ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 95 Mauren Dan Thomas


__ADS_3

"Sebelumnya, terima kasih... Anda dan Tante bersedia repot-repot mengantar saya pulang. Padahal harusnya saya masih bisa naik taksi online," ucap Mauren sungkan. Ia sedang duduk di samping Thomas sementara wanita seusia Alana sedang duduk di kursi belakangnya.


"Tidak masalah. Kebetulan, juga searah," jawab Thomas.


Thomas melirik spion dan melihat Mommynya juga tengah menatap tajam dirinya dari cermin.


Mata itu seolah memperingatkan Thomas agar tidak main-main dengan gadis disebelahnya.


"Tidak masalah, Mauren. Jangan sungkan. Kita kan juga masih kerabat." Thomas menelan ludah saat mendengar Mommynya menekankan kata kerabat.


Mauren tersenyum sungkan. Ia sebenarnya enggan pulang bersama Thomas. Tapi mau bagaimana lagi, karena Brata dan Alana langsung meminta pada Thomas untuk mengantarkannya.


Ia berangkat ke pesta bersama Mauza dan Aland. Namun, saat pesta selesai, Aland mendapat kabar bahwa ada yang berusaha membobol perusahaan perhiasannya. Aland dan Mauza langsung menuju tempat itu sementara dirinya memilih untuk naik taksi. Tapi, malah berakhir seperti ini.


"Belok ke kanan, Pak!" perintah Mauren karena Thomas belum hafal jalanan di kota ini. Thomas hanya bermodalkan maps di ponselnya.


"Saya lihat maps, Mauren. Jangan khawatir. Kita tidak akan kesasar," jawab Thomas sok cool.


Seandainya Mommy tidak berada dalam mobil ini. Aku pasti akan lebih bebas berbicara dengan Mauren! Lagi pula, bukannya menginap saja di hotel, malah ingin ikut pulang denganku! Keluh Thomas dalam hatinya sambil melirik wanita yang pura-pura tertidur di kursi belakang.


"Bicara saja, Thom. Jangan sungkan! Anggap Mommy tidak dengar!"


Mauren sampai menoleh ke belakang, karena ia tidak mengerti maksud wanita itu. Mengapa tiba-tiba menyuruh Thomas bicara dan menganggap dirinya tidak mendengar.


Sh***it! Dia bahkan bisa menebak kata hatiku.


"Tidur saja, Mom. Aku tahu Mommy mengantuk!"


"Makanya kamu bisa bicara sesukamu. Karena Mommya akan tidur."


"Mana ada orang tidur, tapi masih bisa bicara lancar seperti ini, Mom!"


Thomas dan Mommynya saling balas dan itu membuat Mauren sedikit geli.


"Diam! Mommy akan tidur."


Thomas dan Mauren kompak tertawa tanpa suara. Thomas yang tak sengaja melihat wajah Mauren mendadak merasa panas dingin. So beautiful.


"Jangan dengarkan, Mauren! Aku biasa berdebat seperti ini dengannya!"


Mauren mengangguk. Ia melihat lurus ke depan dan sejenak ia mengingat Mariska-mamanya yang sedang mendekam di penjara.


Ma, seandainya saja dulu kita hidup seperti ini. Seperti yang aku dan Mauza jalani. Mungkin kita tidak akan terpisah begini.


Aku dan Mauza hidup sederhana, tidak memikirkan gaya dan gengsi. Kami hidup apa adanya, menabung sebanyak-banyaknya dan bersyukur atas apa yang kami punya.


Dan kebaikan mengalir deras, Ma. Kebaikan Aland, kak Lova, Ayah Brata dan semua orang disekeliling kami. Padahal dulu, kita telah berbuat jahat pada mereka. Tapi, mereka membalas kami dengan kebaikan.


Ma, suatu saat nanti, aku yakin mama akan sadar bahwa apa yang mama ajarkan pada kami, adalah kesalahan besar. Mama tanamkan kebencian dan kelicikan.


Kami sudah memilih jalan kami, Ma. Membuang semua apa yang mama ajarkan dan menjadi diri kami yang baru.


Berada diantara mereka sungguh membahagiakan ma. Tidak ada iri, dengki dan ingin menguasai.

__ADS_1


Ma...


Kelak, jika mama keluar dari tempat itu, Mauren mohon berjanjilah untuk bisa berubah dan hidup normal bersama kami*.


"Kamu memikirkan sesuatu?" tanta Thomas saat melihat Mauren seperti tengah melamun.


Mauren menatapnya sekilas dan menggeleng. "Tidak. Hanya sedikit mengantuk."


"Kalau begitu, tidurlah."


"Lima menit lagi sampai, Pak!" sahut Mauren.


"Ya, jika dalam lima menit kamu tertidur, aku akan membawamu langsung ke Australia."


Mauren melihat wajah serius Thomas. "Anda ingin menculikku?"


