
"Ken?" Semua orang menatap tak percaya pada pria berkaos putih dan celana pendek selutut berbahan denim itu tengah berdiri di depan pintu kamar yang memang disediakan untuknya.
Wajahnya tidak berubah sejak enam bulan terakhir, namun tubuhnya tampak lebih berisi.
"Peluk aku!" pintanya.
Lova dan Alana berlari mendekati pria itu. Alana bahkan sudah meneteskan air mata. Semua seperti mimpi. Ia bahkan tidak tahu sejak kapan Ken sampai di rumah ini.
Ken memeluk kedua wanita yang berlari kearahnya. "Aku sangat merindukan kalian..." bisik Ken.
"Setiap malam aku memimpikan hal seperti ini. Dipeluk oleh dua wanita yang kutinggalkan dengan berat hati," ucapnya lirih.
"Enam bulan rasanya seperti bertahun-tahun."
"Aku seperti mayat hidup disana. Ragaku berkeliaran kemana-mana tapi hatiku tertawan disini."
"Menunggu kesempatan ini rasanya begitu mahal harganya, Mom."
"Rasa masakan yang tidak akan sama meski aku memasuki puluhan restoran mewah."
"Kehangatan keluarga yang tidak bisa ku rasakan disana. Akhirnya bisa kurasakan lagi."
Alvin dan Brata merangkul bahu Ken disisi kanan dan kiri. Menuntun mereka untuk duduk di sofa. Dua orang wanita yang sama-sama meneteskan air mata itu perlahan ikut berjalan seiring tuntunan Alvin dan Brata dibahu Ken.
"Kamu tidak mengabariku," kesal Lova memukul dada Ken. Gadis itu menyeka air matanya.
"Iya. Kamu juga tidak mengabari Mommy." Alana ikut memukul Ken.
"Sejak kapan kamu ada di rumah ini?" tanya Brata tegas.
"Sejak siang menjelang sore tadi, Pak." jawab Ken. Ia tetap pada pendiriannya, memanggil Brats dengan sebutan Bapak.
Semua orang kebingungan. "Kami tidak melihatmu masuk," lanjut Brata.
"Iya. Aku juga," timpal Alvin.
"Mommy dan Lova juga tidak!" sahut Alana.
"Kamu sekongkol dengan security, Ken?" tanya Lova.
Ken menggeleng.
"Lalu mengapa tidak ada yang melaporkan kepulanganmu?" tanya Brata.
"Karena aku rela memanjat tembok demi memberi kejutan untuk kalian semua." Ucap Ken dengan nada bangga.
"Aku diam-diam masuk ke kamar dan menunggu waktu yang tepat untuk muncul."
Alvin dan Brata menarik telinganya. "Penyusup, ayah!" teriak Alvin dan Brata mengangguk setuju.
"Aduuuh! Tolong lepaskan! Kalian bisa membuat telingaku putus!" Teriak Ken keras.
Alana menarik hidung Ken. "Dia bukan penyusup, tapi maling!"
Lova tertawa melihat Ken yang kesakitan saat diserang ketiganya.
"Lova, help me!"
__ADS_1
"No!" ucap Lova tegas tapi ia menahan tawanya.
"Pleaseee!" Ken memohon dengan suara sengaunya karena hidungnya tertutup rapat akibat ditarik oleh Alana.
Lova terbahak karena merasa lucu mendengar suara Ken. "No!" Lova menggeleng.
"Ayo, bunda! Buat hidungnya merah seperti badut."
"Ayo Vin, ayo ayah! Buat telinganya lebar seperti gajah!" Bukannya marah, Lova malah memberi dukungan semangat pada ketiganya. "Dia pantas mendapatkan hukuman itu."
"Huuuh!" Ken menghirup nafas dalam-dalam. Hidungnya yang semerah tomat itu mengembang dan mengempis dalam ritme cepat.
"Oh, God! Beruntung sekali pinokio yang punya hidung panjang tanpa melewati momen seperti tadi," ucapnya dengan nafas tersengal.
Ia juga memegang telinganya yang sudah berubah warna menjadi merah dan terasa panas.
"Pinikio itu manusia kayu, Kak! Kalau kakak kan batu!" Jawab Alvin membuat mereka tertawa kecuali Ken.
"Sudah, ayo kita makan malam!" Ajak Brata merangkul bahu Ken.
Mereka semua segera berpindah ke meja makan dimana sudah tersaji berbagai menu makan malam.
"Sebagai pelajaran, hal ini menandakan keamanan di rumah kita mudah ditembus siapa saja," ucap Brata kemudian.
"Bukan salah security ayah! Salah malingnya yang sudah hafal betul dengan seluk beluk rumah ini," sindir Alvin.
"Ken, kamu masuk sore tadi, berarti...."
"Ya, suara yang kamu dengar tadi, itu aku." Jawab Ken tanpa ragu.
"Aku melompati pagar dan tidak sengaja membuat pot bunga terguling."
Ken tersenyum geli. "Aku tahu! Wajahmu juga tampak pucat."
***
Ken mengajak Lova untuk bicara di balkon kamar gadis itu. Keduanya sedang melepaskan kerinduan yang selama ini tertahan.
