ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 42 Diikuti


__ADS_3

Alvin baru saja pulang dari kantor. Ia yang memilih peran sebagai Office Boy memilih menumpang mobil Thomas. Keduanya pulang bersama.


"Untuk apa menghentikan mobilku!" Tanya Thomas saat Alvin menghentikan mobilnya dekat gerbang perusahaan dan langsung masuk saat mobil Thomas berhenti di depannya.


"Menumpang pun tidak boleh?" tanya Alvin. Ia duduk di kursi depan dan memasang seatbelt.


"Tidak ada bos yang mengemudikan mobil untuk seorang officeboy, Vin!" seru Thomas kesal. Bagaimana bisa pria berjas rapi itu menjadi supir sementara pria berseragam office boy malah duduk santai di kursi depan.


"Hahahah...! Bos paling baik hati sedunia!" Alvin mengerling.


"Harusnya aku menolakmu masuk ke perusahaan jika hanya ingin menjadi office boy. Bukannya membantuku malah memilih memegang nampan, sapu dan kain pel!" keluh Thomas. Beberapa hari ini Alvin justru menikmati perannya padahal Tuan Hendrico itu tidak pernah datang lagi.


"Aku perlu totalitas untuk menghadapi Si tengi*k itu!" Maksud Alvin adalah Tuan Hendrico.


"Jika ada orang suruhannya yang melihatmu semobil denganku. Dan bahkan masuk ke rumah yang sama. Maka, bersiaplah. Entah Ken yang menembakmu atau suruhan Pria tua itu lebih dulu!" Thomas marah pada Alvin yang sangat ceroboh.


Awalnya ia membela Alvin yang cepat muncul dihadapan Tuan Hendrico agar permainan balas dendam segera diselesaikan. Tapi, melihat kecerobohan Alvin, Thomas menjadi sedikit khawatir jika ia malah mengacaukan semuanya.


"Mulai besok, naik angkutan umum!" perintah Thomas. "Jangan membuat pria itu curiga terhadapku."


"Tuan Hendrico hanya penasaran dengan perusahaan yang membantu Lova."


"Dan sekarang dia sepertinya lebih tertarik dengan seorang Aldric si office boy."


Selama ini Alvin mengendarai mobil atau sepeda motor untuk ke kantor. Dan hari ini ia memang berangkat bersama Thomas.


Alvin diam sejenak. Matanya menatap spion tengah. "Thom, mobil di belakang mengikuti kita sejak tadi," ucapnya karena sedari tadi ia memang melihat mobil itu ada di belakang mobil mereka.


Thomas melihat spion dan benar saja. Ada mobil berwarna hitan yang selalu dekat dengan mobilnya. "Baru saja ku katakan, Vin! Dan sekarang sudah terjadi!" Keluh Thomas.


Padahal rumah mereka tinggal beberapa ratus meter di depan. Thomas terpaksa membelokkan mobilnya kearah yang salah.


"Kita mau kemana, Thom?" tanya Alvin heran.


"Mengantarkanmu pulang," jawab Thomas.


"Rumah kita kearah kanan, Thom."


"Rumahku! Rumah seorang pemimpin perusahaan."


"Mana mungkin pemimpin perusahaan tinggal serumah dengan seorang officeboy."

__ADS_1


"Jadi, aku akan turun dimana?" tanya Alvin.


"Hubungi Jack!" perintah Thomas.


"Jack?" tanya Alvin. "Putra tukang kebun?" tanyanya.


"Iya. Pura-pura saja sebagai keluarga mereka dan kamu akan tinggal disana untuk sementara waktu."


"Apa?" Alvin tak percaya dengan apa yang ia dengar. Dia harus menumpang di runah tukang kebun.


"Nikmati permainanmu, Vin! Ken akan terbahak mendengar aku menceritkan kerepotan ini!" Thomas tertawa kecil.


"Lalu akhirnya dia akan menculikmu dan menyembunyikan dirimu yang bod*oh ini di ruang bawah tanah."


"Ck!" Decak Alvin dan ia tidak bicara apapun lagi.


Akhirnya Alvin turun di sebuah apartemen sederhana di kota itu. "Yakin aku tinggal disini, Thom?" tanyanya ragu.


"Mobil di belakang, belum cukup untuk membuatmu yakin, Vin?" tanya Thomas sambil melirik kaca spion dimana mobil hitam yang mengikuti mereka berhenti seratus meter di belakang.


