ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 58 Nikahkan Saja!


__ADS_3

Pukul 2 malam, Muaza terbangun. Ia perlahan membuka mata. Kepalanya terasa pusing hingga ia memijat keningnya pelan.


Ia langsung terduduk begitu mengingat apa yang telah terjadi sebelum akhirnya ia tidak sadarkan diri.


Saat masuk ke dalam kamarnya, ia melihat ada dua orang pria sudah berada di dalam. Ya, Mauza memang tidak mengunci kamarnya saat ia berada di luar.


Awalnya ia hanya duduk di teras dan saat melihat Aland berenang tak tentu arah, melaju begitu cepat dan sesekali menenggelamkan kepalanya lalu muncul lagi di permukaan membuat Mauza yakin pria itu tengah berusaha mengalihkan beban fikirannya.


Biar bagaimanapun pasti Aland memikirkan nasib Daddynya. Hingga Mauza berinisiatif membuatkan pria itu kopi.


Mauza memeriksa pakaiannya bahkan ia membuka bajunya. "Huuh!" Dia bernafas lega karena sepertinya tidak ada tanda-tanda ia dilec*hkan. Ia juga menyentuh bagian sensit*fnya dan tidak terasa sakit sama sekali.


Ia berdiri, dan tidak ada noda darah. Mauza kembali duduk. Ia berusaha mengingat apa yang terjadi setelah ia tidak sadar. Tapi ia tidak ingat apapun.


Mauza meraih gelas dan mengisinya dengan air minum dari teko kaca yang tersedia di meja samping ranjangnya.


Ia meneguk perlahan dan matanya tertuju pada selembar kertas diatas meja.


Ia meletakkan gelas dan mengambil kertas itu. Ia membacanya dan berjalan kearah pintu.


Benar saja. Ia menemukan kunci pintu kamarnya ada di lantai. Ia mengambil kunci itu dan kembali duduk di atas ranjang.


"Siapa yang menolongku?" gumamnya pelan.


"Apakah Tuan?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Mauza memejamkan mata. "Siapapun orang itu, aku sangat berterima kasih padanya."


****


Lova tidak berani mengangkat wajahnya saat ia sedang berada di meja makan bersama semua anggota keluarga termasuk Ken dan Alvin.


Ia sesekali melirik Alvin yang tak henti mengul*um senyum. Ia juga sesekali melirik Ken yang tampak tenang dan seolah tak terjadi apapun malam tadi.


Huuh! Apa aku saja yang terlalu berlebihan mengenai kejadian semalam? Batinnya.


"Ken, sampai kapan kita akan berada di sini?" tanya Brata.


Ken meneguk segelas air putih dan menatap Brata. "Sampai selesai proses penyelidikan di rumah Bapak."


"Sebenarnya tidak masalah jika siapapun ingin keluar rumah. Tapi menurutku lebih baik di rumah saja dulu."


"Wartawan masih terus mencari informasi, termasuk dari kita."


"Dan tidak ada yang tahu jika kita berada di sini." lanjut Ken.


"Istirahatlah dan jika butuh apapun suruh siapa saja untuk pergi membelinya." perintah Ken.


"Tapi aku harus ke kantor," sela Lova.


"Silahkan!" Ucap Ken. "Tapi tetap di antar dengan pengawalan ketat," jawab Ken.


"Harus begitu?" tanya Lova terkejut.


Ken tertawa tanpa suara. "Aku bahkan tidak yakin kamu bisa sampai ke lobby dengan mudah."


Lova menghela nafas. "Benar juga, pasti banyak wartawan di sana," gumam Lova.


"Sebaiknya di rumah saja, Lov," pinta Brata. "Kamu libur dulu satu dua hari ini."


"Kamu juga masih terlihat lemah, sudut bibir kamu masih membiru," lanjut Brata.


"Kali ini bunda setuju."


