ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 89 Hari H Pernikahan


__ADS_3

"Jangan terlalu banyak bercermin Ken! Bayangan itu tidak akan berubah sama sekali." Seorang pria yang duduk di atas ranjang, terlihat rapi dengan setelan celana bahan berwarna hitam dan kemeja berwarna biru muda itu mengomentari pria berpakaian lengkap yang sudah hampir 20 menit terus menghadap ke cermin.


"Berhenti mengolok-oloknya, Thom!" Sambar Alvin yang sedang duduk di sofa. Pria itu juga sudah berpakaian rapi dengan kaos putih dan blazer hitamnya.


"Kamu tidak akan pernah tau betapa berdebarnya saat akan bertemu orang yang kamu cintai, padahal baru sehari tidak bertemu."


"Terlebih, saat bertemu nanti dalam hitungan menit, gadis itu akan langsung menjadi milikmu." lanjut Alvin.


Thomas mencebikkan bibir. "Jangan curhat!" kesal pria itu.


"Hahaha..." Ken tertawa. "Lihat, Vin! Thomas saja bisa menebak bahwa kamu menceritakan perasaanmu sendiri. Berdebar karena ingin bertemu Rosa, uh!" Ken mengejeknya. Pria itu duduk di kursi rias menghadap kedua saudaranya.


Alvin membenarkan dalam hatinya. Ia ketar ketir karena momen pernikahan Lova dan Ken ini menjadi momen yang pas untuknya bisa menggandeng Rosa dan menjadikan gadis itu partnernya.


Namun sayang, Rosa masih teguh pendirian. Kemarin, iseng-iseng Alvin menawarinya untuk pergi bersama, tapi gadis itu menolak karena Clara akan menjemputnya.


"Ck! Kalian tidak tahu rasanya jadi aku. CEO muda menjomblo dan datang sendirian ke acara pernikahan saudaranya."


"Aku khawatit berita itu akan menjadi trending topik dibanding pernikahanmu, Kak!"


Ken mengulum senyum. "Dasar! Kamu tidak seterkenal itu hingga media akan menyorotimu, bod*h!"


"Hahahah.." Thomas puas tertawa. "Baru kali ini ku lihat kamu begitu frustasi hanya karena seorang gadis, Vin!"


Thomas berdiri, ia merapihkan rambutnya. "Aku akan mencoba untuk mengajaknya!" Alvin menatap tak suka.


"Aku ingin tahu, sesulit apa menaklukkan gadis itu!"


"Berani mendekat, kepalamu akan terpisah dari tubuhmu, Thom!" ancam Alvin.


"Ck! Tandanya kamu takut bersaing denganku!" Thomas keluar dari kamar.


"Thomaaaass! Aku akan mencin-cang tubuhmu dan akan kuberikan pada ikan koi di rumah kak Lova!"


Pintu dibuka dan Thomas mengintip, "Koi makan pelet, Vin!" Lantas pria itu terkekeh.


Alvin melempar bantal sofa ditangannya. "Pergi sana! Dasar perusuh!"


Ken tertawa kecil. "Jangan mentertawakanku!" Sentak Alvin. Lalu ia keluar dari kamar itu.


"Kalian sama saja. Bukannya membantuku malah membuat moodku hancur!" gumam Alvin.


Ken terdiam, di kamarnya yang sunyi ini. Ia melihat langit-langit kamarnya, hanya untuk menahan tetasan air mata yang nyaris menetes.

__ADS_1


"Jika suasana haru yang akan mengantarkan calon pengantin pria ke akad nikahnya, maka berbeda denganku. Pertarungan dua kucing yang menjadi awal perjalanan rumah tanggaku." gumam Ken pelan.


"Ma, Pa... Aku akan menikah!" Ia tersenyum kecil menatap sepasang suami istri yang tersenyum padanya dibalik bingkai foto.


"Doakan aku agar semuanya berjalan lancar. Semoga rumah tanggaku diberkahi dan langgeng hingga maut memisahkan kami."


Sentuhan lembut di bahu Ken membuatnya menoleh. "Sudah siap, Ken?" tanya seorang wanita yang mirip dengan mendiang mamanya.


"Sudah, Bibi." Ya, wanita itu adalah Mommynya Thomas.


Sementara itu di rumah Bratadikara....


"Doakan Lova, ayah, bunda." Lova mencium punggung tangan kedua orang tuanya.


"Pasti, Nak!"


"Bahagialah, doa dan dukungan ayah tidak pernah terputus untukmu."


"Bunda juga selalu mendoakanmu. Bahagialah bersama Ken, sayang!"


"Jadilah istri yang berbakti pada suami. Jadilah istri yang bisa menjaga harkat dan martabat suamimu," ucap Alana tulus.


Suasana haru itu harus terhenti karena Brata dan Alana harus menyambut tamu yang datang. Meski hanya teman dekat, saudara dan warga sekitar, ruang tamu rumah itu lumayan ramai.


