ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 32 FlashBack


__ADS_3

Setelah kepergian Mariska, Lova dengan langkah gontai menghampiri wanita yang sangat mirip dengan almarhumah bundanya.


Ken dan Alvin melepaskan pelukan mereka terhadap Mommy Anna saat melihat Lova berjalan mendekat.


Ken dan Alvin berdiri disamping wanita itu. Lova semakin mendekat dan perlahan tangan lembutnya menyentuh pipi Mommy Anna.


Air mata tak henti menetes di tebing pipi kedua wanita itu. Lova mengusap wajah itu, alis, bibir, mata dan semuanya masih sama. Hanya terlihat sedikit kerutan dibagian ujung mata dan keningnya.


Mommy Anna memejamkan mata merasakan kelembutan sentuh*an putri tercintanya.


"Bun..da..." ucap Lova terbata dengan suara pelan. Ia tidak lagi dapat membendung kerinduan dan rasa tidak percayanya.p


Mommy Anna perlahan membuka matanya. Wajah sang putri yang sudah basah karena air mata itu membuat dadanya kian sesak hingga dengan sendirinya kedua tangannya terbuka lebar mengundang Lova untuk masuk dalam pelukannya.


Mommy Anna mengangguk berkali-kali. "Iya... ini bunda sayang!"


Lova langsung masuk dalam pelukan hangat itu. Semua kerinduan, dan rasa kehilangan seketika berubah dengan rasa syukur penuh kebahagiaan.


Ini sulit dipercaya. Ia menyaksikan sendiri bagaimana jasad tak dikenali itu di makamkan dengan nisan bernama Alana Pradita.


Mommy Anna sungguh sudah tidak sanggup lagi berkata-kata. Berhari-hari melihat wajah Lova namun tak bisa ia dekap sebagai anaknya membuat dirinya merasa tersiksa.


"Mengapa bunda tidak pernah pulang? Mengapa bunda tidak pernah melihat Lova?" Isak gadis itu membuat Brata tak urung ikut mendekat dan mengusap punggung putrinya.


"Bunda... Hiks... hiks... hiks..."


"Bunda, mengapa bunda begitu tega?"


Mommy Anna bingung harus menjawab apa. "Maafkan bunda, sayang! Maafkan bunda!" Ken mengusap punggung Mommy Anna. Ia mencoba menenangkan wanita itu.


Setelah cukup lama berpelukan melepas rindu. Ken membawa mereka duduk di sofa. Semua asisten rumah tangga bahkan duduk di lantai dan enggan meninggalkan ruangan itu karena ingin mendengar cerita Mommy Anna yang menghilang selama 13 tahun.


Mauren sudah pergi ke kamarnya semenjak Mariska keluar dari rumah itu. Ia tidak ingin melihat kejadian apapun lagi. Karena cukup baginya semua kejutan hari ini.


"Bunda akan ceritakan kejadian 13 tahun lalu."


"Saat itu, bunda dan kakakmu-Attala akan pergi menyusul Ayah ke sebuah proyek di daerah puncak." Wanita itu memulai ceritanya.


"Saat itu perusahaan ayah mulai berkembang."


"Kamu ingat, Kan sayang? Saat itu kamu sedang ujian di sekolah dan tidak bisa ikut?"


Lova mengangguk. Dia jelas sangat ingat kejadian itu.


Flashback On


"Bunda, untuk apa kita menyusul ayah? Bukankah ayah bisa pulang sendiri?" tanya Attala yang sedang duduk di kursi sebelah Alana yang tengah mengemudi.


Mereka tidak hanya berdua, karena di kursi belakang ada seorang wanita seusia Alana menumpang di mobilnya. Mereka bertemu saat Alana berhenti disebuah warung untuk membeli minuman.


Alana tidak mengenal wanita itu. Tapi yang pasti wanita itu punya tujuan yang sama dengannya hingga dengan senang hati Alana memberi tumpangan pada wanita itu. Dari pada menunggu angkutan umum yang jarang sekali lewat.


"Kamu kenapa? Ada janji sama teman kamu? Atau pacar?" canda Alana pada putranya yang sudah berusia 17 tahun itu. Wanita di kursi belakang itu ikut tertawa.


Ia sengaja meminta di temani oleh Attala agar putranya itu bisa menggantikannya mengemudi saat ia lelah.

__ADS_1


"Bukan begitu, Bun! Tapi ini bukan kebiasaan bunda loh!" Attala memilih memejamkan matanya.


"Ck! Kamu mengantuk? Tidurlah! Sebentar lagi kita sampai." Attala lantas memilih untuk tidur.


Ditengah perjalanan, Alana mengerem mendadak kala mobilnya sedikit menabrak pria bertubuh kurus yang berjalan sempoyongan dengan membawa kayu bakar. Alana dan wanita yang menumpang dikursi belakang langsung turun dan membantu pria itu. Sementara Attala masih tertidur di dalam mobil.


Flashback Off


(*kita ceritakan versi Alana aja ya 😊)


"Bunda dan wanita yang menumpang bersama kami membantu pria kurus itu berdiri." Alana memandang lurus kedepan. Ia mencoba mengingat kembali kepingan memori yang sebenarnya sempat hilang.


"Pria itu berterima kasih dan bunda memberinya sedikit uang yang bunda simpan di tas yang masih bunda pakai. Karena bunda melihat lututnya berdarah. Bunda harap uang itu bisa dia gunakan untuk berobat."


