
Seorang gadis dengan dress bermotif bunga-bunga kecil memasuki sebuah gedung berlantai empat. Ia melangkahkan kaki dengan anggunnya meski bukan heels tinggi yang membalut kaki putih itu.
Sebuah flat shoes melangkah beriiringan dengan sepatu hitam mengkilap milik seorang pria yang berjalan disamping gadis itu.
Setiap orang yang melihat keduanya langsung tersenyum ramah bahkan menunduk hormat. Tak jarang mereka memuji katampanan dan kecantikan keduanya. Dan kata cocok serta menjodohkan keduanya kerap kali terdengar.
"Kamu langsung temui Sashi di atas. Aku akan menemui Mike dan James dulu," ucap pria berjas rapih itu.
Aland Hendrico, hidupnya berubah drastis selama enam bulan ini. Gadis yang datang bersamanya telah mengubah seluruh hidupnya.
Semangat kerjanya mengurus perusahaan Mommynya yang memproduksi perhiasan dengan merk terkenal semakin berkobar kala gadis itu bisa menjadi tempatnya meminta pendapat.
Mauza, setelah enam bulan lalu ia mengatakan bahwa ia menyukai desain perhiasan yang akan diluncurkan perusahaan Mommynya Aland, sejak saat itu Aland sering meminta pendapatnya.
Meski tidak mengetahui banyak hal, tapi setidaknya ia bisa memberikan pendapatnya tiap kali Aland bertanya.
Aland juga menjadikan gadis itu sebagai model untuk mempromosikan perhiasan yang telah diluncurkannya beberapa bulan lalu.
Leher jenjang dengan tulang selangka nan indah milik gadis itu membuat perhiasan berupa kalung berlian dengan edisi terbatas itu tampak mewah saat ia pakai.
Sejak saat itu, tiap kali mengadakan meeting dengan Sashi dan tim lainnya, Aland selalu mengajak Mauza turut serta. Aland bisa melihat gadis itu begitu antusias terlebih saat Sashi menjelaskan mengenai desain perhiasan tersebut.
Hingga setelah peluncuran produk, Aland meminta Sashi mengajari Mauza untuk mendesain perhiasan. Dimulai dari desain sederhana yang mudah untuk dibuat.
Mauza masuk ke dalam ruangan dimana gadis bernama Sashi itu tengah berkutat dengan laptopnya. Gadis yang tampak anggun, dewasa dan mandiri itu membuat Mauza mengaguminya sejak pertemuan pertama mereka.
"Pagi, Kak Sashi!" Sapa Mauza dan langsung duduk di depan gadis itu. Kaca mata yang bertengger di hidung mancung itu lantas ia lepas dan membalas sapaan Mauza.
"Hai, Za? Sendirian?" tanyanya.
"Tidak, Kak. Seperti biasa, bersama pak Aland!" jawab Mauza dan diangguki oleh gadis di depannya.
"Semakin serasi kalau aku lihat!"
Mauza terkekeh. "Bagaimana bisa upik abu ini tampak serasi bersama pangeran, Kak?"
"Ck!" ia berdecak. "Jangan merendah. Puluhan bahkan ratusan gadis diluar sana iri padamu!"
"Hahaha... apa yang mereka irikan dariku. Hidupku juga tidak sempurna kak! Kalau mereka jadi aku mungkin mereka sudah melambaikan tangan ke kamera atau mengibarkan bendera putih!"
Ia sedikit banyaknya mengetahui latar belakang keluarga Mauza. Bukan hanya dari cerita singkat Mauza tapi dari peringatan Aland agar ia tidak terlalu bertanya mengenai keluarga gadis itu sudah cukup menjadi bukti kuat bahwa betapa tidak mudahnya hidup yang Mauza lalui selama ini.
"Bagaimana dengan kuliahmu? Sedang libur?" tanyanya lagi.
Mauza mengangguk. "Hanya sehari karena tidak ada jadwal hari ini, Kak."
Mauza sudah menjalani kehidupannya sebagai mahasiswa di salah satu universitas ternama dengan biaya yang Lova keluarkan untuk gadis itu.
Mauza dan Mauren masih tinggal diapartemen milik Aland. Pria itu tidak mengizinkan mereka keluar dari unit miliknya.
__ADS_1
Mauren saat ini telah kembali bekerja di perusahaan Lova. Gadis itu bekerja dengan serius karena ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.
Mencari pekerjaan diluar ternyata cukup sulit. Ia sempat keluar masuk dari satu perusahaan ke perusahaan lain hanya untuk memasukkan lamaran kerja, itupun sudah mendapatkan penolakan.
"Oh, ya Za," Sashi membalikkan laptopnya ke hadapan Mauza. Gadis itu mengakui dalam hatinya bahwa dalam urusan perhiasan, Mauza punya selera yang bagus.
"Aku mendesain beberapa model cincin pernikahan," lanjut Sashi.
"Bagaimana menurut kamu?" tanyanya.
Mauza melihat beberapa desain yang sudah gadis itu buat. "Bagus kak!"
"Aku suka yang ini." Tunjuk Mauza pada satu cincin dengan berlian yang disusun membentuk bunga di bagian atasnya. Sementara cincin untuk si pria tampak sederhana hanya dengan satu berlian kecil.
"Tapi ku rasa kurang cocok untuk wanita yang punya aktivitas padat ya, Kak? Rawan tersangkut di pakaian. Hahah..." Mauza tertawa pelan.