"Huuh! Aku tidak menduga permainan akan berlanjut secepat ini."


"Nikmati hidupmu gegabah." ejek Thomas. "Hubungi aku jika pria tua itu sudah menculikmu." Thomas tertawa kecil.


"Sialan!" Alvin turun dari mobil.


"Terima kasih atas tumpangannya, Tuan!" ucap Alvin agak keras. Ia sengaja mengeraskan suaranya agar di dengar oleh siapapun orang yang ada didalam mobil hitam itu.


***


"Sial*an!" Maki Tuan Hendrico saat ia mendapat laporan sebuah speedboard yang ditumpangi anak buahnya berhasil di tahan pihak berwajib.


Speedboard yang ditumpangi dua orang itu membawa 5 kilogram sa*bu. Transaksi yang akan dilakukan ditengah laut itu sepertinya sudah terendus pihak berwajib.


"Pastikan mereka tutup mulut!" Tuan Hendrico meminta agar kedua orang yang tertangkap itu tidak menyebut namanya.


Tuan Hendrico duduk di kursi kerjanya. "Kemarin, ada yang menikuti mobil yang mengangkut anak-anak."


"Sekarang salah satu transaksi gagal." geramnya.


"Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Aku harus lebih berhati-hati. Masih ada banyak transaksi yang harus dilakukan dalam bulan ini."

__ADS_1


Bisnis haram selama bertahun-tahun yang ia jalani ini sepertinya mulai goyah. Selama ini memang tidak terlalu mulus, tapi dia tidak pernah tertangkap.


Hanya beberapa kali pengiriman gagal di jalur darat, itupun karena terjaring razia. Dan jumlah barang bukti yang tersita hanya sedikit, tidak menimbukkan kerugian besar baginya.


Tuan Hendrico menutupi semua ini dengan bisnis yang ia jalani di benua lain. Ia sengaja membuat bisnis berbeda di belahan dunia yang berbeda juga.


"Sepertinya aku harus segera pergi dari negara ini," ucapnya. "Jika sewaktu-waktu semuanya terbongkar setidaknya aku sudah lari."


Ia membakar sebatang rok*knya. Menghembuskan asap ke udara dan kembali menghisap lagi.


"Tapi aku harus tahu dulu siapa pria yang menjadi officeboy itu." Tiba-tiba ia teringat dengan pria yang bekerja sebagai Officeboy dengan name tag Alvino Aldric.


"Namanya Alvino Aldric. Namanya sama seperti putra Adam Aldric."


"Wajahnya mirip, meski tidak terlalu. Aku harus memastikan dia bukan keturunan Adam Aldric."


"Tapi bukankah dulu mobil yang mereka tumpangi sudah terjun ke jurang dan hancur meledak?"


Ya, saat peristiwa penyerangan yang ia lakukan malam itu. Orang suruhannya berhasil menemukan mobil yang di duga di tumpangi kedua putra Adam di jalan menuju rumah itu.


Dan mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi itu berhasil mereka buat masuk ke dalam jurang setelah menembak dua ban belakangnya. Lalu tak berselang lama, mobil itu meledak di dasar jurang.


Semua kejadian yang menimpa keluarga Adam Aldric itu tidak terungkap oleh pihak kepolisian.


Tidak adanya saksi mata yang hidup menjadi salah satu penyebabnya. Rekaman cctv semua musnah dan tidak ada yang merekam kejadian itu.


Terlebih, Adam Aldric yang juga ditemukan meninggal gantung diri di rumahnya sendiri beberapa hari setelah berita mengenai kemat*ian sadis istrinya akibat perampokan di salah satu rumah miliknya.


Publik berasumsi, Adam Aldric stress dan memilih mengakhiri hidupnya. Sebelum meninggal Adam juga diberitakan mengalami kebangkrutan.


Tuan Hendrico menerima satu pesan singkat dari salah satu anak buahnya.


Pria itu tinggal di apartemen kecil di daerah Xx.


Tuan Hendrico tersenyum licik.


"Sebentar lagi aku akan tahu siapa pria muda itu."


"Jika memang dia putra Adam, harusnya sudah pasti dia mengenali wajahku."


"Paman Juan, sahabat papanya. Hahahah." Tuan Hendrico tertawa.

__ADS_1


"Jika bukan, mungkin ini hanya kebetulan," lanjutnya. "Karena dia sepertinya tidak mengenaliku!"


"Semua akan terjawab sebentar lagi."


__ADS_2