"Kami berdua kembali ke mobil dan melihat Attala masih tertidur." Alana tertawa pelan.


"Kakakmu itu memang si tukang tidur. Dia tidak akan bangun kalau belum diteriaki seperti maling."


Lova ikut tertawa. Apa yang Bundanya katakan memang benar. Dulu, Attala memang paling sulit dibangunkan untuk sekolah.


"Bunda kembali mengendarai mobil dan tepat di sebuah tanjakan berkelok, tiba-tiba rem mobil yang bunda kendarai tidak berfungsi." Lova membulatkan mata mendengar cerita selanjutnya.


"Bunda menjerit." Alana mengusap air mata mengingat kejadian mengerihkan dalam hidupnya.


"Mobil seketika terjun ke jurang. Bunda membuka sabuk dan Attala juga tampak panik."


Lova sampai memejamkan mata. Ia tak sanggup membayangkan situasi yang terjadi kala itu. Bagaimana paniknya ketiga penumpang dalam mobil itu.


"Dia... " wanita itu terisak. "Dia memanggil bunda berkali-kali. Tapi ditengah kepanikan bunda berhasil membuka pintu mobil."


"Bunda berhasil berpegangan pada batang pohon. Bunda menyaksikan bagaimana mobil itu berguling beberapa kali dan akhirnya terbalik dan meledak!" Ia terisak. Bahunya terguncang hebat.


"Bunda menjerit kala menyadari Attala belum berhasil keluar!"


"Attala putra bunda." Ia tersenyum kecil mengingat wajah putranya.


"Attala hebat yang tidak bisa selamat."


"Lalu apa yang terjadi, setelahnya Bun?" Ia mengusap rambut Lova yang sedari tadi memeluk lututnya. Kini dagu Lova bertumpu di lututnya. Masih ingin mendengarkan kenyataan pilu yang ia tidak ketahui.


"Bunda berusaha naik ke atas dan mencari pertolongan dengan tenaga yang tersisa. Tapi bunda terperosok ke dalam jurang dan tidak sadarkan diri."


Lova menggenggam tangan yang mulai keriput itu mencoba memberi kekuatan.


"Lalu apa yang terjadi, bagaimana bunda bisa selamat?" tanya Lova penasaran.


Mommy Anna menatap Ken dan Alvin. "Ken dan rombongannya yang menemukan bunda."


"Ken?" Lova menatap Ken dan Bundanya bergantian.


"Ken di dasar jurang?"


"Dia sedang apa, bun?" tanya Lova keheranan.


Wanita itu mengusap kepala Lova. "Dia dan rombongannya sedang berusaha menyelamatkan diri dari musuh, sayang!"

__ADS_1


Menyelamatkan diri dari musuh? Batin Lova heran.


"Bunda berterima kasih pada mereka, karena disaat sedang kesulitan, mereka masih mau menolong bunda." Wanita itu menangkup pipi Ken.


"Terima kasih, Ken," ucap Lova tulus.


Ken tersenyum dan mengangguk. "Tapi penderitaan Mommy belum berakhir."


Lova menatap Ken seolah menuntut pria itu untuk bercerita.


"Mommy mengalami amnesia akibat benturan di kepalanya."


Lova menutup mulut tak percaya. Ia beralih menatap wanita yang melahirkannya itu.


"Mommy kami rawat dengan peralatan seadanya."


"Hingga beberapa hari kami bersembunyi, akhirnya bantuan datang dan kami membawa Mommy ke luar kota dan memberinya perawatan medis."


"Lalu, berapa lama bunda kembali bisa mengingat?" tanya Lova.


"Hampir 2 tahun. Mommy ikut denganku dan Alvin serta orang-orang kepercayaan kedua orang tuaku."


"Kami pindah negara dan mengganti identitas kami."


"Karena terus mendesak. Mommy akhirnya kami antarkan pulang ke sini!"


"Tapi, Mommy mendapati sebuah kenyataan bahwa Bapak sudah menikah lagi dan itu menyakiti hati Mommy." Ken mengusap bahu Mommy Anna.


Brata menghela nafas berat. Ia merasa bersalah karena telah menikahi Mariska dan tidak mengetahui kepulangan Alana.


"Mommy akhirnya kembali bersama kami, menjalani hidup sebagai orang tua kami dan membangun bisnis demi bisa kembali dengan rasa percaya diri yang tinggi."


"Kamu tahu Lova?" tanya Ken.


"Saat kembali kala itu, Mommy sendiri yang mendengar bahwa kecelakaan itu adalah ulah Mariska."


"Bunda...?" Lova menatap bundanya.


Wanita itu mengangguk. "Tapi bunda tidak punya bukti, sayang!"


"Bunda tidak punya keberanian untuk datang, terlebih saat itu bunda mengetahui bahwa bunda dinyatakan telah tiada. Padahal itu bukan jasad bunda."


Brata mengusap wajahnya berkali-kali. "Itu salah ayah!"


"Ayah tidak ingin jenazah kalian diotopsi." Brata terisak. Ia menyesal mengapa ia tidak menolak untuk mengotopsi jenazah yang sudah terbakar itu.


"Ayah..." Lova berpindah duduk dan memeluk Brata.


"Ini bukan salah ayah..."


"Yang terpenting, keajaiban ini telah membawa bunda kembali."


"Ini sulit dipercaya, tapi aku yakin bahwa wanita yang ada di depan kita adalah bunda."


***

__ADS_1


__ADS_2