
Alvin terkekeh saat melihat wajah Lova memerah bak kepiting. Sedangkan wajah Ken terlihat kesal seperti orang yang kalah taruhan.
Ia tanpa sengaja memergoki dua insan yang terjatuh dari sofa dengan posisi yang ambigu.
Ia tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia yang hendak masuk ke dapur untuk mengambil makanan di kulkas sedikit terganggu dengan suara Lova yang sepertinya sedang memarahi Ken.
Saat ia melihat kearah ruang keluarga, disana terlihat Lova terus memukul Ken dan akhirnya keduanya terjatuh di lantai.
"Urus saja wajahmu yang tidak lagi tampan itu, Vin!" Ia semakin terkekeh mendengar nada suara Ken yang terdengar kesal.
"Aku akan kembali tampan saat lebam dan memar ini menghilang, Kak!"jawabnya. "Tenanglah! Ketampananmu itu akan tetap kalah dariku." Alvin berjalan ke dapur dan memilih untuk memakan cakenya.
Ia menoleh saat melihat Ken juga menyusulnya ke dapur. Pria itu tampak mengambil gelas bersih di lemari dan mengambil air putih dari kran dispenser.
"Menapa kesini?" tanyanya seolah merasa terganggu.
"Dia masuk ke kamarnya karena ulahmu," jawab Ken masih dengan nada kesalnya.
Alvin tertawa tanpa suara. Gadis mana yang tidak akan merasa malu jika kejadiannya seperti tadi, Kak? Batinnya.
"Mengapa jadi salahku? Aku cuma mengatakan apa yang harus ku katakan." Alvin membela dirinya, tak terima atas tuduhan Ken.
"Untung saja aku yang melihat hal itu. Jika Pak Brata apalagi Mommy... Ck! Ck! Ck!" Alvin menggeleng beberapa kali.
"Maka habislah dirimyu, kak." Alvin sok dramatis. Ia membuat kalimat yang ia ucapkan terdengar seolah itu adalah hal yang paling mengerihkan bagi Ken.
Ken diam saja. Ia menyandarkan bok*ongnya di pantry. Apa yang Alvin katakan ada benarnya, meskipun hal itu hanya sebuah kesalah fahaman. Namun, siapa yang melihat itu pasti berfikir negatif tentang keduanya.
"Tapi jujur saja, sebenarnya aku berharap pak Brata yang melihat kalian tadi." Ken melirik tajam pada Alvin yang berdiri di dekatnya dengan mulut terus bergerak mengunyah cake.
"Senang sekali kamu saat melihatku dalam masalah besar." Sindir Ken.
Alvin menyeringai. "Ayolah kak. Semua masalahmu sudah selesai. Proses hukum sudah ada yang mengurus. Sekarang saatnya memikirkan hatimu, perasaanmu dan masa depanmu." Alvin menggerak-gerakan tangannya di udara entah apa maksudnya.
"Aku hanya kasihan pada keponakanku kelak." Ken menatap Alvin. Ia menunggu adiknya itu melanjutkan ucapannya.
"Masih kecil, tapi Daddynya sudah tua." Alvin tertawa pelan. "Aku khawatir saat kamu mengantarnya ke sekolah TK, maka guru-gurunya akan mengira ia diantar oleh opanya."
Ken semakin menatapnya tajam. Alvin mana peduli, ia akan tetap terus bicara bahkan jika Ken memegang garpu dan sendok, bersiap untuk melahapnya.
"Usia kakak sudah 30 tahun. Teman sekolahmu bahkan ada yang sudah punya dua anak kak."
"Lova juga sepertinya tidak membencimu."
__ADS_1
"Tidak membenci bukan berarti mencintai, Vin. Kamu sudah dewasa, please! Ubah cara fikir kamu yang menganggap semua itu mudah dan sederhana."
"Belajar dari pengalaman, karena kamu menganggap remeh musuh, kita semua hampir kehilangan nyawa!" Sindiran telak bagi Alvin.
Ia sadar akan kesalahannya. "Ya, sorry. Kali ini aku mengaku salah!"
"Kamu memang salah!" Ken berjalan meninggalkan Alvin.
"Tapi aku sudah mendapat ganjarannya, Kak!" Alvin menyusul Ken. Mereka berjalan berdampingan.
"Apa yang kamu dapat?"
Alvin menunjuk wajahnya. "Lihat! Aku yang paling mendapat luka parah, belum lagi luka akibat cambukan itu kak. Punggungku seperti habis di cakar harimau."