"Ya, minta saja asistenmu untuk mengantar berkasnya jika ada yang harus segera di tanda tangani," Alvin ikut bicara memberi solusi.


"Aku setuju dengan ide si ceroboh ini." Sindir Ken menunjuk adiknya dengan dagu.


Alvin mengerutkan dagunya. Bibirnya maju dua inci. "Ku rasa kalian lebih ceroboh dariku," balasnya penuh sindiran. Ia tersenyum licik.

__ADS_1


Ken melihat wajah Lova yang tampak datar tanda gadis itu tak suka dengan apa yang baru saja Alvin katakan.


"Siapa yang ceroboh, Vin?" tanya Brata.


"Jangan dengarkan dia, Pak. Dia suka sekali mengarang cerita," potong Ken cepat.


"Aku tidak pernah mengarang cerita," sahut Alvin. "Aku selalu mengatakan yang sebenarnya."


Lova meletakkan sendoknya. "Aku sudah selesai." Ia berdiri dan semua orang menatapnya.


"Aku akan ke kamar dan menghubungi Rosa."


"Ken, bisa ku pinjam ponselmu?" pinta Lova.


Ken mengangguk. "Ada di kamarku."


Ken juga berdiri. "Akan ku ambilkan." Ken dan lova berjalan beriringan.


"Ken, sepertinya Lova perlu ponsel baru," ucap Alana. "Belikan saja dari pada harus kembali ke rumah dan menjadi kejaran wartawan."


"Oke Mom! Akan ku urus!"


Lova dan Ken naik ke lantai dua meninggalkan tiga orang di meja makan.


"Dia selalu menurutimu?" tanya Brata.


Alana mengangguk. "Ya. Dia seperti itu."


"Sangat berbeda dengan..." Alana melirik Alvin sambil tersenyum.


"Lanjutkan saja, Mom! Jangan bermain dengan kode rahasia seperti itu," sindir Alvin yang sedang melahap sandwichnya.


Alana tertawa tapi seketika ia terdiam. "Tapi Alvinku adalah Attala bagiku." Alana menatap lurus wajah Alvin.


"Attala seusia Ken, tapi aku melihatnya ada pada diri Alvin." Suasana menjadi sedikit canggung. Ada ekspresi sedih di wajah Alana.


"Sedikit manja, sedikit pembangkang, sedikit suka bercanda dan dia selalu memelukku manja." Alana langsung menerbitkan senyum karena ia sadar telah mengubah suasana di meja makan pagi ini.


Brata tertawa kecil. "Ken juga putranya, Vin."


"Bukan! Ken putra Bapak!" Alvin membuat Brata seketika diam.


Ya, kalimat yang refleks keluar dari bibirnya membuat semua orang diam. Brata diam karena tidak mengerti maksud Alvin. Dan Alana terdiam karena takut Brata mengingat Attala yang meninggal saat kecelakaan bersamanya.


"Aku salah bicara, ya?" tanyanya pelan.


"Maksudku adalah, Ken putra Bapak karena Ken sudah sangat lama bersama Bapak."


"Dia bahkan lebih sayang pada Lova dibanding dengan ku."


Alana tersenyum kecil. "Siapa suruh kamu terlalu bandal."


"Aku tidak bandal, Mom!"


"Sudahlah, Al. Alvin benar. Aku memang menganggap Ken sebagai putraku."


"Aku bahkan pernah memintanya berjanji untuk menjaga Lova jika aku tiada."


Alvin membulatkan mata. "Pas sekali, Pak!" Seru Alvin senang.


"Apa yang pas, Vin?" tanya Brata.


"Nikahkan saja mereka!" serunya lagi membuat Brata membulatkan mata.


"Kalian berdua akan jadi kakek dan nenek."


"Aku akan jadi uncle terkeren sepanjang masa." Alvin tertawa senang. Ia berdiri dari kursinya.


"Sekarang akan ku tinggalkan kalian berdua. Dan fikirkan tentang ucapanku tadi."