Alana menyambut kedatangan Ken. "Putraku!" pelukan hangat ia berikan pada Ken yang tampak gagah itu.


Alana mengurai pelukannya. "Selalu, Ken."


Alana mengecup kening pria yang kini menundukkan kepalanya itu. *Terima kasih banyak Ken. Kamu orang yang begitu berjasa bagiku. Aku tidak tahu bagaimana caranya membalas semua kebaikanmu.


Aku menganggapmu sebagai putraku, dan dengan pernikahan ini, aku mengikatmu, Nak! Aku benar-benar menjadikanmu sebagai putraku, menjadi bagian dari keluargaku.


Berbahagialah sayang*!


Sementara itu, Thomas menyikut lengan Alvin. Dagunya menunjuj arah jam 3 dan tampaklah gadis cantik dengan kebaya berwarna softblue. Gadia cantik yang duduk bersama Clara, Mauren dan Mauza.


Alvin sempat terpesona dengan paras Rosa yang tampak berbeda kali ini. Namun ia tersadar karena Thomad juga sedang menatap kearah yang sama dengannya.


"Berani mendekat, maka kamu tidak akan selamat!" bisik Alvin.


Sementara Thomas sedang tersenyum pada gadis cantik yang sedang melihat kearahnya dan mengangguk kecil lalu tersenyum tipis.


"Manis sekali," gumamnya tanpa sadar membuat kepala Alvin terasa berasap.

__ADS_1


"Thoooom!" geram Alvin.


"Ck! Diamlah, Vin!" gumam Thomas tanpa mengalihkan pandangannya.


"Aku sedang mengagumi bidadari yang baru turun dari langit!"


"Dia milikku!"


"Ck! Serakah sekali!" Gumam Thomas lagi. Ia kembali tersenyum kecil.


Alvin meliriknya dan bergidik ngerih! Dan saat melihat kembali kearah jam 3 ternyata Thomas tengah saling melempar senyum dengan Mauren.


"Dia lebih cantik dari Rosamu, Vin!" gumam Thomas.


Thomas mendekat ke telinga Alvin dan berbisik. "Lengkungan bibirnya saja sudah berhasil membuat juniorku bangun!"


Alvin menatap tak suka pada Thomas yang sedang menaik turunkan alisnya itu.


"Dasar brengs*k! Tidak ada yang lain diotakmu selain memanjakan junior yang hanya sejengkal itu?" bisik Alvin geram.


***


Acara segera dimulai. Brata dan Ken duduk berhadapan. Sementara di samping Ken ada Lova yang terlihat cantik dengan kebaya putihnya.


Ijab kabul akan dimulai, semua tamu sudah duduk di kursi mereka masing masing.


Brata menatap wajah calon menantunya. Ia bisa melihat ada guratan kegugupan di wajah pria yang telah ia kenal sejak bertahun tahun lalu itu.


"Jangan gugup, Ken!" Bisik Brata. "Releks dan semua akan berjalan lancar." Ken tersenyum kecil dan mengangguk.


Lova melirik pria disampingnya yang sedari tadi tidak menyapanya sama sekali, apalagi memujinya.


"Baiklah, kita akan mulai caranya. Silahkan, Pak!" Penghulu mempersilahkan Brata untuk memulai kalimat ijabnya.


Lova begitu berdebar kala tangan Brata dan Ken susah saling berjabat. Entah mengapa rasanya semenyesakkan ini. Pria yang dulu selalu ada untuk menolong dan mengurus setiap masalah yang ia timbulkan, kini dalam hitungan menit akan menjadi suaminya.


Ken menghela nafas panjang, ia sudah latihan berkali kali di apartemennya, namun entah mengapa lidahnya begitu kelu. Ia hanya bisa berpasrah diri pada sang pencipta semoga lidahnya bisa diajak kerjasama, begitu juga jantungnya yang mendadak menjadi kurang ajar begini. Berdebar tak berirama.


Menghadapi Hendrico, ia tidak takut. Menghadapi dan berbicara dengan klien penting, ia masih bisa santai. Tapi hanya dijabat tangannya oleh Brata berhasil membuat keringat di punggungnya mengalir deras.


Pria di depannya hampir selesai mengucapkan kalimat ijab dan Ken susah bersiap menjawab dengan kalimat kabul. "..... dengan mas kawin logam mulia seberat 55 gram dibayar tunai..."


"Saya terima nikah dan kawinnya Alova Bratadikara binti Bratadikara dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai..." ucap Ken dalam satu tarikan nafas.

__ADS_1


Kata sah dan diiringi doa oleh pak penghulu seolah berhasil melepaskan semua beban yang Ken rasa. Ia menghela nafas lega dengan telapak tangan yang terbuka dan menengadah keatas, karena ia tengah berdoa.


Lova juga melakukan hal yang sama. Satu menit paling mendebarkan sepanjang hidupnya. Ia bahkan menahan nafas tadi. Ia bersyukur, ayahnya dan Ken berhasil menyelesaikan semua ini.


__ADS_2