"Iya, Za. Ini sepertinya lebih cocok untuk ibu rumah tangga kaum sosialita yang cuma duduk santai baca majalah sambil nunggu cuan dari suami masuk ke rekening."
Mauza terbahak. "Ya, betul sekali kak."
"Sepertinya desain yang lebih sederhana lebih diminati saat ini. Apalagi di zaman sekarang ini, tak jarang wanita yang memiliki karier bagus dan masih bekerja meski sudah bersuami."
"Jika bekerja di kantor sekalipun, sepertinya desain yang lebih simple tetap menjadi primadona."
"Benar sekali, Za. Bu Shanas juga sudah merancang beberapa macam cincin pernikahan yang akan diluncurkan beberapa bulan ke depan."
"Oh, ya?" tanya Mauza tak percaya. Wanita yang kini ada di balik jeruji itu sudah mempersiapkan semua rencananya bahkan sampai setahun ke depan.
"Aku sudah menemaninya selama bertahun-tahun, Za. Dan aku sangat mengenalnya."
Mauza mengangguk setuju. Ia sudah pernah bertemu wanita itu bebarapa kali saat Aland mengajaknya mengunjungi wanita hebat itu.
Waktu singkat itu bahkan dimanfaatkan dengan baik oleh wanita yang Aland panggil Mommy itu untuk memberi nasehat dan masukan pada Mauza.
Shanas sangat antusias karena hadirnya Mauza membuat Aland memiliki minat dan semangat untuk menjalankan usahanya.
"Sudah selesai?" tanya Aland pada kedua gadis yang sedang bercerita itu. Aland masuk tanpa permisi karena gedung ini miliknya.
"Sudah!" jawab Mauza. Sebenarnya tidak ada hal khusus yang akan mereka bahas. Mauza hanya ingin menemui Sashi karena keduanya sudah lebih dari satu bulan tidak bertemu.
Aland duduk di samping Mauza. "Bagaimana urusan dengan Mr James dan Mike, pak?" tanya Sashi.
"Sudah beres. Hanya membahas beberapa hal kecil."
"Ah, ya... Kalung yang diluncurkan kemarin sudah sold out sejak seminggu peluncuran."
"Dan target kita masih sama. Peluncuran berikutnya sepertinya kita juga harus mengupayakan agar produk limited edition kita sold out dalam waktu singkat."
"Sepertinya sedikit sulit, Pak!" Mauza sudah mengganti panggilan Tuan menjadi Bapak.
__ADS_1
"Mengapa bisa begitu?"
"Ya karena ini cincin pernikahan. Tidak semua orang membutuhkannya."
"Tapi jika kita meluncurkan cincin khusus wanita tanpa couple mungkin akan lebih mudah. Karena siapa saja bisa membelinya. Maksudku yang tidak punya pasangan juga bisa membelinya."
"Kamu benar, Za. Tapi ini kan salah satu impian Mommy!" jawab Aland.
"Saya rasa tidak masalah, Pak."
"Permintaan pasar untuk berbagai jenis cincin juga masih terus meningkat."
"Meskipun tidak limited edition, tapi desain yang mewah serta kualitas produk yang kita tawarkan masih menjadi daya tarik tersendiri bagi para konsumen."
"Dan saya rasa, peluncuran selanjutnya akan sangat dinantikan masyarakat, Pak. Cincin pernikahan yang di desain ekslusif, dengan kualitas bahan baku terbaik, saya rasa akan menjadi incaran para pasangan yang akan segera menikah, Pak."
"Seperti biasa, kita hanya akan memproduksi beberapa pasang saja untuk setiap modelnya."
"Dan dengan begitu, mereka akan berebut untuk memiliki salah satu dari pruduk kita."
"Kamu ada benarnya, Si. Saya akan bicarakan ini pada tim pemasaran. Saya rasa mereka sudah punya strategi yang akan membuat produk ini menjadi primadona bagi pasangan yang akan segera menikah."
"Ayo kita pulang!" Ajak Aland pada Mauza.
"Ehm..." Mauza ingin bicara tapi takut.
"Bukankah urusan kalian sudah selesai?" tanya Aland.
"Ya, tapi aku harus ke toko buku untuk membeli..."
"Ku antar! Ayo!" Potong Aland dan pria ity langsung keluar dari ruangan itu.
"Huss! Huss!" Usir Sashi sambil mengibaskan tangannya. "Pergilah, atau dia akan menerkammu di mobil."
"Hahahah..." Gadis itu tertawa setelah melihat Aland menghilang dibalik pintu.
Mauza memberengut kesal. "Jika dia berani menerkamku, maka aku akan..."
"Melawannya?" potong Shasi karena Mauza menggantung kalimatnya.
Mauza berbalik dan meninggalkan meja kerja Sashi. "Bukan!"
"Lalu apa?" tanya Sashi tak sabar karena gadis itu sudah memegang handle pintu.
"Aku akan pasrah saja. Hahahah..."
"Dasar, gadis nakal! Berani-beraninya mengerjaiku!"
Sashi masih mendengar tawa Mauza meledak bahkan saat gadis itu keluar dari pintu.
__ADS_1
"Ck! Hanya dia yang bisa membuat singa bernama Aland bertingkah seperti kucing peliharaan," gumam Sashi sambil tersenyum kecil.