__ADS_1


Alvin mengerling. "Nikahkan mereka!" Ia benar-benar berjalan meninggalkan meja makan.


"Dia selalu berfikir sepraktis itu?" tanya Brata.


Alana tersenyum dan mengangguk. "Dia memang seperti itu. Itulah mengapa kadang Ken tidak percaya seratus persen saat aku meminta Alvin mengurus perusahaan. Ken justru lebih percaya pada Thomas, sepupunya."


Brata tertawa kecil. "Bisa ku bayangkan."


"Dia akan langsung deal tanpa banyak pertimbangan saat partner kerja samanya menawarkan keuntungan besar." Brata tertawa.


"Ya, itu yang dikhawatirkan." Alana ikut tertawa.


***


"Pakai saja," ucap Ken sambil menyodorkan ponselnya ke hadapan Lova.


"Kata sandinya, pakai tanggal lahirmu!" ucap Ken tanpa sadar.


Saat melihat Lova terdiam ia baru menyadari jika yang ia katakan akan menimbulkan banyak pertanyaan.


Itu ponselnya, lalu mengapa memakai tanggal lahir Lova? Dan akan banyak pertanyaan lain menyusul.


"Aku menggantinya semalam. Karena ku yakin kamu akan kembali meminjamnya dariku." Ken si pandai bicara selalu saja menemukan alasan yang tepat.


Lova mengangguk. Ia berjalan menuju jendela kamar Ken. Ia menempelkan ponsel itu ke telinganya.


"Ros, ini saya. Lova!"


"Astaga, Bu Lova? Ini benar-benar anda?" Suara Rosa terdengar begitu memekakan telinganya. Ia sampai menjauhkan ponsel itu.


"Iya, Ros. Ini saya."


"Oh Tuhan, Bu. Anda harus tahu bagaimana saya tidak tidur semalaman karena ponsel saya terus bergetar. Puluhan wartawan menghubungi saya meminta informasi tentang keberadaan anda."


"Wartawan di lobby kantor sudah seperti antrian masuk bioskop, Bu!"


"Saya sendiri berusaha menghubungi anda tapi tidak diangkat."


Lova tertawa pelan. "Ponsel saya ada di rumah, Ros. Dan sepertinya saya belum bisa pulang."


"Ros, saya tidak akan bekerja beberapa hari ini."


"Kirim via email jika ada berkas yang harus saya periksa, atau kirim berkas yang harus saya tanda tangani."


"Saya akan kirim alamatnya."


"Sepertinya untuk hari ini masih aman, Bu. Kemarin Ibu sudah mengerjakannya, bukan?" Lova mengangguk meski Rosa tidak melihatnya.


"Saya titip perusahaan, Ros. Katakan bahwa saya masih kurang sehat, jika ada klien yang meminta untuk bertemu."


"Baik, Bu."


Lova menyerahkan ponsel yang ia pegang pada Ken yang sedang duduk di depan laptop di meja kerjanya.


"Terima kasih, Ken."


"Sama-sama. Bawa saja tab ini jika kamu butuh." Ken menyerahkan sebuah tab kepada Lova.


"Tidak, aku belum butuh. Kata Rosa semua pekerjaan aman dan hari ini aku bebas dari berkas-berkas," ucapnya senang.


"Kamu sedang apa?" tanyanya saat Ken sedang melihat grafik.


"Ini grafik perusahaan Thomas."


"Bagus!" Ucap Lova. Maksudnya bagus adalah, perkembangan perusahaan yang semakin baik.


"Ya, dia bekerja dengan sangat baik."


"Aku keluar dulu, sebelum adikmu berfikir yang tidak-tidak lagi." Lova keluar dari kamar.

__ADS_1


"Jangan takut padanya. Tarik saja telinganya jika kamu merasa dia nakal padamu."


Lova tertawa. "Aku akan melakukannya." Sahutnya dengan suara yang sudah hampir tak terdengar lagi.


__ADS_2