Ken tertawa sambil meraih bahunya. Ia melingkarkan lengannya. "Aku justru berharap, harimau itu menelan kepalamu bulat-bulat!"
Alvin juga tertawa. "Hanya ular phyton yang menelan mangsanya tanpa mengunyah kak."
Ken tertawa. "Iya kah? Apakah harimau tidak menelan mangsanya bulat-bulat?"
Alvin tertawa lagi. "Apa gunanya taring yang tajam itu jika dia langsung menelan mangsanya?"
"Mungkin saja harimau yang memangsamu giginya ompong."
"Aku akan tidur." Alvin membuka pintu kamarnya.
"Tidurlah, kak!" ucapnya kemudian. "Jangan lupa, fikirkan semua ucapanku saat di dapur tadi pak Tua. Hahahah!" Alvin langsung menutup pintu sebelum Ken mencekik lehernya.
Ken menggeleng pelan. Ia berjalan ke kiri karena disana kamarnya berada. Ia langsung mengambil posisi berbaring di ranjang.
Ia mengambil ponsel di sakunya. Ia melihat banyak pesan masuk. Satu persatu pesan ia baca. Semuanya adalah kabar baik.
Puluhan anak berhasil diselamatkan pihak berwajib di ujung barat, Pak.
Ken bernafas lega. Ternyata dengan mengubah semua rencananya ia mendapatkan kemudahan. Awalnya ia berencana meringkus dan mengungkap bisnis haram milik Tuan Hendrico dengan tangannya sendiri. Tapi mendadak ia lebih memilih memberikan semua informasi yang ia miliki pada pihak berwajib dan membiarkan mereka yang mengurusnya.
Sindikat pengedaran narkotika dibawah naungannya kembali tertangkap di jalur darat di wilayah Xx.
"Satu lagi bukti akan memberatkan hukumanmu, Paman Juan!"
"Aku berharap setelah ini, tidak ada lagi dendam berkelanjutan di antara kita."
"Semoga keturunan kita kelak tidak melanjutkan permusuhan ini."
__ADS_1
Ken menghela nafas berat, biar bagaimanapun ia tetap merasa khawatir.
Satu pesan dari nomor yang tidak ia kenal. Ken membacanya sambil mengernyitkan kening.
"Aku ingin kita bertemu besok di restoran Xx jam 11 siang."
"Aland."
Ken tersenyum pahit melihat nama Aland tertulis di bagian bawah pesan.
"Untuk apa, Aland? Jika untuk membuat hukuman ayahmu meringan, ku rasa tidak akan mungkin ku lakukan."
Ken menghela nafas. "Apa ini akan jadi awal rantai balas dendam lagi?"
"Aku baru saja memikirkan hal itu dan sepertinya tanda - tandanya mulai muncul."
***
Lova tidak bisa tidur. Ia terus membuka dan menutup wajahnya dengan selimut. Kejadian memalukan dan sialnya dipergoki oleh Alvin membuatnya hampir gila.
Bagaimana bisa kami terjatuh dengan posisi seperti itu?
Ia langsung pergi meninggalkan Ken sesaat ia berhasil bangun dari atas tubuh pria itu. Rasa malu dan berdebar bercampur jadi satu.
Itu memang salahnya yang mendorong Ken hingga terjatuh, tapi apakah Alvin peduli dengan alasannya? Lova rasa tidak. Alvin bukan pria yang berfikir kritis. Ia hanya memikirkan apa yang ia lihat dan dengar. Isi kepalanya hanya untuk berfikir sederhana dan praktis.
"Ck!" Decak Lova. "Ku harap pria bermulut bocor itu tidak mengatakan apapun pada ayah dan bunda." Ia berharap hal itu tidak terjadi.
"Atau aku tidak akan bisa menegakkan wajahku saat sarapan esok hari."
"Huh!" Lova menghembuskan nafas kasar. "Lebih baik aku tidur saja."
Sesaat setelah ia memejamkan mata, ia mendadak teringat akan sesuatu.
"Mauren?" Ia kembali membuka matanya. "Bagaimana keadaannya? Dia dimana sekarang?" Lova sedikit khawatir karena tidak mungkin gadis itu bisa masuk ke rumah karena pihak berwajib masih melakukan penyelidikan di rumah itu.
Lova menyibakkan selimutnya dan ia berjalan keluar kamar. Ia menujun kamar seseorang. Lova mengetuk pintu kamar itu dan...
"Astaga!" Lova terkejut.
"Eh!" Ken juga terkejut.
***
__ADS_1