"Tidak! Aku hanya ingin menawanmu dan menjadikanmu sebagai istriku!" jawab Thomas enteng.


Mauren melihat bayangan wanita yang tidur di kursi belakang. Ia khawatir obrolan mereka di dengar wanita itu.


"Jangan khawatir. Mommyku tidak akan peduli kita bicara apa."


"Dia sudah masuk ke dunia mimpi!".


Mauren diam saja.


"Mungkin ini terlalu cepat, tapi aku mengatakan yang sebenarnya."


"Aku tertarik padamu!"


Thomas begitu menggoda, memang benar. Tapi pria ini sudah membahas mengenai pernikahan. Dan bagi Mauren, syarat untuk bisa membangun rumah tangga bukan hanya karena pria ini begitu menggoda.


Ada banyak hal yang harus di fikirkan. Lagi pula ia masih ingin bekerja. Ia masih harus menabung dan membeli rumah. Minimal untuknya dan Mariska kelak.


"Berhenti disini saja, Pak!" pinta Mauren. Mereka memang sudah masuk ke kawasan apartemen mewah yang Thomas sendiri tidak percaya Mauren memiliki unit disini.


"Kamu tinggal di sini?" Mauren mangangguk. Ia membuka seatbeltnya.


"Sendiri?" tanya Thomas lagi.


"Tentu tidak. Aku tinggal dengan adikku."


Thomas mengangguk. "Apartemen yang kami tinggali adalah milik Aland Hendrico, pria yang bersama adikku tadi!"


Pria itu? Dia memberikan atau menyewakannya?


Ah, tidak mungkin dia menyewakan apartemennya. Dia kan orang kaya. Lagi pula Mauza kan kekasihnya*.


"Terima kasih, Pak atas tumpangannya. Selamat malam!"


"Selamat malam." Thomas langsung mengemudikan mobilnya menuju apartemen yang ia tinggali untuk sementara.


"Apartemen ini lebih mewah daripada milik, Ken!" Wanita di kursi belakang membuat Thomas terkejut.

__ADS_1


"Astaga, Mommy! "


"Cepat sekali Mommy bangun? Kita belum sampai, Mom!"


"Mommy tidak tidur," jawab wanita itu sambil melipat tangannya di dada.


"Oh, God. Sesuai dengan dugaanku!" Keluh Thomas.


"Caramu kurang gantle!"


"Cara apa?" tanya Thomas.


"Ya, caramu melamar gadis itu, jadi apa lagi?"


"Aku belum melamarnya, Mom. Aku masih menyatakan perasaanku padanya. Lagi pula sepertinya dia tidak tertarik denganku!"


"Jelas!" sahut wanita itu cepat. "Jelas dia tidak tertarik denganmu, buaya darat!"


"Caramu mengajaknya menikah, seperti mengajaknya membeli kerupuk."


"Harusnya, siapkan cincin dan lamar dia di depan tamu undangan Ken tadi!"


"Dia akan diam dan mengangguk! Dia tidak mungkin mempermalukanmu di depan kolega Brata. Dia juga tidak mungkin mempermalukan Brata. Semua orang tahu dia putri sambung Brata. Dasar, bod*h! Begitu saja harus Mommy yang mengajari!"


"Mommy sendiri yang melarangku..."


"Mommy melarangmu agar tidak main-main. Bukan melarangmu melamarnya!"


"Mommy setuju aku bersamanya?" tanya Thomas senang.


"Tentu!" sahut Mommynya cepat.


"Dia lebih baik dari gadis-gadismu disana!"


"Rebecca, kalau bukan karena implan di dadanya, miliknya itu susah entah sepanjang apa."


"Ku yakin g**oa miliknya juga sudah seperti trowongan. Menjadi hilir mudik masuknya senjata para pria."


"Begitu juga Jeslyn, Jein, dan gadis gadis yang pesan chatnya selalu masuk ke ponselmu!"


Thomas terkejut mendengar Mommynya menyebut deretan mantan-mantan pacarnya yang terkadang masih mengirim pesan chat dan mengajaknya menghabiskan malam panas bersama.


Thomas memang sering menolak, tapi sesekali ia juga pernah khilaf juga.


"Mommy memeriksa ponselku?"


"Tentu! Karena Mommy tidak ingin menantu yang hanya taunya membuka paha diatas ranjang lalu meminta uang kepadamu!"


"Wanita itu minimal harus bisa memasak, dan mengurus dirimu!"


"Dan ku harap juga bisa mengurusku nanti. Awas saja kalau kamu berani melemparkan Mommy ke panti jompo! Mommy akan mengutukmu menjadi batu."


Thomas mengehala nafas. Ia tidak menduga Mommynya tahu kelakuannya. "Ya, Mom. Mulai sekarang aku akan mencari wanita yang bisa memasak dan melakukan semuaya sesuai kriteria menantu idaman Mommy."

__ADS_1


****


__ADS_2