," goda Lova. "Tenanglah. Gadis itu akan menjadi milikmu." Bisik Lova karena gadis yang di maksud sedang berjalan masuk dengan dua cangkir kopi di atas nampan yang ia pegang.


"Terima kasih, Ros!" ucap Lova tulus saat Rosa meletakkan du cangkir kopi untuknya dan Alvin.


"Sama-sama, Bu. Tapi pak Ken..."


"Aku sudah minum, Ros." potong Ken.


"Lihat dia, Vin!" ucap Lova menunjuk arah pintu dengan dagunya dimana Rosa baru saja keluar.


"Dia begitu menghormati dan menyayangiku."


"Hanya karena alasan aku suka kopi buatannya, ia tidak pernah menolak jika ku minta membuatkan kopi. Kadang dia malah yang menawariku."


"Dia mencintai pekerjaannya dan seluruh hal terkait di dalamnya termasuk aku dan kantor ini." Lova tersenyum pada Alvin yang sepertinya belum tahu arah pembicaraannya akan kemana.


"Dan itu harus kamu tiru darinya, Vin!"


"Cintai pekerjaanmu maka semua akan terasa ringan tanpa beban. Kamu akan menjalankan semua dengan ikhlas."


"Lova benar." Sambar Ken.


"Jika pada awalnya semua kamu lakukan karena ingin mengambil hati gadis itu. Maka mulai sekarang, coba ubah tujuan awalmu."


Alvin mengerutkan kening. "Tetaplah bekerja dengan baik meski akhirnya dia tidak bisa kamu raih."


"Mengapa jadi mematahkan semangatku, Kak?" tanya Alvin. "Apa ada pria lain yang sudah mendekatinya?"


Ken tersenyum kecut. "Belum, tapi sepertinya dia lebih tertarik menggandeng pak Husein dibanding dirimu. Hahahah.." Ken tertawa kencang.

__ADS_1


Alvin mendengus kesal. Ia mulai memikirkan siapakah pemilik nama Husein itu. Dari Divisi apa? Apakah jabatannya sebagai seorang manager atau hanya karyawan biasa.


Dan seketika matanya membulat. "Pak... Pak Husein security di bawah?" tanya Alvin tak percaya.


Lova mengangguk lalu tertawa lepas. Tawa yang sedari tadi berusaha ia tahan meski Ken sudah membuatnya nyaris kelepasan.


Alvin menepuk keningnya. Ia menyandarkan kepalanya di sofa. Lalu tak lama Alvin berdiri tegak dan menatap Lova.


"Kak. Look at me!" perintahnya sambil menunjuk wajah tampannya itu.


"Yaa..."


"Bukankah level ketampananku ini sangat jauh di atas pria beruban itu, kak?"


Lova mengangguk.


"Bukankah satu banding seribu antara kerutan diwajahku dan wajah pria itu, Kak?"


Lova kembali mengangguk.


"Bukankah hidup bersamaku jauh lebih terjamin, kak?"


Lova kembali mengangguk.


Alvin menggeleng pelan. "Apa ada yang salah dengan matanya, kak?" tanya Alvin lagi. "Tidak bisakah dia melihat sesuatu yang lebih baik dariku dibanding pria itu?"


Ken sudah menggigit bibir bawahnya karen tawa yang berusaha ia tahan. Tangan Lova sedari tadi sudah mencubit pinggangnya menandakan ia harus diam.


Lova mengangkat bahu. "Entahlah. Mungkin ia butuh pria yang lebih dewasa supaya bisa membimbingnya."


"Dewasa itu bisa dilihat dari cara berfikir dan bertindak. Jika usiamu 25 tapi cara fikirmu bisa mengimbangi dirinya. Maka, ku jamin dia akan menjadi milikmu," ucap Lova yakin.


Ia mengenal Rosa dengan baik. Ia tahu gadis itu butuh sosok pria yang bisa menasehati dan melindunginya.Sosok orang tua yang telah lama tidak ada dari hidup Rosa.


Alvin diam. Ia tak mengatakan apapun lagi. Ia menyambar kunci mobilnya, tapi sebelumnya ia menghabiskan kopi buatan Rosa tanpa jeda.


"Benar-benar enak," ucapnya sambil meletakkan kembali cangkir itu.


Ken dan Lova menatapnya yang berjalan keluar ruangan itu.


"Mau kemana, Vin?" tanya Lova khawatit. Ia takut pria itu bertindak aneh-aneh hanya karena terpancing ucapannya dan Ken.


"Menyakinkan gadisku bahwa aku lebih baik dari pria beruban itu!"


"Jangan aneh-aneh!" Ken memperingatkan. Tapi Alvin sudah terlanjur keluar.


"Ken, dia tidak akan macam-macam kan?" tanya Lova khawatir.

__ADS_1


"Semoga saja tidak. Dia sudah banyak belajar dari pengalaman," jawab Ken.


__ADS_2