"Aku sangat merindukanmu, Lov!" Ken mendekap tubuh Lova. Ia berdiri dibelakang gadis itu, menghirup aroma manis dari shampo mahal yang gadis itu pakai.
"Aku lebih merindukanmu," jawabnya. "Aku tidak menyangka, sesulit ini tanpamu, Ken!"
"Setiap masalah harus ku selesaikan sendiri, dan untung saja tidak ada masalah besar yang terjadi setelah kamu pergi."
"Kamu akan terbiasa dan menjadi gadis yang jauh lebih kuat," balas Ken.
"Jangan pergi lagi, Ken!" pinta Lova dan Ken tidak menjawab apapun.
Perlahan Lova melepaskan kedua tangan Ken yang melingkar di perutnya. Ia bergeser sedikit kesamping untuk melihat wajah datar yang tidak membalas ucapannya itu.
Keduanya berdiam diri cukup lama. Sama sama terhanyut dalam fikiran masing-masing dengan pandangan kosong ke depan.
"Berapa lama kamu disini, Ken?" tanya Lova yang berdiri disamping Ken dengan kepala yang bersandar dibahu pria itu. Kedua tangan mereka bertumpu pada besi pembatas.
Ken menghela nafas. "Hanya satu minggu, mungkin!" jawab Ken.
Ini sebabnya kamu tidak bisa berjanji, Ken?
__ADS_1
Lova juga menghela nafas panjang. "Tidak bisa lebih lama lagi?" tanyanya.
Kepala Lova terasa bergetar, ternyata bahu Ken yang bergetar karena ia tertawa pelan.
"Aku ingin selamanya. Tapi, aku tidak bisa meninggalkan perusahaan, Lov."
"Lalu bagaimana denganku?" tanya Lova. Ia menarik kepalanya dari bahu Ken. Ia menatap pria itu. "Aku harus menunggumu disini? Sampai kapan?" tanya Lova.
Selama berhubungan jarak jauh, mereka tidak pernah membahas masalah ini. Karena keduanya lebih suka membahas mengenai aktivitas yang mereka lalui.
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, Lov. Aku akan membawamu bersamaku."
"Tidak kali ini, tapi di lain kesempatan."
Lova menatap dalam manik mata Ken, lalu ia kembali menatap lurus ke depan. "Aku tidak bisa ikut denganmu."
Ken memegang kedua bahunya dan membuat tubuhnya mengahadap kearah pria itu. "Kenapa?"
"Katakan kamu mencintaiku, Lov."
"Katakan kamu ingin bersamaku," desak Ken.
Lova diam tapi air matanya menetes perlahan. "Aku ingin Ken!"
"Tapi perusahaan ayahku? Siapa yang akan mengurusnya?" tanya Lova. Ia tidak mungkin meninggalkan perusahaan karena ia adalah satu-satunya pewaris Bratadikara.
Ken diam sesaat. Ia melepaskan tangannya di bahu Lova. "Aku juga punya tanggung jawab disana, Lov."
"Tolong mengertilah!"
"Selama ini, Thomas bisa mengurus semuanya Ken. Dan kamu bersedia berada di sini demi Mommy. Tapi please! Mulai sekarang, tetaplah disini demi aku."
Ken tersenyum kecil. "Ya, tapi situasinya berbeda, Lov."
"Dulu aku dan kamu tidak seperti ini. Dulu aku bekerja di perusahaanmu. Dan sekarang aku bekerja di perusahaanku untuk membahagiakanmu!"
"Aku ingin menafkahimu dengan hasil tetesan keringatku, dengan lelah tubuhku dan aku ingin kamu menjadi wanita yang beruntung karena memiliki suami yang memiliki karier serta nama baik."
Lova berjalan menjauh dari Ken. "Aku tidak ingin membahas ini lagi, Ken. Jika kita tetap pada pendirian masing-masing, maka tidak akan ada jalan keluar."
"Aku tidak akan meninggalkan perusahaan ayah, apapun yang terjadi."
Ken mengusap wajahnya kasar. Bayangan betapa indahnya waktu seminggu yang akan ia lalui bersama keluarga ini sirna sudah. Baru beberapa jam bersama Lova, mereka sudah bertengkar.
Perbedaan pendapat yang menurutnya akan berbuntut panjang. Menghadapi Brata sudah pasti, ditambah lagi Mommy.
Ken menghela nafas. Ia masuk ke dalam kamar Lova dan melihat gadis itu menutup seluruh tubuhnya dalam selimut. Ken tetap berjalan keluar kamar dan menutup pintunya.
Lova membuka selimut sesaat setelah mendengar Ken menutup pintu kamarnya. Air matanya sudah menetes. Enam bulan menanti kepulangan Ken, tapi mereka malah berselisih pendapat begini.
*Apa aku salah jika ingin bertahan disini demi Ayah? Aku tidak mungkin membiarkan ayah kembali bekerja diusianya yang tidak lagi muda.
Ayah...
Bunda...
Aku harus bagaimana? Ikut dengan Ken dan meninggalkan kalian disini atau tetap disisni tapi aku harus rela kehilangan dirinya*?
__ADS_1
Aku mencintaimu, Ken. Ku mohon, mengalahlah demi aku...